Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Drama Korea membuat keringat dingin


__ADS_3

Drama hari itu akhirnya berakhir setelah Chayra terkapar di atas tempat tidur. Untung saja Adzra terbangun setelah orang tuanya selesai dengan ritual malam mereka.


Chayra yang baru akan terlelap terpaksa harus bangun untuk menenangkan putranya. "Mas, bangun dulu sebentar aku mau membersihkan diri. Nggak enak kalau harus menyapih Adzra dengan keadaan seperti ini." Chayra berkata sambil menepuk-nepuk pantat putranya. Ia berbalik menatap suaminya karena hening. Menautkan alisnya saat suaminya diam tak bergeming. "Mas..." Chayra akhirnya menggeser tubuhnya lalu menggoyang-goyang tubuh Ardian.


"Mmm...." hanya itu jawaban Ardian.


"Mas, ya Allah... bangun.. kalau kayak gini aku nggak akan ngasih jatah lagi nanti."


Ardian langsung terduduk. "Maaf, sayang mata aku ngantuk banget."


"Tadi pas belum dapat jatah katanya nggak bisa tidur karena lapar batin. Pas udah dapat, kok beda lagi ucapannya."


Ardian cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. "Eheheh... kan biasanya juga aku langsung tidur kalau udah selesai."


"Udah ah, Mas Ardian jaga Adzra kalau bangun lagi nanti." Chayra turun dengan perlahan. Meraih kain yang biasa dia pakai untuk menutup auratnya sebelum masuk ke kamar mandi.


"Jangan mandi sekarang, Sayang. Nanti saja mandinya pas bangun tahajjud. Cukup bersihkan sisa-sisanya saja."


Chayra berbalik seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Iya, Mas... siapa juga yang mau mandi jam segini. Jangan berisik ah, nanti Adzra bangun lagi."


Ardian tersenyum menatap putranya yang kembali terlelap. Mengusap-usap wajah bayi kecilnya dengan penuh kasih sayang. "Terimakasih telah hadir dalam pernikahan Papa dan Mama, Dek. Papa sayang Adzra.." Mencium pipi gembul Adzra dengan lembut. Adzra menggeliat merespon sentuhan papanya. Tangan Ardian langsung sigap menepuk-nepuk pantat putranya. Takutnya Adzra bangun sebelum mamanya keluar dari kamar mandi.


*******


"Kalian kenapa berisik banget sih, tadi malam?" Alesha langsung melayangkan protes saat semua sudah berkumpul untuk sarapan.


"Siapa yang berisik?" Timpal Ardian sambil menahan senyum.


"Heh," Alesha tersenyum sinis. "Kelihatan udah ini. Kemarin aja mukanya kayak orang yang kekurangan vitamin. Marah-marah nggak jelas seperti orang yang kerasukan. Lho kasih vitamin apa aja semalam, Ayra. Laki lho kayak orang yang kelebihan vitamin pagi ini."


Chayra hanya tersenyum kecil menanggapi celotehan Alesha.


"Lho pasti kasih vitaminnya Adzra juga ya..?"


"Maksud kamu apa vitamin milik Adzra?" Ardian menautkan alisnya pura-pura bingung.


"Huh," Alesha malah mendengus. "Itu tuh, vitamin D." Alesha menunjuk ke arah dada Chayra dengan matanya.

__ADS_1


"Hahahah... kamu terlihat sangat lucu. Aku akan telepon Kak Zidane kalau kamu iri melihat aku dan Chay bercinta." Ardian benar-benar menikmati raut wajah Alesha yang terlihat semakin kesal.


Alesha melengos. "Dia tidak bisa dihubungi dari tadi malam. Nomornya tidak aktif."


"Pantesan kamu yang menggantikan posisi aku yang kemarin. Sekarang gantian kamu yang badmood. Aku sudah mendapat vitamin dobel dari istriku tersayang. Vitamin D dan vitamin BP."


"Apa itu vitamin BP?" Alesha menatap Ardian dengan penasaran.


"Vitamin bawah peyut." Ardian tertawa melihat mata Alesha yang melotot. "Hahahaha.. gitu aja lu nggak peka."


"Mas..."


Ardian berhenti tertawa melihat mata istrinya yang melotot ke arahnya.


"Coba mulutnya di jaga, Mas. Nanti malah jadi kebiasaan. Sekarang kamu akan sering berinteraksi dengan anak kecil. Hati-hati loh..."


"Mampus lu... gkgkgk..." giliran Alesha yang cekikikan melihat ekspresi Ardian yang kena semprot istrinya.


"Sudah ah, kalian ini kenapa sih? Kita mulai sarapannya. Aku nggak bisa makan dengan benar nanti kalau Adzra sudah bangun. Kamu juga, Mas. Jangan sampai terlambat ke Kantor gara-gara perdebatan anfaedah seperti ini. Aku nggak mau nanti ada telepon yang masuk dari kantor menanyakan posisi Mas Ardian. Apalagi kalau itu teleponnya dari wanita seksi yang bodinya seperti gitar Belanda."


Ardian langsung tersedak mendengar ucapan istrinya. Nasi yang baru ia masukkan ke dalam mulutnya seperti dipaksa masuk ke kerongkongannya. "Uhuk.. uhuk... uhuk..." Ardian meraih gelas berisi air putih di depannya. Menarik nafas dalam setelah selesai minum sambil menatap istrinya tajam. Yang ditatap kalem aja. Tidak perduli dengan wajah suaminya yang merah padam karena keselek. Mulut Ardian terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi Chayra langsung memotong.


"Chay... please deh, Sayang. Aku mau pergi kerja. Jangan menggodaku seperti ini."


Chayra tertawa puas seraya duduk di kursinya. "Bagaimana, enak, Mas?"


Ardian menarik nafas panjang seraya menelan ludahnya beberapa kali. Matanya hanya mengerjap-ngerjap beberapa kali menyikapi perbuatan istrinya. "Kalau kamu kayak tadi sekali lagi. Aku jamin pagi ini aku akan telat ke Kantor."


Alesha yang dari tadi diam mengunyah nasi di mulutnya akhirnya tidak tahan untuk tidak tertawa. "Ayra, ya Allah.. please deh, tampang suami lho itu coba lho lihat. Nggak kasihan apa? Bagaimana kalau dia menginginkan itu pas dia di Kantor nanti. Di sana kan ada wanita dengan body gitar Belanda seperti yang kamu katakan tadi."


Chayra hanya tersenyum sinis sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Siapa yang ajarin lho menggoda cowok kayak gitu?" Alesha masih tidak percaya melihat tingkah temannya yang terkenal kalem di depannya berani menggoda pria.


"Dia suami aku, makanya aku berani goda. Kalau dulu mana berani aku bicara kayak tadi dengan jarak seintim itu."


"Lho terlihat benar-benar berbeda, Ayra. Gemes gue melihatnya."

__ADS_1


Ardian kembali menarik nafas panjang. Kenapa pikirannya sangat sulit dinetralkan saat ini. Ia berusaha sarapan dengan tenang, tetapi otak atas dan otak bawah tidak mau bekerja sama. "Jangan lakukan seperti tadi kalau tidak di malam hari." Ucapnya pendek, menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya.


"Iya, maafkan aku, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Chayra berucap sambil menahan senyum.


Selesai sarapan, Ardian pamit untuk berangkat kerja. "Jangan lupa kirimkan foto kegiatan kalian nanti siang untuk obat lelah."


"Iya, Mas." Chayra memeluk pinggang suaminya erat. "Maaf untuk yang tadi. Nanti malam aku akan membayar tuntas kesalahan itu."


Ardian tersenyum sambil mencolek hidung istrinya. "Awas saja kalau kamu tidur lebih awal. Aku akan memaksamu untuk bangun untuk membayar hutang."


"Hhmmm... hmm... bisa nggak kalau mau berpamitan, hanya sekedar salim lalu cium dahi aja. Nggak usah apa saling tatap, saling colek, saling peluk, macam lah acara kalian."


"Lah, ini rumah kami. Siapa suruh kamu mau dititip disini. Coba ke rumah Papa kamu kemarin. Tidak akan ada drama Korea yang mengganggu matamu di jam sarapan seperti ini."


"Ew.. muka lho kayak bayangannya aja. Jauh bumi dan langit dengan orang Korea."


"Bedanya aku cuma tidak bermata sipit saja. Kalua tampannya sih, nggak akan jauh beda."


"Kenapa nggak sekalian aja bilang kayak orang Arab, biar serasi karena istri lho pakai cadar." Alesha melengos sambil berlalu. Drama yang dibuat temannya itu membuat hatinya keringat dingin karena pasangan tidak ada ditempat.


Chayra dan Ardian tersenyum bersamaan melihat tingkah Alesha. "Dia kenapa sih, Sayang?"


"Nggak tau, kayaknya sakit hati karena Kak Zidane nggak ada kabar sampai sekarang."


"Baru tau rasanya ditinggal ke luar kota. Bagiamana kalau ditinggal ke luar negeri nantinya."


"Sudahlah, Mas. Ngapain mikirin dia sih. Kamu berangkat sekarang ya.. hati-hati di jalan. Sampai kantor nanti, jaga mata jaga hati."


"Aku selalu menjaganya kok untukmu."


"Terus kenapa kemarin bahas wanita dengan body gitar Belanda segala?!"


Ardian gelagapan. "Eh, itu anu, Sayang.. apa namanya.. mm... Pak Randi itu kemarin."


"Ngapain jual Pak Randi segala, Mas. Kan kamu kemarin yang bilang bodynya seperti gitar Belanda."


"Hem, itu Papi meminta Anita untuk menjadi Asisten aku. Tapi aku menolak karena dia sering berpakaian terbuka. Aku hanya nggak suka melihat wanita model seperti itu. Aku hanya suka melihat kamu kalau berpakaian seksi di depanku. Kalau kamu kan, berpakaian seksi cuma di depanku. Jadi aurat kamu tidak terekspos bebas untuk umum." Ardian mencubit gemas pipi istrinya. Menarik tubuh istrinya kembali ke dalam pelukannya. "Aku berangkat dulu ya, Sayang. Jaga diri baik-baik di rumah. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam.."


Akhirnya drama pertunjukan drama Korea abal-abal berakhir setelah Ardian berangkat ke Kantor.


__ADS_2