
Chayra memeluk erat tubuh suaminya begitu Ardian masuk ke ruang perawatan Adzra. Tiba-tiba saja air matanya tidak bisa dibendung. Ia menumpahkan sesak yang dia tahan sejak kemarin. Dia berpura-pura tegar di hadapan Ibu dan adiknya karena tidak mau terlihat lemah.
"Sudah, Sayang. Maafkan aku meninggalkan kalian saat kalian sedang membutuhkan aku." Ardian menepuk-nepuk punggung Chayra.
"Mm... Ar, aku langsung pamit ke Kantor ya. Lain waktu aku akan datang berkunjung kemari."
"Iya, terimakasih sudah mengantar aku kemari, Dit."
Dodit mengangguk seraya berlalu. Tidak lupa ia mengucap salam sebelum keluar dari ruangan. Sekian lama bekerja dengan Ardian membuatnya ikut terbiasa mengucap dan membalas salam. Sedangkan kalau dengan Pak Randi orangnya datar dan tidak terlalu agamais.
Ardian menggiring istrinya untuk duduk setelah Dodit pergi. "Ibu mana, Sayang?"
"Pulang, Mas. Ada rapat masalah perekrutan karyawan baru. Katanya mau buka cabang juga di dua tempat."
"Alhamdulillah, usaha Ibu semakin lancar, Sayang."
"Usaha Ibu yang lancar kita juga yang untung, Mas. Kata Ibu, kalau Adzra sudah nggak minum ASI lagi, aku harus ikut ke Toko. Ibu kewalahan merekap semuanya sendirian."
"Sepertinya Ibu membutuhkan Manager keuangan."
"Katanya sih begitu."
Mereka terdiam menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Mata mereka fokus ke arah Adzra yang terlelap di atas ranjang. Ardian mengelus-elus kepala istrinya yang berbalut hijab. Rasa bersalah masih menderu pikirannya karena kejadian kemarin malam. Beberapa kali terdengar tarikan nafas panjang.
"Kamu lagi ada masalah, Mas?" Chayra mendongak menatap suaminya.
"Eh, nggak Sayang. Nggak ada apa-apa." Ardian menjatuhkan kepala istrinya ke dadanya.
"Terus kenapa nafasnya panjang-panjang kayak tadi. Jangan pendam masalah sendiri, Mas. Masalah itu dibagi-bagi sama aku. Siapa tau aku bisa bantu."
Ardian tersenyum kecil. Masih malu rasanya kalau harus menceritakan semuanya sekarang. "Lain kali aku cerita, Sayang. Aku belum ada nyali untuk menceritakan semuanya sekarang."
Chayra kembali menatap suaminya. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu pasti lagi ada masalah."
Ardian kembali tersenyum lemah sambil menepuk-nepuk kepala istrinya. "Sekarang kita fokus pada kesembuhan Adzra dulu, Sayang. Kalau Adzra sudah pulih, biar nanti aku ceritakan sama kamu. Ini juga menyangkut masalah semalam pas aku tidak mengangkat telepon kamu. Maaf ya.. lain kali aku ceritakan."
Chayra mengangguk seraya bangkit karena melihat pergerakan putranya. Ardian ikut bangkit mendekati anaknya. Beberapa hari jauh dari istri dan putranya membuatnya benar-benar rindu berat. Tak berselang lama, seorang perawat masuk untuk memeriksa infus Adzra.
"Selamat sore, Pak, Bu. Maaf mengganggu, saya mau mengganti infusnya dulu gih.."
Ardian dan Chayra mengangguk serempak. "Sebenarnya anak saya sakit apa, Sus?" Ardian yang berdiri bersebrangan dengan Perawat itu bertanya sambil memperhatikan tangan Perawat yang sedang mengganti infus dengan cekatan.
"Nanti Dokter yang menjelaskan, Pak. Kita masih menunggu hasil laboratorium."
__ADS_1
"Anak saya di bawa tadi malam, Sus. Kenapa hasil laboratoriumnya belum keluar sampai sekarang?" Ardian menautkan alisnya menatap tajam pada perawat yang masih memperbaiki infus Adzra yang masih macet.
"Mas," Chayra menggeleng-geleng pelan karena melihat ketidak nyamanan di wajah perawat yang sedang mengurus putranya.
Perawat itu tersenyum ramah ke arah Ardian. "Maaf atas ketidak nyamanannya, Pak. Hasil laboratoriumnya sudah keluar, tetapi karena Dokternya buru-buru pulang tadi pagi, beliau langsung membawa hasil laboratorium itu. Sebentar lagi Dokternya akan visit sekarang. Nanti Bapak bisa menanyakan hal itu padanya."
"Terimakasih, Sus." Ardian berlalu dan duduk di sofa sambil membuka handphonenya karena ada panggilan masuk.
"Assalamualaikum, Dit, ada apa?"
"..........."
"Aku nggak bisa ke Kantor sekarang. Kamu kan tau anakku sedang sakit. Kenapa tidak Pak Randi saja. Aku tau beliau sedang sakit. Tapi, kalau hanya masalah seperti itu kamu hubungi saja beliau."
"..........."
"Aku bukan Direktur, Dit. Mengganti Pak Randi beberapa hari saja kepalaku sudah pusing. Aku tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan jabatan itu. Menguras waktu, tenaga dan pikiran sampai tidak ada waktu untuk keluarga." Ardian melengos kesal. "Sudah ah, jangan ganggu aku. Aku mau melepas rindu pada anak istriku dulu."
"........."
"Iya, makanya jangan ganggu. Boleh minta tolong nanti malam sekalian mampir kemari."
"........"
"............"
"Bagaimana gula darah mau naik. Aku kekurangan gula dari kemarin. Di kota A aku tidak bisa makan dengan baik karena padatnya jadwal kemarin."
"........."
"Iya, terimakasih sebelumnya. Assalamualaikum..."
Chayra berjalan mendekat setelah suaminya selesai bicara dengan Dodit. "Kenapa nggak bilang dari tadi kalau mau makan martabak, Mas. Aku kan bisa meminta Bian membawakannya sekarang sambilan datang kemari."
"Memangnya dia mau datang?" Ardian bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.
"Iya.. Dia masih libur les privat. Jadi sekarang dia akan kemari selesai shalat Ashar."
"Boleh minta dia kalau begitu."
Chayra mengangguk seraya menghubungi adiknya. "Kamu shalat dulu Mas sementara Bian datang."
Ardian meletakkan handphonenya. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu sudah shalat, Sayang?"
__ADS_1
"Aku lagi menstruasi, Mas."
"What..?!" Ardian langsung mengangkat kepalanya. Matanya membulat menatap istrinya dengan tatapan sendu.
"Kenapa kaget, Mas? Pasti pikiran kamu tidak jauh dari hal begituan. Puasa dulu sampai tiga atau empat hari ke depan. Sambung puasanya yang kemarin." Ucap Chayra sambil mengambil baju gantinya di dalam tas. "Aku mau mandi sebentar. Tolong nanti Adzra diperhatikan kalau bangun."
Ardian hanya melongo melihat istrinya yang berlalu ke kamar mandi.
*********
"Aku kok baru tau kalau Abang suka martabak." Bian masih terheran-heran melihat kakak iparnya menyantap martabak manis yang dibawanya dengan lahap.
"Aku kekurangan gula, Bi. Beberapa hari terakhir ini, aku tidak makan dengan baik. Pekerjaan di kota A terlalu padat sehingga waktu makan pun sering dipercepat. Eh, ngomong-ngomong dipanggil Abang sama kamu kok rasanya beda ya.. Siapa yang ajarin kamu tiba-tiba manggil aku Abang?"
"Aku kayak seneng aja. Teman-teman sekolah aku banyak yang memanggil Kakak laki-laki mereka begitu. Aku kan tidak punya Kakak laki-laki. Yang ada cuma Kakak ipar. Makanya aku menerapkan di Kakak. Enak juga kedengarannya."
"Aku juga senang di pinggil Abang. Terdengar bagiamana gitu.."
"Woaahhh... kalau begitu, besok Abang aku kasih kehormatan untuk mengantarkan aku ke Sekolah."
"Hah..?! Katak aku nggak ada kerjaan nganterin anak tengil seperti kamu sekolah?"
"Mengantar Bian ke Sekolah itu suatu kehormatan, Bang. Tidak semua orang mendapatkan izin mengantarkan aku ke Sekolah. Harus ada sertifikat resmi dari Kakek kalau ingin mengantar aku."
Ardian melengos. "Kayaknya sifat arogan seseorang sudah diwariskan ke kamu sekarang."
"Jangan macam-macam, Bang. Nanti aku laporkan ke Kakek aku, tau rasa kau."
"Lapor saja, Bi. Kamu kan sudah mengajarkan padaku bagaimana cara melawan Kakek."
Percakapan mereka terhenti saat Chayra datang bergabung. "Kenapa berhenti ngobrol saat aku datang?"
Tidak ada yang menjawab. Bian dan Ardian hanya tersenyum saling pandang. "Kalian berdua kok seperti orang yang tidak beres." Chayra mencomot sepotong martabak terakhir di wadah depan suaminya.
"Bi, titip keponakan kamu sebentar ya, Abang mau keluar dengan Kakak kamu. Dia butuh refreshing katanya dari kemarin."
Chayra langsung menatap tajam suaminya. "Jangan gila deh, Mas. Anak kita sedang sakit, masa mau ditinggal keluar. Aku memang butuh refreshing, tapi tidak sekarang juga, Mas. Cari waktu yang tepat dulu biar Adzra juga bisa ikut. Kamu juga kan masih capek. Seharusnya pulang dari luar kota kamu istirahat total. Tapi karena keadaan jadinya seperti ini."
"Kak Ayra betul. Abang ini cara mikirnya bagaimana sih? Masa iya mau ninggalin anak saat anak sedang sakit. Bagaimana kalau Adzra mau mimik nanti. Aku kan nggak punya PD yang mengandung susu kayak Kak Ayra."
"Dek, ngomong apa sih?" Chayra melempar Bian dengan tisu di tangannya.
"Hehehe... aku kan ngomongnya pakai singkatan, Kak. Jangan marah ah..." Bian cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya. "Abang, kalau mau ajak istri refreshing, cari waktu yang tepat ya.. Jangan sampai kalian yang senang lalu aku yang mendapat mudharatnya."
__ADS_1
Ardian hanya tersenyum kecil seraya melirik istrinya. Chayra memang terlihat lelah. Terlihat jelas lingkaran hitam di bawah matanya menandakan dia kurang istirahat.