Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Maaf, tekanan darahnya naik


__ADS_3

Mobil Ardian berhenti dengan sempurna di depan rumah. Pak Satpam hanya menganga bingung. Tangannya masih menggenggam erat gerbang besi seperti orang kerasukan.


"Pak, tutup lagi gerbangnya. Saya mau istirahat biar tidak ada yang ganggu."


Pak Satpam masih tak bergeming. Hanya matanya yang mengerjap-ngerjap menatap Ardian.


"Pak!" Ardian menjentikkan jarinya di depan wajah Pak Satpam.


"Eh lima enam delapan iya, Tuan?"


Ardian tertawa melihat ekspresi Pak Satpam. Hal itu membuat kekesalannya tentang Asisten sedikit demi sedikit menguap. "Bapak tutup gerbangnya biar tidak ada tamu. Saya mau istirahat karena tubuh kurang fit." Ardian berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya.


"T.. tapi.. di dalam..."


Ardian berbalik. "Ada apa, Pak?" Kembali melangkah ke depan Pak Satpam.


"Nyonya Chayra sedang kedatangan tamu, Tuan?"


Ardian menautkan alisnya. "Siapa yang bertamu siang-siang gini, Pak?"


"Mm... itu saya kurang tau, Tuan."


Ardian berlalu dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. Perlahan ia membuka pintu utama yang berhubungan langsung dengan ruang tamu. "Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." kompak orang yang sedang duduk di ruang tamu menjawab. Chayra yang duduk menghadap pintu langsung berdiri saat melihat suaminya. Dua orang yang duduk membelakangi pintu masuk membuat Ardian semakin penasaran. Sedangkan Zidane dan Alesha yang duduk di satu sofa sebelah istrinya bisa ia lihat.


"Udah pulang, Mas." Chayra berjalan mendekat dengan senyum mengembang di wajahnya. "Tumben pulang cepat?"


"Kurang enak badan, Sayang." Ardian menarik tubuh istrinya, memeluknya sekilas lalu mencium dahinya.


"Duduk dulu sini, Ar. Ada tamu yang ingin berjumpa kamu." Zidane menepuk sofa disebelahnya.


Dengan malas Ardian akhirnya berjalan mendekat. Baru saja akan duduk, ia urungkan ketika melihat siapa yang duduk di hadapan istrinya dari tadi. "Eh, P.. Pak Ghibran.." Ardian menunduk seraya meraih tangan Ghibran lalu menciumnya. Hal itu tentu saja membuat seisi ruangan terkejut. Jangan tanyakan lagi ekspresi Ghibran. "M.. maaf, Pak. Saya tidak tau kalau tamunya Bapak." Ghibran hanya mengangguk kikuk. Dirinya merasa tidak enak dengan sikap Ardian.


Alesha dan Zidane bahkan langsung saling pandang. Antara percaya dan tidak dengan sikap Ardian saat ini.


"Tumben pulang cepat, Ar. Kata Ayra biasanya kamu selalu pulang saat akan masuk waktu Maghrib?" Zidane mencoba memecah kekakuan di ruangan itu.


"Mm.. iya, Kak. Aku kurang enak badan makanya izin pulang tadi. Ini saja Pak Randi protes tadi karena ada bahan rapat yang harus kami diskusikan. Tapi, mau bagaimana lagi, Kak. Tubuh tidak bisa diajak kompromi."


"Kamu istirahat saja kalau begitu. Maaf aku datang membawa Ghibran. Aku ada agenda ke luar kota tiga hari ke depan bersamanya. Mm.. aku mau menitip Alesha tiga hari ke depan, nggak apa-apa kan?"


Ardian terdiam menatap Zidane. Dahinya mengkerut mencoba mencerna maksud ucapan Zidane.


"Kenapa diam, kamu keberatan?"


"B.. bukan begitu, Kak. Aku masih gagal fokus mendengar ucapan Kak Zidane tadi. Memangnya Alesha mau ditinggal selama itu?"


"Kali ini tidak ada pilihan lain. Coba kamu mau pindah ke Perusahaan aku kemarin, aku pasti tidak akan sesibuk ini sekarang."

__ADS_1


Ardian hanya tersenyum kecil menanggapinya. Kalimat-kalimat protes dari pihak keluarga istrinya silih ganti berdatangan. Tetapi, ia hanya menganggap angin lalu. Intinya, istrinya tidak protes dan selalu mendukung setiap keputusan yang diambilnya. "Kita memiliki jalan hidup masing-masing, Kak. Aku sudah menikmati pekerjaanku yang sekarang. Dan Kak Zidane juga harus bisa menikmati pekerjaan Kakak."


"Mau tidak mau aku harus menikmatinya. Itulah mengapa sekarang aku datang untuk menitip istriku. Dia tidak mau ke rumah Papa Panji karena disana pun dia tidak memiliki teman."


"Aku tidak keberatan kok, Kak. Justru aku senang. Dengan begitu, Chay tidak akan kesepian saat aku pergi bekerja."


Alesha merenggut kesal. "Nanti kalau acaranya sudah selesai, kamu langsung pulang, Mas. Jangan pakai acara pesta penutupan segala."


"Iya, Sayang. Kamu kok makin kesini makin posesif sih. Tuh lihat istrinya Ghibran, kalem aja tuh ekspresinya walaupun suaminya akan pergi."


"Dia kan tidak hamil, Mas. Dia juga kan mau ikut serta menemani suaminya. Aku sedang hamil tua malah ditinggal suami. Siapa nanti yang bantu pijit-pijit kalau kaki aku kram lagi."


"Tidak usah khawatir, Lesha. Nanti aku utus Bi Idah untuk menemani kamu tidur. Dijamin kamu akan tidur anteng menikmati pijitannya." Chayra ikut menimpali karena kasihan melihat ekspresi Zidane yang terlihat berat meninggalkan istrinya.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang, Zi. Jangan sampai kita telat ke Bandara nanti." Ghibran mencoba mengakhiri perdebatan. Menarik tangan istrinya agar ikut bangkit seperti yang dilakukannya.


"Istrinya Pak Ghibran mau ikut?"


"Ikut," Ghibran meraih tas istrinya di atas meja. "Sekalian kami mau bulan madu."


"Oh," jawab Ardian.


Setelah tamunya pamit, Ardian langsung menaiki tangga. "Chay, bawakan tas aku ke atas. Aku mau istirahat sebentar."


"Iya, Mas." Chayra mengambil tas kerja Ardian lalu mendekapnya di dada.


"Mas Ardian sengaja, Lesha.. biar ada ladang pahala untukku."


"Iya.. iya.. terserah kamu. Kamar untuk aku yang mana, Ayra."


"Pakai yang dilantai dua saja ya. Kamar yang bersebelahan dengan kamar kami."


"Nggak mau ah,"


"Loh kenapa emangnya?"


"Gue tidak mau mendengar suara aneh di tengah malam nanti."


"Maksudnya?" Chayra melepaskan tas kerja suaminya, menatap Alesha dengan tatapan bingung.


"Kan lho tidur sama suami lho. Terus kalau terjadi apa-apa diantara kalian berdua, yang kebagian suaranya pasti aku. Lah, aku tidak punya teman tidur."


"Huh, pikiran kamu melayang ke hal yang nggak bener. Perlu di ruqyah kayaknya ni otak biar nggak ngeres terus." Chayra memijit kepala Alesha dengan gemas. Alesha malah menikmati pijitan yang terasa menenangkan itu.


"Lesha, kenapa kamu bilang begitu tadi pada Kak Ghibran?"


"Apa?"


"Kenapa kamu bilang kalau istrinya dia tidak sedang hamil. Wajahnya terlihat pucat saat kamu bilang begitu tadi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Apa kamu tidak mendengar Kak Ghibran bilang apa tadi? Mereka sedang ikhtiar, tetapi Allah belum mengizinkan."


Alesha terdiam beberapa saat. Spontan ia beristighfar setelah menyadari kesalahannya. "Astagfirullah, ya Allah... mudah-mudahan dia tidak tersinggung. Ni mulut kenapa juga tidak bisa ditahan untuk tidak berkata begitu tadi."


"Sudahlah, intinya kamu sudah menyadari kesalahan kamu. Aku mengingatkan soalnya Ibu pernah mengingatkan aku untuk menjaga mulut. Masalah tadi soalnya masalah sensitif."


"Maaf, Ayra.."


"Sudah ah, jangan terlalu dipikirkan. Mereka pasti paham kok."


"Eh, gue malah ingin menanyakan sesuatu sama lho." Alesha menarik tangan Chayra yang sudah meraih kembali tas kerja suaminya.


"Apa lagi sih?! Kamu istirahat sekarang, Lesha."


"Ntar dulu, gue mau bertanya sama lho."


"Menanyakan apa lagi sih..?"


"Mm.. bagiamana perasaan lho saat tiba-tiba seorang Ghibran Abdullah datang bertamu ke rumah lho." Alesha menaik turunkan alisnya menunggu jawaban Chayra.


"Apaan sih, biasa aja. Dia kan datang bersama kamu dan Kak Zidane."


"Tapi, sebagai manusia biasa yang pernah saling mencintai, pasti ada getaran saat mantan datang bertamu secara tiba-tiba."


"Nggak ada lah, aku merasa biasa aja kok."


"Cie... yang berbunga-bunga ketemu mantan.."


"Ternyata kamu masih di sini, Chay. Adzra dari tadi nangis cari kamu. Disuruh langsung naik malah asyik membicarakan mantan." Ardian melengos kesal sambil menyerahkan Adzra kepada Chayra.


"Apaan sih, Mas. Alesha aja yang suka menggoda aku tadi. Tadi juga aku mau langsung naik. Tapi Alesha minta di antar ke kamar yang bisa dia tempati."


"Alasan aja kamu. Asuh aja anak yang bener. Udah punya suami juga, masih aja suka mengingat mantan."


"Kak Ardian please deh... Ngapain marah nggak jelas kayak gitu sih? Memang aku yang sengaja menggoda Ayra tadi. Lho ini laki tapi kayak wanita yang sedang PMS aja."


Ardian kembali melengos. "Intinya aku nggak suka ada yang membicarakan mantan. Nggak di rumah nggak di kantor ada aja yang buat kesel."


"Bilang aja kalau lu cemburu. Udah punya sertifikat hak milik juga, masih aja cemburu nggak jelas. Ayo Ayra antar gue ke kamar. Ilfill gue lama-lama berdekatan dengan laki-laki cemburuan kayak dia." Alesha menarik tangan Chayra yang sedang menenangkan Adzra.


"Tapi ini Adzra nggak mau diam, Lesha."


"Suruh Bapaknya yang menyebalkan itu menenangkannya. Pasti dia yang sengaja membangunkan Adzra tadi. Iri kayaknya melihat Kak Ghibran datang tadi. Padahal dia kan cuma menemani Mas Zidane mengantar gue kemari."


Chayra hanya menggeleng-geleng pelan. Ardian malah terlihat tidak perduli. Ia mengambil tas kerjanya lalu membawanya naik ke lantai dua. Ada pekerjaan yang akan dia diskusikan dengan Pak Randi. Sudah dua kali Pak Randi menghubunginya untuk membahas pekerjaan yang ditinggalnya. Tetapi, sekian menit menunggu, istrinya tidak kunjung datang membawa tasnya.


********

__ADS_1


__ADS_2