
Ardian menarik nafas lega saat masuk ke dalam lift. Harapan untuk bisa menemani istrinya periksa ke Dokter Kandungan sepertinya akan tercapai. Tapi, Drama kemarin masih membekas dalam ingatannya. Masih sering gagal fokus dan kebanyakan melamun saat bekerja tadi. Beberapa kali kena semprotan atasannya karena dia tidak fokus. Di suruh ambil berkas ini malah yang datang berkas yang itu.
Ardian tersenyum sendiri membayangkan kebodohannya tadi. Beberapa kali mengusap wajahnya sambil tersenyum. Untung saja dia sendirian di dalam lift. Memang masih jam kerja sehingga tidak ada manusia yang lalu lalang. "Ya Allah, kenapa aku terlihat sangat bodoh tadi," ucapnya lirih. Hampir saja Pak Meneger melemparnya dengan berkas yang dibawanya tadi, kalau saja dia tidak bisa menahan diri.
Ardian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga. Masih ada waktu satu jam setengah sebelum istrinya berangkat ke Klinik. Tapi....
Ardian sedikit terkejut saat melihat keributan di Lobi. Tidak mau ambil pusing, dia langsung menghindar tidak mau melihat perdebatan yang sepertinya terjadi antara seorang perempuan dan laki-laki. Mungkin mereka adalah pasangan suami istri batinnya seraya berlalu.
Ardian menekan nomor handphone istrinya. Mencoba menghubungi Chayra sebelum dia pulang. Panggilan langsung tersambung pada deringan pertama. Tapi, dia sedikit berhati-hati karena sedang menyetir. Menjalankan mobilnya dengan lebih pelan.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu berangkatnya jam berapa nanti?"
Chayra bangkit seraya menyandarkan tubuhnya. Menyebikkan bibirnya mendengar pertanyaan suaminya. "Antusias banget, kayak orang yang bisa hadir saja." Suaranya sedikit serak seperti orang baru bangun.
"Eh, kok malah ngomong gitu? Kamu berangkatnya jam berapa nanti biar aku lebih mempersiapkan diri."
"Aku dapat antrian nomor dua puluh, Kak. Agak lambat kayaknya. Ini aja aku masih bobo manis di atas kasur. Kayaknya aku akan berangkat jam setengah lima atau mungkin bisa jadi jam lima dari rumah."
"Iya sudah kalau begitu. Bangun, jangan terlalu banyak tidur. Kangen kamu, Sayang, assalamualaikum.."
Chayra tercekat mendengar ucapan Ardian. "W.. wa'alaikumsalam.." mematikan sambungan telepon. Menatap layar handphonenya dengan senyum mengembang. Semakin kesini, pria itu semakin sering mengungkapkan perasaannya. Tapi, Chayra malahan merasakan kalau sikap Ardian terlalu berlebihan. Padahal tadi pagi mereka berpisah. Tadi siang juga nelpon mengatakan kalau dirinya sudah rindu berat. Chayra hanya bisa menggeleng-geleng pelan menyikapi tingkah suaminya. Ia bangkit dari atas tempat tidurnya. Sebenarnya masih malas, tapi waktu Ashar akan tiba. Dia harus bersiap agar bisa shalat tepat waktu.
"Mau berangkat jam berapa, Nak?" Santi bertanya saat melihat putrinya masuk ke dalam dapur untuk mengambil air minum.
"Kayaknya agak sore, Bu. Soalnya nomor antriannya nomor dua puluh." Jawab Chayra seraya duduk lalu meneguk minuman yang diambilnya tadi.
"Disuruh daftar dari pagi, kamunya ngeyel."
"Sebenarnya aku sengaja, Bu. Mudah-mudahan Kak Ardian bisa hadir. Barusan sih udah nelpon menanyakan kapan berangkat."
"Jangan dipaksa kalau memang dia tidak bisa ikut. Kasihan suami kamu capek."
"Aku nggak maksa, Bu. Cuma berharap aja.." Chayra bangkit seraya mencomot satu potong bolu di depan ibunya.
"Duduk caranya makan, Nak. Kamu ini lagi hamil juga kebiasaan."
__ADS_1
Chayra hanya cengengesan sambil duduk kembali. "Maaf, Bu."
Santi mengangguk. "Oh iya, Nak. Ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu."
Chayra menelan bolu di mulutnya sebelum menjawab. Takut terkena semprotan lagi kalau bicara sambil ngomong. "Ibu mau membicarakan apa?"
"Mm.. Ibu mau ke makam Almarhum Bapak kamu, Nak minggu depan. Tapi, Ibu mau pergi berdua sama Bian. Kamu diam di rumah dengan suami kamu. Keadaan kamu yang hamil besar membuat Ibu khawatir kalau kamu ikut."
Chayra termenung beberapa saat. "Hari perkiraan lahirnya kan masih jauh, Bu. Kata Dokter pas periksa kemarin kan, aku masih boleh menaiki pesawat terbang."
"Tapi Ibu yang tidak memperbolehkan kamu. Kamu ikut besok kalau kamu sudah lahiran. Kalau anak kamu sudah empat atau lima bulan."
"Astagfirullahal'adzim.. jauh amat, Bu."
"Memangnya kamu sampai hati membawa bayi kamu dalam perjalanan jauh. Kita aja yang sudah dewasa bisa masuk angin, apalagi bayi, Nak."
"Kalau begitu Ayra mau ikut sekarang. Ayra juga rindu sama Bapak, Bu."
"Kalau rindu kirim do'a, Nak."
"Tapi, Ibu khawatir, Sayang. Ibu juga sudah perkirakan, kalau Ibu tidak akan bisa kesana beberapa bulan ke depan. Itu makanya Ibu mau pergi sekarang."
"Apa ibu juga tidak memikirkan hal itu berlaku juga untukku?"
Santi mendengus. Andaikan bisa pergi diam-diam, dia akan pergi saja. Tetapi, dia masih memikirkan perasaan putrinya. "Ibu akan pertimbangkan nanti. Berdebat sama kamu selalu saja Ibu yang kalah." Meninggalkan putrinya yang hanya menunduk. Baru sampai depan pintu, ia berbalik lagi. "Oh iya, Nak. Sebenarnya, Ibu juga mau menghadiri acara nikahan Ghibran ke sana."
Deg...!
Chayra mengangkat kepalanya, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Itulah mengapa Ibu menyuruh kamu lebih baik diam di rumah saja. Ibu tau kalau kamu sudah tidak ada perasaan apa-apa sama dia. Tapi, pasti ada perasaan canggung atau perasaan yang lainnya saat melihatnya bersanding dengan wanita lain."
Chayra menelan ludahnya. "Aku.. aku bisa diam di rumah Ummi saat Ibu pergi nanti. Aku tidak mungkin hadir juga karena aku tidak di undang."
Santi menghela nafas berat. Melangkah kembali mendekati Chayra. "Ghibran menitipkan surat undangan untuk kamu dan Ardian. Tapi, Ibu tidak mau memberikannya untukmu. Mungkin akan lebih baik kalau kamu tidak datang ke acara itu."
Chayra mengangguk setuju dengan ucapan ibunya.
__ADS_1
"Sudah, jangan dipikirkan. Kamu mandi sana lalu shalat. Panggil Ibu kalau kamu mau berangkat nanti. Sekalian suruh adik kamu bersiap juga. Dia katanya mau ikut tadi."
"Ikut ngapain?"
"Dia cuma mau ikut nebeng, Nak. Ada acara dengan teman-temannya di sekolah. Nanti berhenti sebentar, kita kan lewat depan sekolahnya dia."
"Terserah Ibu kalau begitu." Chayra berlalu untuk kembali ke kamarnya. Tidak lupa dia mengetuk pintu kamar Bian saat melintas di depan kamar adiknya. Memperingatkan Bian agar bersiap.
*********
Chayra terkejut saat melihat mobil Ardian sudah berada di Parkiran Klinik. "Ini kan mobil Kak Ardian, Bu." Menunjuk mobil yang kebetulan bersebelahan parkir dengan mobil ibunya.
Kaca mobil itu tiba-tiba terbuka. Chayra terkejut dan langsung menengok orang di dalam mobil. Tersenyum sambil mencubit gemas pipi suaminya. "Kakak kapan datang. Kenapa nggak bilang kalau udah berangkat duluan?"
"Eh, kamu ini kebiasaan suka cubit-cubit pipi aku. Mentang-mentang pipi aku ada isinya sekarang." Ardian malah sibuk mengusap pipinya, tidak menjawab yang ditanyakan istrinya. "Ayo kita masuk sekarang." Membuka pintu mobil lalu menggandeng tangan Chayra.
"Kakak belum jawab pertanyaan aku kapan datang?"
"Aku dari setengah empat disini. Tadi shalat Ashar disini juga. Mumpung kerjaan aku ada yang ambil alih tadi. Jadi aku langsung minta izin untuk pulang duluan."
"Kenapa nggak pulang dulu. Tau kayak gini aku telpon saja tadi minta dijemput biar Ibu nggak repot-repot mengantar aku."
"Hehehe.." Ardian malah tersenyum salah tingkah. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Niatnya mau buat surprise tadi." Ardian mengedarkan pandangannya melihat suasana sekitar. "Eh, itu kan..." Perhatian Ardian teralihkan saat melihat orang yang sepertinya sangat dia kenal. "Kate...!" Ardian berteriak memanggil nama teman lamanya itu.
Kate yang dipanggil langsung mengedarkan pandangannya. Bibirnya tersenyum saat melihat Ardian berjalan mendekatinya.
"Lho lagi ngapain di sini?" Ardian bersalaman dengan Kate dengan gaya khas mereka.
"Lagi temenin si Andre. Lho masih ingat Andre, kan?"
Ardian memikirkan nama-nama teman lamanya. "Iya... lupa-lupa ingat gue. Memangnya dia lagi sakit?"
"Nggak.. Dia membawa Audy kemari untuk periksa kandungannya. Kemarin wanita itu datang dan tiba-tiba langsung meminta pertanggungjawaban Andre. Katanya dia hamil anak si Andre."
Chayra dan Ardian tercekat. Langsung saling pandang mendengar cerita Kate.
*********
__ADS_1