Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Beban pikiran Ardian


__ADS_3

Pagi itu saat sarapan pagi di rumah Santi..


"Kamu bilang apa, Nak?" Santi masih belum percaya dengan yang diucapkan Zidane. Meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Selera makannya langsung hilang.


"Aku mau ke rumah Alesha, Bu. Aku mau meminta restu pada kedua orang tuanya. Aku benar-benar ingin mengkhitbah Alesha untuk menjadi istriku."


"Huk.. huk..." Chayra yang sedang meneguk minumannya langsung tersedak. "Kak Zidane jangan bercanda. Orang tuanya Alesha itu sangat tegas, Kak. Aku nggak jadi selera makan." Mendorong piringnya menjauh dari hadapannya. "Mendengar ucapan Kak Zidane membuat perutku langsung kenyang."


"Huh, Siapa yang bercanda, Dek. Aku serius ini. Aku sudah bilang sama dia sejak beberapa hari yang lalu. Aku berencana ingin pergi saat kamu masih dirawat kemarin. Tapi, aku batalkan dan meminta maaf pada orang tuanya lewat Alesha sendiri."


Chayra menghela nafas berat. "Kak Zidane benar-benar serius sama Alesha. Aku sih tidak keberatan. Alesha juga orangnya sangat baik. Tapi, Kak Zidane mau pergi sama siapa?"


"Sendirian lah, memangnya aku mau lamaran harus pakai acara ditemani segala."


"Aku ikut aja, biar kalau Kak Zidane ditolak, ada yang menguatkan Kakak nanti."


"Justru aku mau pergi sendiri agar tidak ada yang menjadikan aku bahan tertawaan nantinya."


Chayra mendengus. "Mirip banget sih, sama sifat Abah. Keras kepala.."


"Lah, emang Abah gue kenapa lho yang sewot."


"Sudah, kalian ini kok kayak anak kecil." Santi kembali menatap Zidane. "Memangnya kamu yakin sama Alesha, Nak?"


"Insya Allah, Bu. Yakin banget malahan. Aku udah tiga kali shalat istikharah. Alhamdulillah, semakin kesini, hatiku semakin mantap, kalau dialah orang yang terbaik untukku."


"Sudah ngomong sama Ummi dan Abah kamu?"


Zidane langsung menatap Santi. "B.. belum, Bu. Rencananya aku mau cerita kalau udah dapat restu dari orang tuanya Lesha dulu."


"Kamu ini bagaimana sih. Seharusnya tanyakan dulu pada Abah dan Ummi kamu. Kalau mereka sudah setuju dan memberi kami restu, baru kamu berangkat dengan mengucap basmalah."


Zidane menggaruk-garuk kepalanya. "Harus kayak gitu ya, Bu?"


"Iya jelas harus, Nak. Kamu bisa mengabari Ummi kamu lewat telepon dulu. Nanti kalau sudah pasti, baru kamu pulang."


"Mm.. Zidane akan coba sekarang, Bu." Zidane meninggalkan meja makan. Berjalan ke arah pintu keluar lalu duduk di bangku panjang di bawah pohon kelengkeng di halaman depan rumah Santi.

__ADS_1


"Ayra, kamu panggil suami kamu untuk sarapan. Mentang-mentang hari libur, kok dia malas-malasan."


"Kak Ardian bukan sedang malas-malasan, Bu. Dia sedang mengerjakan sesuatu yang tidak aku pahami. Katanya, sekarang dia mau kerja lewat rumah biar tidak terlalu sering ke Kantor. Dia juga mau ngomongin sesuatu sama Ibu. Tapi nanti kalau kerjaannya sudah selesai."


"Dia sekarang semakin sibuk. Selalu pulang malam dan tidak pernah ikut sarapan di rumah. Kalau begitu bawakan sarapannya ke kamar. Kasihan nanti kalau telat sarapan gara-gara kerjaan."


"Iya, Bu. Sekalian Ayra sarapan di kamar kalau begitu."


"Terserah kamu." Santi mengatur nampan yang akan dibawa putrinya ke dalam kamar. "Kamu hati-hati bawanya." Menyerahkan nampan itu pada Chayra.


Chayra bangkit dengan sedikit tertatih. Perutnya yang semakin membuncit membuatnya kewalahan untuk beraktivitas. Namun, terlalu banyak tidur juga membuatnya tidak nyaman.


"Assalamualaikum, Abang.. Adek bawakan sarapan untuk Abang." Chayra mengendap-endap masuk ke kamar. Melihat suaminya masih sibuk di depan laptop, ia urungkan niatnya untuk mendekat. Memilih meletakkan sarapan yang dibawanya di Nakas.


Lama menunggu, tetapi Ardian tetap pada kesibukan awal. Chayra akhirnya memilih untuk mendirikan shalat Dhuha dulu sementara suaminya selesai.


Usai mendirikan shalat, Chayra kembali melirik suaminya. Ardian malah terlihat semakin fokus. Chayra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Ia akhirnya memilih mendekat dan menepuk pelan pundak Ardian. "Kak.."


"Mmm.." hanya itu jawaban Ardian.


"Sarapan dulu."


"Sudah Dhuha belum?"


"Belum, tapi nanti dulu. Aku harus menyelesaikan ini biar nggak ada beban nanti."


Chayra akhirnya hanya bisa membuang nafas dengan kasar. "Aku mau ke Toko bersama Ibu, boleh?"


"Mau ngapain? Kamu jangan kecapekan nanti malah jadi penyakit."


"Aku bosan di rumah. Sama suami, tapi suami selalu sibuk sendiri. Nggak ada waktu buat aku. Hari libur masih sibuk kerja, apalagi di hari kerja. Aku lebih baik menghindar dengan ikut ke Toko bersama Ibu. Dengan begitu aku tidak akan merasa diabaikan."


Duarrr..!


Ardian langsung bangkit. Ucapan Chayra membuatnya seperti mendapatkan satu tamparan keras. "Mmm.. j.. jangan..."


"Apa...?"

__ADS_1


"Aku sudah selesai sekarang. Kamu jangan pergi ya."


"Aku capek, Kak. Semakin kesini Kak Ardian semakin nggak ada waktu untuk aku. Aku mengkhawatirkan bagaimana kalau aku lahiran nanti? Apa Kakak masih sibuk seperti ini atau ada waktu untuk aku."


"Aku sedang mempersiapkan semuanya, itulah mengapa aku sangat sibuk sekarang."


Chayra hanya mendengus. Ia memilih keluar dari kamar daripada harus berdebat dengan suaminya. "Sarapannya dimakan. Pekerjaan tidak akan bisa membuat perut Kak Ardian kenyang."


Brak..!!


Chayra menutup pintu kamar dengan kasar.


Ardian mengusap wajahnya dengan kasar setelah kepergian Chayra. Papinya mengirimkan banyak sekali pekerjaan lewat email. Dia harus mengerjakan itu semua agar dia tidak kewalahan dan tidak sampai pergi ke tempat Papi dan Maminya sekarang.


Belum lagi ada masalah baru yang dibuat Amira. Gadis itu benar-benar masih menyimpan dendam. Ancaman demi ancaman dia kirim pada Ardian. Ternyata menikah dengan pria Arab itu tidak membuatnya berubah. Suaminya yang terlalu sibuk bekerja membuatnya memiliki kebebasan tersendiri.


Ardian hanya mengkhawatirkan keadaan istrinya jika yang dikatakan Amira benar-benar terjadi.


Ardian kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Allah..." ucapnya lirih seraya mendekati laptopnya untuk menyimpan pekerjaannya yang tak kunjung selesai.


Ia beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia harus shalat agar pikirannya bisa lebih tenang. Baru saja keluar dari kamar mandi, handphonenya berbunyi nyaring. Matanya terbelalak saat melihat Amira yang menghubunginya. "Apa-apaan ini? Dia berani menghubungiku sekarang?" Ardian berdecak. Menekan ikon berwarna merah lalu mematikan handphonenya. Dia harus bisa menghindar agar Amira tidak terus-menerus menghubunginya.


Ardian benar-benar merasa tertekan. Di satu sisi, Chayra butuh perhatiannya. Di satu sisi lagi, Papinya selalu menuntutnya untuk bekerja full time. Di sisi yang lain, ada Amira yang selalu mengancamnya. Ia memutuskan untuk segera shalat setelah memastikan semuanya aman.


Ardian duduk termenung di atas sajadahnya. Dia pasrah dengan kondisinya yang sekarang. Ancaman Amira benar-benar mempengaruhi pikirannya. Namun, dia belum ada bukti untuk membantah semua ucapan ataupun tuduhan gadis itu.


Lama Ardian duduk bersimpuh. Air matanya terasa ingin jatuh. Namun, dia berusaha menahannya sekuat tenaga. Dia tidak boleh lemah. Ardian akhirnya bangkit. Ekor matanya melirik nampan yang diletakkan istrinya. Sebenarnya dia tidak selera makan. Tapi..


Dia akhirnya berjalan mendekati nampan itu. Tidak menyentuh makanan itu sama artinya dengan menambah masalah. Menyuapnya beberapa kali lalu keluar dari kamar.


Ardian mendapati istrinya sedang duduk menonton televisi. Ada keraguan dalam hatinya saat dirinya akan berjalan mendekat. Lama dia berdiri, melangkah perlahan dan duduk dengan sangat hati-hati di samping Chayra.


Chayra melirik seraya memberikan senyuman tipis untuk suaminya. "Sudah selesai kerjaannya?"


Ardian tersenyum kecil seraya menarik nafas dalam. "Belum.."


"Lanjutkan saja, aku baik-baik saja kok."

__ADS_1


"Tidak, aku mau menemani kamu dulu. Aku juga bosan di depan komputer terus." Ardian perlahan mengangkat tangannya. Merangkul pundak Chayra yang hanya tersenyum tipis menanggapi perlakuan suaminya.


*******


__ADS_2