Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Biasakan mulut berkata yang baik-baik


__ADS_3

"Mas, perasaan kamu sudah menjanjikan sesuatu sama aku." Ucap Chayra tiba-tiba di sela-sela sarapan mereka.


Ardian yang baru saja mendekatkan mulut gelas ke mulutnya, menurunkan kembali gelas itu lalu menatap istrinya. "Aku ada janji apa lagi, Chay? Perasaan kemarin aku sudah menepati janjiku untuk membelikan kamu cilok di ujung gang rumah Ibu."


"Janji kamu yang di Rumah Sakit pas Adzra di rawat kemarin, Mas. Kamu kan sekarang lagi cuti. Seharusnya kamu menepati janji itu sekarang. Aku juga butuh di servis, bukan hanya kamu yang menuntut setiap malam."


Ardian tersenyum menatap istrinya. "Itu juga kan demi kebaikan kita, Sayang. Kamu sering servis aku, aku akan semakin semangat kerja dan tidak ada minat untuk jajan sembarang tempat. Jangankan untuk mencoba, melirik aja nggak nafsu karena sudah kenyang dari rumah." Menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.


Chayra langsung melengos. "Aku capek keramas setiap pagi, Mas. Rambut aku kayak nggak pernah kering. Nggak kebayang deh kalau rambut aku panjang. Untung aja rambut aku pendek kayak gini. Pasangan normal biasanya berhubungan suami istri itu tiga kali dalam seminggu. Lah, kok kita malah seperti pasangan abnormal."


Ardian melototkan matanya. Nasi yang masih di dalam mulutnya ia telan paksa. "Siapa yang bilang begitu? Banyak kok yang melakukannya setiap hari. Bahkan ada yang sampai dua tiga kali sehari." Ardian meneguk air minumnya sampai tandas. Mendengar perkataan istrinya, kok membuatnya merasa kesal.


"Makanya itu yang namanya pasangan abnormal. Udah ah, kok malah membahas hal beginian. Aku sedang menagih janji kamu waktu di Rumah Sakit."


Ardian terdiam sejenak mencoba mengingat. Dia benar-benar lupa dengan janjinya. "Aku lupa, Chay. Kamu bisa mengatakan ulang janji itu, biar aku ingat." Ucapnya setelah dia merenung tapi tidak ada bayangan ingatan sama sekali.


Chayra menghela nafas berat. "Huh, nggak ada usaha sama sekali untuk mengingat sendiri. Janji itu hukumnya wajib ditepati, Mas. Mas Ardian tau kan definisi kata wajib. Yang namanya wajib itu, kalau dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan mendapat dosa. Memangnya kamu mau menambah stok dosa lagi? Masih ada tempat untuk menambah lagi?"


"Eh disuruh ngingetin kok malah diceramahin. Siapa sih yang mau terus-terusan menambah dosa. Tapi.. ya gitu, terkadang kita tidak menyadari ada saja perbuatan yang membuat dosa kita bertambah. Makanya sekarang aku meminta kamu memperingati aku agar dosaku tidak semakin menumpuk. Dosa di masa lalu saja aku nggak tau berapa gunung. Kalau ditambah lagi dengan yang sekarang..." Ardian menarik nafas panjang. Mengingat dosa membuatnya bangkit berjalan mendekati istrinya. Ia mencium pucuk kepala istrinya lalu kembali duduk.


"Kamu sih, nggak ada usaha untuk mengingat." Chayra memanyunkan bibirnya.


"Eheheh... siapa bilang begitu, Sayang. Aku.. aku memang benar-benar lupa. Otakku terasa buntu, benar-benar tidak bisa mengingatnya." Ardian cengengesan seraya mengelap mulutnya karena sudah selesai sarapan.


"Itu otaknya buntu karena kebanyakan diservis. Coba jadwal servisnya di ganti biar otaknya encer lagi. Minimal lah tiga kali dalam sebulan."


Ardian membulatkan matanya. "What...?! Itu sih ada yang nggak beres kalau jaraknya sejauh itu."


Chayra hanya tersenyum melihat reaksi suaminya yang dia anggap berlebihan. Ardian teralihkan perhatiannya saat melihat layar handphonenya menyala karena ada pesan masuk. "Wait, ada chat masuk dulu."


Chayra hanya mengangguk seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Ar, hari ini bisa ke Kantor sebentar nggak? Aku tau kamu sedang cuti. Tapi, ada hal penting yang perlu dibahas. Aku tidak bisa ke rumah kamu karena pekerjaan yang benar-benar padat. Pak Randi juga masih kerja dari rumah. Aku jadi kewalahan menghandle semuanya sendiri. Seharusnya kamu tidak cuti dulu sampai Pak Randi sembuh total. Aku lama-lama frustasi terlalu banyak pekerjaan.


Ardian tersenyum membaca pesan Dodit. Hal itu tentu saja membuat Chayra langsung mendelik kesal. "Dapat pesan dari siapa kamu, Mas? Dari cewek yang suka kasih jajan gratis ya, makanya senyum-senyum."


Ardian langsung meletakkan handphonenya karena terkejut. "Astagfirullah, kamu ngomong apa sih, Sayang. Aku baca pesan dari Dodit, ini kamu bisa lihat kalau tidak percaya." Meletakkan handphonenya ke hadapan Chayra. "Lain kali jangan suka nuduh sembarangan, bahaya.. Bagaimana kalau waktu berkata begitu Allah sedang mengijabah setiap ucapan hambanya. Jangan biasakan mulut berkata yang tidak baik, Chay."


"Aku tidak sedang berdo'a, Mas. Aku cuma bertanya kepadamu. Siapa suruh senyum-senyum sendiri tak jelas kayak gitu. Aku kan jadi curiga."


"Ya sudah, lain kali jangan di ulang. Aku tidak suka mendengar kalimat-kalimat tuduhan seperti tadi. Aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Inginnya menjadi yang terbaik, tapi aku masih belajar. Semoga Allah menunjuk aku menjadi imam terbaik untukmu." Raut wajah Ardian berubah. Hal itu tentu saja membuat Chayra merasa bersalah. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar ucapan suaminya. Niat hati bercanda, kenapa percakapan mereka malah seserius ini sekarang. "Aku.. aku cuma bercanda tadi, Mas. Maafkan aku.."


"Iya, Sayang. Aku tau kamu bercanda, tapi lain kali jangan bercanda dengan ucapan-ucapan seperti tadi. Soalnya, aku merasa seperti laki-laki yang nggak bener. Aku sering teringat masa lalu kalau kamu ngomong kayak tadi. Kamu kan tau aku ini mantan bajingan." Jawab Ardian dengan ekspresi datar.


"Sssttt... udah Mas, jangan diingat lagi. Maaf untuk yang tadi. Lain kali insya Allah aku akan berusaha menjaga mulut aku."


Handphone Ardian kembali berbunyi. Tapi kali ini ada panggilan masuk dari Dodit. Handphone yang masih di tangan Chayra langsung di serahkan kembali pada pemiliknya.


"Ngapain ni orang pakai acara nelpon segala." Ardian meraih handphonenya lalu menjawab panggilan itu.


"Wa'alaikumsalam, Pak Asisten Direktur. Ngapain hubungin pagi-pagi, ganggu istirahat orang saja."


"Eh, benarkah kamu masih istirahat? Tapi masa iya sih? Pesanku kan statusnya sudah terbaca."


"Nggak, aku sedang sarapan, ada apa?"


"Kenapa tidak membalas pesanku?"


"Malas aku. Orang lagi cuti kok diminta ke Kantor."


"Ya Allah, Ar.. please deh.. aku benar-benar kelimpungan. Aku nggak bisa ke rumah kamu karena ada berkas yang harus di antar ke rumah Pak Randi. Terus berkas itu juga harus dipelajari Pak Randi, soalnya besok akan dibahas pada rapat Dewan Direksi."


"Terus masalahnya apa denganku. Dua hari lagi aku akan masuk kerja kan. Aku kan bisa selesaikan nanti."

__ADS_1


"Eh, kamvreet ni orang." Dodit akhirnya mengumpat karena Ardian benar-benar menguras kesabarannya. "Kita harus membahas berkas itu bersama di rumah Pak Randi. Kalau aku ke rumah kamu dulu, takutnya waktunya malah habis di jalan. Kamu tau kan, rumah Pak Randi dan rumah kamu berada di ujung barat dan ujung timur."


"Itu sih resikonya ditanggung kamu, Dit."


Dodit terdiam beberapa saat. Dia sedang mencari akal untuk membuat Ardian tidak bisa menolak permintaannya. Ia tersenyum setelah mendapatkan ide. Menarik nafas dalam-dalam. "Ok, kalau kamu menolak, aku suruh Bu Anita ke rumah kamu sekarang. Toh, dia cuma sedang duduk santai di depan meja kerjanya. Nggak ada kesibukan karena Pangeran incaran masih cuti." Ancaman maut akhirnya keluar dari mulut Dodit.


"Eh... no.. no.. no.. biar aku aja yang ke Kantor." Ardian langsung menimpali dengan panik. Ia melirik ke arah meja makan. Ternyata Chayra sudah tidak ada disana. Ia akhirnya bisa menarik nafas lega.


"Heh, dasar... kenapa aku nggak bilang gitu aja dari tadi." Dodit tersenyum puas penuh kemenangan.


"Aku nggak mau dia menampilkan gayanya yang sok perhatian nanti di depan istriku. Istriku sudah cukup perhatian, tidak membutuhkan wanita macam dia."


"Ok kalau kamu sudah setuju, aku tunggu kamu di Kantor. Jam sembilan kita berangkat ke rumah Pak Randi."


"Aku mau Dhuha dulu, Dit. Nanggung kalau harus dikerjakan di Kantor nanti. Cari rizki itu harus dibarengi dengan shalat biar berkah dunia akhirat."


"Aku juga selalu shalat, Pak Ustadz. Kirain lu aja yang rajin shalat. Udah, kamu cepetan datang. Aku mau mempersiapkan berkasnya dulu. Take care on the way.."


"Aku masih di rumah, belum mau berangkat. Ucapan hati-hatinya di kirim lewat pesan saja nanti pas aku mau berangkat. Nanti aku infokan kalau sudah di depan mobil."


"Kerjaan aku numpuk, Ar. Mana ada waktu untuk hal tak berguna kayak gitu." Suara Dodit naik satu oktaf. Konsentrasinya yang sedang memilah berkas langsung buyar. "Udah ah, assalamualaikum..."


"Hahahaha... wa'alaikumsalam..." Ardian tertawa puas berhasil membuat Dodit kesal. Ia bergegas naik ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Saat masuk, ternyata pakaian ganti dan tas kerjanya sudah disiapkan istrinya dan tersimpan rapi di atas kasur. Ia tersenyum ke arah Chayra yang sedang menyapih Adzra di sofa. "Terimakasih sudah menyiapkan semuanya, Sayang."


"Aku minta maaf untuk yang tadi, Mas."


"Kok masih diingat.."


"Aku memang gitu orangnya suka kepikiran kalau berbuat kesalahan pada orang."


"It's ok.. jangan dimasukkan ke dalam hati." Ardian meraih tubuh istrinya, mendekapnya memberikan pelukan hangat.

__ADS_1


**********


__ADS_2