
Amira berdecak kesal saat melihat Ghibran masuk ke kamar mandi. "Dasar pengecut. Ngapain pakai lari ke kamar mandi coba. Ngomong aja baik-baik sama gue disini. Heh, orang kenalan Ayra yang satu ini kenapa aneh banget ya.." Amira menghempaskan tubuhnya di atas bangku plastik di depan kamar pelayan. "Tuh orang kayak takut sama wanita deh. Atau..." Amira tiba-tiba membayangkan hal-hal diluar dugaan. "Ng.. nggak mungkin kayak gitu. Dia terlihat sangat normal. Apa.. dia kabur karena gue berpakaian kayak gini." Memperhatikan pakaian yang digunakannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Huh," Amira membuang nafas kasar seraya bangkit. "Masih terlihat normal kok. Mas Husen saja nggak pernah marah gue mau pakai baju kayak apaan." Kembali menatap ke kamar mandi. Tapi, yang diharapkan akan keluar tidak kunjung membuka pintu.
Amira kembali masuk ke dalam ruangan. Hanya bisa berdecak kesal saat melihat pemandangan di depannya. Ardian sedang menyuapi Chayra sepotong cupcake. "Bener-bener ni orang." Amira tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekat. Dengan kasar, ia menarik tangan Chayra.
"Ikut gue, Ayra!" Melepaskan tangan Ardian yang menggenggam tangan Chayra.
"Eh, pelan-pelan.."
"Mira, apa yang kamu lakukan?!" Ardian berusaha melepaskan tangan Amira yang terus menarik tangan istrinya.
"Diam lho! Gue mau ngomong sama Ayra, bukan sama lho." Menunjuk mata Ardian dengan kasar. "Cepetan bangun, lama banget sih."
"Kamu bisa sopan dikit nggak sih, Mira. Istriku sedang hamil. Dia tidak bisa bergerak cepat seperti kamu karena dia sedang HAMIL." Ardian lebih menekankan pada kata terakhir.
"Justru karena dia lagi hamil, gue semakin muak sama dia. Kalian ini benar-benar nggak bisa menghargai keberadaan gue disini. Lho ingat nggak, Ayra janji lho sebelum menikah dengan dia?" Kembali menunjuk Ardian. "Ikut gue sekarang, kalau lho nggak mau melihat gue buat keributan di acara Kakak lho ini."
"Amira, dengarkan aku dulu." Chayra berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Amira.
"Gue harus mendengarkan apa lagi? Apa gue harus mendengar janji palsu lho lagi? Sudah cukup lho mempermainkan gue, Ayra." Amira menghempaskan tangan Chayra dengan kasar.
"Mira, apa yang kamu lakukan?!" Tina yang baru datang menepis tangan Amira dengan kasar. Menarik tubuh Amira menjauhi Chayra dan Ardian.
Tubuh Chayra sedikit terhuyung. Dengan sigap, Ardian segera menahan tubuh istrinya. Membawa tubuh itu duduk di kursi terdekat. "Kamu diam di sini. Jangan coba-coba mendekati singa yang sedang lapar itu. Biar Amira aku yang urus."
"Tapi..."
"Sssttt... kamu tunggu aku di sini, Sayang. Sebentar saja, oke.."
Dengan berat, Chayra akhirnya melepaskan tangan suaminya. Tapi, tangan Ardian kembali ditahan oleh sebuah tangan kekar.
Ardian mengangkat kepalanya perlahan. Jantungnya terasa mau copot saat melihat siapa yang menahan tangannya. "K... Kakek..."
"Jangan temui wanita itu atau saat ini adalah saat terakhir kamu bisa melihat cucuku. Sudah cukup sampai disini drama yang kalian buat." Pak Akmal semakin mempererat genggamannya pada tangan Ardian.
Ardian hanya bisa menelan ludahnya. Begitu juga dengan Chayra. Mereka sama-sama tertegun melihat Pak Akmal.
"Berani-beraninya wanita itu membuat kerusuhan dalam acara penting ini. Siapa yang menyuruh kalian mengundangnya. Keterlaluan.. dia sampai menyakiti cucuku yang sedang mengandung. Haram bagi kalian mengizinkan kembali wanita tadi masuk ke dalam ruangan ini." Pak Akmal meninggikan suaranya. Tidak ada yang berani bicara. Suasana benar-benar hening.
"Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi besok pagi. Besok adalah acara yang sangat penting bagi cucu saya Zidane. Jadi, saya memohon dengan sangat kepada anda Pak Panji, untuk tidak membiarkan siapapun itu yang sekiranya bisa merusak jalannya acara anak cucu kita nanti." Pak Akmal menarik nafas dalam. "Walaupun tidak ada orang luar yang hadir dalam acara ini. Tapi, saya tetap tidak suka dengan kejadian tadi. Mohon untuk acara besok, tamu undangannya disortir. Jika ada yang datang dengan membawa dendam sebaiknya tidak diizinkan masuk."
__ADS_1
Semua masih diam. Mereka masih menunggu instruksi selanjutnya yang akan diucapkan oleh orang berpengaruh itu.
Sementara itu...
Amira yang diseret Tina keluar masih memberontak. Tina menyeret Amira sampai masuk ke dalam mobil.
"Maksud lho apa membawa gue keluar dari sana, Tina. Gue belum buat perhitungan untuk si Ayra. Dia sudah sangat keterlaluan sama gue, Tina." Amira mengeratkan giginya kesal.
"Lho tidak tau tempat, Mira. Lho tau kan, ini adalah hari pentingnya Alesha. Perasaan lho dimana sampai ada niat membuat keributan di acara teman lho sendiri." Tina membawa keluar mobilnya dari halaman rumahnya.
"Gue nggak mau buat keributan untuk acaranya Alesha. Gue cuma mau buat perhitungan sama si Ayra."
"Tapi lho salah tempat. Dan... seharusnya lho sadar, Mira. Lho sudah punya suami sekarang."
"Itu nggak ada sangkut pautnya dengan masalah ini."
"Apa lho nggak bisa ikhlas?"
"Ikhlas untuk apa?"
"Lho ikhlaskan masa lalu lho itu. Seharusnya lho bisa bahagian saat melihat sahabat lho bahagia. Seharusnya lho bahagia melihat orang yang lho cintai bahagia walaupun itu tidak bersama dengan lho. Kak Ardian sudah bahagia dengan Ayra."
"Percaya diri amat lho berkata begitu. Lho nggak melihat ekspresinya tadi?"
Amira terdiam mencoba mengingat. Melirik Tina lalu kembali merenung. "Ekspresinya yang bagiamana maksud lho?"
"Lho nggak sadar, Mira. Kak Ardian itu seperti jijik melihat lho."
Amira tersentak, sorot matanya tajam menatap Tina.
"M.. maksud gue jijik bukan karena lho jelek atau apa. Tapi, dia jijik karena cara berpakaian lho yang seperti ini." Menarik pelan baju Amira. "Kak Ardian yang sekarang itu sangat berbeda, Mira. Ayra sudah berhasil membuatnya menjadi pria yang benar-benar pria sejati."
"Ngapain lho puji kemampuan dia di depan gue?"
"Gue nggak muji dia. Ini memang kenyataannya. Kak Ardian bahkan tidak pernah mau berjabat tangan dengan lawan jenisnya sekarang. Dia juga sudah seperti Ustadz bagi kami. Dia menjadi guru ngaji kami kalau Kak Zidane atau Ibu Santi tidak bisa membimbing kami di rumahnya Ayra."
Amira hanya diam. Bingung mau menjawab dengan apa cerita Tina.
"Mau jungkir balik pun, sepertinya lho nggak akan pernah mendapatkan hatinya dia lagi. Dia sudah benar-benar jatuh cinta yang sedalam-dalamnya pada Ayra. Ini bukan karena apa, Mira. Tapi, ini adalah petunjuk dari Allah untuknya. Allah memberikan hidayah untuk Kak Ardian melalui Ayra."
__ADS_1
Amira menggeleng-geleng pelan seolah-olah tidak bisa menerima semua ucapan Tina.
"Lho pikir Ayra juga tidak memikirkan hubungan rumit kalian ini. Dia juga sering menangis dalam diam. Gue awalnya juga sering menyalahkan dia kenapa sampai seperti ini. Tapi, gue pikir-pikir dia juga tidak mungkin ingin berada di posisi ini. Lho bahkan nggak tau keadaannya di awal kehamilannya."
"Ini hal yang paling tidak bisa gue terima, Tina. Dia hamil anak Kak Ardian." Amira *******-***** tangannya untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Ayra juga tidak tau kalau dirinya hamil. Dia bahkan sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya."
"Itu sepertinya lebih baik."
"Astagfirullahal'adzim, lho ini ngomong apa sih?" Tina menepis tangan Amira.
"Seharusnya dia melakukan itu kalau dia memikirkan perasaan gue."
"Alhamdulillah itu tidak terjadi. Gue dan Alesha selalu meyakinkan dia kalau semuanya akan baik-baik saja. Gue juga bilang, Amira sudah bahagia dengan suaminya. Jadi, jangan pikirkan dia lagi."
"Oh, jadi lho juga ikutan..."
"Apa...? Gue nggak merasa melakukan kesalahan apapun. Lho udah punya suami. Seharusnya lho melupakan semua tentang masa lalu. Tatap ke depan. Lihat ke arah laki-laki yang di depan lho. Yang menerima keadaan lho lengkap dengan kekurangan lho."
"Tapi..."
"Apa lagi, Mira? Lho terlalu egois jadi orang. Sudah, gue mau kembali ke rumah. Acara sepupu gue belum selesai. Sebaiknya gue antar lho pulang dulu. Lho sepertinya sudah di blacklist dari daftar tamu undangan."
"Gue harus menyelesaikan masalah gue dengan Ayra."
"Terserah lho. Gue nggak mau ikut campur. Lho urus urusan lho sendiri. Jangan libatkan siapapun itu apalagi gue." Tina mempercepat laju kendaraannya menuju rumah Amira.
"Lho beneran nganterin gue pulang? Terus mobil gue di rumah lho?"
"Nanti gue suruh supir mengantarnya. Mana kuncinya sini." Tina menyodorkan tangannya.
"Nggak. Gue mau ambil sendiri."
"Percuma, lho nggak akan diizinin masuk. Mana kunci lho.." Tina masih bersikeras.
Amira berdecak kesal. Merogoh kunci mobilnya di dalam tas jinjing mewah miliknya.
Tina ngerem sempurna di depan gerbang rumah Amira. "Lho renungkan semua yang gue ucapkan tadi. Ingat, jangan buat masalah yang bisa merugikan diri lho sendiri. Turun sana.." mendorong pelan tubuh Amira keluar dari mobilnya. "Gue pamit, assalamualaikum.." Tina langsung tancap gas tanpa menunggu jawaban Amira.
__ADS_1
*******