Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Sakit perut gara-gara Asisten


__ADS_3

"Ayra, nggak apa-apa ya.. kalau gue minta Tina datang kemari."


Chayra yang baru keluar dari kamarnya terkejut karena Alesha yang sudah berdiri di depan kamarnya. "Eh, emangnya dia tidak kerja?" Jawabnya sambil memperbaiki posisi putranya dalam gendongan.


"Katanya nanti pulang kerja dia kemari. Dia pulang siang hari ini."


"Terserah kamu, yang penting jangan mengganggu aku dengan suamiku nanti malam."


Alesha langsung melengos. "Lho itu kalau lagi seneng aja nggak bagi-bagi sama gue. Nggak tau apa, gue kesepian banget semalam. Eh, saat ada suara malah suara Adzra yang nangis."


"Terus aku harus ngapain? Masa iya, aku harus berbagi pelukan suami dengan kamu?!" Giliran Chayra yang melengos.


"Iya.. nggak segitu juga kali, Mbaaaak..." Alesha meraih Adzra dari gendongan Chayra. "Nanyain kek, gue bisa tidur apa nggak semalam. Pas kumpul sarapan malah wajah lho dan Ardian aja yang seger. Pakai acara nunjukin drama Korea abal-abal lagi sama gue. Kiran nggak sakit hati apa.."


"Nanti lho bisa balas dendam kalau Kak Zidane sudah pulang." Menyebut nama kakaknya, Chayra baru teringat kalau dia belum menanyakan kabar kakaknya itu. "Oh iya, Lesha bagaimana kabar Kak Zidane, sudah bisa dihubungi apa belum?"


Alesha membuang nafas kasar. "Belum.. dia suka gitu orangnya kalau sudah sibuk kerja pasti lupa segalanya."


Chayra menatap Alesha dengan heran. "Dulu Kak Zidane nggak pernah seperti itu. Mungkin kamu yang kurang manja sama dia makanya dia lalai. Pas dia menjaga aku dulu orangnya selalu on kok."


"Itu sih beda ceritanya, Ayra. Dulu aja pas belum nikah perhatiannya, beh...! Sampai-sampai makan aja gue dipantau terus. Sekarang pas udah dapat, paling cuma kirim pesan 'jangan lupa makan', itu aja sudah."


"Hmm..." Chayra hanya manggut-manggut. "Mm.. aku mau mandi sebentar. Titip putraku yang tampan ini ya.. Dia udah wangi kok. Nggak akan ngompol juga kalau kamu gendong karena dia udah pakai popok."


"Lho yang ganti popoknya atau Bi Idah?"


"Hah, ngapain ganti popok aja harus minta bantuan Bi Idah. Terus aku yang jadi Ibu kerjaannya apa? Masa cuma nonton aja?"


"Hehehe... siapa tau aja." Suara deringan handphone Chayra menghentikan percakapan antara dua sahabat itu. Chayra masuk ke kamarnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Sedangkan Alesha mengajak Adzra ke lantai bawah untuk bermain.


Chayra menautkan alisnya saat melihat nomor baru yang terpampang di layar handphonenya. "Angkat tidak ya.." mempertimbangkan sebelum mengangkatnya. Biasanya dia jarang mengangkat nomor baru karena sering terjadi masalah jika ada nomor baru yang menghubunginya. Akhirnya dia hanya menatap layar handphonenya sampai nada dering terputus. Tetapi, baru saja akan berlalu, benda gepeng itu kembali berbunyi membuatnya kembali meraihnya. Chayra akhirnya menekan ikon warna hijau seraya melafadzkan basmalah.


"Selamat pagi, Bu. Ini dengan Ibu Chayra...?"


Suara wanita dari sebrang sana membuat Chayra kembali menautkan alisnya. Perasaan was-was mulai menderu perasaannya. "Mm.. s.. selamat pagi.. iya ini dengan saya sendiri."


"Ini saya, Bu, Anita Asistennya Pak Ardian. Saya diminta Pak Ardian untuk memberitahu Ibu, kalau beliau saat ini berada di Rumah Sakit. Tadi pagi saat sampai Kantor Pak Ardian mendadak sakit perut. Saat minum obat, tetapi tidak ada perubahan, Pak Ardian akhirnya memutuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit saja.


Chayra terdiam sejenak. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Suami saya di bawa ke Rumah Sakit mana ya, Bu?"


"Rumah Sakit Kharisma di depan gedung Kantor kami, Bu."


"Terimakasih informasinya, Bu. Saya segera kesana sekarang." Chayra menarik nafas panjang seraya beristighfar. "Apa aku salah kasih menu sarapan pada Mas Ardian. Atau..." pikiran Chayra jauh menerawang. Suaminya terlihat sangat baik tadi pas berangkat ke Kantor. Ia bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Alesha.

__ADS_1


"Lesha, Mas Ardian masuk Rumah Sakit. Aku harus segera kesana."


"What?!" Alesha yang terkejut langsung berdiri dengan menggendong Adzra. "Laki lho kenapa? Pas berangkat tadi perasaan dia baik-baik saja."


"Itu yang membuat aku bingung. Tadi Asistennya yang menghubungi aku. Aku kesana sebentar ya."


"Kamu berangkat saja, Adzra biar aku yang jaga."


Chayra bergegas kembali ke kamarnya. Mandi secepat kilat untuk menghemat waktu. Setelah semua selesai, ia kembali turun.


"Lesha, kamu ikut aja biar aku ada teman disana. Aku belum tau keadaan Mas Ardian. Bagaimana kalau keadaannya serius dan kami tidak bisa langsung pulang."


"Tapi.. bagiamana aku minta izin sama Mas Zidane, Ayra. Kamu tau kan, aku bukan wanita lajang lagi sekarang."


Chayra terdiam. Dia tau kakaknya pasti tidak akan mempermasalahkan kalau istrinya menemaninya pergi ke Rumah Sakit. "Mm.. nanti aku yang bantu jelaskan. Aku tau Kak Zidane orangnya seperti apa."


Alesha akhirnya mengangguk. "Pegang Adzra dulu, gue mau ambil tas di atas."


Chayra mengambil alih putranya lalu membawanya keluar rumah. Perasaannya masih tak karuan. Apa gerangan yang terjadi sehingga suaminya sampai masuk Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka percakapan. Ingin rasanya Chayra menghubungi suaminya, tetapi ia selalu menahan diri. Jika suaminya bisa bicara, Ardian tidak mungkin meminta Asisten menghubunginya.


Sampai di Rumah Sakit, Chayra langsung masuk ke Ruang IGD. Tetapi, langkahnya terhenti ketika melewati pintu loby tempat Satpam berjaga.


"Eh, maaf, Pak." Chayra langsung berbalik dan menatap Alesha. "Sha, bantuin dong. Adzra nggak boleh masuk, bagaimana ini?"


"Ngapain di ambil pusing. Adzra kemarikan dulu biar aku yang jaga. Kamu masuk lihat keadaan suami kamu. Aku tunggu di Kafe sebelah jalan raya ya. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku."


"Terimakasih.."


Saat masuk ke dalam ruangan. Chayra melihat ada tiga orang yang bersama suaminya. Dua orang laki-laki dan satu orang wanita. Salah satu laki-laki itu dia kenal karena itu adalah Dodit. Tapi yang satu lagi tidak dia kenal. Terlihat berwibawa, mungkin itu yang namanya Pak Randi atasan suaminya. Wanita itu.. oh, mungkin itu yang namanya Anita. Pakai rok mini sampai menampakkan setengah pahanya. Mungkin itu yang disebut suaminya body gitar Belanda. Chayra sibuk berperang dengan pikirannya.


"Assalamualaikum..."


Ucapan salam darinya membuat seisi ruangan menoleh ke arahnya. Dodit yang sudah mengenalnya langsung menunduk sopan padanya. "Eh, Bu Ayra sudah sampai. Maaf kami terlambat mengabarkan ke Ibu soal kondisi Pak Ardian." Dodit menggeser tubuhnya agar Chayra bisa melihat suaminya.


"Tidak apa-apa Pak Dodit. Terimakasih sudah mengabari saya." Chayra berjalan mendekati Berangkar tempat suaminya berbaring. "Mas.. apanya yang sakit?" Meraih tangan suaminya yang terasa dingin.


"Maaf, Bu biar saya yang jelaskan kejadian yang sebenarnya." Tiba-tiba laki-laki yang bersama Dodit angkat bicara.


"Eh, nggak usah, Pak. Biar saya yang menjelaskan pada Bu Chayra nanti. Pak Randi tidak usah bicara." Timpal Dodit.


"Bagaimanapun juga ini kesalahan aku, Dit. Aku yang harus bertanggung jawab."

__ADS_1


Chayra menatap dua pria itu secara bergantian. "Apa yang terjadi?" Akhirnya kata itu yang terlontar.


"Sayang, udah. Aku baik-baik saja kok. Tadi kami hanya bercanda, tetapi aku yang terlalu nekat."


"Mm.. kamu terlihat pucat, Mas. Tubuh kamu juga kenapa dingin begini?"


"Sini lebih mendekat. Aku butuh pelukan kamu biar tubuhku hangat lagi." Ardian menarik tangan istrinya.


"Eh, nggak boleh, Mas. Malu ah dilihat banyak orang." Chayra menoleh ke arah tiga orang dibelakangnya. Kembali menatap suaminya saat tiga orang itu menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Dodit yang kalem aja, Pak Randi yang terlihat terkejut mendengar ucapan Ardian dan Anita yang terbelalak karena tidak menyangka Ardian akan meminta istrinya memeluknya di depan mereka. "Aku mau Mas Ardian menjelaskan kenapa Mas Ardian bisa ada disini?"


"Nanti aku jelaskan."


"Maunya sekarang bukan nanti."


"Aku masih lemes, Sayang."


"Mm... Ardian, saya harus kembali ke Kantor karena siang ini ada rapat. Dodit, kamu temani Ardian dulu di sini. Pastikan dia benar-benar pulih baru kamu boleh meninggalkannya. Anita, kamu ikut aku kembali ke Kantor." Pak Randi pamit undur diri karena kesibukan yang tidak bisa di tunda lagi.


"Baik, Pak." Anita langsung mengekor di belakang Pak Randi.


Selepas kepergian Bosnya, Dodit berpindah posisi ke sebelah kiri Ardian. "Tadi Pak Ardian makan udang saus pedas level setan, Bu. Setau saya, Pak Ardian alergi seafood dan juga tidak bisa makan pedas." Dodit mencoba menjelaskan agar masalah cepat selesai.


Chayra melototkan matanya. "Astagfirullah, Mas. Kenapa nekat kayak gitu?!"


"Tadi kami taruhan, dan aku kalah. Jadi aku harus menerima hukuman dari Pak Randi karena kalah. Maafkan aku.."


"Terus tadi kamu muntah-muntah dong di Kantor?"


Ardian mengangguk kecil.


"Kenapa tidak minta hukuman yang lain. Udah tau efeknya kalau makan pedes kayak gitu. Untung aja nggak lemes."


"Lemes juga tadi, Bu karena kebanyakan muntah mungkin." Timpal Dodit lagi


"Dit, please deh."


"Memangnya Mas Ardian taruhan kenapa?"


"Gara-gara masalah Asisten, Bu. Pak Ardian tidak percaya kalau Bu Anita yang akan menjadi Asistennya. Sampai berani taruhan segala. Eh, pas dia sudah tau, akhirnya begini jadinya."


Chayra menggeleng-geleng pelan. Entah apa yang ada di pikiran suaminya sehingga nekat melanggar batas kebolehannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2