Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Canggung


__ADS_3

"Lho nggak berani pulang sama Kak Zidane? Takut disemprot Bokap lho nanti?" Ardian melirik Alesha yang masih diam dan tidak merespon tawaran Zidane.


"Ah.. mm... aku cuma.. masih memikirkannya dulu. Harus dipertimbangkan agar tidak jadi masalah nanti ke belakang." Alesha menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.


"Kak Zidane sudah menjelaskan tadi, kalau dirinya bukan orang jahat. Sekalian perkenalan lebih jauh sebelum jadi pasangan."


Alesha menyebikkan bibirnya. "Kalau kami mah, nggak banyak drama kayak lho dulu. Pakai acara benci segala. Eh, sekarang malah tidak bisa jauh. Kalian itu terlihat seperti pasangan yang lebay, tau nggak?"


"Apa masalahnya lebay sama pasangan halal. Yang aku khawatirkan malah masa laluku yang terlalu lebay."


"Sudah, kalian jangan berdebat terus." Santi akhirnya angkat bicara. "Kalau kamu mau pulang, nggak apa-apa biar Zidane yang antar, Nak. Insya Allah, anak Ibu yang satu ini amanah kok. Bisa dipegang ucapannya dan bisa tanggung jawab." Santi ikut meyakinkan.


"Aku.. aku..." Alesha melirik Zidane yang masih terlihat santai saja. Tidak menunjukkan ekspresi yang aneh seperti dirinya.


"Ayo, kalau kamu mau ikut pulang. Atau sekalian aku ajak kamu kawin lari sekalian biar nggak pakai acara lamaran segala."


"Eh, ni orang ngomong sembarangan. Kirain aku apaan mau diajak kawin lari segala. Kayak orang yang takut tidak direstui saja."


"Hehehe," Zidane cengengesan seraya bangkit. "Bercanda kok. Aku tidak mau menikah tanpa restu."


"Iya sudah kalian berangkat pulang kalau begitu. Nanti terlalu malam."


"Aku berangkat, Bu kalau begitu." Zidane meraih tangan Santi lalu menciumnya. "Assalamualaikum.."


Alesha ikut mendekat dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zidane. "Besok Lesha datang lagi, Bu. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. kamu hati-hati Nak ya.."


"Iya, Bu.."


Alesha berdiri mematung di depan mobil Zidane. Bingung mau melakukan apa. Tangannya mencoba membuka pintu mobil, tetapi tidak bisa. Dia akhirnya berdiri menunggu Zidane memintanya untuk masuk.


Lama dia berdiri, orang yang ditunggu untuk mempersilahkannya masuk tak kunjung mengeluarkan suara. 'Kenapa ni orang malah anggurin gue disini. Kaki gue kayaknya mau kram sebentar lagi'. Batin Alesha.


Zidane melongo melihat Alesha yang tak kunjung masuk ke dalam mobil. Akhirnya, dia membuka kaca. "Hei, kenapa masih berdiri disitu? Masuk, ini sudah malam. Nanti kalau kamu sakit terkena angin malam bagiamana?"


Alesha menarik nafas lega. Akhirnya suara yang ditunggu-tunggu keluar juga. Mendengus seraya memutar bola matanya kesal. "Bagaimana mau masuk kalau pintu mobilnya tidak bisa di buka?"


"Hah," Zidane baru sadar dan langsung membukakan pintu untuk Alesha. "Maaf, aku tidak sadar dari tadi."


Alesha akhirnya masuk, memilih duduk di kursi penumpang setelah memasuki mobil.


"Kenapa duduk dibelakang?"


"Nggak enak kalau duduk di samping Kak Zidane. Kita bukan mahram. Jaga jarak lebih aman. Bukan begitu?"


"Iya.. iya.. terserah kamu kalau begitu. Tapi, aku merasa seperti supir kalau kamu duduk di belakang."


"Sebentar saja. Jarak rumah aku dengan Rumah Sakit ini tidak akan memakan waktu sampai satu jam kok."


"Iya sudah.." Zidane akhirnya mengalah. Malas kalau harus memperdebatkan masalah sepele seperti ini.


Zidane ikut masuk ke rumah Alesha setelah gadis itu memaksanya untuk ikut masuk.

__ADS_1


"Kenapa putriku bisa pulang bersama kamu. Kalau terjadi apa-apa sama dia, apa kamu berani bertanggung jawab." Pak Panji Papinya Alesha menatap Zidane dengan tajam.


"Insya Allah saya bisa tanggung jawab dunia akhirat, Pak. Saya hanya mengantar putri Bapak pulang. Dia bahkan duduk di kursi penumpang tadi. Aku memintanya untuk duduk di sampingku. Tapi, putri Bapak menolak karena kami memang bukan mahram."


"Siapa kamu, dan dari latar belakang keluarga mana?" Pak Panji akhirnya manggut-manggut mendengar penjelasan Zidane.


"Saya sepupunya Chayra temannya putri Bapak. Saya cucunya Pak Akmal pemilik Perusahaan In********"


Pak Panji tersentak. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk meyakinkan dirinya, kalau orang yang di depannya ini memang cucu Pak Akmal. "Apa kamu tidak sedang membohongiku?"


"Apa manfaatnya berbohong, Pak? Keturunan keluarga saya tidak ada yang membudayakan yang namanya bohong. Mm.. saya harus segera pamit, Pak. Saya sudah mengantarkan putri anda pulang dengan kondisi selamat sesuai dengan amanah dari Ibu saya." Zidane bangkit seraya mengulurkan tangannya pada Pak Panji. Mencium tangan orang tua itu dengan hormat. "Lesha, aku pamit. Insya Allah, besok kita akan bertemu lagi." Menatap Alesha yang duduk di samping Papinya.


"Eh, iya Kak."


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokaatuh.."


Zidane keluar dengan dada berdebar-debar. Ada rasa canggung saat bicara dengan Pak Panji tadi. Tapi, dia harus bisa mengutamakan wibawa keluarga agar tidak dipandang dengan sebelah mata oleh orang lain.


"Jumpa dimana kamu sama cucu Pak Akmal itu, Nak?" Tanya Pak Panji setelah melihat mobil Zidane keluar dari gerbang rumah.


"Mm.. di Rumah Sakit tadi. Kak Ardian yang mau nginap jagain Ayra, makanya aku pulang."


"Kenapa nggak minta dijemput saja? Nggak enak Papi sama anak itu."


"Nggak apa-apa, Pi. Dia itu orangnya baik kok."


"Dia kan anak Pesantren, Pi. Orang tuanya punya Pondok Pesantren besar di kota A."


"Masa sih?" Mendengar penuturan putrinya, Pak Panji jadi penasaran dengan Zidane. Alesha akhirnya mengalah dan menceritakan sedikit tentang Zidane.


"Pemuda tadi sudah menikah, Nak?"


"Kenapa menanyakan itu? Itu masalah pribadi dia. Aku tidak mau tau menahu sampai sejauh itu."


"Papi kan cuma bertanya. Bagaimana keadaan Ayra sekarang?"


"Mm.. dia diare, Pi. Kata Dokternya dia salah makan. Tadi siang kami makan jeroan sama junk food banyak banget. Mungkin karena dia lagi hamil, perutnya jadi lebih sensitif."


Pak Panji hanya menarik nafas dalam menanggapi cerita putrinya. "Papi mau istirahat kalau begitu. Kamu juga jangan begadang. Tidur yang cepat biar badan kamu tidak kurus. Papi suka bentuk tubuh kamu yang sekarang." Mencubit pipi Alesha gemas.


Alesha hanya tersenyum. Ia teringat pesan Zidane saat mereka duduk di Lobi Rumah Sakit tadi. "Oh iya, Pi."


Pak Panji yang sudah menginjakkan kaki di anak tangga pertama menoleh mendengar suara putrinya.


"Ada apa lagi?"


"Mm.. Papi ada acara nggak besok?"


"Pagi atau sore?"


"Sore jam empat."

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada. Ada apa?"


"Ada tamu yang akan datang. Tapi, dia mau bertemu Papi langsung."


Pak Panji menautkan alisnya. "Suruh saja datang. Papi akan menemuinya."


Alesha mengacungkan jari jempolnya. "Thank you, Pi."


"Mmm.." Pak Panji kembali melanjutkan langkahnya.


********


Ardian berulang kali menarik handphone istrinya. "Kamu lagi menghubungi siapa, Chay. Dati tadi merengut kesal terus."


Chayra melirik suaminya. "Alesha. Aku mau bertanya, apa dia sudah sampai rumah atau belum."


"Kamu istirahat saja sekarang. Biar aku yang menghubunginya nanti."


"Kakak saja yang istirahat. Kan tadi katanya ngantuk. Kenapa memaksakan diri untuk melek sampai sekarang?"


"Aku harus memastikan kamu istirahat dulu. Kalau kamu masih bangun, aku takut kamu mau ke kamar mandi lagi nanti."


"Aku hanya khawatir, jangan sampai dia dimarahi papinya karena pulang jam segini. Papinya itu orangnya sangat sensitif. Pernah beberapa kali kami juga kena marah gara-gara pulang telat bersama dia."


"Kamu istirahat saja makanya. Kamu itu terlalu banyak pikiran. Besok jadwal kontrol kamu lagi. Bagaimana kalau hasil pemeriksaannya tidak sesuai nanti. Kamu dari kemarin membantah terus kalau diperingati."


Chayra langsung meletakkan handphonenya mendengar ucapan Ardian. Ada perasaan bingung juga. Kapan dia pernah membantah ucapan suaminya itu. Kenapa tiba-tiba Ardian berkata begitu. "Kok Kakak berkata begitu? Kapan aku membantah ucapan Kakak? Kalau memang nggak mau menjaga aku, Kakak pulang saja. Masih ada Ibu yang lebih tulus dari hati seorang suami seperti Kakak."


Ardian langsung diam karena menyadari dirinya salah ngomong.


"Kalau capek nggak usah paksakan diri untuk menjaga orang sakit. Menjaga orang sakit itu butuh tenaga dan pikiran yang sehat."


"Kalian ini kenapa sih?" Santi mendekat karena mendengar ucapan putrinya.


"Bu, Ayra mau ke kamar mandi lagi. Ibu bisa temani kan?"


Santi menatap Ardian dengan penuh tanda tanya. Saat Ardian dan Chayra berdua tadi, dia tidak tau apa yang dibahas pasangan suami istri itu sehingga menimbulkan perdebatan. "Kamu istirahat dulu, Nak. Muka kamu terlihat sangat kecapekan itu. Jangan sampai kamu ikutan sakit nanti karena terlalu memaksakan diri."


"T.. tidak, Bu. Aku akan menjaga Chay. Insya Allah fisik aku kuat kok." Bangkit seraya membantu istrinya untuk duduk. Membawa infus istrinya dengan hati-hati.


Chayra mendengus. Entah kenapa rasa kesalnya seperti naik ke ubun-ubun mendengar ucapan suaminya yang mengatakan dirinya sering membantah ucapan Ardian.


"Maaf, aku salah ngomong tadi." Ardian berusaha meminta maaf saat Chayra sampai di depan kamar mandi.


"Nggak usah dibahas, aku sudah maklum kok."


"Aku hanya nggak mau kamu banyak pikiran, Sayang. Biasanya kalau kamu sudah diperingati dengan kalimat yang lebih tegas, kamu akan langsung patuh." Ucap Ardian dari balik pintu karena Chayra sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, makanya jangan diperpanjang. Kakak masuk sini, bantu aku ambil air."


Ardian menarik nafas lega mendengar nada suara istrinya.


*********

__ADS_1


__ADS_2