
Ardian masuk ke dalam kamar setelah mendengar nasihat panjang mertuanya. Hanya bisa berdecak kagum dengan sifat lemah lembut mertuanya. Selama menjadi menantu di rumah ini. Tidak pernah sekalipun dia mendengar Santi berkata kasar.
Menutup pintu dengan sangat pelan. Takut kalau kehadirannya akan mengganggu istirahat istrinya.
"Kenapa tidak tidur di jalanan sekalian. Aku kira sudah lupa jalan pulang." Chayra berkata sengit tanpa ada niat untuk membalik tubuhnya. Tidur dengan posisi membelakangi pintu masuk.
Ardian menarik nafas dalam. "Kenapa ngomong gitu, Chay? Aku cuma pergi cari kerja. Aku capek tidak ada kerjaan di rumah."
"Terus kerjanya dapat?"
"Iya... belum sih. Tapi, aku akan tetap berusaha."
Chayra mendengus. "Niat banget cari kerja. Memangnya Kakak bisa kerja apa? Kenapa nggak menunggu dulu sampai wisuda."
"Terlalu lama, Sayang. Aku malu terus-terusan numpang sama Ibu." Berjalan lebih mendekat.
"Sudah tau numpang, kenapa banyak tingkah pula. Seharusnya patuh sama perintah pemilik rumah. Bukannya malah membuat masalah dengan membuat susah pemilik rumah."
Ardian langsung menghentikan langkahnya. Mulutnya terkatup rapat. Tiba-tiba saja dadanya sakit mendengar ucapan Chayra. Akhir-akhir ini, Chayra memang sering berkata sinis padanya. Entah mengapa, istrinya itu katanya ingin kalau dirinya selalu berada disampingnya. Tapi, saat dia standby, Chayra akan memintanya menjauh karena mual kalau terus-terusan berdekatan dengannya. Hanya tarikan nafasnya yang terdengar beberapa kali.
Karena tidak ada reaksi dari Ardian, Chayra membalik tubuhnya. Mendapati Ardian yang masih berdiri di dekat pintu sambil menunduk. Muncul rasa bersalah dalam hatinya. Akhirnya ia bangkit dan duduk menghadap Ardian.
"Maafkan aku, Kak," ucapnya. Giliran Chayra yang menunduk. "Aku nggak tau, kenapa aku khawatir saat Kakak sering keluar sekarang. Apalagi tadi, Kakek datang dari hotel dan mau berpamitan pulang. Tiba-tiba Kakak tidak ada di rumah. Aku yang istri Kakak tidak tau Kakak kemana. Aku bingung mau menjawab pertanyaan Kakek dengan apa."
"Maafkan aku merepotkan kamu." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ardian. Kepalanya masih tertunduk.
Chayra turun dari tempat tidur. Mendekati suaminya yang terlihat enggan untuk berpindah posisi. "Sebenarnya Kakak kemana? Setiap pagi keluar dan akan kembali ketika menjelang siang. Tadi malahan sudah siang baru balik."
"Aku... aku mencari kerja."
"Kerjaan apa yang akan bisa Kakak kerjakan? Kak Ardian itu anak Mami. Mana bisa menjadi pekerja buruh kasar."
Ketukan di pintu kamar membuat Chayra berhenti bicara.
Ardian yang duluan berbalik dan membuka pintu kamar. Tampak Bian berdiri dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa, Dek?"
"Aku mengkhawatirkan Kak Ardian." Menatap Ardian dengan cemas.
"Kenapa mengkhawatirkan Kakak? Kakak baik-baik saja kok."
"Kakak tidak baik-baik saja. Aku dengar Kak Ayra marah tadi sama Kakak. Aku boleh masuk?"
Ardian membuka pintu lebih lebar, sehingga Bian bisa masuk.
__ADS_1
"Kamu kenapa kemari, Dek?" Chayra menatap Bian yang masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di sisi ranjang.
"Telingaku sakit mendengar Kakak marah-marah dari tadi. Ingat dong, Kak. Kakak itu seorang istri. Nggak baik lho berkata kasar pada suami. Coba nanti juga tekanan darahnya di cek. Mungkin tekanan darah Kak Ayra naik. Makanya bawaannya pingin marah saja." Bian bangkit, berjalan mendekati Ardian.
"Mm... Kak, kalau Kak Ayra masih marah. Kak Ardian tidur sama Bian saja. Kasihan kan, capek-capek malah di omelin terus sama istri."
"Nggak apa-apa, Dek. Kakak disini saja. Kakak kamu cuma lagi kesel aja sama Kakak."
"Terserahlah kalau begitu.." Bian berlalu keluar dari kamar. Namun, baru saja keluar dari pintu, ia berbalik lagi. "Oh iya, Bian disuruh Ibu memanggil Kak Ardian juga. Ibu mau ngomong katanya. Tapi nanti selesai menunaikan shalat Ashar."
"Iya, nanti Kakak temui Ibu." Jawab Ardian.
"Ok, Bian pamit kalau begitu. Selamat menghadapi singa betina yang sedang lapar. Waarrgghh..." Bian mengekspresikan singa yang sedang marah sambil melirik ke arah kakaknya yang terlihat mendengus mendengar candaannya.
Chayra terdiam selepas kepergian Bian. Benar kata adiknya, kalau dirinya sering marah dan tersinggung tak menentu akhir-akhir ini. Apakah efek karena ia tinggal di rumah ibunya atau entah apa. Merebahkan tubuhnya kembali. Tiduran dengan posisi membelakangi suaminya. Tidak ada niat lagi untuk menyambung perdebatan tadi. Ucapan Bian barusan seperti menamparnya untuk mengingat posisinya yang sudah berstatus sebagai istri.
Ardian hanya bisa menatap punggung istrinya. Ingin rasanya merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Namun, butuh mental yang kuat untuk melakukan itu. Dia takut Chayra marah lagi nanti, kalau dia melakukan itu.
Usai melaksanakan shalat Ashar, Ardian langsung menemui mertuanya. Tidak mau membuat wanita yang lemah lembut itu menunggunya terlalu lama.
"Duduk sini, Nak." Santi menepuk sofa kosong di sebelahnya saat melihat kedatangan Ardian.
Ardian berjalan mendekati mertuanya. Duduk di sofa yang ditepuk Santi tadi.
"Eh," Ardian terkejut mendengar pertanyaan mertuanya. Menatap Santi dengan bingung "M.. maksud Ibu?"
"Kamu bilang tadi siang, kalau kamu lagi cari kerja. Sekarang lbu menawarkan kamu pekerjaan tanpa kamu mencarinya."
Ardian masih tertegun. Mau bicara, tapi mulutnya sangat berat untuk sekedar mengiyakan.
"Ibu mendengar semua perdebatan kamu dengan istri kamu tadi. Maafkan Ibu, Nak. Tapi, Ibu tidak bisa menyalahkan kamu karena merasa tidak enak jika numpang terus di sini. Ibu juga pernah merasakan berada di posisi seperti kamu ini dulu." Santi menarik nafas panjang. "Kamu mau kerja sama Ibu?" Kembali bertanya karena Ardian hanya diam dari tadi.
"K.. kerja apa, Bu?"
"Kerja di Toko. Bantu Ibu mengelola toko peninggalan Almarhum."
Ardian mengerjap-ngerjap. Masih tidak percaya kalau yang sedang di dengarnya saat ini adalah kenyataan.
"Allah telah menunjukkan kebesarannya pada Ardian untuk yang kesekian kalinya, Bu. Baru kemarin Ardian berdoa agar dimudahkan dalam mencari pekerjaan. Sekarang, Allah membayar tunai doa itu." Air mata terlihat menganak sungai di pelupuk matanya.
"Allah itu Maha Baik pada hambanya yang benar-benar berserah diri. Sudah, kok kamu jadi mewek gini, Nak." Santi mengusap air mata yang menetes dari mata Ardian.
"Terimakasih, Bu. Ardian tidak tau harus bagaimana menyikapi kebaikan Ibu sana Ardian."
"Mm.. tapi kamu tidak keberatan kan, kalau kamu hanya bekerja di Toko? Kamu kan lulusan S2."
__ADS_1
"Tadi pagi aja aku mau menjadi buruh bangunan di sebelah Toko besar di komplek sebelah, Bu. Tapi, ketua mereka malah tidak percaya dengan kemapuan aku. Mereka malah bilang, tangan aku terlalu mulus untuk mengangkat pasir."
Santi tersenyum mendengar cerita menantunya. "Jadi kamu menghilang setiap pagi hanya untuk mencari pekerjaan?"
Ardian tersenyum meringis. "Mm.. mau jujur, tapi Ardian malu, Bu."
Santi mengacak-acak rambut Ardian. "Sudah, kamu makan dulu sana. Dari pagi kamu belum makan. Hilang sampai siang. Sampai rumah langsung diomelin istri."
Ardian kembali tersenyum meringis.
"Begitulah cara wanita menunjukkan kasih sayangnya pada pasangan, Nak. Ibu harap kamu maklumi itu. Tadi pagi dia malah mondar mandir mengkhawatirkan kamu. Mau menghubungi kamu, tapi kamu tidak punya handphone."
Ardian kembali menyimak setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya.
"Jangan hiraukan omongan tetangga tentang rumah tangga kalian. Yang menjalankan itu kamu, bukan mereka. Alhamdulillah juga, Ibu sudah meluruskan pendapat mereka tentang kamu. Ibu lama-lama pusing juga mendengar mereka berbisik-bisik setiap Ibu belanja di depan."
"Terimakasih, Bu."
"Iya, Nak. Sekarang kamu makan dulu ya. Ibu mau ke belakang sebentar. Temui Ibu kalau kamu sudah selesai makan. Kita akan ke Toko sebentar untuk melihat kondisi. Sekalian kamu juga melihat-lihat. Apakah kamu cocok atau tidak dengan tanggung jawab yang akan Ibu serahkan pada kamu nantinya."
Ardian mengangguk. Menunggu mertuanya bangkit duluan baru setelah itu dia bangkit. Langsung menuju dapur karena perutnya benar-benar lapar.
Ardian terkejut saat mendapati istrinya sedang sibuk di dapur. Tersenyum saat mendapati makanan sudah terhidang di atas meja makan.
Ardian tersenyum saat melihat Chayra berbalik dan menatapnya.
Chayra berjalan mendekati suaminya. "Maaf, Kak. Aku lupa mengajak Kak Ardian makan dari tadi. Aku terlalu mencemaskan Kak Ardian sampai lupa mengajak Kakak makan." Memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Ardian kembali tersenyum. Dipeluk seperti ini membuatnya benar-benar dibutuhkan sebagai seorang suami. "Maafkan aku juga karena membuatmu khawatir." Membalas pelukan Chayra sambil mencium pucuk kepalanya beberapa kali.
"Aku rindu sama Kak Ardian. Aku ingin Kakak selalu bersamaku seperti ini. Tapi, kenapa tiba-tiba aku ingin muntah lagi."
"Apa aku bau?"
"Tidak. Tapi, aku nggak tau kenapa aku ingin muntah."
Ardian mencubit gemas pipi istrinya. "Aku makan dulu ya. Aku benar-benar lapar, Sayang."
"Siapa suruh Kakak sok sibuk cari kerja sampai lupa makan." Chayra berlalu untuk mengambilkan air dingin untuk suaminya. "Cari kerja juga butuh tenaga, Bang."
Chayra duduk di hadapan Ardian yang sudah mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. "Besok aku sudah mulai masuk kuliah, Kak. Kakak antar aku pakai motor matic ya. Aku ingin berangkat ke Kampus di bonceng Kakak pakai motor legendaris milikku."
Ardian mengacungkan jari jempolnya karena mulutnya dipenuhi makanan.
********
__ADS_1