
Hari ini rumah Chayra begitu ramai karena kedatangan keluarga besarnya. Pak Akmal bahkan tidak mau melepaskan Adzra walaupun bayi itu sudah tertidur sejak tadi.
"Kek, Adzra udah tidur dari tadi, kenapa Kakek masih terus menggendongnya?" Bian protes karena dia tidak ada waktu untuk menggendong keponakannya.
"Nggak apa-apa, Kakek kan jarang kemari. Sesekali digendong nggak apa-apa kan, Ardian?"
"Eh, iya, Kek." Ardian yang tidak siap dengan pertanyaan sang Kakek gelagapan menjawab pertanyaan Pak Akmal.
"Huh, kamu itu." Pak Akmal mendengus. Dia masih kecewa karena Ardian menolak permintaannya untuk pindah kerja ke Perusahaannya.
"Apa yang dijanjikan Papi kamu sehingga kamu menolak permintaan Kakek hah?!"
"Kakek..." Chayra berjalan mendekati kakeknya. "Nggak usah bahas pekerjaan apa, Kek. Ini kan momen kumpul keluarga."
"Iya ih, Abi ini kenapa sih? Biarin aja Ardian tetap bekerja di sana. Toh itu perusahaan Papinya sendiri. Kalau dia pindah, malahan terkesan dia seperti ngikut istri. Itu hak dia, tidak usah dipaksa." Timpal Bu Ainun. Ardian langsung tersenyum mendengar pembelaan Bu Ainun. Ucapan Bu Ainun persis seperti apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu jangan terlalu kaku pada Kakek kamu, Ardian. Dia itu terkesan arogan kalau melihat orang yang terlihat lemah di depannya. Coba kayak Bian, dia selalu menimpali setiap ucapan Kakek." Ucap Bu Ainun lagi yang kembali ditanggapi dengan senyuman oleh Ardian.
"Jangan mengajarkan yang tidak-tidak, Ainun. Abi sudah senang melihat ekspresinya yang seperti itu saat bicara pada Abi."
"Sini, Kak. Biar Bian yang ajarkan Kakak cara melawan Kakek biar tidak berani macam-macam lagi sama Kakak." Bian menarik tangan Ardian untuk mengikutinya pindah ke ruangan yang lain. Sebenarnya dia sudah bosan di sana karena Pak Akmal tidak memberikan kesempatan padanya untuk menggendong Adzra.
"Eh, tunggu, Bi. Kita mau membahas acara tiga bulanan keponakan kamu." Ucapan Bu Fatimah menghentikan langkah Bian. Ardian juga ikut berhenti karena tangannya memang masih di genggaman Bian.
Bian melengos. "Memang sih, Adzra cucu dan cicit pertama. Tapi tidak harus segitu juga kali, Nek. Yang ada kebanyakan orang pasti mengadakan syukuran kalau anak mereka berulang tahun."
"Sudah ah, kamu intinya jangan kemana-mana. Ardian kamu juga ikut duduk sini. Kenapa juga mau ngikutin Bian. Dia itu suka out of the box orangnya."
"Heemmm... gini-gini aku ini menjadi pelipur lara kalian."
Bu Santi langsung mengusap-usap kepala putranya dengan penuh kasih sayang. Matanya selalu terasa sejuk saat menatap putranya itu. Benar-benar fotocopy Almarhum suaminya. "Mas Ari junior ini." Ucapnya sambil tersenyum.
Pak Akmal dan yang lainnya ikut tersenyum. Semua yang mengenal Almarhum Arianto memang akan mengatakan hal itu, kalau Bian adalah fotocopy dari Ari.
__ADS_1
*******
"Kamu mandi saja, Chay. Biar perlengkapan Adzra aku yang beresin."
"Mas tau apa yang harus dibawa?"
"Harus belajar dong, Sayang. Aku gini-gini juga ingin jadi hot Dady."
"Kalau begitu aku mandi dulu, Mas. Jangan lupa popoknya bawa lebih."
"Iya..." Ardian langsung sigap menyiapkan segala keperluan putranya. Iya, hari ini mereka akan ke rumah Bu Santi. Untuk pertama kalinya Chayra akan menginap di rumah ibunya setelah hampir tiga bulan melahirkan. Pak Akmal tetap bersikeras untuk mengadakan acara syukuran untuk cicit pertamanya saat usianya genap tiga bulan nanti. Kebetulan juga Alesha akan mengadakan acara tujuh bulanan kandungannya, sehingga acara syukuran digabung menjadi satu dan diadakan di rumah Bu Santi.
"Sudah, Mas?"
Ardian mengangkat wajahnya saat mendengar suara istrinya. "Tumben gesit mandinya, Sayang. Biasanya kamu selalu menghabiskan waktu sampai lima belas menit untuk mandi."
"Ini kan sudah lima belas menit. Kamu kayaknya keasyikan makanya lupa waktu."
"Benarkah?" Ardian menatap ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lima belas. Perjalan ke rumah mertuanya memakan waktu hampir setengah jam kalau jalanan tidak macet. Belum lagi dia harus putar balik untuk ke kantor.
Ardian bangkit setelah menutup resleting tas besar tempat penyimpanan perlengkapan putranya. Setelah menjabat sebagai Sekretaris Direksi, dia semakin disiplin. Dia harus mampu membuktikan pada semua orang kalau dia memang pantas diperhitungkan.
Setelah mengantar istrinya dan berpamitan pada mertuanya, Ardian langsung melajukan kendaraannya menuju kantor.
"Kenapa tidak minta dijemput saja, Nak? Kasihan suami kamu harus putar balik lagi."
"Nggak apa-apa, Bu. Mas Ardian yang nggak mau kalau aku diantar orang lain. Katanya, dia tidak mau dibilang suami tidak bertanggung jawab dengan membiarkan istrinya pergi sendirian ke rumah orang tuanya. Terkesan kayak orang yang lagi berantem katanya."
Bu Santi tersenyum. "Alhamdulillah, Nak. Ibu sangat senang melihat suami kamu yang sekarang. Dulu, Ibu sempat berpikir kalau hubungan kalian tidak akan bertahan lama. Ibu selalu khawatir dulu. Tapi, Alhamdulillah ternyata Allah mengabulkan do'a Ibu."
"Alhamdulillah, Ayra juga bahagia, Bu. Terkadang Ayra juga masih tidak percaya melihatnya. Dia rajin bangun shalat malam, Bu. Kita memang tidak tahu hidayah Allah, Bu."
"Ibu bahagian melihat kamu seperti ini sekarang, Nak. Almarhum Bapak kamu juga pasti tenang melihat putrinya bahagia dengan orang yang bertanggung jawab seperti Ardian."
__ADS_1
Chayra tersenyum lembut kepada Ibunya. Matanya menatap sekeliling rumah yang terlihat berbeda. Warna cat rumah sudah berbeda dan terlihat banyak perbedaan sejak terakhir kali dia datang kemari. "Rumahnya kapan dirombak seperti ini, Bu?"
Bu Santi ikut menatap sekeliling. "Sekitar dua minggu yang lalu. Adik kamu yang mau. Katanya ingin suasana baru. Dia juga sekarang sering membawa teman-temannya menginap. Teman adik kamu itu banyak, Nak. Terkadang Ibu sampai pusing melihatnya. Kalau pulang sekolah terkadang seperti orang yang mau demo. Siapa coba yang seperti dia, bawa teman satu kelas ke rumahnya. Terkadang halaman depan seperti area parkir saking banyaknya sepeda motor."
Chayra tertawa mendengar cerita Ibunya. Tumben ibunya bercerita pusing karena terlalu banyak orang di rumah. Biasanya Ibu selalu bahagia kalau banyak orang di rumah. Tapi, adiknya itu memang berbeda. Mungkin itu yang membuat sang Ibu sampai sakit kepala. "Terus, Ibu menjamu mereka pakai apa kalau yang datang satu kelasnya?"
"Terkadang ibu memesan nasi bungkus. Kalau masak juga tidak mungkin bisa cepat karena jumlah mereka yang melampaui batas. Mending kalau kayak kamu dulu, punya teman cuma empat orang. Terus duduk anteng di atas sofa sambil berbincang santai. Kalau teman adik kamu.." Bu Santi menarik nafas dalam lalu menghembuskan dengan kasar. "Ada yang duduk di atas sofa, ada yang selonjoran di karpet, ada yang mengangkat sebelah kakinya, ada yang tiduran sambil nonton tv, pokoknya macam-macam deh gayanya." Bu Santi menggeleng-geleng pelan membayangkan tingkah teman-teman putranya.
"Coba dulu Ibu mengikuti saran Abah untuk memasukkan Bian ke Pesantren, pasti tidak akan seperti ini ceritanya."
"Tidak, Nak. Ibu tidak mungkin bisa kalau harus berpisah dengan Bian. Berpisah rumah dengan kamu saja rasanya benar-benar berat. Kalau Kak Ismail mengambil Bian juga, Ibu sama siapa di rumah, Nak?"
"Ibu...." Chayra menghambur memeluk ibunya. Hal yang paling sering dia rindukan saat berjauhan deNgan sang Ibu adalah pelukan hangat wanita itu.
Mereka asyik berbincang sampai tak terasa sudah jam sepuluh pagi. Keluarga besar yang menginap di rumah Zidane tadi malam tiba kembali di rumah Bu Santi.
"Bu, sekarang kan anggota keluarga besar sedang berkumpul. Apakah Bian akan membawa teman-temannya kemari nanti?" Chayra bertanya tepat ketika Pak Akmal sedang meraih Adzra dari gendongannya. Kakeknya itu benar-benar tidak mau jauh dari cicitnya.
"Entahlah, Nak. Iya... kalau mereka datang, Ibu tinggal menelpon pemilik warung nasi uduk di ujung komplek. COD nanti nasinya biar nggak ribet."
"Memangnya Bian suka membawa temannya pulang ke rumah?" Pak Akmal ikut nimbrung.
"Kata Ibu setiap hari, Kek. Ibu aja sampai pusing karena teman Bian kebanyakan. Dan kalau udah sampai rumah, kayak orang mau demo."
Pak Akmal tersenyum kecil. Tidak mungkin dia tidak tau pergaulan cucunya itu karena selalu ada orang yang mengawasi. "Kalau kamu merasa kewalahan, nanti Abi kirim Asisten untuk membantu kamu di rumah."
"Ng.. nggak usah, Abi. Mereka senang kok, dijamu pakai nasi bungkus setiap hari."
"Iya...tapi itu kan pemborosan namanya."
"Perbaiki niat sajalah, Abi. Niat sedekah biar berkah."
Pak Akmal menepuk-nepuk kepala menantunya. "Ini nih, yang membuat Abi semakin sayang sama kamu. Selalu positif thinking dan meniatkan segala sesuatu untuk kebaikan."
__ADS_1
Chayra meninggalkan perbincangan hangat Ibu dan Kakeknya. Ia mendekati Alesha yang sedang dielus-elus perut buncitnya oleh Bu Ainun.
**********