Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Patah hati Se-Asrama


__ADS_3

"What???" Saras dan Tania menganga tidak percaya mendengar penuturan Chayra.


"U.. Ustadz Ghibran melamar kamu. S.. secepat ini, Ayra?" Tania malah mengguncang keras tubuh Chayra. "Secinta inikah Ustadz Ghibran sama kamu, sampai dia tidak memberikan waktu untuk kami untuk menata hati." Tania menarik nafas sejenak. "Sebelum.. dia benar-benar tidak bisa kami miliki."


Saras menarik tangan Tania yang masih mencengkram pundak Chayra. "Yang kamu maksud kami itu siapa, Nia?"


Tania melongo menatap Saras. "Ayra.. kamu memang wanita shalihah. Ustadz Ghibran memang pantas untuk wanita seperti kamu. Kalau kami, mungkin hanya seperti angin lewat di matanya."


"Tania... kamu kenapa sih?!" Saras menepuk-nepuk pipi Tania.


"Diam, Saras. Aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk Ayra." Tania kembali menatap Chayra. "Dia memenangkan pertandingan. Mendapatkan laki-laki yang yang menjadi idola kita. Guru pembimbing yang selalu sabar menghadapi sifat kami yang berlebihan saat melihat kehadirannya."


Saras mengernyitkan bibirnya. Dia bersedekap seraya menatap Tania dengan sinis.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tania menatap Saras tak kalah sinis.


Suara deringan handphone dari dalam tas Chayra membuat ketiga gadis itu diam saling pandang.


Chayra merogoh benda gepeng itu. Menautkan alisnya saat melihat siapa yang menghubunginya. Kembali menatap kedua temannya sebelum menjawab panggilan masuk itu.


"Siapa..?" Tania bertanya tanpa suara.


Chayra memperlihatkan layar handphonenya pada Tania.


"Masya Allah..!" Tania menutup mulutnya. Dia menggeleng-geleng pelan. "Panjang umur banget orangnya. Sedang dibicarakan, eh langsung nelpon."


Saras menutup mulut Tania dengan tangannya. "Jangan berisik!"


Chayra bangkit, berjalan sedikit menjauh dari kedua temannya sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, Kak."


"Wa'alaikumsalam, kamu dimana, Sayang? Ummi menanyakan keberadaan kamu. Apa kamu belum pulang ke rumah."


"Aku.. aku duduk di Gazebo yang di ujung kolam, Kak, bersama Saras dan Tania."


"Kenapa kamu tidak bilang dulu sama Ummi, Dek. Ummi terdengar sangat khawatir."


"Aku akan pulang sekarang, Kak. Maaf, merepotkan Kakak." Chayra menghela nafas berat. "Eh, tunggu dulu. Kenapa Ummi tidak menghubungiku, tetapi malah menghubungi Kak Ghibran?"


"Nggak tau juga. Mungkin karena aku yang bersama kamu sejak di Kampus."


"Nggak pernah merasa bersama Kak Ghibran. Aku kan, hanya mengikuti kelas Kakak."


"Bener nih?"


"Beneran, Kak. Kan, Kakak hanya berdiri di depan sambil ceramah menyampaikan materi."


"Tapi, intinya kamu sedang dalam pengawasanku."


"Astagfirullah, jadi Kakak selalu mengawasi gerak gerikku."


"Tentu saja. Aku harus menjaga calon istriku dari segala kemungkinan yang terjadi. Tadi aku melihatmu masuk ke dalam Gerbang Pesantren. Itulah mengapa aku bertanya kamu sedang dimana. Tidak mungkin kan, kamu sedang berada di luar lingkungan Pesantren."

__ADS_1


Chayra menarik nafas dalam. "Iya sudah, Kak. Aku akan pulang sekarang. Sekali lagi, aku minta maaf merepotkan Kak Ghibran."


"Sudah kewajiban seorang Ghibran Abdullah menjaga Chayra Azzahra."


"Iya, iya, Kak Ghibran selalu benar."


"Aku tutup ya, Sayang. Soalnya aku mau pulang ke rumah. Jaga diri kamu baik-baik selama aku tidak ada."


"Iya, Kak. Assalamualaikum.."


"Aku mencintaimu. Wa'alaikumsalam, Sayang."


Chayra mematikan sambungan telepon itu. Menatap lama layar handphonenya. Tidak menyadari, kalau Saras dan Tania berdiri dibelakangnya. Menguping semua pembicaraannya dengan Ghibran.


Chayra tersentak kaget saat dia berbalik hendak menghampiri kembali kedua temannya itu. "Astaghfirullahal'azim.." Mengusap-usap dadanya karena jantungnya terasa berdetak lebih kencang. "Sejak kapan kalian berdiri di belakangku?"


Saras dan Tania saling pandang lalu tersenyum meringis pada Chayra.


"Kami.. kami menguping.. semua pembicaraan kamu dengan Ustadz Ghibran, Ayra. M.. maafkan kami ya.." Saras dan Tania kompak mengangkat dua jarinya. Masih dengan tersenyum meringis.


"Masya Allah, ucapan Ustadz Ghibran itu yang menjadi harga mahal untuk kami, Ayra." Mata Tania terlihat berbinar-binar.


"Sudah menjadi kewajiban seorang Ghibran Abdullah menjaga Chayra Azzahra. Aku mencintaimu, Wa'alaikumsalam, Sayang.." Saras memejamkan matanya. Memperagakan ucapan Ghibran yang berhasil ia dengar tadi. "Huaaaaa.. benar-benar so sweet.."


Chayra meringis malu. Mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.


"Luarrr biazzaaa, Chayra Azzahra.."


"Sudah, ah. Kita pulang, yuk. Ummi memintaku untuk pulang." Chayra menarik tangan Saras dan Tania.


"Sssttt... udah, ah. Ayo, kita kembali." Chayra kembali menarik tangan kedua orang yang masih ngoceh tidak jelas di depannya.


"Oh, aku terpesona mendengar suara rayuan Ustadz tampanku.." Ucap Tania dengan suara mendayu-dayu. Tubuhnya ikut terseret seirama dengan langkah Chayra dan Saras.


* * *


Chayra menatap sekeliling dengan heran. Hari Minggu pagi, biasanya para Santri akan memenuhi pinggiran kolam ikan usai gotong royong di Asrama mereka. Namun, pagi ini terasa jauh berbeda karena minimnya para Santri yang berada di tempat itu.


Chayra mencoba menghubungi nomor handphone Saras. Namun, gadis itu tidak bisa menemani Chayra pagi ini. Dia bilang, kalau dia masih sibuk di Asramanya. Ada salah satu adik asuhnya yang berulang tahun.


Chayra mencoba menghubungi Tania. Gadis itu bilang, dia tidak bisa menemani Chayra pagi ini. Ada masalah yang membuatnya menjadi sibuk mendadak. Para adik asuhnya sedang menangis massal dan dia yang harus menenangkannya.


Menangis massal..


Masalah apa yang sedang di hadapi mereka, sehingga harus ada acara menangis massal segala?


Chayra memijit pelipisnya saat mendengar alasan yang diutarakan oleh Tania. Padahal, mereka bertiga sudah berjanji akan makan bakso bersama di Kantin Asrama pagi ini.


Chayra menyebikkan bibirnya. Ada rasa kecewa yang terbersit di hatinya. Namun, buru-buru ia melafadzkan Istighfar. Berbalik masuk kembali ke dalam rumah. Mengurung diri di dalam kamar mungkin lebih baik pikirnya.


Mengambil beberapa buku dari rak bukunya. Namun, ia menaruhnya kembali. Berjalan mengelilingi kamar. Untuk pertama kalinya, ia memperhatikan kamar yang sudah masuk dua tahun ia tempati.


Chayra menatap laci paling bawah meja belajar yang selalu dia pakai di kamar itu. Kata Bu Ainun, laci itu tempat penyimpanan barang-barang pribadi milik Almarhum Bapaknya.

__ADS_1


Walaupun sudah lama menempati kamar itu. Tak sekalipun ia pernah membuka laci itu. Pagi ini, karena penasaran. Chayra mengambil kunci yang tergantung di laci paling atas.


Chayra terdiam beberapa saat menatap kotak-kotak kecil yang tersusun rapi dalam laci itu. Masih berpikir, apakah dia akan membukanya atau tidak.


Sudah sekian tahun Bapaknya pergi. Namun barang-barangnya masih tersimpan di kamar itu. Pakainya juga masih ada. Bu Ainun bilang, kalau dia merindukan adiknya itu. Dia akan mendatangi kamar itu. Mencium baju-baju Almarhum yang masih tersimpan rapi di dalamnya.


Sejak Chayra menempati kamar itu. Bu Ainun lebih jarang memasukinya. Chayra hanya beberapa kali memergokinya sedang menangis sambil memeluk dan mencium baju-baju Almarhum Bapaknya.


Lamunan Chayra buyar saat terdengar suara teriakan Amrina memanggilnya. Tangannya yang sudah terulur untuk mengambil kotak dalam laci, ia tarik kembali.


"Kakak Ayra... Kakak di panggil sama Kak Saras dan Kak Tania. Mereka sudah menunggu Kakak di teras depan." Amrina langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


"Iya, Dek. Suruh mereka tunggu Kakak sebentar." Chayra menutup kembali laci itu. Bangkit mendekati Amrina yang sudah duduk syantik di pinggir ranjangnya.


"Rina nggak mau keluar duluan. Rina maunya barengan sama Kakak."


"Kakak mau ke Kantin Asrama sama Kak Saras dan Kak Tania. Adek Rina mau ikut memangnya?"


Amrina mengangguk girang. Bangkit seraya memeluk Chayra dengan erat. "Kak Ayra tunggu Rina sebentar ya. Rina mau minta uang sama Ummi."


Anggukan kecil dari Chayra membuat gadis kecil itu bergegas mencari Umminya.


Chayra berjalan keluar rumah bergandengan dengan Amrina. Bocah itu bergelayut manja, enggan melepaskan tangan Chayra.


"Kenapa kalian berdua berubah pikiran dan menemuiku?" Chayra langsung menatap tajam kedua temannya yang sedang duduk di teras rumah.


"Eh, Ayra." Tania langsung bangkit dan menghampiri Chayra. "Aku lupa kalau kita sudah janjian akan makan bakso di Kantin."


"Terus, anak-anak asuh kamu yang sedang menangis massal itu kamu apakan?"


"Iya... aku tinggalkan mereka. Demi semangkok bakso gratis dari Chayra Azzahra."


Chayra menautkan alisnya. "Ngomong-ngomong, anak-anak asuh kamu menangis massal, ada apa?"


Saras dan Tania saling pandang. Lalu Tania menarik nafas berat. "Bukan hanya anak asuhku saja, Ayra. Tapi, Saras juga begitu."


Chayra semakin bingung dengan penjelasan Tania. Ia kembali menautkan alisnya seraya menatap Saras.


"Sebenarnya.. sebenarnya.. tidak ada yang sedang ulang tahun, Ayra." Saras menjelaskan dengan ragu.


"Lalu...?"


"Sebagian besar Santri sedang menangis massal di Asrama karena..."


"Karena apa?" Chayra semakin tidak sabar karena penjelasan yang bertele-tele.


"Sedang terjadi patah hati Se-Asrama, Ayra." Ucap Tania memotong.


Chayra terlihat semakin bingung. "Patah hati Se-Asrama?"


"Iya, patah hati. Adik-adik Santri patah hati karena Ustadz Ghibran akan menikah."


"Hah..??" Chayra tercengang mendengar ucapan Tania.

__ADS_1


* * *


__ADS_2