Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menuju kebenaran


__ADS_3

Chayra dan Santi langsung pamit begitu mereka sampai rumah. Membuat Kate mau ikut ke rumah ini merupakan keberuntungan agar Ardian tidak perlu lagi mencari waktu luang untuk bisa bicara dengan temannya itu.


"Wahahah... mimpi apa gue bisa masuk rumah ini." Kate menatap ruang tamu rumah Santi yang terlihat benar-benar berbeda. Satu-satunya rumah yang terlihat benar-benar islami yang pernah dia masuki.


"Kenapa emangnya?" Sambung Ardian.


"Terlihat sangat berbeda dengan rumah-rumah yang pernah gue datangi sebelumnya. Perasaan lho bagaimana pas pertama kali masuk kesini?" Matanya masih saja menatap kesana-kemari.


"Nggak jauh beda dengan ekspresi lho saat ini." Jawab Ardian tanpa mengalihkan pandangannya dari tab di tangannya.


"Lho ini kenapa melihat benda gepeng itu terus. Nggak asyik banget sih lho sekarang. Kayak orang yang lagi sibuk kerja aja." Kate mendengus karena merasa di abaikan.


"Gue emang lagi kerja. Tadi siang kan izin ke Bos untuk menemani istri gue periksa kandungan." Masih menatap tab tanpa memperdulikan ekspresi Kate.


"Semudah itu lho dikasih izin?"


"Iya, alhamdulilah punya Bos orangnya sangat pengertian. Orangnya juga pernah ditinggal mati istrinya pas melahirkan anak kedua mereka katanya. Itulah mengapa pas gue minta izin, dia langsung mengiyakan tanpa pikir panjang." Masih fokus pada benda gepeng.


Kate manggut-manggut melirik Ardian yang bercerita, tetapi tak sedikitpun menatapnya. "Please deh, Ar. Lho ini kenapa terlihat sibuk sendiri sih. Lho mau dapat informasinya nggak. Gue udah susah-susah menyuruh temen gue mengecek rekaman cctv agar lho yakin kalau yang gue ceritakan kalau mantan lho itu ngomong sama si Audy itu benar adanya."


Ardian menarik nafas panjang, langsung meletakkan tabnya begitu mendengar nama Audy disebut.


"Huh, akhirnya angkat kepala juga lho." Kate tersenyum getir.


"Sebenarnya gue pusing, Kate. Banyak pekerjaan yang tidak selesai tadi siang. Dodit sih udah mengambil alih sebagian. Nggak enak juga kalau terlalu membebankan dia." Ardian menarik nafas panjang. "Tapi, informasi dari lho juga sangat penting. Gue harus punya bukti yang kuat untuk diserahkan ke Kakek. Kakek ternyata walaupun belain gue ternyata meragukan kesehatan gue juga. Omongan beliau di depan Audy untuk membawa gue periksa ternyata nggak main-main. Dia beberapa kali mengontak gue untuk menanyakan kesiapan gue untuk dibawa ke Rumah Sakit untuk periksa, bahkan kalau perlu sampai keluar negeri segala katanya." Ardian mengusap-usap wajahnya kasar.


"What?!" Kate tersentak mendengar cerita Ardian. "Gila lho.. masa urusan periksa begituan aja harus keluar negeri? Yang di dalam negeri juga nggak kalah handal kok." Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukannya meragukan kemampuan dalam negeri. Gue juga mau periksa disini dulu di beberapa Rumah Sakit besar. Tapi, kalau Kakek masih saja ragu, gue akan benar-benar di bawa keluar negeri."


"Wah, itu sih namanya pemborosan. Kalau gue sih, nggak akan mau kayak gitu. Memangnya Kakek istri lho itu orang penting ya, sampai segitunya banget?" Kate penasaran juga karena dari cerita Ardian sosok Kakek yang diceritakan sepertinya orang penting.


Ardian menunjukkan sebuah foto di handphonenya. "Ini... lho kenal nggak dengan orang ini?"

__ADS_1


Lama Kate memperhatikan orang di foto yang ditunjukkan Ardian. "Kayaknya sering lihat tapi dimana ya..."


"Di televisi kalau menyangkut tentang bisnis pasti dia akan muncul disana." Jawab Ardian sambil melengos.


Kate termenung beberapa saat. Mencoba memikirkan berita yang sudah jelas sangat jarang sekali dia tonton. Otaknya lebih cepat tanggap kalau ditanyakan nama model yang sering wara-wiri di layar kaca.


"Jangan paksakan kalau lho memang nggak tau. Udah tau juga lho nggak akan pernah menonton berita. Yang ada lho hanya banyak menonton wanita seksi."


"Eh, gini-gini gue udah insyaf dari beberapa bulan yang lalu. Gue masih sering ke tempat biasa karena gue mau menjual saham gue yang tertanam di tempat itu."


"Diikhlaskan saja uang yang sudah terlanjur masuk disana. Nggak ada berkahnya, Bro."


"Maksudnya.."


"Lho harus paham agama dulu biar ngerti istilah-istilah yang jarang bahkan tidak pernah lho dengar."


"Iya kalau sekedar berkah sih, gue sering dengar. Tapi, ucapan lho yang menyuruh gue mengikhlaskan uang gue itu maksudnya apa?"


"Uang itu jangan diingat. Lho cari uang baru dengan cara yang halal biar ada berkahnya."


"Lho kan mau insyaf katanya. Udah ah, kok jadi ngebahas lho yang beneran mau tobat apa nggak sih. Gue membawa lho kemari kan untuk menjelaskan semuanya."


"Iya... tapi gue butuh disogok terlebih dahulu. Gue lapar, Ar. Belum makan dari tadi siang." Bisik Kate, mengedarkan pandangannya ke dua pintu takutnya Chayra atau ibunya muncul secara tiba-tiba.


Ardian menahan senyum. "Lihat apaan lho di pintu, kayak orang yang takut ketahuan lapar saja."


"Iya... malulah sama bini and mertua lho nanti. Gue cuma minta duit lima puluh ribu untuk makan di warung pecel lele nanti saat udah keluar dari rumah ini." Kate kembali berbisik.


Ardian akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya. "Jangankan lima puluh ribu, Kate. Sepuluh juta juga gue kasih asalkan informasi yang lho berikan ke gue ini benar-benar akurat."


Kate melongo sambil menelan ludahnya. Seperti mimpi saja saat mendengar Ardian mengatakan itu. Padahal dulu Ardian hanya sering melemparkan satu lembar yang berwarna merah padanya. Itupun kalau temannya itu sedang berbaik hati padanya.


Percakapan mereka terhenti saat Chayra datang.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" Ardian langsung menyambut istrinya. Menarik tangan Chayra agar duduk di sebelahnya.


"Aku nggak mau duduk, Kak. Aku cuma mau Kakak mengajak teman Kakak untuk makan malam. Ibu sama Bian sudah menunggu. Saya duluan..." Chayra langsung berlalu tanpa menunggu jawaban suaminya.


"Eh... istri lho kok irit ngomong kayak gitu? Setau gue perempuan itu biasanya cerewet."


"Dia memang kayak gitu orangnya. Kalau sama orang asing, intinya yang bukan mahram dia irit ngomong. Tapi kalau sama gue atau keluarganya, beh.... orangnya cerewet pisaaan..." Ardian membayangkan Chayra yang sangat cerewet. "Kan lho sendiri yang bilang kalau dia itu terlihat berbeda dari kebanyakan wanita."


Kate hanya mengangguk-angguk. Pikirannya sudah membayangkan berbagai jenis makanan enak yang sudah terhidang di atas meja makan. "Ayo kalau begitu kita kesana. Kasihan mereka lama menunggu."


"Lho ini tamu disini. Kok malah lho yang ngajak Tuan rumah untuk makan."


"Heheh..." Kate cengengesan. "Lapaaaarrrr, Bro. Si Andre ngajak-ngajak gue kirain dia punya banyak duit. Eh, malahan pinjam duit gue untuk bayar USG. Dikasih hati malah minta jantung tu orang."


Ardian hanya menanggapi dengan tersenyum kecil. "Ayo, katanya lho udah lapar."


"Terimakasih... lho emang teman gue yang paling pengertian. Dari sejak dulu saat gue masih kaya sampai gue miskin seperti sekarang, lho tetap baik sama gue. Lho itu memang teman sejati sehidup semati."


"Ingat, gue baik sekarang sama lho karena gue butuh bantuan lho." Ucap Ardian tanpa menoleh pada Kate yang berjalan mengikutinya.


"Iya, iya... gue juga tau diri kok. Kayaknya perlu banyak belajar deh gue sekarang sama lho. Lho benar-benar berubah dan terlihat dewasa sekarang."


"Iya iyalah gue harus dewasa. Sebentar lagi mau jadi Bapak. Masa masih bertingkah seperti kamvret kayak lho." Ardian mengehentikan ucapannya karena mereka sudah sampai di ruang makan.


"Bi, minta tolong kursi yang disebelah kamu digeser sedikit biar teman Kakak ada tempat duduk."


Bian mendorong kursi asal ke arah Ardian. "Tuh, seharusnya ambil sendiri. Masa otot kekar kayak gitu masih minta bantuan." Melirik kesal ke arah Kate yang berdiri di dekat Ardian.


"Astagfirullah, sopan sama tamu, Nak." Raut wajah Santi langsung berubah mendengar ucapan putranya.


"Kesel dia itu, Bu gara-gara nggak dijemput ke Sekolahnya. Siapa suruh ikut nebeng sama orang yang sibuk." Chayra sedikit kesal melihat tingkah adiknya. Bian memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya kalau sedang sakit hati.


Bian komat-kamit tak jelas. Sebenarnya dia kesal karena berjalan kaki dari Sekolah tadi. Jarak rumah dengan sekolahnya memang lumayan jauh. Hampir tiga kilometer. Dia bahkan sampai rumah saat adzan Maghrib berkumandang. Nyesel juga nggak mau bawa kendaraan sendiri kalau tau begitu ujungnya.

__ADS_1


**********


__ADS_2