Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Musibah di tempat pesta


__ADS_3

Ardian dan Chayra tiba di hotel Queen pukul delapan malam. Mereka langsung menuju Ballroom tempat acara berlangsung. Sudah banyak tamu undangan yang datang saat mereka sampai.


Chayra mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang mungkin dia kenal. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat Pak Sucipto dan Bu Renata sedang ngobrol santai bersama seorang wanita. "Mas, itu Papi dan Mami."


"Kamu mau menyapa mereka dulu atau kita langsung duduk di tempat yang sudah disediakan?"


"Aku mau menyapa Papi dan Mami dulu sebentar."


"Ayo aku antar.." Ardian menggenggam erat tangan istrinya, menuntunnya mendekati kedua orang tuanya. Ardian mendengus setelah melihat wanita yang sedang bicara dengan kedua orang tuanya. Wanita yang ternyata Anita itu tersenyum lembut pada Ardian dengan membungkukkan sedikit badannya. Ardian mengalihkan pandangannya saat Anita menundukkan badannya karena belahan dadanya yang terbuka lebar. Mempererat genggaman tangannya pada istrinya. Chayra yang menyadari kelakuan suaminya hanya tersenyum kecil.


"Assalamualaikum, Papi, Mami.." Chayra segera mengucapkan salam untuk mengalihkan perhatian suaminya.


"Eh, menantu Papi ternyata sudah sampai." Pak Sucipto langsung bangkit dan memeluk menantunya. Bu Renata juga melakukan hal yang sama, tetapi di tambah dengan ciuman di pipi kanan dan kiri Chayra.


"Cucu Mami dititip sama siapa, Sayang?"


"Sama Ibu, Mi. Barusan sambilan kesini di antar dulu ke sana. Aku baru menyadari sekarang, kalau pompa pemberian Mami sangat berguna."


"Oh, itu berarti kamu bisa puas-puasin diri sekarang. Sekalian aja langsung nginap di sini sekarang."


"Nggak.. nggak.." Chayra langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak setega itu, Mi.."


"Kan kebutuhan ASI-nya sudah terpenuhi, Sayang.."


"Tetap saja aku tidak bisa, Mi. Adzra masih terlalu kecil kalau harus ditinggalkan terlalu lama."


Bu Renata mencubit gemas pipi menantunya yang tertutup cadar. "Hhmmm... kamu memang luar biasa, Sayang. Aura keibuan kamu itu terpampang jelas. Mami jadinya merasa kalah jauh, karena Mami dulu sering meninggalkan suami kamu keluar kota."


"Udah, Mi.. jangan bahas hal begituan. Aku dan Chay mau pindah posisi dulu. Kalau Mami mau curhat, nanti Mami datang ke rumah saat waktu luang." Ardian langsung melayangkan protes karena mulai tidak nyaman.


"Ah, kamu pelit amat dipinjam istrinya sebentar. Huh..." Bu Renata mendengus sambil mendorong pelan tubuh putranya.


"Ayo Sayang, kita pindah posisi."


"Eh iya, Mas. Pi, Mi.. nanti Ayra kesini lagi. Mari, Mbak.." Chayra tersenyum ramah pada Anita yang hanya menimpali dengan menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


Setelah acara dimulai, raut wajah Ardian berubah serius. Chayra menyadari hal itu karena suaminya terlihat fokus dan tidak banyak bicara. Beberapa saat setelah MC membuka acara. Nama Ardian disebut, diminta untuk naik ke atas panggung memberikan kata sambutan.


Baru beberapa menit suaminya berdiri di atas panggung, Anita tiba-tiba duduk di depan Chayra. "Hai, Nyonya Muda Baskara."


"Eh," Chayra terkesiap karena tidak menyadari kedatangan Anita. Dia hanya fokus menatap suaminya yang sedang bicara di atas panggung. Konsentrasinya langsung buyar saat menyadari kalau Anita memberikan tatapan yang tidak bersahabat.


"Kamu sengaja ya menyapa Direksi disini? Mau cari muka, agar tamu undangan di sini tau kalau wanita yang salah kostum ini menantu Direksi. Datang ke pesta, kok kayak orang mau ke pengajian. Heh..." Anita tersenyum sinis sambil menatap Chayra dengan tatapan menghina.


Chayra terkesiap mendengar ucapan Anita. "Maksudnya apa ya, Mbak? Pak Sucipto dan Bu Renata itu mertua saya. Ya wajarlah kalau saya menyapa mereka. Kalau saya hanya diam sedangkan saya berada di satu tempat yang sama dengan mereka, bukankah itu menantu yang tidak tau diri?! Dan untuk masalah kostum, ini memang cara saya berpakaian. Dimanapun saya berada, kecuali dihadapan suami saya." Chayra menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Heran dengan sikap wanita ini. "Terus anda duduk dengan mertua saya tadi tujuannya untuk apa? Apa anda juga mau mencari muka seperti yang anda katakan ke saya?" Sambung Chayra membalikkan fakta yang sebenarnya.


Anita tersenyum sinis. "Ya wajarlah aku duduk dengan mereka. Aku memiliki kedudukan penting di Kantor. Apa kamu tau posisiku di Kantor?"


Chayra mengernyit menahan senyum. "Untuk apa saya tau ya, Mbak? Saya bukan orang kantor sehingga harus menghormati anda. Saya berada di sini atas permintaan langsung dari suami dan mertua saya."


Anita mengepalkan tangannya. Spontan tangannya meraih gelas minum Ardian yang masih penuh. Ia langsung menyiramkan air itu ke wajah Chayra.


"Aaarrggghhh... astagfirullah.." Chayra mengusap wajahnya. "Kenapa anda kurang ajar sekali?!" Chayra langsung berdiri sambil mengibas-ngibas jilbab dan cadarnya.


Reaksi Chayra mengundang perhatian tamu undangan yang lain. Tidak terkecuali suaminya yang masih berdiri di atas panggung juga ikut terkejut. Tetapi Ardian melanjutkan pidatonya karena MC mengisyaratkan kepadanya untuk melanjutkan.


"M.. maaf, Bu." Anita menundukkan wajahnya dengan perasaan campur aduk.


Bu Renata kembali berbalik menatap menantunya lalu memeluknya. "Kamu baik-baik saja kan, Sayang?"


"Ayra mau pulang, Mi. Maaf kalau Ayra datang ke acara ini dengan kostum yang salah. Tapi, Ayra tidak mau menggadaikan kehormatan Ayra hanya karena menghadiri sebuah pesta." Chayra menarik paksa tubuhnya dari pelukan Bu Renata. "Ayra pamit, Mi. Assalamualaikum.." Chayra mengusap air matanya dengan kasar seraya bergegas meninggalkan ruangan itu.


Bu Renata bergegas mengejar Chayra keluar. Rasa bahagia yang ia rasakan karena putranya main jabatan, kini bertukar dengan ras kesal karena menantunya dipermalukan. "Chayra, tunggu acara ini selesai dulu, Nak. Acara ini diadakan untuk suami kamu. Dia tidak mungkin meninggalkan acara ini."


Chayra menggeleng-geleng sambil terus melanjutkan langkahnya. Berbagai kata bujukan dan rayuan dikeluarkan Bu Renata untuk menahan Chayra. Sekitar lima menit Bu Renata terus membujuk menantunya, sampai akhirnya Ardian datang menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi, Mami?"


"Mami tidak bisa menjelaskan karena Mami datang setelah Ayra seperti ini. Kamu bisa menanyakan itu nanti pada istri kamu. Biarkan dia tenang dulu."


Chayra menarik nafas panjang. "Aku.. aku mau pulang, Mas."

__ADS_1


"Tapi acaranya belum selesai, Sayang. Kita masuk sebentar ya.. Aku bahkan belum sempat memperkenalkan kamu pada tamu undangan di dalam."


"Aku tidak mau berkenalan dengan siapapun. Lagian aku tidak mungkin kembali ke dalam dengan pakaian basah seperti ini. Aku hanya mau pulang sekarang."


"Sayang, please... acaranya belum selesai." Ardian memeluk erat tubuh Chayra untuk menahannya agar tidak lepas dan kabur.


"Aku mau pulang, Mas." Chayra mengusap air matanya dengan kasar.


"Apa yang kamu perdebatan dengan Anita?"


"Jangan dibahas lagi. Aku tidak mau mengingatnya."


"Apa dia sudah minta maaf?"


Chayra tersenyum getir. "Kata maaf tidak akan bisa mencabut ucapan buruknya tadi, Mas." Ia melepaskan pelukan suaminya.


"Aku tau, Sayang. Tapi..." Ardian meraih kedua tangan istrinya.


"Kalau kamu masih ada tanggung jawab di dalam, kamu masuk saja, Mas. Aku akan pulang pakai taksi saja."


"Chay... please.. tunggu sebentar saja.."


"TIDAK..! Kamu silahkan masuk, aku mau pulang pakai taksi." Chayra berusaha menarik tangannya yang masih digenggam Ardian.


"Sudah, Ar! Kamu pulang saja. Biar Mami yang bicara ke Papi kamu. Benar kata istri kamu, dia tidak mungkin kembali ke dalam dengan pakaiannya yang basah. Anita benar-benar keterlaluan.." Bu Renata mengepalkan tangannya.


Ardian akhirnya mengalah. Setelah berpamitan pada maminya, ia menuntun Chayra untuk masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Hanya suara isakan Chayra yang menjadi penghias perjalanan itu. Ardian ingin bertanya, tetapi ia menhan diri karena melihat emosi istrinya yang belum stabil. Ia ingin berbelok ke rumah mertuanya, tetapi ia urungkan saat melihat kondisi istrinya.


"Kita kenapa lurus, Mas? Seharusnya kamu belok, Adzra masih di rumah Ibu."


"Aku tidak mau Ibu khawatir melihat kondisi kamu. Kita pulang untuk mengganti kostum kamu dulu."


Chayra hanya bisa menarik nafas panjang. Menyandarkan kembali punggungnya seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


**********


__ADS_2