
Ardian bergegas memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil. Hari ini dia akan berangkat ke Tiongkok. Tapi, gara-gara ia menuntut nafkah batin setelah subuh pada istrinya, ia jadi ketiduran dan hampir saja terlambat. Untung saja Chayra sigap. Begitu Ardian bilang akan ke Tiongkok hari Rabu, Chayra langsung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa suaminya itu.
"Makanya jangan dibiasakan sarapan batin, Mas. Sudah berapa hari coba kita kesiangan terus." Chayra tersenyum sambil membetulkan kancing baju suaminya yang salah masuk lubang. "Baju sampai acak-acakan gini gara-gara takut ketinggalan pesawat."
"Jangan dikomentari terus dong, Sayang." Ardian menatap istrinya dengan tatapan memelas. "Doain aja aku biar dilancarkan urusannya."
Chayra tersenyum, tangannya terangkat mengusap-usap wajah suaminya. "Insya Allah, aku tidak pernah lupa mendoakan kamu, Mas."
"Aku berangkat, Sayang. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Kalau mau keluar rumah, jangan lupa minta izin. Kalau aku tidak bisa dihubungi, kamu bisa mengirim pesan. Aku hanya mau kamu selalu ingat, kamu punya suami yang menyayangimu."
"Iya, Mas ..."
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam ..."
Chayra menatap mobil suaminya sampai hilang dari pandangan. Bibirnya mengulas senyum mengingat bagaimana rengekan suaminya saat subuh tadi. Bermacam-macam rayuan dikeluarkan pria itu agar istrinya mau menyerahkan diri, memberikan nafkah batin sebagai bekal ke Tiongkok. Sebenarnya Ardian selalu minta jatah habis shalat subuh. Karena saat malam, biasanya dia langsung terkapar usai shalat Isya karena kecapekan. Apalagi tadi malam dia pulang lewat dari jam sepuluh malam.
Flashback on...
Malam itu, Chayra meminta Bi Idah untuk menunggu suaminya pulang kerja. Ada pekerjaan yang dikirimkan Bu Santi. Hal itu membuatnya berdiam di ruang kerja suaminya. Adzra yang ikut bersamanya sampai tertidur di sofa karena menunggu mamanya bekerja.
Chayra merenggangkan ototnya saat semuanya kelar. Matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Saat akan naik ke kamarnya di lantai dua, sekilas ia melirik ke arah ruang tamu tempat Bi Idah sedang duduk menunggu suaminya pulang. Wanita paruh baya itu sedang bicara dengan seseorang lewat telepon. Tapi, Chayra tidak memahami pembicaraannya karena Bi Idah menggunakan bahasa daerah.
Baru beberapa menit memasuki kamar, pintu kamarnya terbuka. Ardian masuk dengan wajah lesu.
"Aku kira kamu sudah tidur, Sayang."
"Baru selesai kerja, Mas. Ibu memintaku mengevaluasi pemasukan Toko satu bulan kemarin. Katanya ada yang dihitung salah sama Mbak Mirna. Itu yang membuat Mbak Mirna bingung dari kemarin. Uangnya kurang, tapi hitungannya lebih. Pas aku hitung lagi tadi, memang ada yang salah. Aku kasihan sama Mbak Mirna, dari kemarin dia bingung. Dia karyawan Ibu yang sangat jujur, Mas. Sudah berapa tahun dia mengabdi di sana."
Ardian hanya menarik nafas panjang menanggapi cerita istrinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepas sepatunya. Membiarkan kakinya bergelantung.
"Capek banget ya, Mas?"
"Ya ... capek, Sayang. Tapi ... kita kan butuh uang. Aku kerja lembur terus kayak gini untuk menambah penghasilan. Kalau aku nggak ada hutang pada Kakek, aku tidak mungkin segila ini pada pekerjaan. Tapi, aku yakin semuanya akan membuahkan hasil pada waktunya."
Chayra tersenyum seraya ikut merebahkan tubuhnya seperti yang dilakuan Ardian.
"Jangan ikut rebahan, Sayang." Ardian langsung menahan kepala istrinya dengan tangannya.
__ADS_1
"Loh, kenapa emangnya, Mas?" Chayra berusaha memindahkan tangan suaminya.
"Aku takut tergoda kalau kamu seperti ini." Ardian menarik baju tidur istrinya. Chayra memang sudah berganti pakaian menggunakan baju tidur minum bahan. Ia sengaja melakukan itu. Ardian sering sekali melayangkan protes kalau dia pakai piyama panjang.
"Astagfirullah, segitu amat deh kamu, Mas. Pasti belum shalat ya, makanya takut tergoda." Chayra akhirnya duduk kembali.
"Hmm ... belum." Ardian tersenyum meringis menatap istrinya. Aku shalat dulu kalau begitu. Aku takut tergoda bidadari surgaku." Ardian segera bangkit. Melihat suaminya bangkit, Chayra segera turun. "Biar aku yang bukakan sepatunya, Mas."
"Eh, nggak usah, aku bisa sendiri, Sayang."
"Nggak apa-apa, aku mau mencari tambahan pahala di tengah malam." Tangan Chayra segera melepas sepatu Ardian.
Ardian tersenyum seraya mengangkat dagu istrinya. "Terimakasih untuk semuanya, Sayang."
"Hmm ..." sepersekian detik mereka berpandangan. Chayra segera bangkit untuk menghindar. Takutnya tatapan itu akan semakin dalam dan membuat suaminya lepas kontrol. "Kamu ambil wudhu' dulu, Mas. Aku akan siapkan sajadah dan pakaian ganti untukmu."
"Baik, Tuan Putri." Ardian melakukan gerak hormat. Hal itu membuat Chayra menggeleng-geleng pelan seraya membuang nafas dengan kasar. "Katanya capek, masih ada tenaga untuk membuat lelucon receh kayak gitu."
"Capek langsung hilang saat sampai rumah melihat anak istri baik-baik saja."
Chayra kembali membuang nafas kasar. "Terserah kamu, Mas." Timpal Chayra tanpa menatap suaminya karena dia sudah berada di depan lemari.
Ardian hanya cengengesan seraya bangkit. Melepas jasnya dan membawanya ke ruang ganti tempat istrinya berada. "Aku wudhu' dulu, Sayang."
"Aku nggak ngelucon. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Kamu terlalu istimewa kalau hanya dijadikan tontonan."
"Sudah ... wudhu' sana ... nanti ngegombal lagi kalau kewajiban pada Allah sudah dijalani." Chayra mendorong tubuh suaminya agar keluar dari ruang ganti.
Ardian tertawa puas. Ia akhirnya masuk juga ke dalam kamar mandi.
Usai menyiapkan baju ganti suaminya, Chayra rebahan di atas ranjang. Tapi, rasa kantuknya semakin kuat dan tidak tahan menunggu suaminya selesai shalat.
Selesai shalat, Ardian pun melakukan hal yang sama. Dia bahkan tidak sempat mengganti baju Koko dan sarungnya. Ia meringkuk di samping istrinya. Tangannya melingkar di pinggang Chayra. Sepersekian detik dia menatap wanita itu, sampai mereka akhirnya sama-sama tertidur dengan perasaan yang ringan.
__________
Chayra membangunkan suaminya untuk shalat subuh saat adzan subuh berkumandang. "Mas, udah subuh bangun ayok ..." menggoyang-goyang pelan tubuh suaminya. "Eh, tidur malah pakai baju kayak gini. Pasti ketiduran semalam sampai nggak sempat ganti."
"Hmm ..." Ardian menggeliat pelan, matanya mengerjap-ngerjap. "Kok udah subuh aja. Perasaan barusan aja aku tidur." Ardian mengumpulkan kembali kesadarannya yang masih bercecer kemana-mana. "Kenapa tidak membangunkan aku untuk tahajud, Chay?"
__ADS_1
Chayra menautkan alisnya. "Loh, bukannya kamu sudah shalat, lalu tidur lagi setelahnya?"
"Ng.. nggak, Sayang. Aku semalam tidur pakai sarung biar mudah menyingkapnya saat diservis kamu."
Chayra melengos. "Ya elah, Mas. Palingan kamu tidur seperti itu hanya karena ketiduran. Pakai ngeles segala. Ayo, kamu bangun dulu. Mandi saja biar badannya segar. Mandi pakai air dingin saja ya, Mas. Aku nggak menyiapkan air hangat untukmu."
"Aku akan terima, apapun yang diperintahkan paduka yang mulia."
Chayra tidak menghiraukan ucapan suaminya. Sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan lain. "Mau shalat di rumah atau di Masjid, Mas?"
"Di rumah saja, Sayang. Aku capek banget. Tubuhku terasa agak pegel-pegel juga. Maunya sih habis ini akunya diservis biar seimbang."
Seimbang apanya?"
"Seimbang rasanya."
"Huh," Chayra mendengus menimpali.
Benar saja, usai mendirikan shalat, Chayra lansung dibopong ke atas ranjang.
"Mas, apa-apaan sih?!"
"Aku serius minta diservis, Sayang. Aku mau pergi tiga hari. Kalau kamu nggak kasih aku bekal sekarang, aku takut kelaparan nanti di negeri orang."
"Alasan saja kamu, Mas."
"Nggak apa-apa. Aku harus pintar merayu kamu biar tetap dikasih servis gratis ba'da subuh."
"Tanpa merayu pun, kalau kamu sudah mau, kamu akan maksa aku walaupun aku tidak mau."
"Bukannya aku maksa, Sayang. Kamu aja yang takut dapat dosa kalau menolak."
"Terserah ..." Chayra akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan suaminya melakukan apapun yang ingin dilakukannya.
Flashback of...
Chayra merapikan kamarnya yang berantakan karena suaminya tadi. Bibirnya masih saja mengulas senyum mengingat semuanya.
Sementara itu ...
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Ardian berulang kali menggigit bibir bawahnya. Ada rasa tidak rela untuk meninggalkan istrinya. Dia harus puasa dengan kejadian-kejadian lucu bersama istrinya. Dodit terus menanyakan posisinya karena belum juga menunjukkan batang hidung.
********