Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Perubahan yang luar biasa


__ADS_3

Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bulan berganti bulan. Tidak terasa hampir satu tahun Zidane membimbing Ardian belajar mengaji. Ardian bahkan lebih banyak tinggal di rumah mertuanya sejak saat itu.


Tinggal menghitung hari pula, Ardian akan wisuda untuk mendapat gelar Magisternya. Hal itu tentu saja membuatnya semakin bersyukur dengan kehidupannya yang semakin membaik.


Magang di perusahaan Papinya sejak beberapa bulan yang lalu, membuatnya memiliki pengalaman dasar dalam bekerja. Aktivitasnya benar-benar padat. Tidak ada waktu untuk sekedar melepas penat. Pulang dari kantor Papinya saja sampai jam delapan atau jam sembilan malam. Hanya saja Papinya berbaik hati mengizinkan Ardian masuk tiga kali dalam satu Minggu.


Hari ini, Ardian akan menghadapi ujian akhir. Usai mendirikan shalat subuh, dia sudah berpakaian rapi. Berpakaian putih lengan panjang dan celana hitam, lengkap dengan sepatu pantofel yang membalut kakinya.


"Masya Allah, suamiku terlihat sangat tampan kalau berpakaian seperti ini." Chayra tiba-tiba memeluk tubuh suaminya dari belakang.


Ardian tersenyum lembut. Menarik tangan istrinya agar tidak lepas begitu saja dari pinggangnya. "Do'akan aku, semoga Allah mempermudah setiap langkah yang akan aku tempuh." Sambil berbalik dan langsung memeluk tubuh Chayra.


"Aamiin.. do'aku selalu menyertai langkah Kakak."


"Aku deg-degan, Sayang."


"Namanya juga akan menghadapi ujian, sudah pasti deg-degan. Intinya, Kakak harus bersikap tenang. Jangan terlalu dipikirkan nanti malah menjadi beban pikiran."


Ardian menyandarkan kepalanya di atas kepala Chayra. "Aku tidak menyangka bisa lulus tepat waktu. Papi dan Mami sampai terharu kemarin."


"Memangnya S1 kemarin, Kakak tidak lulus tepat waktu?"


"Nambah satu tahun. Judul skripsinya di ganti dua kali."


"Kok bisa?"


"Akunya terlalu malas. Sering dimarahi Dosen pembimbing juga. Aku sering telat datang. Kamu tau kan, kehidupanku sebelum ini seperti apa?" Ardian menarik nafas dalam. "Makanya sekarang aku merasa luar biasa saat bisa ujian akhir tanpa banyak bara-berenya."


Chayra menepuk-nepuk punggung suaminya. "Sudah, ah. Curhatnya nanti kalau ujiannya sudah selesai. Sekarang Kakak berangkat. Jangan sampai Kakak telat gara-gara acara ini." Menarik diri dari pelukan Ardian.


Ardian mengangguk, melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya.


"Lho, Kak Ardian nangis?" Lebih mendekat dan mengusap sisa-sisa air mata suaminya.


"Iya," tertawa kecil. "Aku masih nggak percaya kalau ini adalah aku. Ardian akan mendapatkan gelar Magisternya sebentar lagi. Aku masih belum percaya, kalau aku adalah pria baik-baik. Aku bukan lagi pria pemabuk yang selalu membuat onar. Aku bukan lagi pria yang menghancurkan masa depan banyak wanita. Aku sudah berubah sekarang."


Chayra menarik nafas lega. Tersenyum hangat sambil mengusap-usap wajah suaminya. "Itulah adalah anugerah indah dari Allah untuk Kakak."


Ardian menahan tangan Chayra di pipinya. "Ini semua karena kamu, Sayang. Aku bisa seperti ini karena kamu. Kamu berperan penting dalam perubahan besar dalam hidup ini." Berbalik, berjalan pelan mendekati jendela kamarnya.


"Ternyata, seindah ini rasanya menjadi manusia baik-baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perasaan dan jiwa penuh dengan ketenangan."


Ardian menghela nafas berat. "Aku tidak menyangka, wanita yang sangat aku benci di awal pertemuan, menjadi tali kendali perubahanku saat ini."


"Jangan diingat lagi, Kak. Itu hanyalah masa lalu." Chayra menyentuh lengan suaminya.

__ADS_1


Ardian berbalik dan langsung memeluk tubuh istrinya. "Aku mencintaimu, Chayra Azzahra. Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Ke depannya, tetaplah bersamaku dalam suka maupun duka." Ardian kembali menitikkan air matanya. Air mata itu jatuh ke pundak istri yang sedang di peluknya.


"Insya Allah..." Chayra menautkan alisnya saat aroma parfum Ardian seperti mengaduk-aduk perutnya.


"Lho, kamu kenapa?" Ardian terkejut saat melepas pelukannya karena mendapati Chayra sedang menutup mulutnya.


"Parfum Kakak terlalu banyak. Baunya juga sangat menyengat hidung. Mau muntah aku menciumnya."


"Masa sih?! Perasaan aku menyemprotnya tidak berlebihan kok." Mencium-cium beberapa bagian tubuhnya. "Dari tadi juga peluk-pelukan, nggak mual kan tadi?"


"Tadi kan aku pakai niqab, Kak. Jangan diperpanjang dah, nanti Kakak bisa telat. Kita turun saja sekarang."


"Iya..." Ardian masih menciumi beberapa bagian tubuhnya. Meraih tas ranselnya yang tergeletak di atas meja belajarnya.


Sampai di ruang keluarga. Ardian dan Chayra sudah disambut dengan senyuman hangat dari Renata dan Sucipto.


"Tumben pagi-pagi sudah rapi, Nak. Ada acara apa?"


"Ardian ada ujian akhir, Mi. Minta do'anya semoga Ardian diberikan kemudahan dalam menjawab."


"Mami dan Papi selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu, Nak." Renata merentangkan tangannya untuk memeluk Ardian.


Ardian terharu, menghambur ke dalam pelukan Maminya. Setelah sekian tahun tidak merasakan pelukan hangat seorang Ibu. Kini, dia dapat merasakannya lagi.


Sucipto yang berdiri di samping Ardian hanya bisa menepuk-nepuk punggung anaknya. "Maafkan kami yang telah melewati masa tumbuh kembangmu, Nak. Kehadiran Ayra dan keluarganya dalam hidupmu membuat kami sadar. Betapa dukungan dari keluarga sangat berperan penting dalam berbagai bidang."


Setelah sampai di depan mobil.


"Kenapa nangis, Chay.." mengusap air mata yang masih mengalir di pipi istrinya.


"Aku terharu melihat interaksi Kakak tadi."


"Kenapa? Memang itu yang harus aku lakukan, kan? Kak Zidane beberapa kali mengajarkan itu padaku. Tapi baru sekali aku mempraktekkannya. "Eh, aku belum minta izin pada Kak Zidane."


"Izin untuk apa?"


"Nggak bisa menghadiri pengajian sore ini."


"Kak Zidane sudah memaklumi itu, Kak. Kak Zidane itu orangnya baik kok. Tidak suka marah juga. Bukan seperti Abah yang galak."


Ardian hanya tersenyum seraya menepuk-nepuk kepala Chayra.. "Ayo, kita berangkat."


**********


Ardian tersenyum menghampiri istrinya yang sudah menunggu di depan kelas. Memeluk Chayra erat. "Aku bisa menjawab semua soal dengan mudah."

__ADS_1


"Khmmm, maaf. Lihat kondisi kalau mau berpelukan. Ini area Kampus."


Sontak Ardian dan Chayra saling melepas pelukan karena terkejut. Menatap orang yang sedang berdiri dengan bersedekap menatap mereka.


"Astagfirullahal'adzim, maafkan kami, Kak, eh, Pak." Chayra menunduk malu.


Ghibran tersenyum sinis. "Ternyata kamu masih gemar beristighfar. Aku kira setelah kamu menikah dengan berandal, kamu lupa beristighfar."


"Suamiku tidak seburuk yang anda lihat. Kami pamit, assalamualaikum." Chayra menarik tangan Ardian agar menjauhi Ghibran.


Ghibran hanya membuang nafas kasar seraya berlalu.


"Padahal jadi Ustadz, profesinya seorang Dosen paforit di manapun dia mengajar. Eh, kok kelakuannya merendahkan orang kayak gitu." Chayra ngedumel sendiri. Ucapan Ghibran tadi benar-benar membuatnya tersinggung.


"Tidak usah dipikirkan. Anggap angin lalu saja. Insya Allah, ucapannya itu tidak akan berpengaruh pada kita."


Chayra menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Ardian yang masih dia genggam erat tangannya. "Ucapannya pedes banget, Kak. Pakai bilang Kakak berandal segala. Sebaik apa sih dirinya?"


"Kamu tau siapa dia. Kamu tau profesinya dia. Bahkan, kamu juga pernah dekat dengan dia. Seharusnya kamu tidak bertanya sebaik apa dirinya. Tanyakan pada dirimu sendiri, karena jawabannya sudah ada di sini." Menunjuk dada Chayra.


Chayra mendengus. "Dia terlihat berbeda sekarang. Ngapain coba, sewot dengan orang yang sedang berpelukan dengan suaminya."


"Dia sewot karena dia masih mencintai kamu, Chay."


"Nggak..!" Suara deringan handphone di saku blazer yang dikenakannya membuat Chayra teralihkan perhatiannya.


"Assalamualaikum, Pi.."


"Ujian Ardian sudah selesai apa belum."


"Alhamdulillah, sudah. Kak Ardian juga bisa menjawab semuanya dengan mudah."


"Aku tidak butuh informasi itu. Kalian pulang sekarang..!"


"Ada apa....?"


Sambungan telepon ditutup secara sepihak oleh Sucipto. Chayra menautkan alisnya heran.


"Kenapa, Chay?"


"Nggak tau. Papi sepertinya sedang marah. Beliau meminta kita untuk pulang"


"Iya sudah, kita pulang sekarang." Ardian terlihat santai menanggapi ucapan istrinya.


Chayra masih heran dengan ucapan mertuanya tadi. Sucipto tidak pernah mengabaikan salamnya sebelum ini. Namun, ucapannya tadi terdengar seperti sedang tersulut emosi.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga semuanya baik-baik saja." Ucapnya lirih. Memasuki mobil dengan perasaan yang was-was.


**********


__ADS_2