Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Berbaikan?


__ADS_3

Ardian berdiri di dekat jendela dengan posisi membelakangi pintu. Zidane mengirim pesan kalau Chayra mencarinya ke dalam kamar. Berulang kali menarik nafas dalam. Mempersiapkan diri dan perasaannya untuk bertemu lagi dengan istrinya itu.


Chayra juga melakukan hal yang hampir sama. Sekitar sepuluh menit dia berdiri di depan pintu kamar Zidane. Menarik nafas dalam berulang kali. Apa yang akan dia lakukan saat membuka pintu kamar itu nanti.


Zidane hanya menatap kelakuan adiknya dari kejauhan. Hanya bisa menghela nafas berat. Bingung dengan semua ini. Dia belum berumah tangga, tetapi drama rumah tangga sudah dia saksikan dari sekarang.


Chayra berjalan perlahan. Tangannya memutar kenop pintu perlahan. Mulutnya berulang kali melafadzkan bismillah.


Ardian menunduk saat mendengar pintu terbuka. Dadanya berdebar tak menentu. Perasaannya campur aduk.


"As... assalamualaikum, K.. Kak?" Chayra tergagap. Kakinya seperti terkunci di depan pintu itu.


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menjawab salam istrinya hanya dalam hati. Antara ingin berbalik dan diam dalam posisinya itu. Dadanya terasa ngilu. Beberapa saat terdiam. Akhirnya dia hanya menunduk, diam dalam posisinya semula.


"K.. Kak, m.. maafkan aku." Air mata Chayra mengalir deras. "Aku.. aku menyesal mengatakan itu. Bohong kalau aku mengatakan tidak mencintai Kakak. Aku tidak bisa tidur semalam karena tidak ada Kakak di sampingku." Chayra maju beberapa langkah.


Ardian semakin menunduk dalam. Menyembunyikan air matanya yang mulai keluar.


"Maaf, Kak..." Chayra menghentikan langkahnya karena tidak ada reaksi Ardian.


"Apa yang membuatmu mendatangiku, Chay? Bukankah aku hanyalah orang yang tidak kamu harapkan? Bukankah kamu memintaku menikahimu karena aku melakukan kebodohan itu. Aku hanyalah suami penutup aibmu." Ucap Ardian tanpa membalik tubuhnya. Masih belum siap kalau harus bertatap muka dengan istrinya. Entah kenapa hatinya semakin terasa ngilu mengingat ucapan Chayra kemarin.


"Maafkan aku, Kak. Aku salah mengatakan itu."


"Aku tidak berarti untukmu, Chay. Aku hanya suami penutup aibmu. Hanya ada nama Pak Ghibran dalam hatimu."


"Tidak..! Nama Kak Ghibran sudah di geser olah Kakak." Chayra mencoba melangkah lebih mendekat.


"Itu hanya omongan kamu saat kamu merasa dipojokkan, Chay. Saat kamu sedang merasa di atas angin, Kamu akan kembali memojokkanku seperti kemarin."


"Maafkan aku, Kak. Aku akan berusaha


memperbaiki kesalahan kemarin. Aku salah mengatakan itu. Aku salah..."


Ardian kembali menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Aku nggak tau, Chay, apa yang harus aku lakukan." Mencengkram tirai jendela dengan keras. "Aku menyayangimu, aku mencintaimu, aku juga menganggap kamulah satu-satunya wanita yang akan menemaniku sampai aku mati. Aku tidak pernah ada niat sedikitpun untuk mencari wanita lain. Tidak ada nama wanita lain di hatiku selain nama kamu, Chay. Aku sudah menghapus nama wanita yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Aku bisa melakukan itu, Chay. Aku bisa..." Ardian memejamkan matanya. Air matanya jatuh setetes.


Chayra menelan ludahnya mendengar semua ucapan suaminya. "Maafkan aku, Kak."


"Apakah kamu merasa berat memasukkan namaku di dalam hatimu? Buka hatimu, Chay. Bukalah, sedikit saja untukku. Aku ingin memilikimu beserta hatimu. Bukan hanya namamu seperti saat ini. Tubuhmu bersamaku setiap hari. Tapi, hatimu bukan milikku. Hatimu masih milik Pak Ghibran."


Chayra tertegun, tidak bisa berkata apa-apa. Semua ucapan Ardian tidak bisa dipungkiri kebenarannya.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa berkata apa-apa, kan? Mungkin lebih baik aku pergi dulu sekarang. Aku ingin menyembuhkan hatiku terlebih dahulu."


"Jangan pergi, Kak." Chayra langsung memeluk tubuh Ardian dari belakang. "Jangan pergi meninggalkan aku."


Ardian melepas paksa tangan Chayra yang melingkar di pinggangnya. "Mau kamu apa? Jika kamu masih bersikap seperti kemarin terus, aku tidak kuat, Chay. Hatiku tidak sekuat yang kau kira. Aku juga laki-laki yang membutuhkan kebahagiaan."


Chayra kembali melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Tidak perduli walaupun laki-laki itu mengadakan penolakan. "Insya Allah, aku akan berusaha menjadi wanita terbaik untuk Kak Ardian mulai sekarang. Aku sedang mengandung anakmu, Kak. Bagaimana aku akan menjaga anak kita, kalau Kakak pergi."


Ardian menarik nafas dalam. Mendongakkan kepalanya, menahan perasaannya yang masih campur aduk.


"Apakah aku perlu bersimpuh agar Kakak mau memaafkan aku?" Ucap Chayra lagi, menempelkan wajahnya di punggung Ardian.


"Aku ini manusia biasa, Chay. Aku bahkan seorang pendosa. Tidak pantas bagi seorang wanita shalihah seperti kamu melakukan hal itu padaku."


"Aku lebih hina daripada Kakak. Aku hanya wanita hina yang masih memikirkan nama laki-laki lain di dalam pernikahanku."


Ardian hanya terdiam. Menikmati hembusan nafas Chayra yang menyapu punggungnya.


"Apa mau kamu sekarang, Chay?"


"Aku hanya ingin Kakak berbalik. Mengatakan kalau Kakak memaafkan aku. Menatapku, memelukku dengan penuh cinta."


"Aku..." Chayra melepaskan pelukannya perlahan. Berjalan mundur beberapa langkah. "Aku hanya butuh dukungan, Kak. Semua menyalahkan aku. Aku lemah.." ucap Chayra lirih. Tiba-tiba saja pandangannya buram dan sedikit berputar. Memijit pelipisnya di belakang Ardian yang masih enggan berbalik. Tubuh Chayra tiba-tiba melorot. Lemas dan tak sadarkan diri.


"Kamu berpura-pura pusing agar aku luluh dan melupakan kesalahanmu?"


Hening. Tidak ada respon dari Chayra. Ardian menuggu beberapa saat, tetapi tetap saja hening.


Ardian sedikit menatap ke belakang. Matanya membulat saat melihat tubuh istrinya sudah tergeletak di lantai. "Astagfirullahal'adzim, Chay.." langsung berbalik dan mengangkat kepala istrinya. Mengangkat tubuh Chayra perlahan dan membawanya keluar kamar.


"Ibu, Kak Zidane.. Chay pingsan, Bu."


Tidak ada jawaban. Ternyata hanya mereka berdua yang ditinggalkan di rumah. Ardian meletakkan tubuh Chayra di atas sofa ruang tamu. Bergegas keluar rumah untuk mencari bantuan.


--------------


"Tunggu di luar, Pak. Kami akan memeriksa pasien dulu." Salah seorang Dokter menegur Ardian karena pria itu bersikeras mau ikut masuk ke ruang IGD.


Akhirnya Ardian menyerah setelah seorang Satpam juga menarik tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" Bu Sulis yang membantu Ardian membawa Chayra ke Rumah Sakit akhirnya bertanya. Dari tadi wanita itu menyimpan penasaran. Ardian tiba-tiba datang ke rumahnya dengan panik.

__ADS_1


"Aku juga belum tau, Bu." Jawab Ardian asal.


"Kamu sudah menghubungi Ibu kamu?"


"Belum, Bu. Aku akan menghubunginya nanti. Aku lupa membawa handphone tadi. Aku... aku panik saat melihat Chay tiba-tiba lemas."


"Unyuk-unyuk ni anak. Nama panggilan untuk istrinya manis amat." Bu Sulis mencubit gemas pipi Ardian.


Ardian cengengesan menyikapi perlakuan Bu Sulis. "Hehehehe..."


"Biar Ibu yang menghubungi mertua kamu. Kamu temani saja istri kamu."


"Aku tidak diizinkan masuk, Bu. Dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan kalau aku masuk. Karena aku bisa saja mengganggu konsentrasi mereka."


"Memangnya kamu nangis menjerit-jerit sampai harus mengganggu konsentrasi mereka. Tadi kamu terlihat panik, itulah mengapa Dokter itu melarang kamu masuk. Coba kamu bersikap tenang tadi. Insya Allah, mereka akan mengizinkan kamu masuk."


"Memangnya bisa kayak gitu, Bu?"


"Kamu ini kayak orang nggak pernah ke Rumah Sakit saja."


Ardian terdiam. Menatap ke arah Satpam yang masih menjaga pintu masuk ruang IGD. Bangkit dan berjalan pelan mendekati Satpam itu. "Maaf, Pak. Mm... apa saya boleh menengok istri saya di dalam?"


"Dokter masih melakukan pemeriksaan, Dek. Tunggu sebentar lagi. Kami akan dipanggil kalau kamu sudah boleh masuk."


"Tapi istri saya sedang hamil, Pak. Saya takut dia khawatir kalau tidak melihat saya disampingnya nanti. Dia sangat posesif sejak hamil. Aku tidak boleh jauh-jauh darinya."


"Hmmm... tunggu sebentar, saya akan tanyakan pada Perawatnya dulu." Satpam itu masuk dan bicara dengan salah seorang perawat yang sedang bertugas.


"Suruh saja masuk, Pak. Dokter juga mau ngomong sama dia."


Ardian langsung masuk setelah mendengar ucapan Perawat itu. Tidak menunggu Satpam itu kembali untuk mempersilahkannya masuk. Duduk di depan Dokter yang tadi memintanya untuk keluar.


"Istri anda sedang hamil. Apa anda tau itu?"


"Iya, Bu Dok."


"Tensi istri anda juga sangat lemah. Dia sepertinya kecapekan, kurang istirahat, atau mungkin banyak pikiran."


Ardian terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menatap Dokter itu, menunggu kelanjutan kata-katanya.


*********

__ADS_1


__ADS_2