Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana memperbaiki keturunan


__ADS_3

Habis shalat Isya, Chayra kembali ke rumahnya. Bu Santi memintanya untuk menginap. Namun, Chayra menolak karena dia ke rumah ibunya tanpa izin dari suaminya. Sebenarnya dia sudah mengirim pesan, tetapi Ardian tidak membalasnya.


"Kamu yakin mau bawa kendaraan sendiri, Nak? Apa tidak sebaiknya menunggu adik kamu pulang dari Masjid, biar nanti dia yang antar kamu pulang?"


Chayra yang sudah memegang kunci mobilnya menghentikan langkahnya seraya berbalik menatap ibunya. "Apa tidak terlalu malam, Bu? Bian pulangnya jam berapa?"


"Masih seperti dulu jam sembilan. Ibu mengkhawatirkan kamu kalau pulang sama Adzra saja."


"Tapi, apa tidak terlalu malam, Bu. Aku hanya khawatir Mas Ardian marah. Aku kan sudah bilang kalau aku hanya izin lewat pesan saja. Sampai sekarang pun dia belum menghubungi aku lagi."


Bu Santi menghela nafas berat. Sebenarnya dia kasihan dengan putrinya. Andaikan dia tidak sibuk, dia pasti akan ke rumah Chayra setiap hari untuk menengok cucunya.


"Biar Ibu ikut denganmu kalau begitu. Tunggu sebentar Ibu mau ambil tas dulu."


"Tapi, Bu.."


"Sssttt... jangan protes." Bu Santi menjawab tanpa berbalik.


Bu Santi membawakan mobil putrinya. Untung saja dia ikut. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Adzra terbangun dan menangis. Sudah pasti anak itu lapar karena tidur cukup lama.


"Ada untungnya Ibu ikut, Nak. Kalau tidak bagaimana kamu akan menenangkan Adzra sambil membawa mobil." Ucap Bu Santi melirik ke arah putrinya seraya melihat ke arah jalan.


"Terimakasih, Bu."


"Ibu akan langsung pulang nanti setelah mengantar kamu."


Chayra tersentak mendengar ucapan ibunya. "Ibu tidak akan menginap?"


"Adik kamu akan sendirian di rumah kalau Ibu nginap. Mendingan kamu, walaupun di tinggal suami, masih ada Satpam dan pembantu yang menemani kamu."


"Ibu katanya mau cari pembantu dan Satpam, kenapa belum sampai sekarang?"


"Masih belum ada yang cocok, Nak. Kamu kan tau kriteria yang diinginkan Ibu."


"Kata Kakek kan dia yang mau mencarikan Ibu pembantu."


"Kamu kan tau Kakek kamu itu sibuknya sampai tidak ketulungan."


"Hmmmm...."


Tidak terasa mereka sudah sampai rumah. Bu Santi benar-benar langsung pamit setelah mengantar putri dan cucunya sampai ke dalam kamar.


**********

__ADS_1


Ardian meletakkan berkasnya dengan kasar. Malam ini adalah malam terakhirnya di kota A. Pekerjaan terakhir dari Pak Randi ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Ia bersandar di sofa ruangan hotel yang ditempatinya selama ini. Ingin menghubungi istrinya, tetapi tenaganya benar-benar terkuras habis.


"Ar, bukakan pintunya aku mau masuk." Ardian mendengus saat mendengar suara Dodit mengetuk pintu.


"Kenapa nggak barengan sih, tadi." Ucapnya sambil bangkit dengan malas. Ia melengos saat melihat Dodit di depan pintu. "Kamu kemana aja sih? Diminta langsung naik, malah kelayapan di luar. Kenapa juga nggak mau sewa kamar sendiri, biar aku bisa menghubungi istriku kapanpun aku mau."


"Aku kan tidak melarang kamu menghubungi istri kamu, Ar. Aku hanya meminta kamu untuk tidak ngomong terlalu vulgar dengannya karena kasihan aku yang tidak punya pasangan."


"Arrrggghhh... kamu menyebalkan. Aku tidak bisa bebas melakukan apa yang aku mau karena ada kamu disini. Memangnya kamu kenapa sih, tidak mau sewa kamar sendiri?"


"Eh, mmm itu... apa namanya... mmm... aku sering takut sendirian kalau di tempat baru."


Ardian menyebikkan bibirnya. "Alasan macam apa itu, kok terdengar tidak masuk akal. Padahal di Apartemen kamu selalu sendirian."


"Aku kan sudah bilang kalau itu berlaku hanya di tempat baru."


"Apa kalau pergi dengan Pak Randi kamu juga seperti ini?"


"Pak Randi sudah paham akan hal itu. Itulah mengapa dia tidak mau melepaskan aku untuk di ganti dengan Bu Anita. Dia takut kalau Bu Anita sama sepertiku tidak berani tidur sendiri."


"Hahahaha... apa benar begitu? Akan sangat lucu kalau wanita itu merengek-rengek pada Pak Randi."


Dodit bergidik ngeri. "Ngebayangin hal itu aja membuat aku tidak nyaman. Kenapa nggak lu aja yang ladenin dia. Gw lihat dia sering curi perhatian lu."


"What...?! Hahahaha... orang bodynya bagus kayak gitu. Terus yang membuat lu bernafsu yang bagiamana?"


"Nggak lucu, Dit. Jangan bahas begituan ah. Gibahin orang kamu kira nggak dapat dosa apa?"


"Ya.. gue heran aja sama lu. Kasihan gue sama Bu Anita, setiap hari mepet-mepet sama lu, tetapi tidak direspon."


"Kalau kasihan kenapa nggak kamu aja yang ladenin dia. Istriku aja udah lebih dari cukup untukku."


"Woalah... lupa gue siapa lu.


"Kamu aja yang jadikan Bu Anita calon. Kalau kamu berhasil, aku akan kasih kado spesial di hari pernikahan untukmu."


"Nggak.. nggak.. nggak.. enak aja. Gini-gini aku juga butuh wanita yang sejalan denganku. Kita para laki-laki membutuhkan calon yang bisa memperbaiki keturunan."


"Maksudnya?" Ardian menahan senyum mendengar ucapan Dodit.


"Iya... aku membutuhkan wanita baik lah intinya. Wanita yang nantinya bisa memperbaiki keturunan aku di generasi berikutnya. Jika tidak bisa mendapatkan yang seperti istri kamu. Setidaknya dibawah level istri kamu juga nggak apa-apa. Kalau seperti dia, bagaimana mau memperbaiki keturunan, Ar. Dia aja nggak bisa menjaga dirinya, hanya sibuk merawat tubuhnya yang selalu terekspos bebas."


"Hmmm... jadinya kamu tidak tertarik sama sekali dengan Bu Anita?"

__ADS_1


Dodit langsung menggeleng. "Aku kan sudah bilang, aku butuh wanita yang bisa memperbaiki keturunan, bukan wanita yang pintar mencari uang. Wanita impian aku itu, wanita yang lebih suka diam di rumah. Agar besok kalau kami punya anak, dia akan fokus merawat keluarga tanpa berambisi untuk mengejar yang lain."


"Oh, ternyata wanita impian kamu tidak terlalu sulit dicari."


"Tidak sulit bagaimana maksud kamu? Sulit, Ar.. Tadi aku telat ke atas gara-gara ngikutin wanita di bawah. Gue capek-capek ikutin dia, eh, tau-taunya orang sudah punya suami dan anak cantik. Huh,"


"Ahahaha... ngapain kejar bini orang?"


"Lu malah ketawa lagi. Nggak tau apa gue sampai ngos-ngosan gara-gara ngejar tu cewek. Huh, Ya Allah.. dimanakah jodohku masih tersangkut." Dodit menghempaskan tubuhnya di samping Ardian. Mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Ini baru jam sepuluh, Ar. Apa kamu sudah mau tidur?" Ucap Dodit seraya bangkit. Sudah banyak oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya karena terlalu sering menarik nafas panjang. Hatinya masih kecewa mengingat kejadian tadi. Mengingat bagaimana perjuangannya mengejar wanita berjilbab lebar yang sempat tersenyum kearahnya. Disenyumin wanita cantik plus Sholehah membuat dadanya berdebar-debar. Rencana untuk memperbaiki keturunan seperti sudah ada di depan mata. Tapi, semua impian itu menguap saat wanita itu kembali ke keluarganya. Meraih anak cantik yang berumur sekitar tiga tahun dari pangkuan laki-laki tampan yang memakai pakaian Ustadz.


Dodit langsung mundur dan berbalik arah untuk kembali ke kamarnya.


"Woi, Ar.. ditanya malah teler ni orang." Dodit mengusap wajah Ardian perlahan. Dia tidak berani terlalu keras karena bagaimanapun juga Ardian adalah atasannya.


"Aku ngantuk, Dit. Capeknya baru terasa sekarang. Memangnya kamu tidak capek? Kita sejak pagi membahas berkas terus. Kalau saja investor dari Hongkong tadi ada komplain lagi. Aku akan mundur saja walaupun kontrak ini menjanjikan."


"Eh, ni orang mau main mundur saja. Kita sudah berapa hari disini. Masa iya gara-gara komplain sedikit mau mundur."


"Kamu hanya tinggal mencatat poin-poin penting hasil rapat. Lah.. aku disini yang kebagian mikirnya. Lagian kenapa sih harus ada kerja sama dengan orang luar seperti ini?"


"Kamu ini nggak ada syukur-syukurnya. Seharusnya kamu bersyukur karena ada investor asing yang mau bekerja sama dengan kita. Itu berarti mereka tertarik dengan perusahaan kita."


"Iya.. iya terserah kamu saja, Dit. Aku sekarang mau istirahat. Kamu jangan berisik karena aku mau tidur."


"Eh, lu belum shalat, Ar."


"Iya aku tau. Nanti aku bangun untuk shalat."


"Nggak takut kelewatan nantinya."


"Insya Allah nggak akan. Aku terbiasa bangun jam tiga."


"Wah, hebat lu diam-diam."


"Ini semua karena peran seorang istri. Istri terbiasa shalat malam, suami pun ketularan. Seperti kata kamu, seburuk-buruk kita laki-laki pasti menginginkan wanita yang baik untuk memperbaiki keturunan."


Dodit hanya melongo mendengar ucapan Ardian.


Ardian membuka kemejanya lalu menggantinya dengan baju kaos yang nyaman untuk di pakai tidur. Mengambil benda gepeng yang dia tinggalkan sejak berangkat rapat pagi tadi. Dia meninggalkan handphonenya di kamar hotel karena takut tidak bisa konsentrasi kalau benda gepeng itu ikut serta.


Hanya ada pesan dari istrinya, lebih tepatnya izin kalau Chayra mau ke rumah orang tuanya. Tangannya gatal ingin menghubungi sang istri, tetapi dia tahan sekuat tenaga karena takut mengganggu istirahatnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2