
Chayra dikejutkan oleh deringan handphonenya. Waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Namun, suara benda gepeng itu benar-benar mengusik indra pendengarannya.
"Siapa yang menghubungi kamu jam segini, Chay." Ardian menarik tubuh istrinya agar kembali memeluknya.
"Nggak tau juga. Coba aku lihat dulu."
"Nggak usah.. biarkan saja. Siapa suruh menelepon orang di jam segini." Semakin mempererat pelukannya.
"Tapi suaranya mengganggu kita, Kak."
"Tinggal tutup telinga pakai bantal, gampang kan?"
"Tapi..."
"Sssttttt..."
Chayra akhirnya mengalah dan mencoba memejamkan matanya kembali. Tapi, handphonenya kembali berdering.
"Kak..."
"Mmm...."
"Handphonenya bunyi lagi."
"Makanya tutup telinga kamu, Sayang."
"Aku sudah menutupnya, tapi tetap saja terdengar. Nggak apa-apa ya, kalau aku mengambilnya sebentar."
Ardian mendengus, melepaskan pelukannya dengan terpaksa. "Sudah, kamu diam saja disini biar aku yang angkat. Lain kali kalau udah mau tidur handphone di silent biar nggak mengganggu." Menggerutu sambil memasang sandalnya.
"Tumben handphone itu berisik jam segini. Biasnya nggak pernah kayak gitu kok."
"Kak Zidane, Sayang."
"Angkat saja."
Ardian menekan ikon berwarna hijau di layar handphone itu. "Assalamualaikum, Kak, ada apa sih, menghubungi orang jam segini? Ganggu istirahat saja."
"Bukakan pintu, kakiku udah kram dari tadi jam satu berdiri di depan."
"Loh, Kak Zidane ada di depan."
"Iya, aku lupa hubungi kalian tadi. Aku coba hubungi ke nomor handphone lho tapi tidak aktif."
"Aku selalu matikan handphone kalau mau tidur. Tidak mau ada yang mengganggu istirahatku."
"Sudah makanya cepat bukakan pintu."
"Ngapain coba pulang jam segini. Lebih cepat atau ditunda saja besok."
"Nggak bisa, semua serba mepet kalau aku tunda."
"Huh, merepotkan saja."
"Lah, kamu yang selalu merepotkan aku sejak dulu, mana pernah aku ngel..."
Tut... Tut... Tut...
Ardian langsung mematikan sambungan telepon.
"Kak Zidane kenapa, Kak?" Tanya Chayra yang sudah duduk di sisi ranjang.
"Dia pulang kemari dan sudah berdiri di depan pintu sejak satu jam yang lalu."
"Kenapa nggak ketuk pintu coba?"
__ADS_1
"Takut mengganggu istirahat yang lain mungkin." Ardian membuka pintu kamar.
"Eh, mau kemana dengan model kayak gitu?" Chayra langsung menghentikan langkah Ardian yang ternyata bertelanjang dada.
"Mau membuka pintu untuk Kak Zidane. Kasihan dia kakinya udah kram katanya."
"Pakai baju dulu." Berjalan mendekat seraya menyerahkan baju kaos milik suaminya.
"Ini kan tengah malam, Sayang. Tidak akan ada yang lihat kok."
"Tetap saja harus menjaga etika. Aku nggak suka melihat Kakak dengan model kayak gitu. Dulu dada ini mungkin bebas di lihat orang lain. Tapi, kali ini Tidak ada yang boleh melihatnya selain diriku seorang."
Ardian tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Menarik tubuh Chayra lalu memeluknya erat. "Kamu ini ada-ada saja."
Suara handphone Chayra kembali berbunyi nyaring.
"Tuh kan, handphone bunyi lagi. Kami sih, pakai acara menggoda aku segala." Melepaskan tangannya dari pinggang Chayra.
"Siapa yang menggoda? Aku kan cuma menyuruh Kakak memakai baju."
"Nanti kita berdebat lagi, sekalian bergulat. Aku nggak mau kena semprot Kak Zidane karena terlalu lama."
"Huh, dasar.." Chayra mendorong tubuh Ardian keluar dari kamar seraya menutup pintu perlahan.
**********
"Uhuk.. uhuk.. acara lamarannya besok?" Ardian tersedak mendengar ucapan Zidane. Acara sarapan pagi yang tadinya hening karena menikmati menu sarapan langsung riuh ketika Zidane mengatakan akan mengadakan lamaran besok.
"Kenapa mendadak sekali, Kak?"
"Acaranya jam berapa, Kak? Aku harus sekolah lagi besok." Keluh Bian.
"Sore, Dek. Ummi sama Abi akan datang hari ini. Kakek sama Nenek, Datok juga."
"Iya, alhamdulillah.. semua bisa hadir walaupun acaranya terkesan mendadak."
"Kenapa Alesha tidak mengabari aku?" Protes Chayra.
"Aku yang melarangnya. Aku yang dari pihak laki-laki yang akan mengabari kalian. Kalau dia membocorkannya dari awal. Nggak surprise dong, jadinya."
"Huh,"
"Alhamdulillah kalau begitu. Menundanya terlalu lama juga tidak baik, Nak. Sunnah itu harus dipercepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Iya, Bu."
Santi beralih menatap Ardian. "Mm.. Nak. Apa kamu bisa cuti untuk acara Kakak kamu besok?"
"Insya Allah, Bu. Semua bisa diatur dari hari ini. Untung saja Kak Zidane mengabariku hari ini. Kalau besok, kemungkinan aku tidak akan bisa hadir."
"Aku akan datang mencari kamu ke Kantor kamu, walaupun kamu sedang rapat sekalipun." Timpal Zidane ketus.
"Astagfirullah, kenapa ngegas ni orang."
"Jangan macam-macam makanya. Ingat siapa aku dalam hidupmu."
Ardian menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan.
"Harta bisa dicari belakangan kalau keluarga sudah diutamakan."
"Betul itu, Nak." Timpal Santi. "Sebanyak apapun harta yang kamu kumpulkan, tidak akan menjamin kamu hidup bahagia. Iya, kamu bisa membeli barang apapun dengan uang, tetapi kamu tidak bisa membeli hati keluarga yang telah engkau kecewakan."
"Waaaah... Ibu benar-benar hebat." Bian bertepuk tangan ria.
"Mmm... ada yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua, Ayra dan Ardian." Ucap Zidane tiba-tiba.
__ADS_1
"Untuk kami?" Chayra menunjuk dadanya lalu menunjuk suaminya.
"Iya.. aku harap kalian berdua bisa maklum."
"Sampaikan saja, Kak. Waktuku tinggal sedikit sekarang."
Zidane langsung melengos. "Sombong lu.."
"Bukannya aku sombong, aku beneran sibuk sekarang."
"Iya.. makanya dengarkan aku." Zidane menarik nafas dalam. "Ghibran akan hadir dalam acara besok. Tapi, aku berani jamin, kalau dia tidak akan berani macam-macam sama Ayra."
"Cuma itu yang ingin Kak Zidane sampaikan?" Potong Ardian.
"Aku belum selesai, Ardian."
"Hehehe.."
"Mantan kamu juga akan hadir. Siapa itu namanya.. mm... Amira."
Deg..!
Chayra dan Ardian langsung saling pandang. Perasaan mereka berdua sama-sama risau mendengar nama itu disebut. Bukan karena ada perasaan yang masih tertinggal. Tapi, ancaman gadis itu yang membuat mereka tidak tenang. Bagaimana kalau Amira mengacaukan acara.....?
Chayra langsung menepis pikiran buruk itu. Tidak mungkin Amira akan membuat kerusuhan dalam acara sahabatnya sendiri. Tapi, pikiran yang lain muncul lagi.
"Kalian kenapa diam? Kalau kalian berdua tidak setuju dengan kehadiran Amira, aku bisa meminta Alesha untuk batal mengundangnya. Mumpung dia belum menghubunginya."
"Itu lebih baik sepertinya." Timpal Ardian.
"Jangan seperti itu, Kak. Bagaimanapun juga, A.. Amira juga sahabat kami. Terlepas dari apapun yang sudah dia lakukan padaku ataupun pada Kak Ardian."
"Pertimbangkan saja dulu. Masih ada waktu sebelum Alesha menghubunginya. Aku dengar dia sering membuat masalah pada hubungan kalian. Iya.. daripada nanti jadi masalah ke depan."
"Bukan kami yang berhak memutuskan, Kak. Semua keputusan ada di tangan Alesha."
"Dia memintaku untuk menanyakan hal ini pada kalian. Karena kebetulan dia masih di Turki. Jadi, ada alasan kalau dia mempertanyakannya nanti.".
"Terserah Kak Zidane dan Alesha saja. Kami hanya menyerahkan semu urusan ini pada Allah. Semoga Allah selalu melindungi pernikahannya kami." Timpal Ardian.
"Kalau aku sudah bertanya dan kalian menyerahkan kepada kami, aku akan mengatakan itu pada Alesha nanti."
"Iya.."
Rapat pagi itu akhirnya selesai setelah Zidane mendengar keputusan dari Chayra dan Ardian. Bian dan Chayra langsung mengekor di belakang Ardian yang sudah bersiap di depan mobil untuk berangkat ke Kantor.
"Kamu mau nebeng lagi lagi ini, Bi?" Ardian melirik Bian yang membuka pintu mobilnya.
"Iya dong, Kakakku yang ganteng. Mau dong pamer sama teman-teman kalau aku memiliki Kakak ipar yang tampan, kece plus mapan."
"Jangan ajak dia berdebat, Kak. Nanti malah tidak ada ujungnya. Tau kan, ni anak pandai sekali bersilat lidah." Chayra meraih tangan suaminya seraya mencium tangan itu bolak balik.
"Sudah tau, Sayang. Makanya aku malas meresponnya. Kamu jaga diri baik-baik ya.. Kalau terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk segera menghubungi aku. Kalau aku sulit di hubungi, telpon ke nomor Dodit saja." Mencium dahi istrinya dengan lembut.
"Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja. Kakak saja yang harus lebih pandai menjaga diri. Di luaran sana banyak sekali wanita dengan berbagai model. Awas saja kalau Kakak berani lirik-lirik."
"Ngapain tertarik sama mereka kalau Allah sudah memberikan aku bidadari surga yang cantiknya lebih dari segalanya."
"Woi.. woi.. nggak usah gombal-gombalan bisa nggak. Udah telat nih.." Bian menggedor-gedor kaca mobil karena Ardian tak kunjung masuk.
"Kalau numpang itu jangan suka protes. Nanti malah diusir sama pemilik mobil kamu mau apa? Berani emangnya bawa motor sendiri ke Sekolah?"
"Aku bukannya nggak berani, Kak. Tapi, aku takut kena tilang karena belum cukup umur. Ayo makanya cepetan. Tadi malam, semalaman berduaan. Eh, mau berangkat kerja juga, masih sempat-sempatnya saling peluk saling cium. Hati-hati, nih lihat mata gue masih suci."
Chayra dan Ardian hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar celotehan adiknya.
__ADS_1