
Ardian duduk di sisi tempat tidur, membelakangi istrinya yang sudah merebahkan tubuhnya dengan menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut.
"Sayang, kamu jangan tidur dulu, kita harus bicara." Ucap Ardian dengan melirik ke arah istrinya.
Tidak ada jawaban. Hanya orang yang dibalik selimut yang bergerak membalik tubuhnya.
"Adzra juga sebentar lagi pasti bangun. Kata Ibu tadi kan, dia tidak sempat mimik. Karena habis bermain dengan Bian dia langsung tertidur di kamar Bian."
Masih hening. Chayra benar-benar diam seribu bahasa.
Ardian menarik nafas dalam. Kesabarannya sudah terkikis banyak karena istrinya benar-benar tidak mau bicara sama sekali. "Masalah tidak akan selesai kalau kamu tidak mau bicara, Sayang." Ardian memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang.
Melihat tidak ada respon istrinya sama sekali, Ardian akhirnya beranjak pergi. Dia harus menghindar agar tidak tersulut emosi.
Ardian POV...
Aku meninggalkan kamar untuk menghindari emosi yang sudah mulai tidak bisa terkontrol. Aku turun ke lantai satu dan masuk ke ruang kerjaku untuk menennagkan diri. Lama aku termenung sendiri karena tidak tau apa yang akan aku lakukan. Acara malam ini benar-benar tergganggu gara-gara ulah Asisten tak bermoral itu. Aku bahkan meninggalkan acara yang baru berjalan setengahnya. Entah apa yang membuat dua wanita itu sampai bertikai seperti itu. Setahuku, istriku tidak suka memulai sesuatu yang tidak bermanfaat seperti itu. Aku bingung sendiri sekarang. Chay tidak mau menjelaskan apapun. Tapi, seandainya dia yang bersalah, dia pasti sudah minta maaf padaku. Dia tidak suka memendam kesalahan. Selama ini, dia selalu minta maaf jika bersalah. Dia juga tidak suka menyalahkan orang lain. Ucapannya yang dulu kalau dirinya paling tidak suka menjelek-jelekkan orang lain terngiang-ngiang di telingaku. Apakah ini penyebabnya dia mengunci mulutnya.
Ya Allah... aku mengusap wajahku dengan kasar. Kenapa perasaan ini tidak bisa tenang. Bahkan terasa semakin khawatir saat aku tiba-tiba teringat pada Kakek. Kakek punya banyak pasukan yang selalu mengawasi gerak-gerikku. Bagaimana kalau salah satu mata-mata Kakek berada di acara tadi. Huh... Ya Allah.. apakah ini cobaan untuk jabatan baru ini.
Aku berulang kali menarik nafas dalam-dalam. Tubuhku membutuhkan pasokan oksigen melebihi batas normal. Aku harus segera mencari tau kebenarannya, agar kalau Kakek menghubungiku sewaktu-waktu, aku sudah mempersiapkan jawaban yang sinkron. Aku tau kalau Kakek tidak suka dengan jawaban yang berbelit-belit, apalagi kalau ditambah dengan opini.
Baru saja aku mulai berpikir, aku hampir terjungkal karena terkejut dengan bunyi handphoneku sendiri. "Astagfirullahal'adzim... spontan aku mengucap istighfar saat melihat nama Kakek terpampang di layar benda gepeng itu. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku bingung. Antara mau menjawab atau mengabaikan panggilan itu.
Tapi... Kakek pasti curiga kalau aku terus-terusan mengabaikan panggilan itu. Nada dering berhenti berbunyi, aku langsung menarik nafas lega. Tetapi kelegaan itu hanya mampu bertahan lima detik, karena benda gepeng itu kembali berbunyi.
Dengan mengucap basmalah, aku meraih handphoneku walaupun dengan tangan yang sedikit bergetar. Aku mengusap-usap telingaku sebelum meletakkan handphone ku di dekat telinga. Aku harus mempersiapkan pendengaran dan hati dengan apapun yang akan aku dengarkan dari mulut Kakek nantinya.
"Assalamualaikum, Kek."
"Wa'alaikumsalam, Ardian..."
Aku langsung menelan ludahku mendengar suara Kakek. Padahal dia hanya menyebut namaku saja. Tetapi kenapa dadaku langsung berdebar tak menentu. Aku menarik nafas dalam untuk menormalkan detak jantungku.
"Ardian Baskara..."
__ADS_1
"Iya, Kek.." Hah, aku tersenyum sendiri saat bisa bicara tanpa tergagap.
"Dimana Ayra?"
"Dia sudah tidur, Kek."
"Terimakasih sudah membawanya langsung pulang tadi."
"Eh," aku menelan ludahku mendengar ucapan Kakek.
"Terimakasih sudah mau melindungi cucu Kakek saat ada orang yang menyudutkannya. Titip salam juga untuk Mami kamu karena sudah membela Ayra tadi."
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Kakek sepertinya sudah tau cerita yang sebenarnya. Tapi... siapa yang menjadi mata-mata diantara tamu undangan tadi.
"Kakek tidak butuh cerita kamu karena Kakek yakin, kamu saja tidak mengerti dan masih tidak faham dengan kejadian tadi. Kakek hanya butuh kamu terus jaga istri kamu."
"Insya Allah, aku akan selalu menjaganya, Kek. Aku menjaganya bukan karena permintaan Kakek. Tapi, aku menjaganya karena dia istriku. Aku mencintainya dan kami akan selalu saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain."
"Jawaban yang benar-benar membuat Kakek bahagia, Nak. Kakek akan ke kantormu besok. Persiapankan semuanya, jam sebelas siang, sebelum jadwal pertemuan kamu dengan seorang investor. Kakek hanya berpesan, pastikan kalau wanita tadi hadir di Kantor."
"Oke kalau begitu. Kakek mau istirahat sekarang. Kamu juga istirahat. Menjadi seorang GM itu membutuhkan istirahat yang cukup agar otak bisa selalu sinkron. Pastikan juga kecukupan bekal untuk otak bawah karena itu sering mempengaruhi emosi jiwa. Kakek tutup, assalamualaikum.."
Tut... Tut... Tut...
Aku melongo beberapa detik. Kakek memutus sambungan telepon secara sepihak. Aku malah gagal fokus saat Kakek memperingatkan aku masalah bekal otak bawah. Hahahaha... Kakek.. Kakek.. sudah tua juga, masih aja memikirkan kecukupan bekal otak bawah. Kakek memang terlihat masih segar walaupun sudah berumur lewat dari setengah abad.
Eh, aku teringat pesannya tadi masalah Chay. Aku bergegas keluar dari ruang kerjaku. aku harus memastikan kondisinya. Jangan sampai aku terlalu lama meninggalkannya saat dia sedang membutuhkan dukungan.
Sampai kamar, aku mendapati Chay sedang menyapih Adzra. Hal yang selalu membuatku tenang adalah, dia selalu mengiringi kegiatan menyapih Adzra dengan bacaan shalawat atau membacakan ayat-ayat pendek. Hah, mungkin anakku besok akan menjadi Tahfiz Al-Qur'an seperti mamanya. Hal itu tentunya menjadi kebanggan tersendiri untuk kita yang menjadi orang tua.
Author POV...
Chayra melirik ke arah suaminya yang berdiri di depan pintu.
Ardian tersenyum seraya berjalan mendekat. "Bagaimana kondisi kamu sekarang?" Ardian bertanya seraya mendaratkan bokongnya di sisi ranjang.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah terasa lebih baik, Mas. Kamu kemana saja dari tadi? Aku menunggu kamu lama. Sampai aku selesai shalat dan shalat Sunnah juga, tapi kamu belum juga kembali."
"Aku di ruang kerja, Sayang. Aku bingung tidak tau bagaimana menyikapi sikap kamu yang seperti tadi."
"Apa kamu marah, Mas?"
"Eh, Ng... nggak, Sayang. Kok kamu bertanya begitu?" Ardian meraih tangan istrinya lalu menciumnya. "Aku hanya menghindar tadi. aku takut tidak bisa mengendalikan diri."
"Itu berarti kamu marah sama aku. Aku minta maaf, Mas. Aku benar-benar tidak biasa dengan kondisi seperti tadi."
"Tidak apa-apa, Sayang." Ardian tersenyum lembut menatap mata istrinya. "Mm... apa sekarang kamu bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya sama aku?"
Chayra menggeleng. "Aku tidak mau menceritakan apapun, Mas. Aku takut ada cerita yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Aku tidak mau menambah dosa lagi. Dosa tadi sudah cukup banyak, Mas. Kalau kamu mau tau, kamu bisa menanyakan hal itu pada wanita itu saja."
"Model wanita seperti Anita itu tidak bisa dipegang omongannya. Yang ada dia malah Membolak-balikkan fakta nantinya."
"Iya sudah jangan di bahas lagi kalau begitu."
"Tapi Sayang.. Kakek mau ke Kantor besok. Bagaimana kalau Anita menceritakan hal yang tidak-tidak."
Chayra tersenyum menatap suaminya. "Kenapa kamu mengkhawatirkan hal itu, Mas. Kakek sudah mengenal darah dagingnya sendiri. Apa kamu yang melaporkan kejadian itu ke Kakek?"
"Aku tidak akan sebodoh itu, Sayang. Aku bahkan berniat untuk menyembunyikan musibah tadi dengan sangat rapat. Tapi... Kakek selalu lebih gercep daripada aku."
"Aku sudah menduganya." Chayra beringsut ke pinggir ranjang. Hal itu membuat Ardian langsung menahan pergerakan istrinya. "Kamu mau kemana, Sayang?"
Chayra menautkan alisnya. "Aku mau membawa Adzra ke boxnya, Mas. Kamu mau ikut emangnya?"
"Eheheh... nggak, Sayang. Aku kira kamu kabur dari aku."
"Kabur ngapain? Aku sudah terlalu banyak dosa malam ini. Kalau aku menghindari kamu, itu berarti dosaku bertambah lagi. Sudah ah, minggir dulu Mas, aku nggak bisa turun kalau kamu diam disana."
Ardian menggeser tubuhnya sambil tersenyum meringis. Ada rasa kagum dan perasaan entah apalagi namanya yang merayap dalam dadanya. Sikap istrinya sudah terlihat normal kembali. Padahal saat dia keluar untuk menghindar tadi, istrinya benar-benar seperti gunung meletus dengan status waspada.
************
__ADS_1