
"Secinta apa kamu sama istri kamu sampai-sampai kamu mengorbankan pekerjaan kamu?!" Kembali pertanyaan itu keluar dari mulut Sucipto.
Ardian menatap Papinya dengan kesal. Bekas tamparan Papinya memerah di pipi kirinya. Hanya bisa meraba pipinya yang terasa memanas.
"Apa maksud Papi bertanya seperti itu?!" Bertanya dengan ekspresi kesal.
"Kamu sama sekali tidak menghargai pekerjaan yang sudah Papi percayakan pada kamu. Kamu tidak disiplin, Ardian. Seharusnya, utamakan pekerjaan kamu daripada apapun itu."
Ardian tersenyum sinis. "Aku tidak pernah meminta Papi untuk memberikan kepercayaan ini padaku. Jika Papi menyuruh aku untuk mengutamakan pekerjaanku dari apapun. Apalagi itu menyangkut istri, yang lebih parah lagi, kalau itu menyangkut masalah agamaku. Maaf, kita tak sejalan." Ardian meletakkan semua berkas yang dibawanya di depan Sucipto.
"Aku tidak mau menggadaikan agama dan keharmonisan keluargaku hanya demi uang. Jika Papi marah padaku gara-gara keterlambatan aku datang hari ini dan hari-hari sebelumnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain kata maaf. Aku tidak bisa mengulang hari itu untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku itu. Aku rasa, aku orang yang kurang tepat untuk menjadi generasi penerus perusahaan ini. Aku ini masih terlalu muda dan baru belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab."
Ardian mengangkat kepalanya menatap Papinya yang hanya diam mendengar semua ucapannya. "Aku tau harus bertanggung jawab di perusahaan ini. Tapi, tanggung jawabku pada istriku lebih besar, Papi. Aku tidak bisa mengabaikan dia disaat dia benar-benar butuh perhatian dariku. Dia sudah menjadi tanggung jawabku dunia dan akhirat. Jika Papi keberatan dengan ucapanku ini. Maafkan aku, Pi. Aku tidak bisa melanjutkan tanggung jawab ini. Silahkan Papi cari orang lain yang bisa disiplin waktu dan bisa menjadikan pekerjaan adalah prioritas utama."
Sucipto menarik nafas dalam. "Kita bicara di dalam. Terlalu banyak pasang mata yang menyaksikan kita di sini." Menarik paksa tangan putranya memasuki ruangan.
"Papi jangan terlalu...."
"Apa...?!" Sucipto berbalik, melotot pada Ardian.
"Papi baru sembuh. Jaga emosi Papi."
"Kamu yang membuat Papi selalu saja ingin emosi, Ardian. Coba kamu nurut, tidak usah membantah sekali saja."
"Tapi..."
"Apa...?! Kamu mau membantah lagi? Memangnya istri kamu sakit apa, sampai-sampai kamu harus terlambat datang ke Kantor setiap pagi? Apa penyakit itu akan membuatnya mati kalau kamu meninggalkannya ke Kantor."
"Dia tidak akan mati. Tapi, aku hanya ingin membuktikan kalau aku selalu ada untuknya. Apalagi di kondisinya saat ini yang sedang mengandung darah dagingku sendiri."
Sucipto tersentak. Menatap Ardian dengan tatapan yang sulit diartikan. "M.. maksud kamu, istri kamu.. istri kamu sedang hamil."
Ardian tersenyum getir seraya membuang nafas dengan kasar. "Apakah aku harus berbohong untuk berita sebesar ini? Ardian yang sekarang bukan Ardian yang suka berbohong seperti Ardian yang dulu, Papi."
__ADS_1
Sucipto menarik nafas dalam berulang kali. Memegang dadanya yang terasa ngilu mendengar berita itu. "Kenapa Mami kamu tidak pernah menceritakan hal itu pada Papi?"
"Aku nggak tau hal itu. Aku hanya ingin Papi memaklumi perihal keterlambatan ku datang akhir-akhir ini. Jika Chay sudah baik-baik saja. Insya Allah, aku akan berusaha untuk bekerja dengan maksimal."
"Kenapa kamu tidak mengajak istrimu pulang saja ke rumah?"
"Tidak.. aku yang tidak nyaman kalau harus kembali ke rumah Papi. Aku lebih nyaman tinggal di rumah mertuaku walaupun aku numpang disana."
Sucipto terdiam. Tidak tau mau ngomong apa lagi pada putranya. Ada rasa bersalah yang menyusup ke dalam hatinya setelah mengetahui kebenarannya. Namun, dia juga kesal karena Ardian yang keras kepala dan tidak mau di atur oleh peraturan.
"Pilihan ada di tangan Papi. Jika Papi tidak puas dengan kinerjaku, aku siap mengundurkan diri. Tetapi, sekiranya Papi memaklumi dan mau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Insya Allah, aku akan mencoba untuk lebih disiplin ke depannya."
Sucipto melirik putranya. "Papi beri kamu kesempatan sekali lagi. Jika kamu belum juga menghargai jabatan yang telah Papi percayakan untuk kamu. Terpaksa Papi harus mempercayakan orang lain untuk menggantikan posisi kamu."
Ardian mengangguk. "Terimakasih, Pi. Ardian pamit kalau begitu." Ardian bergegas keluar. Pikirannya dipenuhi oleh berkas yang tadi ia lemparkan asal di sofa depan ruangannya. Mengingat berapa waktunya yang tersita untuk menyusun dan mempelajari berkas itu.
"Apa semuanya baik-baik saja, Pak?" Seorang laki-laki muda yang bernama Dodit yang sudah diutus Sucipto menjadi sekretaris Ardian bertanya dengan sopan. Dodit juga sudah menjadi orang kepercayaan Sucipto sejak beberapa tahun belakangan ini.
"Jika Pak Ardian tidak keberatan, saya bisa membantu Pak Ardian agar bisa menghemat waktu."
"Jangan panggil Pak ah. Kok, aku kurang nyaman. Panggil Ardian saja biar terkesan lebih santai. Kamu ngomongnya terlalu formal." Ardian melirik Dodit.
"Saya yang nggak enak, Pak. Mungkin kalau di luar, saya bisa. Tapi, kalau masih di lingkungan Kantor, saya harus menghormati anda sebagai atasan saya."
"Ya Allah.. kamu ini, Dit. Aku saja bisa, masa kamu nggak mau belajar seperti itu. Belajar sedikit demi sedikit, lama-lama pasti terbiasa."
Dodit mengangguk seraya tersenyum simpul. "Saya akan coba, Pak."
"Rapatnya ditunda, kan?"
"Iya, Pak. Rapatnya ditunda dan akan dilaksanakan nanti pukul sepuluh. Masih ada waktu dua puluh lima menit. Pak Ardian bisa mempersiapkan diri."
"Terimakasih, Dit." Ardian berlalu dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Ekor matanya melirik ke arah Sucipto yang berdiri di dekat jendela menghadap ke luar.
__ADS_1
Ardian membuka kotak bekalnya. Dia tidak sempat sarapan karena pikirannya terlalu penuh tadi pagi. "Mm.. Pi, Ardian mau sarapan. Apa Papi sudah sarapan? Kalau belum, kita bisa sarapan bersama."
Tidak ada respon dari Sucipto, membuat Ardian akhirnya mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Sucipto berbalik. Melihat putranya yang sedang menikmati makanannya dengan lahap, ia berjalan mendekat. "Makanannya yang sangat enak atau kamunya memang kelaparan?"
Pertanyaan itu membuat Ardian berhenti mengunyah makanannya. "Aku tidak kelaparan, Pi. Tapi, makanannya memang sangat enak. Aku saja tidak pernah menikmati makanan seenak ini selama di rumah dulu."
Sucipto menyebikkan bibirnya. Semakin mendekat seraya memperhatikan isi kotak bekal putranya. "Itu kan cuma sayur kangkung, terus apa lagi itu. Mm.. tempe goreng sama ada sedikit daging cincang ditambah sambal tomat. Menunya kampungan banget. Nggak ada istimewanya juga."
Ardian tersenyum ketus. "Menunya memang kampungan menurut Papi. Tapi, kalau menurut aku, ini itu sudah seperti menu favorit." Kembali menyuapkan satu sendok besar ke mulutnya.
Sucipto menelan ludahnya. Makanan itu memang terlihat sangat menggugah selera. Tidak seperti menu makannya setiap hari yang selalu memakai menu ala kebarat-baratan.
"Makanan seperti ini juga selalu berhasil membuatku makan dengan porsi yang besar. Papi bisa melihat hasilnya dari perubahan pada bentuk tubuhku. Pipiku sudah tidak tirus lagi, badanku juga berisi. Berat badanku tidak lagi lima puluh kilogram, tetapi sekarang enam puluh lima kilogram. Istriku hebat kan, Pi. Selalu mengutamakan gizi daripada gengsi."
Sucipto hanya tersenyum samar menanggapi celotehan putranya.
Ardian bangkit setelah menghabiskan sarapannya. "Oh, iya, Pi. Masih ada satu porsi lagi di kotak bekal ini. Itu untuk makan siang aku nanti. Tapi kalau Papi penasaran dan ingin mencobanya, Papi bisa mencobanya. Aku akan mencari makanan di luar nanti." Ardian kembali duduk setelah menyelesaikan kalimatnya. Mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai tandas. Matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan empat lima. Masih tersisa waktu lima belas menit sebelum rapat di mulai. Ardian meraih handphonenya. Mencoba menghubungi nomor rumah untuk memastikan kondisi istrinya baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Kak Zidane. Bagaimana keadaan Chay sekarang?"
"Wa'alaikumsalam, jangan tanyakan keadaannya karena istri kamu sudah meluncur ke Kampus. Kamu kerja saja yang becus."
Ardian hanya bisa menyebikkan bibirnya. "Apa dia sudah tidak muntah-muntah lagi?"
"Nggak.. dia sepertinya kebanyakan makan sate, makanya muntah terus. Mungkin saja sate itu tidak muat kalau harus diproduksi ususnya. Itulah mengapa satenya minta keluar lewat atas."
"Hmmm.. ada-ada saja. Mana ada seperti itu, Kak. Kalau memang seperti itu, kenapa dia tidak muntah dari malamnya pas dia makan. Sudahlah, kalau dia baik-baik saja. Aku ada rapat sebentar. Assalamualaikum.."
Zidane cekikikan di sebrang sana. "Wa'alaikumsalam.. warahmatullahi.."
*********
__ADS_1