Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Sekali-kali jadi tukang kompor


__ADS_3

Tok.. tok.. tok...


"Masuk..!" Ardian memperbaiki posisi duduknya saat pintu ruangan di ketuk. Dia sudah yakin kalau itu pasti makan siangnya yang datang. Perubahan raut wajah langsung berubah saat dia melihat siapa yang masuk.


"Maaf, Pak. Makan siangnya saya yang antar." Anita menunduk sopan.


"Cleaning Servis yang saya suruh mana? Saya tidak meminta kamu, Anita."


"Mm... tadi saya suruh turun, Pak. Soalnya dia juga belum makan siang katanya."


Ardian mendengus, "tapi masalahnya saya belum mengganti uangnya, Anita. Bagaimana kalau uang itu untuk belanja istrinya. Kan kasihan kalau mereka tidak bisa makan gara-gara saya."


"Eh, OB itu masih lajang kok, Pak. Dia baru dua tahun ini bekerja disini."


Ardian terdiam seraya melirik ke arah Anita. "Saya tetap tidak suka dengan tindakan kamu. Lain kali kalau saya menyuruh CS, jangan coba-coba ambil alih tugas itu."


Anita tersenyum kecut, hatinya sedikit menciut mendengar ucapan Ardian. "Maafkan saya, Pak." Kata itu yang akhirnya keluar untuk menjawab.


"Lagian kenapa kamu belum turun untuk makan siang?"


"Mmm... saya.. saya harus memastikan Bapak makan dulu baru saya bisa mengurus diri."


Ardian melengos. "Saya tidak akan mati karena tidak makan siang sekali. Sudah, kamu boleh keluar sekarang. Terimakasih perhatiannya." Ardian meraih kotak nasi yang diletakkan Anita di meja. Sepersekian detik dia menunggu, tetapi Anita masih berdiri di depannya. Akhirnya dia meletakkan kembali makanannya dan menatap gadis itu. "Kamu kenapa masih diam di sini?"


"Mm...saya mau menemani Bapak makan siang, biar saya bisa memastikan kalau Bapak makan siang dengan baik."


"Tidak perlu sampai seperti itu. Saya perduli dengan kesehatan kok. Jadi kamu tidak perlu repot-repot mengawasi saya. Alangkah baiknya kalau kamu memperdulikan kondisi fisikmu sendiri sebelum perduli sama saya."


"Tapi itu sudah menjadi tugas saya sebagai Asisten pribadi Bapak."


Ardian melengos kesal. "Siapa bilang mengurus makan Bos itu tanggung jawab Asisten. Kamu memang Asisten pribadi saya, tapi tetap saja saya tidak suka kamu mengurus masalah pribadi saya. Kewajiban kamu sebatas membantu pekerjaan saya. Tidak sampai ke ranah seperti ini. Saya sudah punya istri yang mengurus semua kebutuhan pribadi saya. Jadi jangan sok perhatian karena saya tidak butuh."


"Tapi di area Kantor saya yang akan mengurus Bapak."


"Saya bilang tidak perlu. Sudah, keluar kamu sana biar saya bisa makan dengan tenang."


"Saya akan tunggu Bapak di sofa saja." Anita berlalu tanpa memperdulikan ekspresi kesal Ardian. Duduk di sofa tempat Ardian biasa menerima tamu sambil menyilang kan kakinya dengan gaya elegan. Setengah pahanya terekspos bebas membuat Ardian langsung melafadzkan istighfar.

__ADS_1


Wonder woman ini maunya apa sih? Diusir nggak mempan. Ardian membatin kesal.


"Buka pintunya kalau kamu mau diam di ruangan ini." Ardian memberi perintah tanpa menatap Anita.


"Saya tidak akan ngapa-ngapain, Pak. Saya hanya akan duduk di sini memastikan kalau Bapak makan saja. Nanti kalau ada keperluan, saya bisa bantu ambilkan."


Ardian menghentikan aktivitasnya seraya membuang nafas dngan kasar. Kesabarannya rasanya mau habis saja menghadapi manusia di depannya. "Kamu mau diam atau olahraga juga saya tidak perduli. Tapi saya tidak suka berduaan dengan wanita yang bukan mahram saya dalam satu ruangan. Apalagi ini sepi karena orang pergi makan siang."


Anita termenung sejenak lalu bangkit dan membuka sedikit pintu.


"Buka lebar-lebar, saya tidak mau ada fitnah nantinya."


"Kan ada cctv, Pak."


"Saya menyuruh kamu membuka pintu, bukan membantah ucapan saya." Ardian menarik nafas panjang. Apa sebenarnya mau wanita ini, kenapa sulit sekali menuruti perkataannya. Ia berpikir sejenak. Mungkin jika ia mengabaikannya, wanita ini tidak terlalu cerewet. Semakin diladeni semakin banyak maunya. Oh, dia baru teringat untuk menghubungi istrinya. Ardian meraih handphonenya dan langsung menekan panggilan video untuk istrinya. Lumayan lama menunggu, tetapi istrinya belum menjawab juga. Akhirnya dia mematikan lalu mencoba kembali. Ardian tersenyum saat melihat wajah tenang istrinya di layar handphonenya. "Assalamualaikum, Sayang.."


"Wa'alaikumsalam.."


"Baru selesai shalat ya.."


"Mm... makanya panggilannya tidak dijawab langsung tadi."


"Lagi bobo, Mas."


Anita yang duduk di sofa melirik ke arah meja tempat Ardian menikmati makan siangnya. Ada rasa kesal melihat ekspresi pria itu berubah seratus delapan puluh derajat saat bicara dengan istrinya.


"Oh, kirain dia dijaga Bi Idah."


"Tadi sih, maunya gitu.. tapi, pas aku menyapihnya, eh, dia malah tidur. Ya.. alhamdulilah tapi, jadi tidak perlu merepotkan Bi Idah. Baru mulai makan, Mas?"


"Iya nih, makanannya baru sampai. Shalat aja belum."


"Habiskan makanannya dulu lah batu shalat. Kamu sama siapa di sana?"


"Mm..." Ardian menekan tombol loud speaker. "Sama Asisten. Tapi, dia duduknya di sofa kok."


"Loh, kenapa dia tidak pergi makan siang?"

__ADS_1


Ardian mengangkat bahu. Tepat saat itu Anita kembali melirik ke arahnya. "Aku nggak tau. Mungkin dia tidak lapar kali. Lebih senang duduk di sofa nungguin aku makan kayaknya."


"Mungkin kamu yang meminta dia untuk menemani kamu makan, iya?"


"Eh, enak aja.. kan aku sudah bilang sama kamu kalau aku mau ditemani makan sama kamu. Besok buatin aku bekal ya.. biar aku nggak repot-repot cari makan di Kantor."


"Aku selalu nawarin kamu untuk bawa bekal, tapi kan terkadang kamu yang nggak mau, Mas."


"Ok.. mulai sekarang aku akan selalu membawa bekal dari Tuan Putri, biar di Kantor tidak merepotkan orang." Ardian memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.


"Itu kok nasinya kelihatan ada merah-merahnya, Mas. Jangan bilang kalau kamu makan sambal lagi."


"Eh, mana ada, Sayang. Itu tadi wortel sama tomat. Aku mau cari mati memangnya."


"Itu nasi kamu kayaknya sudah habis. Sekarang kamu shalat dulu gih. Kerjanya Lillah biar rizkinya berkah."


"Kiss jauh, Sayang. Ucapan kamu itu yang selalu menenangkan hati Abang di sini." Ardian berkata sambil melirik ke arah Anita yang terlihat melengos mendengar ucapannya. Pancingannya tepat. "Mana ada niat Abang untuk berpaling pada wanita lain kalau kamu sudah menjamin semuanya." Sambung Ardian lagi.


Anita berdehem sambil mengalihkan pandangannya. Terlihat jelas kalau dia hanya pura-pura sibuk dengan benda gepeng di tangannya. Tetapi pendengarannya tajam mendengar percakapan Ardian.


Ardian ingin tertawa tetapi dia tahan sekuat tenaga. "Chay, cium dulu dong, biar Abang semakin semangat mencari rizki."


"Lebay kamu, Mas. Kalau ingat anak istri udah pasti semangat kerja. Kalau ada niat yang lain baru beda lagi ceritanya."


Ardian tersenyum manja pada istrinya. "Kalau gitu aku shalat dulu ya, Sayang. Jaga hati dan perasaan itu untuk aku seorang."


Anita tiba-tiba bangkit seraya melengos. Meninggalkan ruangan Ardian tanpa sepatah kata pun. Ardian hanya melirik lalu kembali menatap istrinya di layar handphone. "Aku tutup ya, assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam..."


Ardian POV..


Puas rasanya bisa ngomporin wonder woman itu. Gayanya... huh, benar-benar menyebalkan. Siapa dia mau mengatur-atur aku. Dari awal aku sudah tidak suka padanya. Dia terlalu ingin mendominasi sehingga membuatku risih. Selalu ingin di dekatku, sok perhatian lah, sok bijak lah, kirain aku tidak tau apa akal-akalan wanita kayak gitu. Pengalaman hidup di jaman jahiliyah dulu selalu mengingatkanku, kalau wanita macam dia itu adalah wanita yang ingin menang sendiri.


Ingin rasanya menertawakan kekesalannya tadi. Siapa suruh mepet-mepet sama orang beristri. Tau apa, istri ku cantiknya sepuluh kali lipat daripada dia. Kalau saja dia melihat cantiknya istriku di balik cadar, dia akan menyesal telah menggodaku. Baru mendengar aku merayu istriku saja, tampangnya udah kayak orang kerasukan. Sekali-kali aku ingin membawa Chay ke Kantor nanti, untuk membuktikan kalau ada orang yang telah memiliki sertifikat hak milik atas diriku. Untuk apa menukar istriku dengan wonder woman kayak dia. Hah, setelah puas tertawa, aku memutuskan untuk pergi mengambil air wudhu. Gara-gara drama dengan Asisten sok perhatian, aku jadi terlambat untuk shalat. Untung saja Chay tidak banyak bertanya tadi. Aku sangat sulit berbohong pada istriku itu. Padahal saat masa jahiliah ku dulu, secinta apapun aku pada wanita, selalu saja terselip kebohongan.


Shalat dulu ah, biar urusan dunia akhirat seimbang..

__ADS_1


*******


__ADS_2