
Perjalanan menuju Pesantren memakan waktu kurang lebih sepuluh jam. Ardian sampai ambruk saat sampai di rumah Pak Ismail. Tidak ada yang menggantikannya menyetir selama perjalanan. Beberapa kali istirahat hanya sekedar untuk membeli makanan dan minuman yang mengandung energi agar matanya tidak mengantuk. Berangkat dari rumah pukul lima pagi, selesai melaksanakan shalat subuh. Sampai Pesantren pukul lima sore.
"Kak, tidur di kamar saja ayo, jangan tidur di sofa. Bagaimana kalau ada tamunya Abah nanti?" Chayra menggoyang-goyangkan tubuh Ardian.
"Sebentar saja, Chay. Mataku tidak bisa dibuka ini, benar-benar berat. Seperti ada batu yang menindihnya." Ardian bergumam pelan karena keadaannya yang setengah sadar.
Chayra membuang nafas kasar. Beralih menatap ibunya yang duduk di sofa seberang. Mengangkat bahunya lalu menggelengkan kepalanya tanda menyerah.
"Biarkan saja, Nak. Suamimu kecapekan itu. Mungkin dia tidak terbiasa berkendara jauh." Bu Ainun menimpali seraya meletakkan nampan yang berisi cemilan yang baru saja dibawanya dari dapur.
"Tapi bagaimana kalau ada tamu Abah yang datang nanti, Ummi? Abah kan selalu kedatangan tamu tanpa mengenal waktu."
"Itu urusan belakangan, Sayang. Biarkan saja dulu. Kasihan dia.." memperhatikan wajah Ardian yang sudah terlelap.
"Bukakan jaketnya, Nak."
Chayra terkejut mendengar perintah ibunya. "Kak Ardian cuma pakai dalaman, Bu."
"Tidak apa-apa, Nak. Toh, itu bukan termasuk auratnya kok. Biar badannya tidak terlalu panas. Keringatnya banyak sekali itu."
Chayra terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan ibunya. "Mm.. bagaimana ya, Bu.."
"Astagfirullah, Nak. Kenapa harus pakai mikir segala. Itu suami kamu lho." Bu Ainun menimpali karena melihat Chayra menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bingung.
Chayra tersenyum meringis. Menatap Ardian sejenak lalu melepas baju pria itu perlahan.
"Nah, gitu dong, Nak. Disuruh lepas baju suami saja, kok pakai mikir segala."
Baru saja Bu Ainun menyelesaikan kalimatnya. Terdengar suara seseorang mengucap salam di depan pintu utama. Hal itu membuat mereka saling pandang. Bu Ainun menghela nafas berat lalu bangkit untuk membukakan pintu pada tamunya.
"Tuh kan, sudah ada tamu. Ayra juga bilang apa dari tadi." Chayra kembali menggoyang-goyang tubuh suaminya. "Kak, bangun. Abah kedatangan tamu." Menatap suaminya kesal karena Ardian benar-benar seperti orang mati.
Chayra mendengus. "Mm.. baiklah, kalau Kak Ardian tidak mau bangun, aku akan pergi meninggalkan Kakak. Aku akan pergi bersama Kak Ghibran."
Duarr...!!
Ardian langsung bangkit mendengar kalimat itu. "Jangan...!!" spontan memeluk tubuh Chayra dengan erat.
"Astagfirullah, Ayra. Candaan kamu itu tidak lucu, Nak." Santi menatap putrinya kesal.
"Kamu kenapa bilang gitu, Chay." Masih memeluk erat tubuh Chayra.
__ADS_1
"Kakak tidak mau bangun. Sekalian aja dikagetin biar mau bangun. Ayo kita masuk. Ada tamu Abah yang datang." Tidak memperdulikan protes ibu dan suaminya
Ardian melepaskan pelukannya. Menatap istrinya seraya menghela nafas berat. "Tega kamu ngagetin aku seperti itu." Bangkit dengan malas. Digiring Chayra menuju kamar yang ditempati Chayra sebelum ini.
Bu Ainun dan Santi menatap kepergian pasangan muda itu. Namun, Bu Ainun dibuat terkejut dengan bekas luka yang lebar di punggung dan lengan Ardian. "Itu.. punggung Nak Ardian bekas apa, San?"
Santi tersenyum samar pada kakak iparnya. "Itu bekas operasi, Mbak. Hampir dua bulan yang lalu kayaknya."
"Memangnya dia sakit apa?"
"Dia tidak sakit. Cuman, ada sesuatu yang dia hapus di punggungnya. Itu semua atas permintaan Ayra."
Bu Ainun mengerutkan keningnya. Memikirkan sesuatu yang di maksud Santi. Lama diam berpikir sebelum akhirnya dia mengerti maksud Santi. "Aku mengerti maksud kamu. Kenapa dia sampai mau melakukan itu untuk Ayra? Apakah hubungan mereka sudah membaik sekarang?"
"Iya.. alhamdulilah, Mbak. Bahkan Ardian berubah seratus delapan puluh derajat. Hampir satu tahun mereka menikah. Ardian sekarang sudah bisa membaca Al-Qur'an. Shalat juga dia rajin sekali. Kemarin juga belajar puasa beberapa hari." Santi bercerita dengan antusias.
"Alhamdulillah kalau begitu. Mudah-mudahan hati Abahnya luluh mendengar perubahan anak itu."
"Maksud Mbak Ainun?"
Bu Ainun menghela nafas berat. "Kak Ismail tidak suka dengan kehidupan Ardian. Apalagi sekarang Ghibran sering datang bercerita padanya. Itulah mengapa dia meminta Ghibran untuk mengajar di Universitas tempat Ayra kuliah sekarang."
"Iya... bisa dibilang begitu. Dia merasa, hanya Ghibran yang pantas menjadi suaminya Ayra. Aku juga sempat marah padanya waktu itu. Dia terlalu ikut campur dalam urusan anak-anak. Tapi, kamu tau sendiri kan, sifatnya Kak Ismail itu seperti apa. Kalau bilang tidak suka, iya tidak suka."
Santi tersentak mendengar ucapan kakak iparnya. "Apakah.. apakah hari ini dia tidak ada di rumah karena kedatangan Ardian?"
Bu Ainun tersenyum kecut. "Kak Ismail sengaja mengambil jadwal seminar keluar kota karena... itu seperti yang kamu katakan tadi."
Santi memejamkan matanya. Benar-benar kecewa mendapati kebenaran yang terungkap. "Kalau memang begitu kenyataannya, aku akan mengajak menantu anakku untuk pulang, Kak. Titip salam untuk Kak Ismail kalau dia pulang besok. Maaf telah membuatnya tidak nyaman di rumahnya sendiri."
"Astagfirullah, Dek. Kenapa kamu bicara begitu."
"Terus aku harus ngomong apa, Mbak? Aku akan mengajak anak-anak ke Makam besok subuh. Izinkan kami menumpang malam ini saja. Besok selesai dari Makam, kami akan langsung pamit pulang."
"Jangan, San. Biar aku yang ngomong sama Kak Ismail nanti. Aku akan memintanya untuk pulang asalkan kamu tidak seperti ini."
"Kak Ismail tidak akan mau pulang, Mbak."
"Mbak akan memaksanya, Dek."
"Terserah Mbak kalau begitu."
__ADS_1
"Istirahatlah dulu kalau begitu. Kamu terlihat kecapekan."
"Terimakasih.." Santi langsung bangkit tanpa diminta dua kali.
Selepas kepergian Santi. Bu Ainun memijit pelipisnya. Merutuki kebodohannya yang menceritakan hal itu pada Santi. Seandainya dia tutup mulut tadi. Dia tidak akan pusing-pusing mencari alasan untuk membuat suaminya pulang.
"Minta bantuan Abi mungkin itu mempermudah semuanya." Ucapnya tiba-tiba. "Tapi... Abi pasti curiga dan menanyakan alasanku tidak mau meminta suamiku untuk pulang. Hmm .. apakah Abi juga harus mengetahui hal ini." Bu Ainun menghela nafas berat. Bangkit dari tempat duduknya saat mendengar pintu rumahnya kembali diketuk.
Tersenyum hangat saat melihat putranya Zidane baru pulang dari luar kota. Zidane mengantar Abahnya untuk mengisi jadwal seminar di kota A. Namun, saat Umminya bercerita kalau Chayra akan datang. Dia minta izin pada Abahnya untuk pulang duluan.
Setelah putranya masuk ke dalam kamar. Bu Ainun menghubungi Abinya untuk meminta bantuan.
Saat shalat subuh...
Ardian diminta untuk menjadi imam shalat di rumah itu. Berulang kali dia menolak karena tidak yakin dengan kemampuannya. Namun, Zidane yang pulang sejak semalam bersikeras sampai pria itu tidak punya alasan untuk menolak.
Selesai mendirikan shalat, Ardian langsung memimpin zikir dan do'a. Semua orang selain Chayra tidak percaya dengan kemampuan Ardian. Bahkan seseorang yang secara diam-diam sudah pulang sampai menganga mendengar bacaan Al-Qur'an Ardian. Dia hanya berdiri di dekat Musholla menyaksikan ibadah yang sedang dilakukan anggota keluarganya.
Santi langsung menggiring Ardian, Chayra dan Bian menuju Makam Almarhum suaminya. Di belakangnya, Bu Ainun dan anak-anaknya menyusul.
Zidane sengaja mengajak Umminya untuk belakangan karena ingin mengetes kemampuan Ardian.
"Kenapa pulang? Kenapa tidak sekalian perginya sebulan. Abah kan tidak mau melihat Ayra datang bersama suaminya." Bu Ainun berkata ketus saat melihat suaminya ikut berjalan menuju Makam.
Pak Ismail hanya diam. Kalau menimpali ucapan istrinya. Takutnya perdebatan panjang akan terjadi.
"Sudah, Ummi. Marahnya nanti di kamar ya.." Zidane merangkul pundak Umminya. "Kasihan Ardian kan, kalau sampai dia tau. Nanti Ummi bisa marah sepuasnya di dalam kamar, agar tidak ada yang mendengar."
Bu Ainun akhirnya hanya menggerutu, ngomel-ngomel tidak jelas. Melirik-lirik ke arah suaminya kesal. Untungnya kemarin dia minta tolong Pak Akmal untuk menghubungi suaminya. Iya... walaupun pada akhirnya rahasia suaminya yang tidak suka pada Ardian harus diketahui Abinya. Tapi, Pak Ismail tidak bisa menolak apapun itu kalau mertuanya yang meminta.
Saat rombongan Bu Ainun sampai di area pemakaman. Keluarga Bu Santi sedang membaca surah Yasin, sudah sampai setengahnya.
Bu Santi terlihat mengusap air matanya beberapa kali. Dia tenggelam dalam pelukan Bian putranya. Setiap kali mengunjungi Makam itu, dia akan selalu seperti ini. Entah darimana datangnya, kenangannya bersama Almarhum suaminya akan memutar rapi dalam memori otaknya.
Bian terlihat menepuk-nepuk punggung ibunya. Dia juga sedih, tetapi dia bisa menahan air matanya. Mungkin karena dia laki-laki, tidak mau dibilang anak cengeng.
Sedangkan Chayra..
Kondisinya hampir sama dengan ibunya. Gadis itu memilih bersandar di pundak suaminya. Kehilangan seorang ayah di umurnya yang masih kecil membuatnya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
*******
__ADS_1