
Ardian masih memeluk erat tubuh Chayra dari belakang setelah gadis itu mematikan sambungan telepon. "Teleponan sama siapa? Kenapa saat aku datang kamu langsung mematikannya?"
"Seseorang.. Kak Ardian tidak perlu tau."
Ardian menghela nafas berat. "Papi menunggu kamu keluar dari tadi. Mau ngomong sesuatu yang penting katanya."
"Mau ngomong apa?"
"Aku juga tidak tau. Ayo kita keluar sekarang. Papi menyuruh aku memanggil kamu biar bisa lebih cepat. Beliau ada acara setelah ini."
Chayra tersenyum seraya mengangguk. Ardian yang memakai kata beliau untuk Papinya terdengar sangat sopan. "Ayo..." melepas tangan Ardian yang masih melingkar di perutnya. Menggandeng tangan pria itu keluar kamar.
Sucipto menggeleng-geleng pelan melihat anak menantunya yang menuruni anak tangga. "Kalian kenapa lama sekali? Kamu juga, Ardian. Disuruh panggil istri malah ikutan diam di dalam kamar."
"Astagfirullah, Pi. Ayra sedang bicara dengan seseorang tadi di telepon."
Chayra terkejut mendengar ucapan suaminya. Matanya menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. Mungkinkah Ardian mendengar percakapannya dengan Ardian tadi.
Ardian hanya meliriknya seraya tersenyum. "Dia terdengar serius sekali, Pi. Jadi Ardian menunggunya selesai bicara."
Chayra menunduk. Sepertinya pria itu benar-benar mendengar semua yang dia bicarakan dengan Amira tadi.
"Hal penting apa yang ingin Papi bicarakan?" Menatap Sucipto dengan serius. Sengaja menghindari tatapan Chayra.
"Kalian berdua bereskan barang-barang kalian. Nanti siang kalian sudah pindah rumah."
"What..?! Secepat ini, Pi?" Ardian bertanya dengan heran.
"Papi sudah dapatkan rumahnya. Jadi untuk apa menunggu lama-lama. Kalian pilih salah satu asisten dari rumah ini untuk mengurus rumah kalian."
"Rumahnya besar atau kecil, Pi?"
"Kamu bisa melihatnya nanti. Jangan banyak maunya kamu. Bulan depan juga kamu sudah harus bekerja. Ikut Papi ke Kantor."
"Lho, kan Ardian harus kuliah, Pi."
"Kamu kan sebentar lagi selesai. Hitung-hitung cari pengalaman dulu lah sambil kuliah."
Ardian akhirnya hanya diam. Mau menolak juga tidak bisa ia lakukan.
"Kalian berkemas dulu sana. Papi ada acara di luar sebentar."
"Iya, Pi." Ardian menyentuh tangan istrinya agar mengikutinya meninggalkan ruang keluarga.
Karena mereka sedang libur kuliah. Mereka berdua bersantai di rumah tanpa adanya kegiatan yang berarti.
"Chay, kamu sudah siap pindah rumah?" Ardian bertanya saat mereka menaiki anak tangga.
"Siap tidak siap kita harus siap, kan. Papi dan Mami sudah percaya sama Kakak. Itulah mengapa mereka ingin kita pisah rumah dengan mereka."
__ADS_1
"Apakah aku terlihat lebih baik dari sebelumnya?"
"Tentu saja, Kak. Bukan hanya sekedar baik, tetapi Kak Ardian terlihat berubah tiga ratus enam puluh derajat."
"It's amazing, right?"
"Yes, of course." Mereka tersenyum saling pandang. Melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.
"Aku mau menanyakan sesuatu sama kamu. Tapi nanti di dalam kamar." Mereka terus bergandengan tangan sampai di depan kamar
Chayra hanya melirik Ardian. Merasa sudah paham maksud suaminya.
Ardian duduk di sofa. Sedangkan Chayra duduk di depan meja belajarnya.
"Kakak mau menanyakan apa?"
Ardian membuang nafas kasar. Menatap Chayra yang masih menunggu jawabannya.
"Kenapa diam?"
"Kami duduk sini," menepuk sofa di sebelahnya.
Chayra langsung nurut. Duduk di samping suaminya.
"Katakan sekarang, Kakak mau ngomong apa?"
Chayra menunduk. "Maafkan aku, Kak."
"Kamu tidak perlu minta maaf. Niat kamu untuk merubahku itu adalah niat yang sangat baik. Dan alhamdulilah, kamu sudah berhasil membuatku berubah."
Ardian menatap istrinya dalam. "Tapi.. aku kecewa mendengar ucapan Amira tadi."
"Ucapan Mira yang mana yang membuat Kakak kecewa?"
"Apakah itu yang menjadi alasan kamu menjaga jarak dan seolah-olah menghindar dariku selama ini? Kamu takut Amira marah karena aku menyentuhmu."
Chayra terkejut mendengar pertanyaan suaminya. "B.. bukan seperti itu, Kak. Aku.. aku memang belum siap untuk hal itu. Maafkan aku. Tapi, kejadian buruk itu juga menjadi faktor mengapa aku sedikit risih saat berdekatan dengan Kakak." Chayra menundukkan kepalanya. Merasa bersalah mengatakan itu. Namun, semua harus diluruskan agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
"Aku sudah tau itu. Tapi, aku yakin kalau Amira juga ikut andil dalam hal ini."
"Tidak, Amira tidak ada hubungannya dengan hal ini."
"Lalu kenapa dia marah tadi, saat kamu berusaha menjelaskan tentang hal yang pernah terjadi diantara kita?"
Chayra mengangkat wajahnya seraya menatap Ardian. "Dia.. dia tidak marah, Kak. Dia hanya kecewa karena aku menyerahkan diri pada Kak Ardian."
"Aku suamimu, Chay.. Terlepas dari apapun perjanjian kamu dengan Amira sebelum ini. Aku berhak atas kamu dan kehidupanmu. Kamu jauh lebih pandai dalam urusan agama. Jadi, sebelum aku mengatakan kewajiban kamu sebagai istri, kamu sudah lebih dulu mengetahui hal itu." Ardian semakin erat menggenggam tangan Chayra. Memejamkan matanya menahan kesal.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Kakak."
__ADS_1
"Mari kita memperbaiki niat kita dalam pernikahan ini. Aku tidak mau Allah murka karena kita mempermainkan pernikahan. Sebuah ikatan pernikahan itu harus didasari dengan niat yang baik."
Chayra menelan ludahnya mendengar ucapan Ardian. Pria itu terdengar tulus mengatakan itu padanya. Akankah takdir cintanya memang sudah digariskan bersama Ardian. Lalu bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan perasaannya pada pria lain, yang selama ini belum bisa ia hapus namanya dari dalam hatinya. Kehadiran Ardian selama ini belum mampu menggeser posisi laki-laki itu.
"Aku benar-benar ingin hidup selamanya bersamamu, Chay.. Aku tidak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi. Kecuali bila aku mati, itu yang akan menjadi perpisahan di antara kita."
Air mata Chayra menetes. "Maafkan aku, Kak."
"Aku tau kamu belum bisa menggantikan nama Kak Ghibran di hatimu. Aku tau kalau kamu belum bisa mencintaiku. Tapi, aku akan tetap berusaha. Sampai kamu sadar, kalau kamu menikah, bukan dengan orang yang salah."
Ardian menarik tubuh Chayra perlahan. Menempelkan tubuh Chayra di dadanya. "Aku senang dan merasa tenang memelukmu seperti ini. Walaupun kamu mungkin tidak merasakan apa-apa. Atau bahkan kamu risih seperti yang kamu katakan tadi. Tapi, sekali lagi aku katakan, aku tenang memelukmu seperti ini."
"Terimakasih sudah mencintai wanita sepertiku, Kak. Kita akan berusaha kedepannya. Lambat laun, cinta diantara kita akan tumbuh dengan sendirinya." Chayra memejamkan matanya. Sebenarnya dia sangat berat mengatakan hal itu. Namun, dia tidak mau membuat Ardian semakin kecewa.
"Aku sudah mencintaimu, Chay. Kamu yang perlu menata hati, agar bisa menerima aku sebagai suamimu."
"Kamu sudah menjadi suamiku, kan." Chayra mendongak menatap suaminya sekilas. Kembali menunduk, menempelkan kepalanya di dada Ardian.
"Izinkan aku melakukan itu lagi padamu." Ardian mencium pucuk kepala istrinya.
Chayra tersentak dan langsung menarik tubuhnya. "M.. maksud Kakak?"
"Aku mau melakukan seperti yang kita pernah lakukan di rumah Ibu malam itu."
Ekspresi Chayra langsung berubah. Menelan ludahnya beberapa kali. "K.. Kakak mau itu lagi?"
Ardian mengangguk menahan senyum. Melihat ekspresi wajah Chayra yang pucat karena permintaannya menjadi hiburan tersendiri untuknya. "Iya, aku mau itu lagi. Aku akan buktikan pada Amira kalau dia bukan siapa-siapaku lagi. Pemilik hati dan tubuh ini adalah kamu bukan dia."
"Jangan lakukan itu kalau Kak Ardian berniat menyakitinya. Aku yang mengkhianati perjanjian kami."
"Aku mendengar semua yang kamu katakan padanya tadi. Kamu berjanji untuk membuatku berubah. Bukan berjanji untuk tidak melakukan hubungan badan denganku."
"Tapi, Kakak akan menyakitinya kalau Kakak mengatakan itu padanya."
"Dia yang salah, Chay. Kenapa dia masih terus-terusan mengurus rumah tangga kita. Dia sudah menikah dan memiliki keluarga baru. Seharusnya dia mengurus suaminya. Menjaga agar suaminya bisa tetap menatapnya dan tidak melirik wanita lain. Kenapa dia malah sibuk dengan urusan ranjang kita. Pakai acara melarang orang hamil segala. Siapa dia?!" Ardian berucap sewot. "Lagian, siapa sih yang menjadi satpam dia? Informasi ini itu selalu sampai padanya."
Chayra hanya mengangkat bahu.
"Untung saja aku tidak berjodoh dengannya. Bisa-bisa dia terus membuntuti semua aktivitas yang aku lakukan. Jadi wanita itu memantaskan dirilah sama pasangan. Saling melengkapi dan saling memperingati kalau ada yang salah. Ini kok malah sibuk dengan rumah tangga orang."
Chayra tersenyum menanggapinya. "Kakak tidak mau dibuntuti bini kalau beraktivitas. Terus kenapa Kakak senang sekali mencari tau jadwal kuliahku. Takut aku berlama-lama di kelas kalau Kak Ghibran Dosennya? Apa itu namanya? Bukannya itu mengawasi gerak-gerik istri, seolah-olah aku akan selingkuh dengan kak Ghibran?"
Ardian tersenyum meringis. Memang itu yang dia lakukan beberapa bulan terakhir ini. "Sudah, ah. Jangan bahas itu lagi. Aku mau kamu menemaniku tidur di ranjang sekarang." Bangkit seraya membopong tubuh Chayra ke atas ranjang.
"Eh, jangan macam-macam deh. Kita diminta berkemas sama Papi. Bukan diminta tidur."
"Tiga puluh menit kelar." Ardian memeluk erat tubuh Chayra. Tidak memberikan waktu Chayra menolak keinginannya.
*********
__ADS_1