Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Titik terang


__ADS_3

Baru saja Amira membuka pintu kamar Ardian. Gadis itu dikejutkan oleh papi dan maminya Ardian yang berdiri di depan pintu. Entah sejak kapan dua orang tua itu berdiri disana.


"O..Om, T.. Tante.." Amira gelagapan menatap dua orang itu.


"Apa yang kamu perdebatkan dengan Ardian?" Tanya Pak Sucipto papinya Ardian.


Mendengar suara papinya, Ardian bergegas ke pintu. "P.. Papi, M.. Mami." Ardian tak kalah terkejut.


"Apa yang sedang kamu perdebatkan dengan Amira, Ardian?"


Baik Ardian maupun Amira tidak ada yang berani bicara. Keduanya hanya diam dengan posisi masing-masing. Amira yang menunduk dan Ardian yang menatap orang tuanya dengan tatapan yang campur aduk.


"K.. kapan Papi dan Mami sampai rumah?" Ucap Ardian setelah lama terdiam.


"Papi tidak butuh pertanyaan kamu kapan Papi sampai rumah. Papi hanya butuh jawaban kamu tentang hal yang kamu perdebatkan dengan Amira tadi." Ucap Pak Sucipto tegas


"T.. tidak ada yang kami perdebatkan, Pi. K.. kami hanya bertengkar. I.. iya kan, Mira?" Ardian menyenggol lengan Amira.


"Jangan mengelak, Ardian! Papi mendengar semuanya. Anak siapa yang kamu nodai, heh?! Anak siapa yang kamu hancurkan masa depannya?!" Pak Sucipto berteriak sampai urat-urat di pelipisnya menonjol. Tangannya sudah terangkat ingin menampar putranya. Namun, Bu Renata ibunya Ardian dengan sigap menahan tangan suaminya.


"Jangan melakukan kekerasan, Pi. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik."


"Mami terlalu memberikan kebebasan pada anak ini. Itulah yang membuatnya menjadi seperti ini." Pak Sucipto merenggut kesal.


"Jangan saling menyalahkan di saat keadaan sudah seperti ini. Kita perlu instrospeksi diri agar kedepannya bisa lebih baik."


"Katakan, siapa wanita yang kalian maksud tadi." Pak Sucipto masih bersikeras agar Ardian ataupun Amira mau membuka mulutnya. Melihat tidak ada yang bereaksi, Pak Sucipto lebih mendekati putranya. Mencengkram pundak Ardian sambil menekannya.


Ardian hanya menunduk. Tidak ada niat dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan papinya. Lebih tepatnya, ia tidak mau mengambil resiko.


Pak Sucipto adalah orang yang sangat menjunjung tinggi tanggung jawab. Bersikap tegas dalam mengambil keputusan. Sangat berbanding terbalik dengan sikap putranya yang suka semaunya.


Melihat tidak ada respon putranya, Pak Sucipto menurunkan tangannya dari pundak Ardian. Beralih menatap Amira yang masih menunduk di samping kekasihnya.


"Ikut Om sekarang, Amira."


Amira mengangkat wajahnya takut-takut. "K.. kita mau kemana, Om?"


"Ikut saja, jangan banyak tanya."

__ADS_1


Amira menatap Ardian sebelum mengikuti langkah Pak Sucipto. Melihat anggukan kepala pria itu, Amira melangkah meninggalkan Ardian dan maminya.


*********


"Om tau, kamu sudah lama berhubungan dengan putra Om. Tapi, Om hanya ingin kamu berkata jujur, siapa wanita yang telah Ardian nodai." Pertanyaan yang masih terus diulang-ulang Pak Sucipto sejak mereka duduk di sebuah cafe yang berlokasi tidak jauh dari kediaman Ardian.


Amira menggeleng, "ini masalah pribadi Kak Ardian, Om. Dia tidak sengaja melakukan itu."


"Saya ini papinya Ardian, Amira. Masalah dia juga menjadi masalah untuk Om karena dia belum berkeluarga. Andaikan dia sudah berkeluarga, Om tidak akan ikut campur dalam masalahnya."


"Tapi, Kak Ardian tidak sengaja melakukannya, Om."


"Tidak ada orang yang tidak sengaja memp**k**a orang, Amira. Jangan terus-terusan berbohong. Om sudah mendengarkan semua yang kamu katakan pada Ardian tadi."


"Mungkin Om salah dengar."


"Pendengaran Om masih sangat tajam. Jangan karena aku sudah berumur, kamu mengira aku tuli."


"B.. bukan begitu maksud Mira, Om." Amira langsung menunduk. Dia merasa bersalah karena mengatakan hal itu.


"Ceritakan semuanya sebelum Om bertindak tegas pada Ardian."


Amira menarik nafas dalam setelah mengakhiri ceritanya.


"Apakah kamu datang ke rumah Om hari ini karena ingin membenarkan prasangkamu itu?"


Amira mengangguk mantap. "Sebenarnya, Mira sempat ragu, Om. Tapi.." air mata Amira mengalir begitu saja tanpa diminta. Terlihat jelas kalau dia sangat terluka setelah mengetahui kebenarannya.


"Amira mencintai Kak Ardian, Om. Mira tidak mau Kak Ardian sampai dipenjara karena kasus ini. Ini juga terjadi karena Mira." Menutup wajahnya dengan telapak tangan. Menahan isak tangis yang semakin menjadi-jadi.


"Allah sudah menunjukkan keburukan putra Om pada kamu, Mira. Sebesar apa cinta kamu pada Ardian, Nak?" Pak Sucipto menatap iba gadis di depannya.


"Dia adalah hidup dan mati Mira, Om."


Pak Sucipto memejamkan matanya mendengar ucapan Amira. "Jangan terlalu berlebihan, Nak. Seharusnya kamu utamakan cinta kamu pada Allah dan Rasul."


Amira mengangkat wajahnya. Tersenyum hambar menatap Pak Sucipto. "Om mengajarkan aku untuk lebih mencintai Allah dan Rasul. Lalu kenapa putra Om sendiri sampai tidak mengenal Tuhannya?"


Ucapan Amira bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tubuh Pak Sucipto. Ucapan telak Amira membuat pria paruh baya itu langsung terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Selama aku bersama Kak Ardian. Jangankan shalat, Om. Tak sekalipun aku pernah mendengarnya menyebut nama Allah."


Pak Sucipto hanya menelan ludahnya. Dia benar-benar tidak tau mau bilang apa. Amira benar-benar membuatnya mati kutu.


Amira hanya tersenyum kecut melihat reaksi Pak Sucipto.


"Mira juga bingung, kenapa Mira sampai secinta ini pada dia. Padahal Mira tau kalau dia laki-laki yang tidak jelas karakternya. Apa mungkin ini semua terjadi karena dia telah mengambil kehormatan Mira juga." Air mata kembali terjatuh. Amira sedikit mendongak untuk menahan air matanya yang terasa akan tumpah.


Pak Sucipto terbelalak, tetapi mulutnya masih terkunci rapat.


"Kalau tidak ada yang ingin Om tanyakan lagi, Mira permisi. Assalamualaikum, Om.." Amira langsung bangkit tanpa menunggu persetujuan Pak Sucipto. Meninggalkan pria yang masih mencerna semua ucapannya tadi.


********


Chayra terduduk di atas sajadahnya. Dia bangun sejak pukul satu dini hari. Dia tidak menangis, tetapi hanya duduk termenung memeluk lutut seperti orang yang penuh beban.


Bu Santi masuk ke kamar putrinya. Walaupun Chayra masih memikirkan kejadian itu. Setidaknya, saat ini gadis itu bisa di ajak ngobrol dan bertukar pikiran.


Namun, satu hal yang masih menjadi beban pikiran Bu Santi. Chayra tidak mau keluar rumah sama sekali. Jangankan keluar rumah, keluar kamar pun, ia enggan untuk melakukannya.


"Apa kamu tidak ngantuk, Nak? Ibu lihat dari tadi kamu duduk diam di atas sajadah. Ini sudah pukul tiga, Nak. Istirahatlah, agar badan kamu lebih segar besok."


Chayra mendongak seraya tersenyum hambar. Hanya senyuman itu yang menjadi jawaban untuk ibunya.


Bu Santi menghela nafas berat. Berjalan mendekati putrinya. "Sampai kapan kamu akan seperti ini, Nak? Apa kamu tidak mau bangkit dan selamanya akan seperti ini? Duduk termenung tanpa ada tujuan hidup. Semua orang memiliki masa lalu. Tapi, masa lalu yang buruk itu jangan sampai di jadikan penghambat untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik."


"Ayra butuh waktu, Bu. Ayra takut menjadi bahan gunjingan orang-orang di luar sana." Jawab Chayra tanpa sedikitpun menatap ibunya.


"Tidak akan ada yang menggunjing kamu, Nak. Semua orang malah kasihan melihat kamu."


"Ayra hanya butuh waktu. Jangan paksa Ayra, Bu. Ayra akan bangkit kalau sudah waktunya."


"Jangan menjadi manusia yang egois, Nak. Pikirkan perasaan orang-orang di sekitarmu. Orang-orang yang mengkhawatirkan kamu karena keadaanmu yang seperti ini terus. Kaki semua mengkhawatirkan kamu, Nak. Lalu dimana rasa kasihan kamu pada kami."


Terdengar helaan nafas berat dari Chayra. Dia akhirnya mengangkat wajahnya. "Ayra malu, Bu.. Ayra lebih baik mati daripada harus menanggung aib ini."


"Astagfirullahal'adzim, kamu kenapa berkata begitu, Nak? Istighfar, Ayra! Semua ini tidak akan terjadi jika Allah tidak berkehendak. Jangan menyalahkan takdir. Siapa yang menginginkan keburukan? Siapa yang menginginkan cobaan yang berat? Kita semua tidak ada yang mau. Tapi, kita yang menjadi manusia harus mensyukuri apapun yang ditakdirkan Tuhan untuk kita. Rencana Allah itu adalah yang paling baik walaupun tidak sesuai dengan yang kita inginkan."


Chayra menitikkan air mata mendengar nasihat panjang ibunya.

__ADS_1


********


__ADS_2