
Tiga hari sudah berlalu. Ghibran masih bertahan di rumah Chayra, bersabar menunggu jawaban dari gadis itu. Awalnya, ia merasa segan saat di minta Bu Santi untuk menginap disana. Namun, karena semua anggota keluarga Chayra memintanya untuk menginap saja untuk menghemat biaya hotel. Ia akhirnya setuju dan menempati kamar yang bersebelahan dengan Zidane.
Walaupun Chayra masih enggan untuk membahas perihal pernikahan, Ghibran selalu berusaha membuat wanita itu nyaman dengan kehadirannya. Terlihat banyak perubahan dari Chayra membuat Ghibran semakin yakin kalau usahanya tidak akan sia-sia.
Namun, kali ini sikap Zidane yang terlihat agak berbeda. Zidane lebih banyak diam jika Ghibran meminta pendapatnya atau membahas tentang hal itu. Sejak ia membuka handphone Ghibran hari itu. Dia mengerti kenapa Ghibran tidak datang kemari dengan kedua orang tuanya.
Pagi itu, Chayra berjalan ke kebun kecilnya di belakang rumah bersama Bu Santi. Hari ini, ketiga temannya berjanji akan datang menemuinya. Itulah sebabnya ia terlihat lebih bersemangat. Ada hal yang ingin mereka bahas yang tidak bisa mereka tunda.
Melihat Chayra berjalan bersama ibunya, Ghibran berjalan cepat untuk menyusul. Namun, saat sampai di pintu depan, Zidane menghalangi langkahnya.
"Kamu mau kemana, Ghi?"
"Mm.. mau ke kebun belakang."
"Biarkan Ayra menenangkan diri dulu."
"Aku harus bicara dengannya, Zidane."
"Kamu sudah berjanji tidak akan mengusik ketenangannya sebelum dia siap memberikan jawaban untukmu."
Ghibran mengalihkan pandangannya. "Kamu kenapa sih? Sikapmu yang sekarang seakan-akan sengaja membuatku selalu jauh dengan Zahra."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu tidak pernah mengizinkan aku menemui Zahra. Sebenarnya ada masalah apa sih?"
"Astagfirullah, aku tidak pernah berniat seperti itu. Aku hanya bahagia melihat adikku mulai bisa tersenyum lagi. Aku takut senyum itu akan pudar jika kamu terlalu memaksakan kehendak kamu."
Ghibran menghela nafas berat seraya menunduk. "Aku cuma ingin bicara dengannya." Kembali mengangkat wajahnya. "Aku hanya butuh kepastian. Aku akan pulang besok, itulah mengapa aku butuh bicara dengannya."
Zidane menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Dapatkan restu dari orang tuamu dulu. Pastikan kalau kedua orang tuamu sudah merestui hubunganmu dengan adikku. Jangan sampai hanya kamu yang menginginkan Ayra, tetapi tidak dengan orang tuamu."
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Aku hanya mengingatkan. Restu orang tua itu akan menjadi salah satu kunci kebahagiaan kalian kelak. Itulah mengapa aku mengatakan hal ini."
Ghibran terdiam sambil menelan ludahnya. Hatinya membenarkan semua ucapan Zidane. Ia menatap Zidane beberapa saat.
Zidane tersenyum. "Silahkan kamu temui Ayra. Aku tidak akan menghalangi kamu lagi. Tapi, aku hanya menyarankan agar kamu mempertimbangkan semua yang aku katakan tadi." Berlalu tanpa menunggu Ghibran menjawab.
Ghibran melanjutkan langkahnya. Maminya bukannya tidak memberikan restu. Tapi, dia hanya kesal karena kegigihan putranya menunggu Chayra yang tidak kunjung memberikan jawaban.
"Assalamualaikum, Zahra.."
Chayra yang sedang duduk di ayunan langsung menoleh saat mendengar suara Ghibran. Bu Santi yang sedang memegang kendali ayunan itu pun, ikut berbalik menatap Ghibran.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Chayra lirih. Kembali menghadap depan. Senyum yang dari tadi terlihat langsung pudar. Tidak mengharapkan kehadiran pria itu saat dia sedang menikmati waktu dengan ibunya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, eh, Nak Ghibran." Bu Santi memecah suasana hening itu. Tidak enak hati pada Ghibran saat melihat perubahan raut wajah putrinya.
"Sayang, sepertinya Ghibran mau bicara sama kamu. Ibu mau memeriksa tanaman-tanaman itu dulu ya, sementara kalian ngobrol." Bu Santi sedikit berbisik. Ia kembali menatap Ghibran yang masih berdiri di belakangnya.
"Nak Ghibran kemari, Nak. Gantiin Ibu mengayunkan Ayra." Bu Santi melepas tali ayunan dan berjalan menjauh dari ayunan itu.
Selepas kepergian Bu Santi, tidak ada yang mulai angkat bicara. Hening tercipta dan banyak waktu yang terlewat tanpa mereka sadari.
Bu Santi menatap mereka berdua dari kejauhan. Saat melihat Ghibran menatapnya, ia mengisyaratkan dengan anggukan kepala agar pria itu mulai bicara.
Ghibran tersenyum kaku seraya ikut mengangguk. "Hmmm..."
Chayra mendongak menatap pria itu. "Apa..?"
"Mm.. aku.. aku merindukanmu, Zahraku." Ghibran sedikit menunduk agar bisa lebih leluasa menatap gadis itu.
Chayra terdiam tidak merespon ucapan Ghibran.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak merasakan seperti yang aku rasakan?"
"Aku sudah tidak pantas lagi untuk kamu, Kak."
"Maksud kamu apa? Siapa yang mengatakan seorang Chayra Azzahra tidak pantas untuk Ghibran Abdullah?"
"Tidak ada orang yang mengatakan itu, Kak. Tapi, aku sendiri yang merasa tidak pantas dengan Kak Ghibran."
"Aku gagal menjaga kehormatan diriku sendiri."
"Aku sudah mengatakan berulang kali padamu, kalau itu tidak menjadi masalah bagiku. Aku tetap mencintaimu apapun yang terjadi. Lagian, ini semua terjadi karena bukan keinginan kita, kan?"
Chayra memejamkan matanya. "Carilah wanita lain, Kak. Aku tidak bersedia menjadi istri Kak Ghibran."
Ghibran tertegun. Ingin bicara tetapi mulutnya seperti terkunci.
"Aku butuh waktu untuk memulihkan perasaanku yang hancur karena musibah ini. Aku tidak ada waktu untuk memikirkan pernikahan. Itulah sebabnya aku meminta Kak Ghibran untuk mencari orang lain."
"Aku akan menunggu sampai kamu siap."
"Aku tidak tau kapan aku akan siap. Lebih baik Kak Ghibran cari wanita lain."
"Aku tidak bisa, Zahra."
"Kak Ghibran bisa, tapi Kakak tidak mau melakukan itu."
"Heh.." Ghibran tersenyum sinis.
"Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Mulai sekarang, mari kita hidup dengan kehidupan kita masing-masing. Biarkan kisah kita ini sebagai masa lalu. Seiring berjalannya waktu, rasa kita akan terkikis oleh waktu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukan itu."
"Kakak bisa kalau Kakak mau."
"Hah..! Aku akan tetap menunggumu."
"Tidak, jangan pernah lakukan itu. Menunggu wanita hina seperti aku ini, hanya akan membuang-buang waktu Kakak."
"Tidak ada waktuku yang sia-sia jika itu menyangkut dirimu."
Giliran Chayra yang terdiam. Dia bingung mau berkata apa lagi. Laki-laki yang sedang ia hadapi saat ini benar-benar keras kepala.
"Aku tidak mudah jatuh cinta pada wanita, Zahra. Hanya kamu satu-satunya wanita yang menbuat aku sampai seperti ini. Aku ingin segera menghalalkan kamu, karena aku takut kamu diambil orang."
Chayra masih terdiam, hanya menunggu kelanjutan kalimat laki-laki yang sedang terisak di belakangnya.
"Berkata itu sangat mudah, seperti kita membalikkan telapak tangan. Tapi, berbuat itu tidak akan semudah itu. Perasaan aku tidak semudah itu berbalik pada orang lain."
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa melanjutkan ta'aruf ini."
Ghibran memejamkan matanya. Air mata jatuh begitu saja dari matanya yang sedang terpejam. "Berikan aku alasan kenapa kamu berkata begitu. Alasan selain masalah kehormatan yang terus-menerus kamu permasalahkan."
"Aku.. aku..." Chayra terisak. Hatinya benar-benar sakit melihat Ghibran yang sedang menangis dan menunggu kepastian darinya.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Insya Allah, aku kuat mendengarkan semua kata-kata menyakitkan yang akan kamu keluarkan."
"Aku.. aku.. t.. tidak mencintai Kak Ghibran lagi." Chayra menutup wajahnya dengan telapak tangan. Menahan isak tangis yang semakin menjadi-jadi.
"Bohong kamu! Tatap aku kalau kamu memang tidak mencintaiku lagi." Ghibran melepas tali ayunan, berpindah duduk di hadapan Chayra.
"Ayo, tatap aku sekarang. Katakan kalau kami tidak mencintai Ghibran Abdullah lagi."
"Aku tidak bisa melakukan itu. Pergi, Kak. Aku tidak mau melihat Kak Ghibran lagi."
"Kata-katamu memang menyakitkan. Akan tetapi, besarnya rasa ini untukmu mampu menutup semua rasa sakit yang kamu ciptakan."
"Tidak, Kak. Pergilah dari kehidupanku. Aku butuh ketenangan untuk melanjutkan hidupku yang sudah hancur ini."
Kedatangan Zidane membuat perdebatan itu terhenti.
"Ibu mana, Dek?" Tanyanya pada Chayra tanpa memperdulikan Ghibran yang masih duduk di hadapan Chayra.
Chayra menunjuk ke depan tanpa mengeluarkan suara. Sekilas, ia melihat tiga sahabatnya sedang berdiri di kejauhan. Mungkin karena ketegangan itu, ketiga gadis itu enggan mendekat. Chayra kembali menutup wajahnya.
"Masuklah ke dalam. Persiapkan hati kamu, Dek. Tamu kita sudah datang." Zidane berlalu seraya memanggil Bu Santi yang tidak terlihat oleh tanaman.
Deg..!
__ADS_1
*******