Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ngidam atau doyan


__ADS_3

"Ngapain ketuk-ketuk pintu tengah malam gini?" Zidane merengut kesal karena tidurnya diganggu oleh ketukan di pintu kamarnya.


"Mm.. Ayra mau pinjam kunci motor, Kak." Ucap Chayra dengan hati-hati.


"Mau ngapain pinjam kunci motor Kakak tengah malam gini? Mau jual motor Kakak diam-diam kamu?!"


"Eh, enak saja. Nggak, Kak. Aku mau keluar sama Kak Ardian sebentar." Chayra mendelik kesal mendapat tuduhan seperti itu.


"Ini tengah malam, Ayra. Kamu mau kemana. Kamu sedang hamil, Dek. Jangan macam-macam deh. Suami kamu mana?"


"Aku mau keluar bersama dia. Tapi, aku pinginnya pakai motor Kak Zidane." Chayra mengatakan itu dengan kepala tertunduk.


"Kamu tunggu saja di ruang tamu. Kakak mau ngomong sama suami kamu. Ngawur ni anak, mau jalan-jalan pakai motor di tengah malam." Gerutu Zidane.


Chayra tidak ke ruang tamu. Dia hanya duduk di sofa panjang di depan kamar Zidane.


Zidane hanya melirik Chayra. Sengaja tidak memberikan jawaban yang pasti untuk Chayra karena menunggu kedatangan Ardian. Saat melihat Ardian berjalan mendekat ke arahnya, Zidane langsung membuang nafas kasar.


Zidane menarik tangan Ardian sedikit menjauh. "Mau kemana jam segini?" Menatap Ardian dengan tajam.


"Mm.. Chay mau makan sate, Kak. Aku sudah memintanya untuk menunggu aku di rumah, biar aku sendiri yang cari sampai dapat. Tapi, katanya dia mau makan di tempat. Nggak tau aku jadinya mau bilang apa. Mau nolak, takut anak aku ileran nanti."


"Hem..." Zidane mendengus. "Mitos itu, Ardian. Kamu saja yang mudah dibohongi istri kamu."


"Aku nggak bisa nolak, Kak. Kak Zidane sendiri tau kan, Ayra itu bagaimana kalau tidak dituruti keinginannya."


"Kamu terlalu memanjakannya. Bagaimana kalau keterusan manjanya sampai nanti. Kamu kan sibuk kerja. Janganlah terlalu dimanjakan seperti ini."


"Aku takut nggak di kasih jatah lagi, Kak." Ardian menggaruk-garuk tengkuknya. "Tadi udah dikasih isi energi full sampai dua kali babak final."


Zidane mengernyit. "Energi apaan..?!"


"Energi batin yang mampu membuat perasaan pria bahagia. Hehehe.." Ardian cengengesan, menggaruk-garuk tengkuknya lagi.


Zidane akhirnya hanya bisa menyebikkan bibirnya setelah paham maksud Ardian. "Jangan terlalu sering, istri kamu masih hamil muda. Masih ingat kan, pesan Dokter saat dia masuk Rumah Sakit kemarin?"


"Ini saja tumben sejak beberapa hari yang lalu. Terakhir pas mau periksa. Sekitar satu minggu yang lalu, Kak."


Zidane menghela nafas berat. Dia masih asing membicarakan hubungan seperti itu karena dirinya yang belum menikah. "Tunggu sebentar Kakak ambilkan kunci motornya. Suruh saja istri kamu ambil jaket biar nggak kedinginan nanti." Berlalu dari hadapan Ardian tanpa menunggu jawaban pria itu.


Chayra terlihat sangat bersemangat menaiki motor gede. "Perjuangan yang tidak sia-sia, Kak. Hahahah..."


Ardian hanya menggeleng-geleng pelan melihat tingkah istrinya. "Pegangan, Chay. Aku mau ngebut nih.."


"Eits, jangan macam-macam. Kalau aku kaget nanti, anak Kakak juga yang akan kena imbasnya. Bismillahirrahmanirrahim.." Memperbaiki posisi duduknya, memeluk pinggang Ardian seraya menempelkan kepalanya di punggung pria itu.


Bibir Ardian mengembangkan senyum tipis. Dadanya berdebar mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya.

__ADS_1


"Kita ke penjual sate yang di dekat Kampus, Kak."


"Jam segini udah pasti tutup, Chay. Kita ke penjual yang di depan Toko Ibu saja."


"Mmm... lokasinya terlalu dekat. Aku maunya yang lebih jauh."


"Eh, dasar...!"


Ciiitttttt.....


Ardian langsung menghentikan kendaraannya. Membuka helmnya seraya menatap istrinya. "Jadi kamu cuma pingin jalan-jalan makanya minta ikut."


"Ehehehe," Chayra cengengesan. "Udah ah, ngapain pakai buka helm segala. Terkejutnya berlebihan, Kak. Ya udah nggak apa-apa belinya di depan Toko Ibu saja."


Ardian kembali memasang helmnya. "Kamu juga kenapa nggak pakai niqab tadi. Wajah kamu terpampang jelas itu."


"Aku pikir nggak akan ada orang jam segini, makanya nggak pakai. Tau-taunya ternyata masih ramai." Chayra merogoh saku jaketnya. "Aku pakai masker aja, nggak apa-apa ya.."


"Mmm.. daripada nggak pakai sama sekali. Udah, Pegangan yang bener kita meluncur lagi."


Drama pembelian sate akhirnya berakhir setelah Chayra benar-benar menghabiskan tiga porsi besar sate. Ditambah dua lontong yang berukuran jumbo. Ardian beberapa kali menelan ludahnya melihat porsi makan Chayra yang berubah drastis.


"Kamu udah kenyang sekarang?"


"Alhamdulillah, udah. Terimakasih, Ayang Beb, udah menemaniku keluar malam ini." Chayra tiba-tiba memeluk lengan suaminya.


Chayra mendelik melepas pegangannya pada lengan Ardian. "Nggak suka emangnya dipanggil begitu? Padahal aku sudah lama banget menyiapkan panggilan itu."


"Siapa yang nggak suka, Sayang. Malahan hatiku sedang berbunga-bunga nih, di panggil Ayang sama kamu." Menarik tangan Chayra dan meletakkannya di dadanya.


Chayra menarik tangannya, mengelap mulutnya seraya bangkit. "Pak, satenya masih ada nggak?"


Pedagang sate yang sedang berkemas berbalik menatap Chayra. "Masih, Neng. Mau berapa porsi lagi?"


"Satu aja, Pak. Yang porsi biasa."


Ardian menyentuh lengan istrinya. "Kamu yakin mau nambah lagi?"


"Nggak.. aku mau bawa pulang untuk Kak Zidane. Kak Ardian mau juga, biar aku pesan satu porsi lagi?"


Ardian langsung menggeleng. Bergidik ngeri membayangkan makan di tengah malam. "Aku tidak biasa makan lewat dari jam sembilan malam. Apalagi jam segini." Melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit.


Sambil menunggu, Ardian menatap ke arah Toko mertuanya yang terlihat masih ramai pengunjung walaupun waktu sudah tengah malam. "Alhamdulillah ya, Chay. Toko Ibu selalu ramai walaupun sudah tengah malam seperti ini."


Chayra hanya mengangguk. Tidak terlalu menghiraukan pertanyaan suaminya.


Ardian berjalan menjauhi tempat penjual sate. Berjalan mendekati Toko dan memperhatikan lalu lalang manusia yang masih ramai. Mungkin karena lokasinya yang berada di depan Rumah Sakit, itu yang membuat Toko itu tidak pernah sepi pengunjung.

__ADS_1


Chayra melambai pada suaminya seraya memanggilnya. Ardian mengangguk dan berjalan cepat mendekati istrinya. Tidak mau membuat wanita itu menunggu terlalu lama. Matanya juga sudah ngantuk lagi.


*****


Usai mendirikan shalat Maghrib malam itu..


Setelah beberapa kali menuda untuk menjenguk Papinya yang masih sakit, Ardian akhirnya pergi malam ini. Tapi tidak menjenguk ke Rumah Sakit, karena Sucipto sudah diizinkan pulang dua hari yang lalu.


Sekembalinya dari menjenguk Papinya, Chayra lagi-lagi meminta suaminya untuk menemaninya pergi membeli sate. Meminjam kunci motor Zidane untuk yang kesekian kalinya.


"Istri kamu itu, Ardian. Kenapa sih, kamu selalu saja menuruti keinginannya. Kalau udah lebih dari satu kali itu bukan ngidam lagi namanya. Itu mah doyan." Ucap Zidane, meletakkan kunci motornya dengan kasar di telapak tangan Ardian. "Sekarang makan kenyang. Besok masih pagi, Hoek.. hoek.. lagi. Kirain aku nggak risih apa setiap pagi mendengarnya memuntahkan isi perutnya."


Ardian hanya tersenyum menanggapi ucapan Zidane. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Jadi masih banyak waktu untuknya nanti bisa menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi siang di kantor.


Pagi itu, Ardian sedikit tergesa saat akan berangkat ke Kantor. Karena lagi-lagi Chayra muntah-muntah sampai menguras semua isi perutnya.


Berulang kali wanita itu memintanya untuk pergi saja. Namun, Ardian tidak enak kalau harus meninggalkan istrinya dalam keadaannya yang seperti itu. Walaupun handphonenya terus berdering karena memang ada jadwal rapat yang wajib dia hadiri pagi ini.


"Berangkat saja, Kak. Insya Allah aku baik-baik saja." Chayra berucap disela-sela muntahnya.


"Tidak, Chay. Aku harus pastikan kamu baik-baik saja. Uang itu bisa dicari nanti. Kesehatan kamu yang harus diutamakan saat ini." Ucap Ardian tanpa menatap istrinya. Tangannya sibuk mengetik pesan di handphonenya. Tiba-tiba ia berjalan menjauhi istrinya saat ada panggilan suara masuk.


"Iya, Pak, iya.. Sebentar lagi saya datang. Istri saya sedang sakit. Jadi saya harus mengurusnya dulu."


"........."


"Saya lebih baik menunda rapat itu daripada tidak bisa mengurus istri saya. Selamat pagi.." Ardian langsung mematikan sambungan telepon. Kembali mendekati Chayra yang masih saja berdiri di depan wastafel.


"Kamu berangkat saja, Ardian. Biar Ibu yang menjaga Ayra." Santi merasa tidak enak karena mendengar Ardian bicara ditelepon tadi.


"Tapi, Bu..."


Santi menghela nafas berat. Menepuk pundak Ardian dengan pelan. "Perhatian kamu berlebihan, Nak. Orang hamil itu biasa seperti ini."


Ardian terdiam.. melirik mertuanya yang masih terus menatapnya. "Mmm... baiklah, Bu. Kalau begitu Ardian berangkat sekarang. Titip Chay. Hubungi aku segera kalau terjadi apa-apa sama dia."


Santi mengangguk seraya tersenyum. "Berangkatlah, Nak. Hati-hati di jalan."


"Ardian pamit, assalamualaikum.."


Setibanya di Kantor...


Plak..!


Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi kirinya.


"Secinta apa kamu sama istri kamu sampai-sampai kamu harus mengorbankan pekerjaan kamu berulang kali, Ardian."

__ADS_1


*********


__ADS_2