Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Nasehat


__ADS_3

"Itu benar hasil perbuatan kamu, Ghi?" Zidane meminta penjelasan Ghibran setelah Ardian dan Chayra memasuki kamar. "Kamu apakan adik ipar ku sampai wajahnya terlihat sangat memprihatikan seperti itu? Apa kamu membayar preman untuk membuatnya sampai seburuk itu." Zidane mengusap wajahnya berulang kali.


"Aku sendiri yang melakukan itu padanya." Jawab Ghibran tanpa ekspresi.


"Tapi salah dia apa, Ghi? Perasaan, Ardian tidak pernah membuat masalah dengan kamu."


"Dia sudah membuat Zahra hamil, Zidane. Aku nggak tau bagaiman harus bersikap saat Dokter mengatakan itu. Rasa sakit karena dia merebut Zahra saja belum hilang. Bisa-bisanya dia menghamilinya." Ghibran menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Astagfirullahal'adzim, kamu itu bisa mikir nggak sih? Pakai akal sehatmu, Ghi. Ardian itu suami sahnya Ayra. Bahkan orang akan bertanya-tanya kalau dia tidak hamil. Mereka sudah satu tahun menikah."


"Kenyataan itu yang belum bisa aku terima, Zidane. Aku masih mencintai Zahra. Sedikitpun namanya belum mampu di geser oleh wanita manapun." Jawab Ghibran tanpa rasa bersalah.


Giliran Zidane yang menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Pakai otakmu, Ghibran. Kamu sudah berdosa mencintai istri orang. Apalagi sampai berniat untuk berjuang sampai mendapatkannya." Menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Kamu ini lama-lama kayak orang gila. Sudahlah, pusing aku lama-lama sama kamu. Untung saja Ardian tinggal di rumah ini sekarang. Andaikan dia masih tinggal di rumah orang tuanya. Nggak tau deh, apa yang akan terjadi pada kamu."


"Kepalaku panas kemarin. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku benar-benar terkejut. Dokter itu sampai heran melihat reaksiku."


"Maksud kamu?"


"Maafkan aku, Zidane. Aku mengaku menjadi suaminya Zahra kemarin. Aku benar-benar panik melihat kondisinya yang lemas sampai tidak sadarkan diri. Kalau harus menunggu mereka datang. Aku takut terjadi apa-apa karena tidak dilakukan tindakan yang lebih lanjut."


Zidane tertegun beberapa saat mendengar pengakuan Ghibran. Sedalam apa perasaan pria itu pada Chayra sampai dia bertindak seperti itu. "Apa yang membuatmu sampai nekat melakukan itu, Ghibran?"


"Aku sudah bilang, kalau aku benar-benar panik. Kamu tidak melihat kondisi Zahra kemarin. Kamu pasti akan panik seperti aku kalau kamu melihatnya.


"Kamu berlebihan. Seharusnya kamu menghadapinya dengan tenang. Kamu tidak akan sampai berbuat gegabah kalau kamu bisa tenang. Atau mungkin kamu lebih baik kembali saja ke Pesantren. Semakin lama disini, kamu akan semakin sulit untuk melupakan Ayra. Wanita di Pesantren masih banyak. Kamu mau cari yang seperti apa, insya Allah stok wanita Shalihah masih ada. Jangan datang lagi ke rumah ini kalau kamu masih mengharapkan Ayra. Aku benci dengan sifat kamu yang seperti ini. Pusing aku." Zidane langsung berlalu tanpa memperdulikan Ghibran.


Hanya Santi yang masih menemani Ghibran di ruang tamu. Wanita itu hanya menatap Ghibran. Antara kasihan dan kesal dengan perbuatan Ghibran.


Ghibran menarik nafas dalam. Hanya melirik ke arah Santi tanpa berani menatapnya. "Maafkan Ghibran, Bu."


"Ibu tidak bisa melakukan apa-apa untuk kamu. Saat ini, Ardian yang paling berhak atas Ayra. Ibu hanya bisa berharap, kamu bisa ikuti saran Zidane tadi. Mungkin memang lebih baik kalau kamu kembali ke Pesantren. Berlama-lama disini bisa menimbulkan mudharat pada pernikahan Ayra. Kamu sudah tau hukum. Ibu tidak perlu menjelaskan hukum karena kamu lebih tau daripada Ibu."


Santi duduk di atas sofa. "Kembalilah ke Pesantren, Nak. Cobalah untuk mencari kehidupan baru. Cari wanita lain. Kalau perlu cari wanita yang lebih dari segalanya dari putri Ibu yang tidak seberapa imannya itu. Kamu cerdas, Nak. Wanita mana yang tidak akan tertarik pada kamu."

__ADS_1


Ghibran hanya menunduk. Mulai merasa tidak enak kalau sudah Santi yang angkat bicara.


"Apa kamu sudah makan?" Sengaja mengalihkan pembicaraan.


"S.. sudah, Bu."


"Jangan sungkan, Nak. Kalau kamu belum makan, makanlah dulu. Ibu tidak marah sama kamu. Tapi, Ibu berharap mulai sekarang perbaiki niat kamu. Cari wanita lain yang akan menemanimu seumur hidup."


Ghibran menarik nafas panjang. "Ghibran akan coba, Bu." Melirik Santi sekilas.


"Bagus kalau begitu. Setidaknya kamu ada niat untuk berubah. Tidak hanya berdiam diri meratapi satu wanita yang sudah jelas-jelas bukan jodoh kamu."


"Sekali lagi maafkan Ghibran, Bu."


Santi tersenyum. "Insya Allah Ibu ikhlas, Nak. Tapi, Ibu sangat berharap kalau kamu minta maaf juga sama Ardian. Kamu telah melukai fisiknya sampai seperti itu. Alhamdulillah, Ardian yang sekarang bukan Ardian yang dulu lagi. Ardian yang sekarang memiliki sifat penyabar yang luar biasa. Ibu tidak mengetahui dengan pasti dan tidak menyaksikan secara langsung pertikaian kalian kemarin. Akan tetapi, dari cerita Ardian, Ibu sudah bisa menyimpulkan, kalau kamu marah sama Ardian karena Ayra."


Ghibran hanya terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Santi.


Ghibran melirik Santi lalu kembali menunduk. "Titip salam untuk Ardian. Aku minta maaf atas perbuatanku kemarin. Kalau untuk bertemu langsung aku belum berani, Bu. Aku tidak berani menanggung resiko kedepannya."


"Memangnya apa yang kamu rasakan saat bertatap muka dengan dia?" Zidane tiba-tiba kembali muncul dengan menyeret koper kecil. Sudah berganti pakaian. Terlihat lebih rapi dan semakin memperjelas aura ketampanannya.


Ghibran mengangkat kepalanya. Menatap Zidane yang berjalan mendekat ke arahnya. "Aku tidak bisa mengendalikan emosiku saat berhadapan dengannya."


"Huh," Zidane mendengus seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa. "Ternyata cinta mampu menggoyahkan iman seorang Ghibran Abdullah."


"Kamu mau kemana, Nak? Kenapa keluar dengan membawa koper?" Santi malah memperhatikan koper kecil yang dibawa Zidane.


"Aku mau pulang, Bu. Aku harus mengurus Ghibran dulu. Aku akan pastikan kalau dia harus menikah dulu sebelum boleh kembali ke daerah ini."


"Maksud kamu?" Ghibran menatap heran Zidane.


"Kita kembali bersama-sama ke Pesantren. Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan kamu." Zidane berkata tanpa menatap Ghibran. "Kita ke Pesantren menggunakan mobil kamu. Ayo, kita berangkat sekarang." Menarik paksa tangan Ghibran yang masih enggan untuk bangkit.

__ADS_1


*******


Pagi itu, Chayra kembali muntah-muntah. Semakin kesini, morning sickness yang dialaminya semakin menjadi-jadi. Hanya karena hal sepele, dia bisa memuntahkan semua isi perutnya.


"Aku sudah bilang kamu jangan ke dapur dulu. Kenapa kamu keras kepala sekali sih?" Ucap Ardian. Tangannya sibuk memijit tengkuk istrinya.


"Tadi aku merasa baik-baik saja, Kak. Eh, tau-taunya pas cium aroma bawang putih, perutku seperti diaduk-aduk."


"Mulai sekarang kamu jangan ke dapur. Aku yang akan bantu Ibu buat sarapan setiap pagi. Yang penting kamu tidak muntah-muntah seperti ini. Besok acara wisuda lagi. Siapa yang akan menemaniku kalau kamu seperti ini." Ardian malah mencemaskan acara yang akan dia hadiri besok pagi.


"Bawa Bian aja. Hoek...." Chayra kembali mengeluarkan cairan kuning. "Iiihh.... pahit..."


"Yang benar saja, Chay. Orang menggandeng pasangan. Kok, kamu malah menyuruh aku menggandeng adik ipar." Ardian menyalakan kran untuk istrinya. "Kumur-kumur dulu biar pahitnya hilang."


Chayra mengikuti saran suaminya. "Daripada sendirian.." ucapnya seraya bangkit karena merasa lebih baik. "Do'akan saja, semoga aku baik-baik saja besok pagi. Insya Allah, aku bisa menemani Kakak dalam acara penting itu." Chayra melangkah keluar dari kamar mandi. Mendekati ranjang untuk beristirahat. Acara muntah-muntah tadi benar-benar menguras tenaganya.


Ardian ikut melompat ke atas tempat tidur. Menarik selimut sampai menutupi setengah badannya. Tangannya langsung memeluk tubuh Chayra.


"Tidurnya agak jauh apa, Kak. Nggak usah peluk-peluk kayak gini. Eneg aku cium aroma tubuh Kakak." Chayra mendorong tubuh Ardian agar lebih menjauh. Pria itu semakin kesini malah semakin suka nempel pada istrinya. Namun, Chayra malah semakin menjadi-jadi. Tidak suka berdekatan dengan suaminya. Sampai-sampai dia sering muntah kalau Ardian terus-terusan memeluknya.


"Aku mau muntah lagi nih, kalau Kakak nempel terus."


"Memangnya kenapa sih? Aku kan hanya melampiaskan kasih sayangku."


"Tapi akunya yang nggak suka. Mungkin ini juga bawaan si bayinya, Kak. Sudah ah, menjauh dulu sana." Chayra kembali mendorong tubuh Ardian. "Tuh kan, aku mual lagi."


"Mana ada sih kayak gitu?" Ardian tidak mau kalah. "Masa ada wanita hamil, terus membenci aroma tubuh suaminya? Aneh-aneh saja kamu ini, Chay."


"Kak Ardian sih, tidak pernah mendengar keinginan-keinginan aneh wanita hamil. Untung saja aku nggak suruh Kakak untuk nyebur ke sumur tetangga. Kalau wanita hamil yang meminta, Kakak tidak boleh menolak. Karena kalau Kakak menolak, itu akan menjadi beban pikiran si wanita."


"Huh, aneh-aneh saja kamu ini." Ardian menggeleng-geleng pelan sambil beringsut sedikit menjauh. Tidak mau kalau Chayra mendorongnya lagi.


********

__ADS_1


__ADS_2