
Ardian menatap Chayra kesal. "Bisa nggak, lho belain gue sekali aja. Ini demi kebaikan kondisi fisik gue. Gue bisa sakit lama-lama kayak gini, kalau ini itu lho tidak perbolehkan."
"Maksud anda?" Chayra melirik Ardian lalu kembali menunduk melanjutkan menulis.
"Papi menyuruh lho untuk mengatur hidup gue kan? Lho seharusnya sadar, gue ini laki-laki normal. Gue punya kebutuhan batin yang harus terpenuhi, agar gue bisa berpikir stabil. Lho tau nggak? Air yang dibawah ini, kalau tidak dikeluarkan akan naik ke atas. Dan itu bisa memicu kinerja otak. Laki-laki yang tidak terpenuhi kebutuhan batinnya akan cepat marah."
Chayra hanya diam. Dia tidak bisa menerima alasan yang diutarakan Ardian.
Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berjalan pelan mendekati Chayra. "Mari kita berteman." Ucapnya tiba-tiba, menyodorkan tangannya ke hadapan gadis itu. Berharap Chayra akan menyambut uluran tangannya dan menjabat tangannya dengan erat.
Chayra mendongak menatap Ardian. Tatapan matanya seolah-olah minta penjelasan pada pria itu.
"Maksud gue... kita berbaikan mulai sekarang. Lupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi di antara kita. Mari kita berdamai dengan keadaan. Kita belajar untuk hidup untuk saling membutuhkan dan saling melengkapi."
"Saya tidak paham dengan maksud anda." Jawab Chayra tanpa mengangkat kepalanya.
Ardian menjatuhkan tangannya yang dari tadi terulur di hadapan gadis yang masih menunduk di depannya. "Iya.. maksud gue.. bukan berarti gue minta jatah nafkah batin sama lho. Tapi, maksud gue.. gue ingin lho mendukung setiap aktivitas yang gue lakukan. Dan gue juga akan mendukung lho. Seperti halnya dua orang sahabat yang selalu saling menjaga nama baik dan perasaan sahabatnya."
"Contohnya..?" Chayra masih sibuk menulis. Sebenarnya tidak ada hal penting yang sedang dia tulis. Namun, dia hanya berpura-pura sibuk agar pria itu tidak menggangunya lagi.
"Mmm.. seperti sekarang ini. Gue butuh ketenangan dan kehangatan tubuh wanita, agar gue bisa berpikir dengan jernih lagi. Gue butuh lho untuk menjaga mulut lho. Tidak usah melaporkan aktivitas gue sama Papi ataupun Mami."
Chayra tersenyum sinis. Melepaskan pulpennya dan berdiri seraya menatap Ardian dengan tajam. "Tidak ada di sebutkan dalam kitab manapun, kalau manusia bisa berpikir jernih setelah melakukan hal yang haram. Manusia akan berpikir jernih dengan mengingat Penciptanya. Allah SWT bahkan menyebutkan itu dalam kitab suci Al-Qur'an."
"Gue nggak biasa dengan gaya hidup lho yang religius itu. Kehidupan gue ya.. seperti ini. Menikmatinya dengan melakukan apa yang gue inginkan. Tidak suka diatur-atur."
"Allah menciptakan kita itu mempunyai tujuan, Ardian." Chayra mengeratkan giginya. Lama-lama kesal juga dengan Ardian yang sangat sulit untuk bisa diajak kompromi."
"Tapi kita mempunyai hak dalam menentukan tujuan hidup, kan? Itulah mengapa gue mengajak lho untuk bersahabat, biar gue bisa bekerja sama dengan lho."
"Maaf, pikiran kita tidak sejalan. Jika anda ingin berteman karena anda ingin berubah. Saya akan berusaha untuk menjadi teman yang baik untuk anda. Tapi sebaliknya, jika anda ingin berteman dengan saya karena ingin memanfaatkan saya. Sekali lagi, maaf. Saya tidak bisa melakukan itu."
Ardian terdiam menatap wanita di depannya. Beberapa bulan tinggal serumah dengan Chayra membuatnya perlahan-lahan bisa memahami sifat dan kebiasaan wanita itu. Chayra yang keras kepala dan sulit untuk diajak bekerja sama.
"So, what will i do now? I need that.."
Chayra tersenyum sinis. "Think by your self, ok.." Beranjak meninggalkan meja belajarnya. Tidur di kasur lantai yang sudah dia gelar di samping ranjang king size milik Ardian. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa memperdulikan pria gila s**s itu.
Ardian duduk di sisi ranjangnya. Mengacak-acak rambutnya yang sudah gondrong karena malas bercukur. Ia melirik Chayra. "Izinkan gue melakukan itu pada lho kalau begitu."
Chayra tersentak mendengar ucapan Ardian. Menarik nafas panjang mencoba menetralkan pikirannya yang mulai keruh. "Lakukanlah, jika anda merasa pantas melakukan itu pada saya." Jawab Chayra dari balik selimut. Suaranya sedikit bergetar.
__ADS_1
"Maksud lho?"
"Apa anda tau kewajiban anda sebelum dan sesudah melakukan itu?"
"Kewajiban apa?
Chayra mendengus. "Anda bisa memikirkan hal itu. Gunakan otak anda. Jangan bertanya lagi karena saya mau istirahat. Selamat malam, assalamualaikum.."
"Kalau orang bilang assalamualaikum, kita harus jawab dengan apa sih? malu gue lama-lama. Setiap Ibu nelpon gue, gue nggak pernah menjawab salamnya. Gue bukannya gengsi menjawabnya. Tapi gue nggak tau harus menjawabnya dengan apa."
Chayra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ternyata ibunya selama ini sering menghubungi pria itu tanpa sepengetahuannya.
"Sebodoh itukah anda jika itu menyangkut urusan agama?" Tanyanya lagi. Benar-benar semakin bingung dengan Ardian yang seperti orang yang buta agama.
"Gue sudah jelaskan dari awal. Lho nggak usah kaget dengan semua kebodohan gue. Jika lho menanyakan apapun itu, jika itu menyangkut soal agama. Seperti yang lho bilang tadi, maaf, kita tak sejalan."
"Lalu kenapa anda mengajak saya berteman, kalau anda tidak berniat untuk hidup sejalan dengan saya?"
"Gue hanya mau berdamai dengan keadaan."
"Kita tidak akan bisa sejalan kalau anda seperti ini terus. Saya tidak mau selamanya hidup seperti ini bersama anda."
"Lalu mau lho apa sekarang?"
"Lho mau pisah dengan gue, itu maksud lho?"
"Mudah-mudahan saya bisa bertahan."
Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kembali mengacak-acak rambut gondrongnya. "Untuk apa gue berubah sekarang. Gue sudah terlalu tersesat. Mau tobat juga belum tentu diterima. Malaikat yang baik udah menghindar dari kehidupan gue."
Chayra bangkit, menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. "Tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai di kerongkongan. Jika memang anda ada niat untuk berubah, mari kita saling membimbing."
"Gue bingung."
"Sebenarnya mau anda apa?"
"Gue butuh ketenangan."
"Anda akan mendapatkan ketenangan itu, jika anda benar-benar berniat untuk berubah."
Ardian terdiam. Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya nyut-nyutan karena pusing. "Gue nggak bisa kalau tidak minum."
__ADS_1
"Minum air putih. Air putih masih banyak."
Ardian berdecak. "Lho nggak pernah merasakan seperti yang gue rasakan. Gue nggak biasa hidup dengan peraturan. Gue terbiasa hidup mandiri. Tidak ada kata peraturan dalam hidup gue."
"Jika anda ingin berubah, anda harus bersiap dengan aturan."
Ardian menarik nafas panjang. "Ok.." Ardian bangkit, duduk bersila menghadap Chayra. "Kalau begitu, ajari gue shalat. Gue akan mencoba untuk berubah. Seperti kata lho, semua bisa gue lakukan sebelum nyawa sampai di kerongkongan."
Chayra melongo sepersekian detik. Senyumnya tiba-tiba mengembang setelah sadar. "Insya Allah, saya siap menjadi teman anda jika itu yang akan terjadi.
********
Ardian terduduk lemah di balik kemudi. Dia benar-benar galau malam ini. Mengadakan kesepakatan dengan Chayra untuk berubah membuatnya harus bisa melupakan kebiasaannya.
"Ayo turun. Kenapa anda masih terduduk di sana?"
Malam ini, Chayra meminta Ardian untuk mengantarnya ke supermarket untuk membeli cemilan atau apapun itu yang akan bisa mengalihkan perhatian pria itu dari minuman keras.
"Gue merasa aneh malam ini."
"Anda merasa aneh karena anda akan melupakan kebiasaan lama anda."
"Haruskah gue seperti itu?"
"Anda bilang, anda akan mendapatkan warisan dari Papi jika anda sudah bisa bersikap dewasa. Apakah menghambur-hamburkan uang orang tua untuk hal yang tidak penting, anda sudah bisa dikatakan dewasa?"
"Iya, iya, iya. Tapi, gue juga mau meminta sesuatu sama lho."
"Apa itu?"
"Bisa nggak, lho ngomong biasa-biasa aja sama gue. Tidak usah pakai bahasa formal gitu. Pakai kata saya anda membuat gue tidak nyaman ngomong dengan lho."
Chayra tersenyum samar. "Maaf, saya tidak sedekat itu dengan anda. Saya akan berusaha perlahan-lahan. Tapi, jangan menuntut saya untuk berubah otomatis. Melihat anda saya masih bisa bersikap normal saja sudah alhamdulilah banget."
"Maksud lho?"
"Anda kira saya baik-baik saja ketika berhadapan dengan anda? Saya tidak semudah itu berinteraksi dengan orang yang telah menciptakan luka pada diri saya. Hati ini sakit saat melihat anda bisa tertawa setelah menaburkan luka yang tidak akan bisa hilang, bahkan mungkin sampai akhir hayat saya.
Ardian terdiam. Mengusap wajahnya seraya menarik nafas dalam.
"Tubuh saya pasti bergetar saat melihat anda. Bersyukur, saya bisa bicara dengan normal dan tidak hilang kendali. Itulah mengapa saya lebih banyak menghindari anda. Saya takut, luka lama itu akan membuat saya seperti orang gila lagi."
__ADS_1
Ardian menghela nafas berat. "Maafin gue.." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tidak tau sedalam apa penderitaan yang dialami wanita itu setelah dia menodainya waktu itu.
*******