
Chayra menatap tajam suaminya. Ardian sudah minta maaf berulang kali, tetapi sang istri belum turun level tekanan darahnya. Sudah dua hari mereka menempati ruangan VIP yang dipesankan Pak Randi untuknya. Ardian belum diperbolehkan pulang karena asam lambungnya masih sering naik gara-gara sambal balado level setan yang dia makan tempo hari.
"Intinya aku tetap belum bisa memaafkan kamu, Mas. Ngapain coba nekat gitu. Kamu sadar nggak, Mas... aku dan Adzra membutuhkan kamu." Chayra memejamkan matanya, tak terasa air matanya jatuh menimpa tangan suaminya. Ia mengusapnya perlahan, namun matanya seperti tidak bisa diajak kompromi karena air matanya terus mengalir. Siang itu mereka hanya berdua di dalam ruangan karena setiap orang memiliki kesibukan masing-masing.
Ardian memperbaiki posisi duduknya yang bersandar beralaskan bantal di punggungnya. "Ssstttt... kamu ngomong apa sih." Ardian meraih wajah istrinya. Mengusap air matanya dengan lembut. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak berpikir panjang dan mengutamakan gengsi saja."
"Aku mohon jangan ulangi lagi."
"Iya..."
Chayra menghela nafas berat. "Aku juga tidak keberatan kalaupun wanita itu yang menjadi Asisten kamu. Semua tergantung pada kamu, Mas. Kalau memang mata kamu mata keranjang, kamu tidak akan pernah merasa puas dengan istri kamu." Chayra berkata sambil mengalihkan pandangannya.
Ardian menunduk merenungi ucapan istrinya. "Insya Allah, aku bisa menjaga hati dan mataku." Kembali mengangkat wajahnya seraya menyentuh wajah istrinya. "Sejauh ini, aku tidak pernah berniat macam-macam, Sayang. Hanya bayangan kamu yang menari-nari di pelupuk mataku kalau kita tidak sedang bersama." Ardian mengusap-usap pipi istrinya. "Jangan sedih lagi ya.."
"Aku nggak sedih, Mas.." Chayra melirik suaminya kesal.
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Aku hanya kesel sama kamu. Bisa-bisanya gara-gara masalah sepele seperti itu kamu sampai nekat makan makanan yang sudah jelas tidak boleh kamu makan. Sekarang lambungnya masih perih nggak?"
"Kayaknya udah baikan sekarang. Aku tidak pernah muntah lagi kan kayak kemarin."
"Tadi pagi kan kamu muntah."
"Tapi tidak pernah lagi. Nanti kalau Dokternya visit lagi, aku akan bilang kalau aku sudah merasa baik-baik saja."
"Sekarang kamu istirahat dulu ya.. aku mau pulang memberi Adzra ASI. Nanti Bian yang akan datang menemani kamu disini. Papi dan Mami juga mau datang katanya."
"Iya, aku sudah bicara dengan mereka. Aku hanya takut kena omelan Mami nanti Sayang."
"Berani berbuat berani bertanggung jawab, Mas. Papi juga pasti sudah tau dari Pak Dodit atau Pak siapa itu namanya."
"Pak Randi, itu atasan aku. Iya sudah kamu pulang dulu sana, kasihan Adzra nanti.."
"Makanya kamu cepat sembuh, Mas. Kak Zidane mau pulang nanti malam. Otomatis Alesha akan pulang nanti. Kan kasihan Adzra kalau harus dibawa Ibu. Kalau saja dia dizinkan masuk ke sini, aku lebih baik membawanya biar tidak capek bolak-balik."
"Kita tunggu keputusan Dokter nanti."
Chayra mengangguk seraya meraih tangan suaminya untuk salim. Tidak lupa Ardian mendaratkan satu ciuman sayang di dahi istrinya sebelum Chayra keluar dari ruangannya.
*********
__ADS_1
Satu minggu sudah Ardian pulang dari Rumah Sakit. Sudah empat hari ini juga dia mencoba berangkat ke Kantor. Walaupun pekerjaannya menumpuk, tetapi dia bekerja dengan cara mencicil semampunya dulu. Pak Randi tidak berani terlalu memaksa karena bagiamana pun juga Ardian masuk Rumah Sakit karena keisengannya.
"Ardian, Pak Randi memintakku menanyakan apakah investor sudah menentukan pabrik yang akan mereka pilih?" Dodit masuk tanpa mengetuk pintu. Hal itu membuat Ardian hanya menghela nafas. Dodit selalu seperti itu orangnya.
"Oh iya aku lupa, mereka memilih pabrik kedua yang di kota B. Katanya Pabrik itu terlihat lebih memadai jika dibandingkan dengan Pabrik A."
"Ok.. nanti kamu ke ruangan Pak Randi sebentar. Beliau ingin membahasnya dengan kamu."
"Saya akan kesana setelah menyelesaikan yang ini."
"Mm.. Pak Randi juga baru selesai rapat. Beliau sedang ada tamu juga. Kamu ke ruangannya habis makan siang nanti."
"Siiip... Bos."
Dodit berlalu, tetapi ia kembali lagi saat baru melangkah beberapa langkah. "Eh, bagaimana dengan Asisten baru kamu, cukup membantu atau bagaimana?"
"Ya.. alhamdulilah.. tapi itu saja yang membuat aku kurang nyaman. Saat harus duduk berhadapan dengan dia dengan pakaiannya yang seperti itu."
"Lama-lama juga kamu akan terbiasa."
"Iya..."
Dodit kembali berlalu.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Ardian membereskan semua pekerjaannya. Menutup komputer sebelum meninggalkan ruangannya untuk makan siang. Saat akan beranjak keluar, ia urungkan ketika melihat Anita berada di depan pintu. Wanita itu selalu saja menunggunya untuk makan siang. Ardian akhirnya meriah handphonenya. Menghubungi istrinya terlebih dahulu mungkin bisa ia gunakan sebagai alasan agar wanita itu turun ke Kafe duluan. Sengaja bersuara keras agar Anita mendengarnya.
"Assalamualaikum, Sayang.. hai Boy, udah mimik belum.." Ardian melambai-lambaikan tangannya di depan layar handphone saat melihat wajah gembul Adzra yang tersenyum disana.
Anita masuk sambil menunduk sopan. "Maaf mengganggu, Pak. Waktunya untuk makan siang."
Ardian terpaksa mengalihkan pandangannya. "Kamu turun saja duluan. Aku akan makan disini karena aku membawa bekal."
"Oh, baik Pak. Kalau begitu saya duluan."
"Mas.. kamu kan tidak bawa bekal. Kenapa tidak turun untuk makan siang?" Chayra protes mendengar ucapan suaminya.
"Aku hanya nggak nyaman kalau harus duduk semeja dengan dia, Chay. Nggak apa-apa, aku akan turun makan siang setelah puas melihat wajah kalian."
"Tapi nanti keburu habis jam makannya."
"Masih lama, Chay. Aku kembali bekerja jam satu nanti. Sambilan ke Kafe, aku bisa langsung ke Musholla untuk shalat Zuhur."
__ADS_1
"Terserah kamu, intinya jangan sampai terlewat makan siangnya."
"Iya, Sayang.. kalian lagi apa?"
"Ini kan, lagi ajak Adzra main. Dia semakin aktif sekarang, Mas."
"Bagus dong kalau begitu. Itu tandanya dia sehat dan kuat."
"Kamu makan dulu sana, Mas. Kalau masih ada waktu, nanti kamu hubungi aku lagi."
"Ntar dulu, aku mau melihat si Anita."
"Kan tadi katanya udah turun."
"Dia sering nikung aku. Sssttt... jangan berisik." Jawab Ardian dengan sedikit berbisik. Saat ia menongolkan kepalanya, terlihat Anita sedang duduk di sofa depan ruangannya dengan pandangan mata fokus pada benda gepeng di tangannya. Ardian melengos seraya masuk kembali ke dalam ruangannya. Menutup pintu perlahan dan menguncinya dari dalam.
"Bagiamana, Mas?" Tanya Chayra saat melihat wajah suaminya kembali nongol di depan layar.
"Dia masih duduk di depan. Aku delivery aja ya makan siangnya."
"Maksudnya?"
"Aku minta Cleaning Servis untuk mengantarkan ke ruangan aku."
"Terserah kamu yang penting kamu makan siang."
"Aku mau menelepon Cleaning Servisnya dulu. Nanti aku hubungi saat makanannya sudah sampai, biar kamu bisa menemani aku makan." Ardian menutup sambungan telepon saat melihat anggukan kepala istrinya.
Ardian membuang nafas kasar. Kenapa sih, Anita selalu saja menunggunya untuk makan siang walaupun dia beralasan akan makan di dalam ruangan. Ada untungnya dia menyimpan nomor Cleaning Servis yang selalu membersihkan lantai lima. Jadi kalau dia ada keperluan, dengan senang hati CS itu akan membantunya.
Hanya lima belas menit, CS yang diminta Ardian untuk mengantarkan makanan sampai di lantai lima. Anita yang masih duduk di sofa mengangkat wajahnya saat CS itu mengetuk pintu ruangan Ardian.
"Eh, itu makanan untuk siapa?" Anita langsung bangkit dan memperhatikan kotak makanan.
"Ini untuk Pak Ardian, Bu. Tadi beliau meminta saya untuk mengantarkan ke dalam ruangannya."
Anita menautkan alisnya. Barusan Ardian berkata berbeda saat dirinya mengajak pria itu untuk makan.
"Biar saya yang yang antar ke dalam."
"Mm... tapi, Bu..."
__ADS_1
Anita meraih kotak makanan dengan paksa. "Sudah kamu pergi sana.." mengusir dengan isyarat tangannya.
Cleaning Servis itu akhirnya berlalu. Dalam hatinya dia mengumpat kesal. Makanan itu belum di bayar Ardian. Biasanya, saat dia mengantarkan makanan, Ardian selalu memberikan uang lebih. Tapi, kalau begini ceritanya, jangankan uang lebih. Untuk bayar pun, sepertinya uangnya yang dia pakai tadi tidak akan kembali lagi.