
Husein tertawa kecil beberapa kali menertawakan kebodohannya. Kate yang duduk menemaninya hanya bisa menelan ludahnya melihat pria itu. Dia terlihat seperti laki-laki bodoh yang kena tipu.
"Anda masih mau disini? Ini sudah jam sembilan malam, Pak. Bagaimana kalau istri anda mencari keberadaan anda."
"Aku masih betah disini. Aku hanya ingin mengetahui wanita yang aku nikahi selama ini."
"Lebih baik anda tidak tau, Pak."
"Saya ingin tau semuanya. Tadi pagi, saya tau banyak tentang dia dari Alesha dan Tina. Satu lagi, dari temannya yang anggun yang memakai cadar itu. Sungguh menenangkan hati menatap wanita itu." Husein tersenyum membayangkan wajah Chayra.
"Saya tidak punya cerita apa-apa tentang istrinya Pak Husein." Kate mencoba mengelak.
"Jangan panggil saya Bapak. Saya hanya beda setahun atau dua tahun dari kamu. Panggil Husein saja itu terdengar lebih santai dan tidak formal."
"Tapi..."
"Nggak apa-apa.. aku hanya butuh cerita dari kamu. Aku akan memberikan kamu uang kalau kamu mau menceritakan apa yang sering dilakukan wanita itu selama ini."
"Aku... aku tidak tau banyak tentang dia, Pak.. eh." Kate menutup mulutnya. Ternyata lidahnya masih kaku untuk bicara santai dengan Husein.
"Lho butuh uang kan?" Akhirnya Husein mencoba untuk bicara lebih santai. Memancing dengan uang mungkin bisa membuat pria itu membuka mulut.
Kate tersenyum sinis. "Siapa sih yang nggak butuh uang. Anda juga mencari uang karena anda membutuhkannya, kan? Jangan menghambur-hamburkan uang anda untuk mencari tau tentang Amira. Dia sudah menjadi milik anda. Seharusnya anda bisa mendidiknya dan mengajaknya untuk melangkah ke depan."
"Tapi masalahnya... hmmm.." Husein membuang nafas kasar. Kate ternyata tidak semudah itu dipancing. "Aku butuh bukti yang kuat untuk lebih mengikat dia lagi. Dia terlalu bebas saat ini dan... aku tidak tau bagaimana harus mencegahnya. Aku takut membuatnya menangis."
"Hah," Kate hampir tertawa mendengar pengakuan Husein. "Kenapa harus takut membuatnya menangis? Jika seperti itu keadaannya, pantaslah Amira tidak menghormati anda sebagai suaminya." Kate akhirnya membuka sedikit tentang Amira pada Husein. Ternyata pria itu mendengarnya dengan seksama sampai mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Kate.
"Sekarang sebaiknya anda pulang dan istirahat. Lakukan seperti yang aku katakan tadi. Semoga sukses.." Kate menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Husein yang langsung disambut hangat oleh pria itu.
Sampai rumah, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Melihat Amira masih duduk di ruang tamu, Husien akhirnya mengucap salam.
"Assalamualaikum.." ucapnya tanpa menatap Amira. Ia langsung berjalan menuju kamar tamu yang dipakainya tidur dua malam terakhir ini.
"Kamu dari mana saja, Mas. Ini sudah jam sebelas malam dan kamu baru kembali." Amira langsung memberondong pertanyaan pada suaminya seraya mengikuti langkah Husein dari belakang.
Husein mendengus, menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Jawab salam dulu. Kamu itu kebiasaan nggak pernah jawab salam. Kamu tau kan, menjawab salam itu hukumnya wajib."
Amira memutar bola matanya kesal. "Jangan suka mengalihkan pembicaraan deh. Aku tanya Mas Husein dari mana, kenapa malah nyeramahin aku?"
__ADS_1
Husein berbalik seraya tersenyum getir. "Aku mengucap salam bertujuan agar mendapatkan jawaban salam itu dari kamu. Itu hukumnya wajib. Jika kamu saja melalaikan yang wajib, apa aku berkewajiban menjawab pertanyaan kamu yang aku mau jawab atau tidak." Husein melanjutkan langkahnya kembali.
Amira berdecak seraya mengikuti Husein kembali. Menahan pintu yang hampir saja ditutup oleh Husein.
"Ngapain kamu ngikutin aku masuk kesini. Aku mau istirahat, capek." Husein membuka sepatunya dan melemparnya ke pojok kamar.
"Mas Husein darimana?!"
Husein langsung menatap tajam pada istrinya. Ia akhirnya bangkit seraya berjalan mendekati Amira. "Aku mau kemanapun itu bukan urusan kamu. Aku berjalan pakai kaki aku, bukan kaki kamu. Aku mau berfoya-foya, itu pun pakai uang aku, bukan yang kamu."
Amira melotot mendengar jawaban suaminya. "Aku semakin kesini semakin bingung deh, dengan sikap Mas Husein."
Husein tersenyum sinis. "Apa aku tidak salah dengar? Yang seharusnya bingung itu aku, Amira. Aku menikah dengan wanita yang memiliki pribadi yang berbeda-beda setiap saat. Aku menikah dengan wanita plin-plan, aku menikah dengan wanita yang gagal move on."
Amira melengos. "Siapa sih yang mudah melupakan masa lalu, apalagi itu masa lalu dengan orang yang sangat aku cintai."
Giliran Husein yang melengos. Menoyor kepala istrinya dengan keras. Hal itu membuat Amira sampai mundur beberapa langkah. "Dasar wanita bodoh. Mengejarnya tidak akan membuat dia kembali pada kamu. Dia sudah cinta mati sama istrinya. Benarlah apa yang dia katakan kemarin. Dia itu bukan orang gila yang akan menukar bidadari surga dengan batu sungai seperti kamu." Husein merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Baginya, kamu itu seperti wanita murahan yang mengejar-ngejar dia." Husein kembali bangkit. "Jangan terlalu berharap karena bisa jadi harapan itu akan membuatmu semakin sakit."
"Sok tau lho." Amira menjawab dengan kesal. Kenapa dadanya terasa ngilu saat mendengar dirinya disebut batu sungai.
"Jangan terlalu lama membuatku menunggu karena bisa jadi hari ini adalah batas kesabaranku untuk mengikuti semua permainanmu. Keluarlah, aku mau istirahat. Jangan ganggu aku lagi."
Husien hanya melirik. Terdengar tarikan nafas panjang darinya. Dia kembali mengingat kata-kata Kate tadi. Harus berani tegas agar tidak terus-menerus diperalat. "Bukan aku yang mengatakan itu, tapi Ardian." Ucaonay dengan suara berat. Mengikut sertakan nama pria itu dalam perdebatan mungkin bisa membuka mata hati istrinya. "Ucapannya itu memang ada benarnya. Istrinya cantik dan Sholehah. Istiqomah lagi.. kayaknya dia akan benar-benar menjadi orang gila jika dia menukarnya dengan wanita bar-bar seperti kamu."
"Mas...." air mata Amira langsung tumpah.
Husein kembali menarik nafas dalam. "Jika aku menjadi Ardian, aku pun tidak akan melakukan itu. Allah sudah menghadiahkan istri yang luar biasa kepadaku. Dan aku harus mensyukuri itu. Dan jika aku menjadi kamu, aku tidak akan menghabiskan waktu untuk mengejar yang bukan menjadi hakku. Untuk apa aku berusaha menggapai yang tidak mungkin aku gapai. Aku tidak akan sebodoh itu, menghabiskan banyak uang hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Mungkin jika aku jadi kamu, aku akan berusaha memperbaiki akhlak ku. Agar teman-temanku melihatku kembali dan memaafkan semua kesalahanku."
Amira menghentakkan kakinya sambil mengusap air mata yang terus mengalir. Berlari keluar dari kamar itu lalu membanting pintu dengan kasar. Dia kira Husein akan luluh ketika melihat air matanya. Ternyata perkiraannya salah dan meleset jauh.
***********
"Eh, kita kenapa sampai banyak gini jumlahnya?" Tina menghitung penumpang
minibus milik Santi yang mereka naiki.
"Mau pergi ke Dokter Kandungan kayak orang mau pergi demo. Gkgkgk.." Tina cekikikan sambil terus menghitung.
"Kita kan sekalian mau ke Mall, Nak. Timpal Renata yang tersenyum sendiri mendengar ucapan Tina. "Katanya mau ikut belanja untuk Adek bayinya."
__ADS_1
"Hehehe.. iya sih, Mi. Tapi, aku merasa lucu aja gitu.."
"Berisik ih, sini Chay.. duduknya nyandar di aku. Jangan terlalu dekat sama Tina. Nanti kamu ketularan somplak kayak dia."
"Ew.. segitu amat sama Bini. Gue gini-gini tapi bermanfaat banyak untuk Ayra." Tina melengos sambil menyandarkan tubuhnya.
Sisa perjalanan hanya diisi keheningan. Hanya sesekali terdengar suara Ardian menegur istrinya yang tidak mengubah posisi duduk.
Sampai di Klinik, gerombolan Chayra yang keluar dari minibus mengundang perhatian banyak orang.
Ardian langsung menghampiri Dodit yang terlihat sedang menunggunya di pojok ruang tunggu. "Udah di panggil, Dit?"
Dodit melirik ke arah pintu masuk. Melihat Pak Sucipto dan Bu Renata, ia menunduk sambil tersenyum. "Belum, Pak. Tinggal nunggu satu lagi. Habis yang di dalam, satu lagi baru kita di panggil."
Ardian mengernyit mendengar Dodit bicara formal di tempat umum. Oh, ternyata ada salah satu Pak Komisaris yang ikut serta, pantesan.. Ardian akhirnya hanya mengangguk.
"Silahkan, duduk di sini, Pak. Saya akan mencari tempat duduk lain."
"Tidak usah, Dit. Kamu bisa pulang sekarang. Maaf merepotkan kamu."
"Tidak apa-apa, Pak. Itu sudah menjadi kewajiban saya." Dodit sedikit membungkukkan badannya sambil berlalu dari hadapan Ardian. Pas berpapasan dengan Pak Sucipto dia terlihat menyimak ucapan orang tua itu dengan penuh hormat.
Ardian tersenyum melihat pemandangan itu. Benar-benar pemandangan yang sangat indah di pandang mata. Dia saja yang anak Pak Sucipto tidak pernah bicara sebegitu sopan pada orang tuanya.
Lamunannya buyar saat mendengar nama pasien berikutnya di sebut. Itu berarti setelah ini giliran istrinya. Dia menarik tangan Chayra agar duduk di tempat yang lebih dekat. Alesha dan Tina ikut mendekat.
"Lho berdua ngapain ikut kemari?" Ardian menggeser tubuhnya melihat Alesha dan Tina duduk berdesakan.
"Mau ikut periksa adik bayi lah. Masa mau buntutin lho sih, kayak nggak ada kerjaan aja."
"Kalian tidak akan dizinkan masuk. Hanya suami yang boleh menemani istrinya masuk ke dalam ruangan. Yang boleh masuk cuma dua orang."
"Banyak alasan lho. Kemarin-kemarin juga Ibu yang menemani Ayra kalau lho lagi sibuk kerja."
"Kalian bisa tanya pada perawat itu kalau tidak percaya sama gue." Ardian menunjuk ke arah perawat yang sedang berdiri memegang handle pintu.
Alesha dan Tina saling pandang. Saling mengisyaratkan agar mereka bertanya.
*********
__ADS_1