Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Awal perubahan


__ADS_3

Chayra terduduk lemah setelah Ardian pergi. Matanya memanas dan air mata tiba-tiba saja mengalir dengan deras. Perlahan, dia mulai mengerti dengan maksud ucapan Ardian tadi.


"Aku tidak bisa melakukan itu untuknya." Ucapnya lirih. "Aku tidak pernah berharap untuk menjalani rumah tangga seperti pasangan lainnya. Aku hanya ingin dia berubah. Aku akan mengembalikannya pada Amira kalau dia sudah berubah. Aku tidak apa menjadi janda ya Allah. Aku hanya ingin, dia memantaskan diri sebelum bersanding dengan sahabatku."


Ardian yang berdiri dibalik pintu terkejut mendengar ucapan Chayra. Lebih mendekatkan telinganya. Mungkin saja gadis itu akan mengucapkan kata-kata yang lain.


"Tolong hamba ya Allah. Kuatkan hamba menghadapinya. Tingkatkan kesabaran hamba ya Allah..."


Ardian tidak bisa berkedip. Mungkinkah semua yang dikatakan gadis itu benar. Andaikan dia duduk di sofa depan kamarnya dan tidak memilih memilih berdiri disana. Dia tidak akan pernah tau tujuan Chayra memintanya untuk menikah dengannya.


Ardian mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya. Rasa bersalah tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya. Wanita yang dia sangka ingin merenggut kebahagiaan sahabatnya sendiri, malah dia yang paling mendukung dan menginginkan perubahan dalam dirinya.


Baru akan mulai balas dendam, dia malah tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tidak akan tega melanjutkan misinya jika benar itu tujuan Chayra menikah dengannya. Ia menarik nafas dalam, meninggalkan depan kamar itu.


Ardian berjalan pelan mendekati taman depan rumahnya. Untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di taman itu. Walaupun tempat itu sangat nyaman dipakai saat perasaan tidak tenang. Namun, Ardian akan memilih ke tempat hiburan malam daripada harus duduk menyendiri disana.


"Apakah gue salah selama ini memperlakukan gadis itu dengan perlakuan yang tidak baik?" mengusap wajahnya kasar. "Lalu gue harus bagaimana sekarang? Apakah gue harus berubah dan bersikap baik padanya?" Ardian bangkit, mengambil sebongkah tanah dan melemparnya ke sembarang arah. "Gue benci sama dia.. gue benci...!" Berteriak sekeras-kerasnya.


"Untuk apa gue berubah kalau gue nyaman dengan keadaan gue yang sekarang.." ucapnya pelan. "Untuk apa lho mengorbankan hidup lho hanya untuk membuat Ardian Baskara berubah." Ardian tersenyum sinis. Bingung dengan jalan pikiran Chayra.


Suara adzan dari Masjid dekat rumahnya membuat Ardian tersadar kembali. Kembali masuk ke dalam rumah dengan sedikit bergegas. Jangan sampai Papi dan Maminya bangun sebelum dia berada di dalam kamar.


********


Setelah kejadian pagi itu, Ardian dan Chayra saling mendiamkan selama beberapa hari. Untuk sekedar saling bertanya pun mereka tidak pernah melakukan itu.


Malam itu, Ardian kembali pergi ke tempat hiburan malam. Chayra hanya diam saat melihat pria itu bersiap. Enggan bertanya dan juga tidak mau ikut campur lagi. Sudah cukup pria itu menyakitinya waktu itu.


Malam itu terasa berbeda. Pikiran Ardian dipenuhi ucapan Chayra tiga hari yang lalu. Dia hanya duduk ditemani segelas minuman beralkohol. Namun, dia tidak berniat untuk meminum minuman memabukkan itu. Matanya hanya menatap gelas itu seperti orang kebingungan.


"Hei, Bro!"


Tepukan keras di pundaknya membuat Ardian tersentak.


"Hei, Kate."


Kate adalah teman dekat Ardian. Teman sejak ia duduk di bangku SMP. Teman yang juga selalu bersamanya ke tempat ini.


"Udah lama datang?"


"Barusan.. ini sudah jam berapa ya..?" Tanya Ardian malas.


"Ngapain tanya-tanya jam. Memangnya lho mau pulang?"


"Nggak tau juga. Gue sedang nggak enak badan."


Kate langsung menempelkan tangannya di dahi Ardian. "Lho jangan bohong. Suhu tubuh lho normal kok. Lho lagi ada masalah kayaknya."


"Nggak ada apa-apa. Gue cuma merasa pusing." Ardian langsung mengelak.


"Lho lagi minum, bagaimana mungkin lho tidak akan pusing."


"Gue belum meminumnya, Kate."


"Lalu..?"

__ADS_1


Ardian terdiam. Tangannya mempermainkan gelas di depannya.


"Lho pasti lagi ada masalah kan? Cerita sama gue, Bro. Sejak kapan lho suka main rahasia-rahasiaan kayak gini. Apa lho lagi ada masalah dengan Amira?"


Ardian menggeleng. Bersahabat lama dengan Kate membuatnya tidak bisa menyembunyikan banyak hal dari pria itu. Kate selalu memberikan solusi dari berbagai masalah yang pernah dihadapinya. Kecuali tentang pernikahannya dengan Chayra. Sampai sekarang, ia masih mengunci rapat berita itu. Tidak ada satu pun temannya yang tau tentang pernikahannya.


Jika dia menceritakan masalah ini. Maka semua rahasianya yang lain akan terbongkar. Kate pasti akan menanyakan sampai ke titik terdalam.


"Cerita sama gue, Ar. Gue ini sahabat lho sejak kita masih duduk di bangku SMP. Masa sih, lho nggak mau berbagi suka duka dengan gue."


"Bukan begitu, Kate. Ini masalahnya berbeda. Gue nggak bisa menceritakan ini sama lho."


"Tumben lho ngomong seperti ini. Lho cerita aja. Siapa tau gue bisa bantu."


Ardian kembali menggeleng. Dia masih memikirkan dampaknya jika dia bercerita pada Kate.


"Lho cerita sama gue. Janji deh, gue nggak akan cerita ke teman-teman yang lain. Apalagi kalau ini masalah Papi dan Mami lho."


Ardian menatap Kate. " Gue nggak bisa, Kate.."


"Gue harus tau, Ar. Gue tidak pernah main rahasia-rahasiaan dengan lho. Kok lho sekarang tiba-tiba seperti ini?"


"Rahasia ini terlalu besar."


"Sebesar apapun masalah lho. Gue harus tau, agar gue bisa bantu lho menghadapinya."


Ardian menarik nafas panjang. Menatap Kate dengan ragu. Hanya diam lalu menundukkan kepalanya.


"Gue akan kecewa kalau lho nggak mau lagi berbagi dengan gue. Atau mungkin lho udah bosan bersahabat dengan gue." Ucap Kate lagi


"Lho kok ngomong gitu, Kate. Mana mungkin gue bisa berpisah dengan lho. Lho adalah sahabat terbaik gue selama ini."


Ardian menghela nafas berat. "Gue udah nikah, Kate."


"What...?!" Kate terkejut. Tangannya sampai menjatuhkan gelas yang belum sempat ia cicipi isinya. "Why you not invite me, Ardian?"


"Maaf karena gue merahasiakan semua ini."


"Lho menikah dengan si Amira?"


Ardian menggeleng. "Bukan Amira. Tapi gue menikah dengan sahabatnya Amira."


Kate melongo, "bagaiman bisa seperti itu?"


Ardian menarik nafas panjang. Ia akhirnya menceritakan secara mendetail pada Kate. Dari awal dia menculik Chayra, menodai gadis itu dan sampai akhirnya Chayra memintanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Lho udah dua bulan menikahinya, tapi lho tidak bisa menikmati tubuhnya?"


Ardian mengangguk. "Gue benci gadis itu, Kate."


"Tapi dia sudah menjadi istri lho, Ar."


"Kemarin gue bertengkar lagi sama dia. Lho tau gara-gara apa?"


"Apa..?"

__ADS_1


"Dia menolak untuk berbohong."


"What..?!"


"Iya, dia menolak ketika gue memintanya untuk berbohong pada Papi dan Mami. Gue sampai membentak dia dan menghempaskan tubuhnya sampai terpental. Tapi, setelah itu gue malah menyesal."


"Why..."


"Gue mendengar dia mengucapkan sesuatu."


"What is that?"


Ardian kembali menarik nafas panjang. "Dia bilang, tujuannya menikah dengan gue adalah.. Dia ingin melihat gue berubah menjadi pria yang lebih baik. Agar nanti saat berpisah dengannya, gue bisa kembali pada Amira. Dan waktu itu, gue sudah berubah dan bisa menjadi suami yang baik untuk Amira."


Kate tertegun mendengar cerita Ardian.


"Lho nggak percaya kan, kalau istri gue bilang gitu?"


Kate langsung menggeleng.


Ardian tersenyum. "Itulah yang membuat gue bingung dan memikirkan kata-katanya itu. Gue bingung bagaimana harus bersikap padanya."


"Jangan sakiti dia."


Ardian menautkan alisnya mendengar ucapan Kate.


"Perlakukan dia dengan baik. Dan satu lagi, Ar."


"Mmm ..."


"Gue ingin bertemu dengannya."


*******


Setelah mengutarakan keinginannya untuk pindah kuliah pada kedua mertuanya beberapa hari yang lalu. Chayra sibuk mengurus berkas kepindahannya. Andaikan dia mau mengulang dari semester awal, dia tidak akan sesibuk ini.


Hari ini, setelah melewati bermacam-macam produser. Chayra akhirnya resmi menjadi Mahasiswa di Universitas xxx tempat teman-temannya yang lain kuliah.


"Lho mau diantar gue atau mau bawa kendaraan sendiri?" Ardian tiba-tiba bertanya saat sedang sarapan.


Chayra yang sedang fokus sarapan gelagapan dan tersedak mendengar pertanyaan Ardian. Untuk pertama kalinya pria itu menawarkan diri mengantarkannya. Biasanya Ardian selalu terpaksa mengantarnya karena permintaan orang tuanya.


"Minum, minum.. lho kenapa nggak hati-hati sih..?!" Ucap Ardian menyerahkan segelas air putih ke hadapan Chayra.


Bukannya mengambil air yang disodorkan Ardian, Chayra malah bengong. Bukan hanya Chayra, Sucipto dan Renata pun bengong.


"Hei, minum. Kenapa lho malah bengong sih?!"


"Ehheheh, iya, iya.. saya minum airnya." Chayra menyambar gelas, tidak lupa melafadzkan bismillah sebelum meneguk isinya. Menundukkan kepalanya, melanjutkan sarapan yang tadi terhenti karena tersedak.


"Gue mau bertanya sekali lagi, lho mau diantar atau bawa mobil sendiri? Inikan hari pertama lho kuliah di Kampus tempat gue juga pernah kuliah."


"Tidak usah repot-repot. Saya bisa pergi sendiri." Jawab Chayra tanpa mengangkat kepalanya.


"Antar saja istrimu, Ardian. Itu sudah menjadi kewajiban kamu sebagai suami." Ucap Pak Sucipto. "Jangan bertanya seperti itu lagi. Istri kamu itu orangnya pemalu. Kalau kamu bertanya seperti tadi. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah bilang iya."

__ADS_1


Ardian hanya tersenyum kecil. "Iya, Pi. Biar Ardian yang antar dia.


*******


__ADS_2