Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Permintaan Ummi


__ADS_3

"Matikan teleponnya, Kak. Ini sudah jam sebelas lho. Besok kita akan ke Majelis Ta'lim. Aku tidak mau sampai terlambat bangun. Malu sama Abah dan Ummi." Chayra masih membujuk Ghibran yang masih bersikeras tidak mau mematikan sambungan telepon.


"Masih kangen sama kamu, Dek. Kalau kamu ngantuk, tidur saja. Tapi, jangan matikan sambungan teleponnya. Aku akan menemani kamu tidur."


"Kak Ghibran mau mendengar suara dengkuran tidurku?"


"Aku tidak berniat seperti itu, Dek. Aku cuma ingin menemani kamu tidur."


"Yang benar saja kamu ini, Kak. Kita ini sedang berada di dimensi yang berbeda."


"Hahaha.. berbeda bagaimana maksud kamu, Dek? Kita bukan beda dimensi. Akan tetapi, kita berada di tempat yang berbeda."


"Iya.. apapun itu namanya. Yang penting kita tidak sedang bersama."


"Kamu pintar berkelit juga ya.."


"Kak Ghibran baru tau ya.."


"Kayaknya sih, gitu."


"Hah, kita ini sedang ngomongin apa sih, Kak. Kok rasanya tidak ada hal yang bermanfaat yang kita omongin dari tadi."


"Kita sedang kangen-kangenan, kan."


Chayra menguap. Tapi, nggak ada.. hoaamm.."


"Udah ngantuk banget ya..?"


"Kayaknya sih, Kak."


"Iya sudah kalau begitu. Sebelum aku tutup, aku mau bilang sesuatu sama kamu."


"Kak Ghibran mau bilang apa?"


"Aku mau ajak kamu keluar nanti malam."


"Astagfirullahal'adzim, aku nggak mau, Kak."


"Kita tidak akan keluar berdua, Sayang. Aku juga tau batasanku. Mami yang memintaku untuk mengajakmu makan malam. Mami dan Papi yang akan bersama kita."


Chayra terdiam cukup lama sebelum memberikan jawaban untuk Ghibran.


"Kok diam?"


"Aku.. aku harus minta izin dulu sama Abah dan Ummi. Dan.."


"Apa, Dek?"


"Aku mau minta izin sama Ibu juga, Kak. Walaupun Ibu tidak bersamaku disini. Aku tetap harus minta izin padanya."


Ghibran menghela nafas berat. "Mami dan Papi yang akan minta izin pada Abah dan Ummi. Tapi, kalau pada Ibu, kamu minta izin sen.. sendiri ya. Soalnya, tempatnya jauh. Masa iya, Mami dan Papi harus mendatangi rumahmu hanya untuk minta izin makan malam?"


Chayra tergelak mendengar ucapan Ghibran. "Iya, iya, Kak. Besok pagi sebelum berangkat kuliah, aku akan menghubungi Ibu terlebih dahulu."


"Iya, Sayang."


"Kak Ghibran jangan bilang sayang, ah."


Giliran Ghibran yang tergelak. "Kenapa coba?"


"Aku kok agak merinding mendengar panggilan itu. Tapi..."


"Tapi apa lagi?"


"Mungkin kalau kita sudah halal, akan beda rasanya "


"Huh, kalau sudah halal sih, beda lagi ceritanya. Aku bukan hanya mengucapkan sayang, tetapi akan sayang-sayangan setiap hari dengan kamu."

__ADS_1


"Hoaamm, udah ah, Kak. Kok, malah semakin panjang."


"Hehehe.. iya sudah. Aku tutup dulu. Assalamualaikum, Sayang. Ana uhibbuka fillah."


"Wa.. wa'alaikumsalam, Kak." Chayra menarik nafas dalam. Entah kenapa, dadanya selalu berdebar ketika mendengar kalimat penutup yang selalu diucapkan Ghibran di akhir percakapan mereka.


* * *


"Kamu yakin, Nak, mau pergi dengan Ghibran malam ini?" Bu Ainun menatap keponakannya yang sedang sibuk menyisir rambut panjangnya.


"Kita kan sudah sepakat akan pergi bersama Abah juga, Ummi. Lagian, kenapa Ummi tidak mau ikut sih?"


"Tidak, Nak. Ummi sedang ada urusan dengan Ibumu. Mm.. apakah kamu jadi pulang lusa?"


Chayra berbalik menatap Umminya. "Insya Allah, Ummi."


"Maafkan Ummi karena tidak bisa pulang bersama kamu, Nak. Ummi harus mengadakan persiapan untuk acara lamaran kamu."


"Tidak apa-apa, Ummi. Ayra hanya minta sama Ummi dan Abah untuk mengantar Ayra sampai Bandara saja."


"Kami yakin, tidak apa-apa pulang sendirian, Nak? Apa kamu tidak merasa takut lagi pada pesawat terbang?"


Chayra tersenyum hambar. "Insya Allah, Ayra baik-baik saja, Ummi. Ayra yakin, Allah pasti melindungi Ayra."


"Maafkan Ummi ya, Nak." Bu Ainun berjalan mendekat lalu memeluk keponakannya.


"Mm.., Ummi. Ayra boleh minta tolong nggak sama Ummi?"


"Minta tolong untuk apa, Nak?"


"Mm.. Ayra rindu sama Bapak, Ummi. Ayra ingin ke makam Bapak besok."


"Oh, Ayra mau, Ummi menemani Ayra ke Makam Bapak. Gitu maksudnya?"


Chayra yang masih nemplok dalam pelukan Bu Ainun, mendongak. "Iya, Ummi." Seraya mengangguk. Menatap Bu Ainun dengan tatapan manja.


"Maksud Ummi?"


"Ajak Ghibran, Nak. Sekalian minta izin sama Bapak kamu, kalau sebentar lagi kamu mau menikah dengan pria yang Insya Allah, bisa membimbing kamu ke jalan yang diridhoi Allah." Membelai kepala Chayra yang tidak tertutup hijab.


Chayra mengangkat wajahnya menatap Umminya. "Mm.. tapi, Ayra harus bilang apa, Ummi?"


"Bilang, temani aku ke Makam Bapak. Gitu aja, masa malu, Nak?"


"Kayaknya sih, Ummi." Chayra tersenyum meringis.


"Biasakan diri ngomong apapun dengannya mulai sekarang, Nak. Dia itu sebentar lagi akan menjadi suami kamu. Dia yang akan menjadi imam kamu. Dia yang akan menjadi tempat kamu bersandar, Nak."


"Masih malu, Ummi."


"Dengarkan Ummi, Nak." Bu Ainun menangkup wajah Chayra agar menghadapnya. "Di dalam berumah tangga itu. Suami dan istri itu harus saling terbuka, Nak. Setiap masalah itu harus diselesaikan sama-sama. Harus saling terbuka satu sama lain. Sebesar apapun masalah yang menimpa, kalau diselesaikan secara musyawarah. Insya Allah, akan mendapatkan solusi yang baik."


"Ummi... Ayra kan belum nikah."


"Tapi, sebentar lagi kan mau nikah, Sayang."


"Kok aku deg-degan ya, Ummi. Padahal kan, lamaran aja belum."


"Iya.. memang begitu rasanya, Nak. Ummi saja dulu merasakan seperti yang kamu rasakan."


Chayra hanya tersenyum meringis ke arah Bu Ainun.


"Kamu hubungi Ghibran sekarang."


Chayra menautkan alisnya heran. "Untuk apa, Ummi?"


"Kan kamu mau ajak dia ke Makam Bapak kamu, Nak."

__ADS_1


"Nanti saja deh, Ummi."


"Ummi yang akan memintanya menemani kamu. Ummi yakin, kamu pasti tidak akan mengajaknya "


Chayra kembali tersenyum meringis.


"Tuh, kan, apa Ummi bilang. Ummi sudah bilang, Nak. Jangan malu lagi. Dia itu akan menjadi imam kamu. Sini, mana handphone kamu."


Chayra menyerahkan handphonenya pada Bu Ainun. Dia mengernyit heran melihat kontak Ghibran di handphone keponakannya. "Lho, kok nyimpan nama calon suami tidak ada spesial-spesialnya, Nak?" Bu Ainun menunjukkan layar handphone Chayra. "Masa kamu menyimpan namanya dengan Ustadz Ghibran saja."


"Memangnya kenapa, Ummi?"


"Simpan namanya pakai calon suami kek, calon imam kek. Huh, kamu ini. Nggak greget bacanya kalau kayak gini." Bu Ainun menekan ikon berwarna hijau.


Panggilan langsung tersambung pada deringan pertama.


"Assalamualaikum, Calon Istri.."


Bu Ainun menahan senyum mendengar ucapan Ghibran. Sedangkan Chayra menutup mukanya dengan telapak tangan karena malu. Bu Ainun sengaja meloudspeaker panggilan itu, agar Chayra juga bisa mendengar percakapannya nanti.


"Lho, kok diam? Biasanya kamu tidak pernah terlambat menjawab salam dariku."


"Khmmm...! Tenggorokan Ummi sedang bermasalah, Nak. Makanya Ummi tidak langsung menjawab salam kamu."


Ghibran menelan ludahnya. Dia tidak menyangka kalau Bu Ainun yang menghubunginya.


"Lho, kok sekarang kamu yang diam?" Ucap Bu Ainun sambil menahan senyum.


"Mm.. m.. maafkan Ghibran, Ummi. Ghibran kira, Zahra yang menghubungi Ghibran tadi."


"Oh, tidak apa-apa, Nak. Ummi mau ngomong sesuatu sama kamu."


Ghibran kembali menelan ludahnya. Jantungnya berdetak lebih kencang.


"Kamu masih di sana kan, Ghibran?"


"I.. iya, Ummi. Silahkan, Ummi mau ngomong apa. Ghibran siap mendengarkan."


"Mm.. Ummi cuma mau minta tolong sama kamu. Ayra besok pagi mau ke Makam Almarhum Bapaknya. Ummi mau, kamu yang menemaninya, Nak."


"Mm.. gitu ya, Ummi. J.. jam berapa, Ummi?"


"Selesai shalat Dhuha di Masjid. Kamu ada waktu tidak?"


"Insya Allah, Ummi."


"Nanti Abah yang akan menemani kalian. Ummi ada kesibukan yang tidak bisa ditunda."


"I.. iya, Ummi."


"Iya sudah kalau begitu, Nak. Ummi tutup ya.. Assa...."


"Eh, tunggu dulu, Ummi."


"Ada apa, Nak?"


"Mm.. Zahra kemana?"


"Ini, dia sedang duduk di depan Ummi."


"Titip salam dan rindu untuknya."


"Dia sudah mendengarkan ucapan kamu. Ummi tutup ya. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam, Ummi."


Ghibran menggigit ujung jarinya usai Bu Ainun mematikan sambungan teleponnya. Rasa malu karena ucapannya tadi masih menggelayut manja dalam hatinya. Ia meraba dadanya. Merasakan detak jantungnya yang masih belum normal. Menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


* * *


__ADS_2