Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Bimbang


__ADS_3

Pak Sucipto dan Bu Renata berdiri di samping Chayra. Bu Renata menggenggam erat tangan Chayra. Namun, gadis itu tak sekalipun menatap wanita paruh baya itu. Rasa sakit yang dibuat oleh Ardian benar-benar membuatnya hampir saja membenci kedua orang tua yang sedang berdiri disampingnya itu.


"Kami mohon, maafkan Ardian, Nak." Ucap Bu Renata untuk yang kesekian kalinya.


Chayra tetap diam. Hanya untuk sekedar mengiyakan ucapan Bu Renata pun, mulutnya terasa berat untuk mengatakannya. Beberapa kali mencoba menarik tangannya dari genggaman Bu Renata. Namun, Bu Renata tetap menggenggam erat tangan Chayra.


Sudah satu minggu kedua orang tua itu bolak balik ke rumah Chayra untuk menengok gadis itu. Sekalian juga untuk membujuk gadis itu agar mau memaafkan kesalahan Ardian. Sejak kepulangan Chayra dari Rumah Sakit. Gadis itu kebanyakan menghabiskan waktunya di belakang rumah.


"Kita masuk ya, Nak. Ini sudah sore, tidak baik untuk kesehatan kamu." Bu Santi mengusap-usap pelan bahu anaknya.


"Nanti dulu, Bu. Ayra masih ingin disini. Di dalam membuat perasaan aku tidak tenang."


"Kasihan Bu Renata dan Pak Sucipto, Nak. Dari tadi mereka berdiri menunggu jawaban dari kamu."


"Aku tidak memintanya melakukan itu, Bu. Mereka sendiri yang datang menemuiku disaat aku butuh waktu untuk sendiri."


Bu Renata dan Pak Sucipto tersenyum masam mendengar jawaban Chayra. Andaikan mereka tidak merasa berhutang Budi pada Pak Akmal. Mungkin mereka sudah menyerah dan tidak akan pernah mendatangi gadis itu lagi.


"Maafkan putri saya, Pak, Bu." Bu Santi menatap kedua tamunya dengan tatapan segan karena jawaban putrinya.


"Kenapa Ibu yang minta maaf? Aku seperti ini karena putra mereka."


"Astagfirullah, Ayra.. tidak baik ngomong seperti itu pada orang tua, Nak." Bu Santi menekan pundak putrinya menahan kesal karena merasa Chayra sudah keterlaluan. "Ibu tidak suka Ayra ngomong tidak sopan. Walaupun kamu sedang sakit, Ibu akan marah kalau kamu sampai keterlaluan. Ibu tidak mengajarkan kamu untuk bersikap kurang ajar."


Chayra menghela nafas berat. "Ayra akan sopan kalau mereka juga sopan, Bu. Ibu tau sendiri, bagaimana putranya bersikap sangat keterlaluan padaku. Jika mereka mendidik putranya dengan benar. Ardian akan menjadi pria baik-baik. Bukan pria bejat yang hanya merusak masa depan wanita. Dan satu lagi. Yang seharusnya datang minta maaf itu adalah Ardian, bukan kalian." Chayra menghempaskan tangannya sampai terlepas dari genggaman Bu Renata. Bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan panggilan ibunya.


"Astagfirullahal'adzim, Ayra! Kembali, Ayra!" Bu Santi memijit pelipisnya. Baru kali ini putrinya itu bersikap tidak sopan dan sangat berani menentang.


"Sekali lagi, maafkan putri saya, Pak, Bu. Saya akan mendidiknya agar dia bisa menjaga sopan santun pada orang tua."


"Tidak ada yang salah dengan ucapan Chayra. Iya, kami akui kalau kami memang orang tua yang tidak benar. Kami berdua terlalu sibuk dengan urusan kami, sampai kami lupa untuk membimbing putra kami." Pak Sucipto berjalan menjauhi istrinya dan Bu Santi. Merenungi kesalahannya selama ini sambil menatap tanaman sayuran yang lebat di kebun kecil itu.


"Kita harus segera menyelesaikan masalah ini, agar kita semua bisa menjalani hidup dengan tenang." Timpal Bu Renata.


"Keputusan ada di tangan Ayra, Bu Renata. Kita akan tunggu sampai putriku pulih dari keadaan ini." Bu Santi berjalan mendekati bangku panjang dan duduk di bangku itu.


"Apa kata psikolog yang menanganinya?" Pak Sucipto berbalik.


"Alhamdulillah, selalu ada perkembangan setiap harinya. Keadaannya sudah semakin baik. Apalagi kalau dia bisa mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya, itu akan membuat keadaanya cepat pulih."


"Baguslah kalau begitu."


"Kita akan lihat hasilnya besok pagi."

__ADS_1


Pak Sucipto dan Bu Renata mengangguk. "Kami akan datang pagi-pagi, agar bisa mendengar hasilnya."


Bu Santi hanya mengangguk. Perbincangan terus berlanjut sampai waktu Maghrib hampir tiba. Kedua orang tua Ardian pamit dan berjanji untuk datang lagi besok pagi.


********


Chayra mondar mandir di dalam kamarnya. Ia merasa cemas karena sikap ibunya yang ia rasa kurang mengenakkan sejak ia membantahnya hari itu.


Yang membuat perasaan Chayra semakin tak karuan adalah Ghibran. Setelah mengetahui kalau Chayra baik-baik saja saat ini. Dia semakin menuntut kesiapan wanita itu untuk menikah.


Chayra membuka sedikit pintu kamarnya. Mengintip dua orang pria yang sedang duduk di sofa panjang di depan kamarnya. Ghibran yang duduk bersama Zidane sejak setengah jam yang lalu. Menunggu kepastian dari Chayra untuknya.


Notifikasi pesan masuk di handphonenya. Chayra berjalan pelan mendekati handphonenya. Baru saja ia menyentuh handphone itu. Panggilan masuk atas nama Zidane terpampang di layar handphone.


"Assalamualaikum, Dek. Kamu sedang apa? Ayo, kamu keluar sebentar. Kakak dan Ghibran sedang menunggu kamu di depan kamar kamu."


"W.. wa'alaikumsalam, Kak. Aku.. aku.. tidak bisa.."


Zidane bangkit dan menjauhi Ghibran. Mendengar suara terbata-bata adiknya saat menjawab pertanyaannya, ia tidak enak kalau bicara di samping pria itu.


"Kasihan dia, Dek. Baru saja dia sampai dan tidak sempat istirahat. Apa kamu tidak mau menemuinya, walaupun hanya sekedar untuk mengobati rasa rindunya."


"A.. aku tidak bisa..."


"Aku.. aku.."


"Kenapa?"


"Aku.. aku takut semakin melukai perasaannya."


Zidane menoleh ke arah Ghibran. Pria itu terlihat sedang sibuk dengan handphonenya. Zidane kembali berbalik dan melanjutkan percakapannya dengan Chayra.


"Dia tidak pernah merasa seperti itu, Dek. Dia selalu bersabar menunggu sampai kamu pulih. Dan sekarang, dia hanya bisa berharap melihat wajahmu untuk mengobati rasa lelahnya selama di perjalanan."


Chayra terdiam. Hal itu membuat Zidane melanjutkan kata-katanya.


"Apa kamu tidak kasihan padanya. Dia baru selesai dari Kampus dan langsung kemari. Pakai mobil bukan pakai pesawat. Kamu bisa bayangin nggak, bagaimana capeknya dia."


Chayra masih terdiam. Namun..


Ceklek!


Pintu kamar Chayra terbuka. Ghibran yang sedang duduk di sofa terkejut dan langsung bangkit. Dia tersenyum melihat gadis yang berdiri di depan pintu dengan jilbab lebar yang menutupi sebagian tubuhnya.

__ADS_1


"Z.. Zahra..." ucap Ghibran pelan, hampir tak bersuara.


Tanpa sadar, air mata Chayra menetes melihat pria itu. Benar kata Zidane, kalau pria itu terlihat lelah. Ditambah kantung hitam dibawah matanya menandakan kalau dia kurang istirahat.


Ghibran berjalan lebih mendekat. "Inilah wajah ciptaan Allah yang membuat aku tidak bisa tidur dengan tenang karena merindukannya."


Chayra menunduk. Mengusap air matanya yang semakin deras mengalir. Bukan kata-kata itu yang ia harapkan keluar dari mulut Ghibran. Ucapannya itu malah membuatnya semakin berat untuk membuat keputusan.


"Kita bicara di luar Kak." Chayra bergegas meninggalkan Ghibran keluar rumahnya.


Ghibran menatap Zidane yang masih berdiri di dekat jendela. Ghibran tersenyum saat melihat anggukan kepala Zidane. Bergegas keluar dan mencari keberadaan Chayra.


Ghibran tersenyum saat melihat Chayra duduk di bangku panjang, di bawah pohon kelengkeng yang sedang berbuah lebat.


"Katakan, apa tujuan Kak Ghibran datang lagi kemari."


Pertanyaan itu langsung menyambut Ghibran padahal Chayra duduk membelakanginya.


"Aku merindukanmu."


"Aku sudah meminta Kak Ghibran untuk melupakan semua tentang kita."


"Aku tidak bisa. Sekuat apapun aku berusaha, Allah tidak pernah menunjukkan jalan lain. Hanya namamu dan wajahmu yang selalu terlintas di setiap istikharah dan tahajjud ku."


Chayra mengusap air matanya. "Tapi aku bisa melakukan itu, Kak. Aku bisa menghilangkan namamu dan bayangan wajahmu saat aku tahajjud. Aku bisa tidak menyebut namamu dalam do'aku."


"Mulut kamu bisa berkata begitu, karena mulut bisa berbohong." Ghibran berjalan ke hadapan Chayra, agar bisa lebih leluasa menatap wajah gadis itu. "Tatapan mata kamu itu tidak bisa berbohong. Hati kamu juga tidak bisa berbohong."


Chayra hanya bertahan beberapa detik berkontak mata dengan Ghibran. Langsung menunduk karena tak kuasa menahan gejolak di hatinya.


"Tuh kan, kamu masih tidak kuat menatapku. Aku tau kalau perasaan kamu kepadaku masih sama seperti dulu, Zahra."


"Tidak! aku tidak mencintai Kak Ghibran lagi." Jawab Chayra tanpa mengangkat kepalanya.


"Tatap mataku kalau memang kamu tidak merasakan apa-apa lagi padaku." Ucap Ghibran dengan percaya dirinya.


Chayra hanya menggeleng-geleng pelan. Namun, tak sedikitpun ia mau mengangkat kepalanya. Hanya suara isak tangisnya yang menjadi jawaban. Betapa dia benar-benar masih mencintai pria di depannya.


"Aku hanya ingin mendengar jawaban yang jujur dari mulutmu, Zahra. Aku tidak bisa memaksamu lebih dari itu."


Chayra perlahan mengangkat kepalanya. Dengan mengumpulkan keberaniannya, ia menatap pria itu. "Jangan bertanya apapun lagi, Kak. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Kak Ghibran. Cukup Allah yang mengetahui isi hatiku. Biarlah Allah yang mengatur segalanya. Assalamualaikum.." Chayra langsung bangkit dan meninggalkan Ghibran yang masih tertegun mendengar jawabannya.


********

__ADS_1


__ADS_2