
Ardian menarik kopernya ke dalam rumah dibantu oleh Zidane dan juga Bian. Sedangkan tiga wanita di belakang hanya mengekor cantik tanpa membawa beban apapun.
Tiga hari sejak kepulangan Chayra dari Rumah Sakit, Ardian akhirnya memutuskan untuk membawa istrinya untuk pindah ke rumah baru mereka.
"Kakak udah yakin nih, akan tinggal di rumah ini?" Bian menatap sekeliling rumah yang tampak sangat sederhana.
"Yakinlah, Dek." Ardian yang menimpali.
"Kenapa coba beli rumah di tempat sepi seperti ini. Seharusnya Kakak beli rumah di pemukiman padat penduduk biar cepat ada bantuan kalau ada apa-apa."
"Ingin suasana yang lebih tenang, Bi. Aku bosan dengan keramaian. Lagian Kakak beli tanah ini dengan harga murah. Pemiliknya sedang butuh duit waktu itu untuk membayar hutang di Bank. Katanya kalau tidak segera membayar hutangnya, maka rumah dan tokonya akan disita."
Bian mendengus. "Huh, pantesan.. ternyata Kakak dapat banyak diskon."
"Tempat ini juga nggak sepi-sepi amat kok. Tuh di sebelah Utara kan banyak rumah tuh. Di sebelah barat juga ada beberapa."
"Tapi jaraknya agak jauh maksud aku, Kak."
"Sudah ah, kalian ini kenapa malah meributkan masalah sepele seperti ini sih. Biarkan saja, walaupun sepi biar kerasa kayak tinggal di villa." Chayra mendudukkan tubuhnya perlahan di atas sofa ruang tamu. Menutup perdebatan diantara suami dan adiknya. Mata Chayra memperhatikan ruangan tempatnya berada sekarang. Ruangan yang sangat kecil jika dibandingkan dengan ruang tamu di rumahnya.
"Handphone barunya udah di setting kan?" Ardian mempertanyakan masalah smartphone baru yang dibelikan untuk istrinya. Setelah perdebatan panjang, Chayra akhirnya mengalah dan membiarkan suaminya membelikan smartphone baru untuknya. Sebenarnya dia tidak ingin mengganti handphonenya karena masih berfungsi dengan baik. Tetapi, karena desakan dari seluruh anggota keluarga, ia akhirnya mengalah.
"Belum diapa-apakan, Mas. Kan dari kemarin kita sibuk berkemas."
"Nanti malam kita setting. Sekarang semua harus beres dulu. Aku bawa koper ini ke dalam kamar dulu ya. Kak, bantu dong kopernya berat gini.." Ardian menatap Zidane yang sedang asyik bicara bersama istrinya.
"Masa koper kayak gitu aja nggak bisa kamu dorong. Tidak malu kamu sama Bian. Kan Bian yang bawa koper itu masuk tadi." Ledek Zidane. Padahal dia yang membawa koper itu. Koper itu memang sangat berat. Melihat Ardian yang tidak bereaksi dan hanya berusaha mendorong koper itu sendiri, Zidane akhirnya berjalan mendekat karena melihat Ardian kewalahan membawa koper itu.
Setelah selesai beres-beres, Bu Santi, Bian, Zidane dan Alesha berpamitan untuk pulang. Tidak terasa mereka melewatkan makan siang karena terlalu sibuk. Sebentar lagi waktu Ashar akan masuk. Chayra hanya berdiri berkacak pinggang di dapur. Kulkas masih kosong, sehingga tidak ada yang bisa dia masak untuk di makan.
Ardian tiba-tiba memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa, Sayang? Kamu lapar makanya masih berdiam diri disini?"
Chayra mengangguk lemah. "Kulkasnya masih kosong, Mas. Perut aku udah meronta ini minta diisi."
"Kita cari makan diluar. Sebentar aku ambil kunci mobil dulu."
"Apa kita nggak menunggu waktu Ashar dulu, Mas. Sebentar lagi masuk waktu lho."
"Kita bisa shalat di jalan nanti. Katanya lapar."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas. Insya Allah aku masih kuat nahannya kalau hanya sekedar menunggu waktu shalat."
Ardian menatap istrinya dengan prihatin. Merasa kasihan kalau Bumil itu harus menahan lapar. Pasti rasanya sangat tidak nyaman. Tunggu sebentar, aku carikan kamu cemilan untuk mengganjal perut."
"Carinya dimana?"
"Ada warung di pinggir jalan raya."
"Jangan yang mengandung banyak lemak. Aku takut tidak bisa makan dengan baik nanti. Aku belum makan besar. Tadi pagi cuma dua tangkup roti tawar."
"Mau aku belikan roti."
"Boleh.."
"Nanti kita belanja keperluan di rumah saat keluar untuk makan."
Chayra hanya menjawab ucapan suaminya dengan anggukan kepala. Perutnya terus berbunyi sejak tadi. Capeknya baru terasa setelah mereka istirahat.
Sambil menunggu suaminya kembali, Chayra memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Karena suaminya bilang kalau mereka mau belanja juga.
Ardian kembali sekitar sepuluh menit setelah dia keluar tadi. Mendapati istrinya tidak ada di tempat, tiba-tiba saja dia merasa khawatir. "Chay, kamu dimana, Sayang.."
Ardian menarik nafas lega.. "Alhamdulillah, aku kira kamu kemana." Ardian meletakkan kantung keresek belanjaannya di meja kecil di dalam kamarnya.
"Kamu mandi dulu, Mas. Katanya mau belanja juga." Chayra keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
"Kenapa keramas jam segini. Yang baik itu keramasnya di pagi hari."
"Alah modus kamu, Mas. Itu namanya mandi besar kalau keramas pagi-pagi. Mau kapan-kapan juga, insya Allah nggak ada masalah. Aku gerah tadi, rambut aku juga lengket karena keringat. Sekalian aja keramas pakai shamponya kamu. Aku kehabisan stok. Daripada gerah, pakai aja yang ada dulu. Tadi juga botol shamponya aku masukkan air karena isinya tinggal yang nempel di botolnya aja."
Ardian tersenyum meringis. Kenapa hidupnya terasa sangat menderita saat ini. Istrinya kelaparan dan saat mandi hanya memakai shampo yang tersisa menempel di botolnya.
"Udah ah, jangan senyum kayak gitu, Mas. Kayak aku yang menderita banget disenyumin kayak gitu."
"Nggak, Sayang. Aku yang seharusnya memenuhi kebutuhan kamu malah membiarkan kamu kelaparan kayak gini. Belum lagi keramasan pakai sisa-sisa. Ya Allah kok aku merasa sangat menderita ya.." Ardian berjalan mendekat dan hampir saja memeluk istrinya.
"Eits, aku udah ambil air wudhu'. Jangan coba-coba mendekat. Mandi dulu sana biar tubuhnya wangi, biar asyik nanti kalau mau peluk atau cium."
"Janji ya, habis shalat nanti mau meluk dan cium aku. Kalau bisa lebih dari itu juga boleh, bahkan sangat berharap." Ardian menaik turunkan alisnya menggoda.
__ADS_1
"Eh, enak aja. Perut aku lapar nih. Katanya kasihan melihat aku kelaparan. Kok malah ngajakin gituan dulu. Nggak ah, Mas Ardian harus ridho kali ini."
Ardian tersenyum. Tangannya sudah terangkat ingin menjembel pipi istrinya, tetapi ia urungkan ketika mengingat kalau istrinya sudah wudhu'. Akhirnya Ardian menurunkan kembali tangannya.
"Mandi dulu, Mas. Kita shalat jama'ah sekarang. Mumpung ada waktu untuk shalat bareng."
"Iya... aku mandi dulu sebentar."
Chayra beranjak keluar kamar untuk mengambil air minum tang dia letakkan di ruang tamu barusan. Namun, dia heran saat melihat ada dua orang pria dan satu orang wanita yang duduk di bangku panjang di teras rumah. Karena merasa aneh, dia masuk kembali untuk mempertanyakan hal itu pada suaminya. "Mas, yang diluar tiga orang itu siapa?" Chayra langsung bertanya begitu melihat Ardian keluar dari kamar mandi.
Ardian berhenti menggosok rambutnya. Terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Mm... mungkin Satpam dan Asisten yang dikirim oleh Kakek. Katanya Kakek mau mengirim penjaga rumah, biar kalau aku kerja kamu tidak sendirian di rumah.
"Huh, ngapain harus dijaga Satpam segala. Aku juga masih mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kenapa harus pakai asisten segala."
"Biarin aja, aku nggak berani protes karena itu datangnya dari Kakek. Dia mungkin mengkhawatirkan kita. Sekarang kamu masih bisa mengerjakan semuanya sendiri, tapi kalau lahiran nanti sepertinya kamu tidak akan bisa mengerjakan semuanya."
"Tapi ini berlebihan, Mas."
"Nggak usah dipikirkan lama-lama juga kamu terbiasa nantinya. Kakek akan marah besar sama aku kalau berani menolak permintaannya kemarin."
Perdebatan suami istri itu akhirnya berakhir setelah mereka berdiri untuk melaksanakan shalat bersama.
*********
Chayra mengusap-usap perutnya setelah berhasil menghabiskan satu piring penuh nasi dan satu mangkuk sup iga. Ardian beberapa kali menelan ludahnya melihat porsi makan istrinya yang terlihat luar biasa dimatanya.
Chayra beberapa kali menarik nafas panjang karena perutnya terasa benar-benar penuh. Tapi mulut dan matanya tidak bisa diajak kompromi. Dia terus-terusan melirik ke arah pasta yang sedang di nikmati suaminya dengan santai.
"Kamu belum kenyang, masih mau makan lagi."
"Aku memang masih ingin makan tapi aku sudah kenyang. Aku bukan kerbau, Mas. Aku punya akal sehat untuk membatasi mana yang masuk dalam toleransi aku."
"A..aku tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Tapi.. kamu seperti yang masih bernafsu melihat makanan aku."
"Nggak usah dibahas, Mas. Ayo buruan, katanya mau belanja juga."
"Sabar... aku nggak bisa makan cepet. Ini aja udah pakai yang tercepat."
Chayra mengambil tissue untuk mengelap mulutnya. Memperhatikan suaminya yang masih menikmati makanannya. Beberapa kali menelan ludahnya melihat makanan yang terlihat begitu menggugah selera. Ia akhirnya menyambar jus jambu milik suaminya dan meneguknya sampai tandas. Ardian berhenti mengunyah pasta di mulutnya, hanya tertegun melihat miliknya di ambil sang istri.
__ADS_1
*******