
Pertahan Ardian runtuh. Tangannya akhirnya menulis pesan singkat untuk sang istri. Handphone sang istri terlihat masih on sehingga dia bertekad untuk mengirim pesan.
Masih bangun? Hanya kata itu yang Ardian kirim. Sampai lima menit Ardian menunggu, tetapi sang istri tak kunjung membalas. Ada rasa kesal karena terlihat jelas kalau handphone istrinya masih on. Pesannya juga terkirim centang dua dan sudah berubah warna. Itu berarti pesannya terbaca.
Chay, kenapa tidak menjawab? Pesan terkirim juga. Tetapi kembali tidak ada jawaban.
Ardian menarik nafas dalam. Apa mungkin istrinya marah karena dia tidak ada kabar dari kemarin. Tapi, itu sepertinya tidak mungkin karena sang istri sangat paham kesibukannya. Bersikap kekanak-kanakan seperti ini juga bukanlah perangai istrinya.
Ardian akhirnya melakukan panggilan. Melihat pesan yang masuk di handphonenya, Ardian mengusap wajahnya dengan kasar. "Dengan siapa dia masih teleponan sampai jam segini." Giginya mengerat kesal. Entah kenapa emosinya tiba-tiba seperti meluap-luap. Ia melemparkan handphonenya. Untung saja tidak jatuh ke lantai dan hanya sampai di pinggiran ranjang.
"Eh, kenapa tampang lu kusut kayak gitu?" Dodit yang baru selesai shalat duduk di sisi ranjang samping Ardian.
Tidak ada jawaban, Ardian mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Dodit.
"Kamu kenapa, Ar. Barusan kamu senyum-senyum lihat handphone. Sekarang kamu udah berubah kusut kayak gitu."
"Nggak ada apa-apa." Jawab Ardian datar. Masih menatap ke lain arah.
"Tampang kamu kayak gitu bilang nggak apa-apa. Aku ini bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Kamu tinggal bilang aja, siapa tau aku bisa bantu."
"Aku nggak apa-apa, Dit. Udah ah, aku mau tidur."
"Shalat dulu makanya sana. Hati lu kacau karena belum shalat. Percaya sama aku, perasaan kamu akan terasa berbeda kalau sudah shalat."
Ardian melirik Dodit. "Iya udah, aku shalat dulu kalau begitu. Kalau handphone itu bunyi jangan hiraukan." Ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur.
Benar saja, baru saja Ardian menutup kamar mandi, benda gepeng yang tergeletak di sisi tempat tidur itu berbunyi nyaring. Dodit melirik ke arah kamar mandi lalu mendekati handphone itu. Kontak dengan nama 'Bidadari Surga' terpampang di layar handphone disertai dengan foto wanita berambut sebahu dengan senyuman lebar.
"Masya Allah..." Dodit langsung mengalihkan pandangannya. Itu foto Chayra tanpa hijab. Dada Dodit tiba-tiba berdebar tak menentu. Ia segera turun dari tempat tidur. Tidak lupa ia menelungkupkan handphone Ardian. Takutnya matanya khilaf dan melihat kembali wanita itu.
Ia segera mengambil Al-Qur'an terjemahan kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Tangannya Membolak-balik kitab suci itu untuk mencari surat Al-Mulk. Surat yang biasa dia baca sebelum tidur.
Ardian menautkan alisnya saat melihat Dodit sedang membaca Alquran. Handphonenya yang berbunyi tidak dia hiraukan. Ardian malah menggelar sajadah dan bersiap untuk shalat.
"Eh, kenapa panggilannya tidak kamu jawab dulu, Ar." Dodit menghentikan bacaannya saat mendengar Ardian melafadzkan iqomah di sampingnya..
Ardian berdecak kesal. "Aku kan sudah bilang, abaikan saja. Kalau kamu merasa terganggu, jawab saja dan bilang kalau pemilik handphonenya sudah tidur dan tidak bisa diganggu."
"Apa kamu tidak keberatan kalau orang lain menikmati kecantikan istri kamu? Kamu sadar nggak, Ar. Wanita kamu itu ibarat permen yang terbungkus sangat rapi dan tersimpan dengan sangat baik di dalam etalase. Tidak ada lalat yang bisa menyentuhnya sembarangan saking sucinya dia. Hanya kamu lalat yang beruntung itu. Sedangkan lalat yang lain hanya bisa menonton dengan air liur yang menggenang di mulut mereka."
__ADS_1
"Buset lho bilang gue lalat segala." Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya duduk di samping Dodit.
"Kamu angkat dulu panggilan itu. Kasihan istri kamu dari tadi berulang kali menghubungi kamu. Bersikap seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, Ar. Aku tau kamu sedang kesal pada istri kamu."
"Tapi..."
"Sudah... angkat dulu sana. Telinga aku sakit dari tadi mendengar handphone kamu berisik terus." Dodit mendorong tubuh Ardian.
Ardian beranjak bangun. Tetapi bukannya menjawab panggilan itu, dia malah menekan ikon berwarna merah lalu mematikan handphonenya.
"Kamu mematikannya?" Dodit terkejut saat melihat Ardian sudah berdiri kembali di sebelahnya. "Kamu kok kekanak-kanakan banget sih, Ar. Memangnya kesalahan istri kamu apa sampai kamu tidak mau menjawab teleponnya."
Ardian hanya terdiam. Dodit menghela nafas berat. Untung saja bacaan surat Al-Mulk sudah selesai. Ia menutup kitab suci Al-Qur'an dan meletakkannya di tempat biasa, melipat sajadahnya seraya beranjak ke atas ranjang. Ia hanya melirik handphone Ardian yang sudah mati itu. Ia diam di atas ranjang dengan kaki selonjoran sambil memperhatikan Ardian yang sedang shalat. Ada rasa heran dengan perubahan sikap Ardian. Kesalahan apa yang dibuat Chayra sampai pria itu mematikan handphonenya.
"Kenapa kamu mematikan handphone kamu?" Dodit langsung melontarkan pertanyaan begitu Ardian naik ke atas ranjang.
"Nggak usah dibahas apa, Dit. Aku mau istirahat sekarang, aku capek."
"Kayaknya kamu tidak akan pulang besok pagi. Kamu mau tinggal lebih lama ditempat ini karena ngambek sama istri."
"Aku akan pulang kok. Aku hanya sedang memendam rasa kesal saja."
"Aku sudah bilang jangan dibahas."
"Kamu kekanak-kanakan. Kamu terlihat tidak profesional sekali dalam menyelesaikan masalah rumah tangga kamu. Kamu kok terlihat tidak layak jadi imam keluarga."
"Maksud kamu apa ngomong gitu, Dit. Selama ini aku sudah berusaha menjadi imam yang baik untuknya. Memenuhi kebutuhannya setiap bulan dengan Adzra. Tapi pas suami membutuhkan dia, dia malah sibuk telponan dengan orang lain."
"Oh, itu masalahnya. Kamu marah gara-gara istri kamu tidak menjawab telepon dari kamu karena dia sedang bicara dengan orang lain."
Ardian hanya melengos mendengar ucapan Dodit.
"Memangnya dia bicara dengan siapa sehingga kamu marah? Apa dia bicara dengan laki-laki lain dengan bermesraan sehingga emosi kamu tidak ketulungan seperti itu? Jadi imam keluarga itu harus belajar mengendalikan emosi, Ar. Berkeluarga itu bukan hanya saling memberi kepuasan di atas ranjang. Menjadi imam keluarga itu harus bisa berpikir dewasa. Kamu menghadapi masalah kayak gini aja sikapnya kayak anak kemarin sore."
Ardian kembali melengos sambil membuang pandangannya. "Tau apa kamu masalah rumah tangga. Berumah tangga aja belum."
"Oh, jangan salah, Ar. Gini-gini kalau masalah begituan sudah menjadi santapan aku. Aku punya tiga kakak perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Mereka sering mengadu ke rumah kalau ada masalah. Mau tidak mau aku harus terjun ikut membantu mereka menyelesaikan masalah. Kalaupun aku akan berkeluarga, aku sudah punya banyak pengalaman. Tidak seperti kamu hanya karena istri kamu sedang telponan dengan orang lain, kamu malah ngambek tak jelas. Dasar kekanak-kanakan." Dodit berlalu setelah menyelesaikan ucapannya. Ia tiduran di sofa seraya membuka handphonenya.
"Pikirkan ucapanku tadi sebelum kamu menyesal nantinya. Bagaimana kalau istri kamu sakit dan kamu bersikap seperti ini. Ucap Dodit lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Ardian menarik nafas panjang. Pikirannya masih kalut, antara mengikuti ucapan Dodit atau mengikuti egonya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Ar. Pikirkan ucapanku tadi."
Ardian kembali menarik nafas panjang. Akhirnya ia beranjak bangkit. Mengambil handphonenya lalu berjalan menuju Balkon. Perlahan ia mengaktifkan handphonenya.
Ting...!
Ting...!
Ting...!
Tiga pesan masuk dari istrinya. Ada lagi dua pesan masuk dari Bian.
Mas, angkat sebentar ini darurat.
Handphone kamu kenapa tidak bisa dihubungi, Mas..
Mas Ardian, Adzra sakit...
Mata Ardian membulat sempurna membaca pesan terakhir istrinya. Ia membuka pesan yang berasal dari Bian.
Assalamualaikum, Bang. Maaf kalau Bian ganggu, tapi ini keadaannya benar-benar darurat. Adzra sakit dan dilarikan ke Rumah Sakit. Badannya lemas karena kebanyakan muntah. Mudah-mudahan urusan Abang sudah selesai saat membaca pesan ini.. Wassalam..
"Ya Allah... Astagfirullahal'adzim..." Ardian mengacak-acak rambutnya. Keadaannya benar-benar bingung saat ini.
Dodit yang berada di dalam kamar berlari ke Balkon mendengar teriakan Ardian. "Kenapa, Ar?"
"Anakku, Dit. Anakku sakit dan dilarikan ke Rumah Sakit. Ya Allah aku sudah berprasangka buruk pada istriku. Kamu benar, Dit. Aku terlalu kekanak-kanakan dalam menyikapi masalah kecil tadi." Ardian kembali mengacak-acak rambutnya.
"Sudahlah, jangan disesali. Kamu bisa menghubungi istri kamu sekarang. Pasti mereka sedang menunggu kabar dari kamu."
"Kamu belum berkeluarga kok, terlihat sangat bijak menghadapi masalah seperti ini."
"Aku kan sudah bilang, aku gini-gini sudah punya pengalaman. Aku ini ibarat.. mm... diam-diam ubi berisi. Aku belum laku, tapi lika-liku rumah tangga sudah ada dalam pikiranku. Bahkan beserta solusi untuk mengatasi masalah itu juga."
Ardian tersenyum kecil menanggapi. Dengan membaca basmalah, dia menekan nomor istrinya. Mudah-mudahan Chayra tidak marah dengan tindakan bodohnya tadi.
*********
__ADS_1