Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Hukumannya puasa satu minggu


__ADS_3

Ardian menatap istrinya yang sudah terlelap. Setelah tiga hari Adzra dirawat, mereka diperbolehkan pulang. Chayra sepertinya kecapekan. Sampai rumah, ia langsung terkapar di sofa dalam kamar. Ardian berjalan mendekat, berjongkok di depan istrinya sambil memperhatikan wajah lelah Chayra.


Bibir Ardian tersenyum kecil seraya mendaratkan satu ciuman di dahi istrinya. "Maaf membuatmu lelah mengurus Adzra sendiri, Sayang."


Chayra benar-benar terlelap karena tidak bereaksi saat suaminya mendaratkan ciuman. Ardian membopong tubuh istrinya ke atas ranjang. Ia mengernyit saat merasakan tubuh istrinya yang terasa ringan. Ia hanya menarik nafas dalam seraya menyelimuti tubuh Chayra.


Ardian berjalan keluar untuk mencari tau keberadaan putranya yang digendong Bu Santi tadi. Saat di lantai bawah, Ardian hanya melihat Bu Santi dan Bian yang sedang berdiskusi. "Adzra mana, Bu?" Tanyanya seraya berjalan mendekat.


Bu Santi langsung mendongak menatap Ardian yang berdiri di sebrang sofa. "Adzra diambil Bi Idah tadi, Nak. Ayra mana, kenapa tidak ikut turun?"


"Tidur, Bu. Kayaknya kecapekan. Tadi saat masuk kamar, aku sudah menemukannya tertidur di atas sofa."


"Biarkan saja kalau begitu. Dia pasti kecapekan karena Ibu tidak bisa menolongnya menjaga Adzra kemarin. Oh, iya.. Papi dan Mami kamu yang akan nginap malam ini disini. Jadi Ibu akan pulang. Besok malam Ibu dan Bian yang akan nginap."


"Terimakasih, Bu." Ardian menghempaskan tubuhnya di atas sofa depan mertuanya.


"Kamu kapan masuk kerja, Nak. Ibu lihat kamu santai-santai aja dari kemarin. Apa pekerjaan kamu tidak menumpuk nantinya kalau terlalu lama tidak masuk?"


"Insya Allah tidak, Bu. Aku juga sedang cuti sekarang. Dikasih cuti satu minggu. Dan selama itu, ada Dodit yang menggantikan aku. Kalau ada yang tidak bisa dia selesaikan, pekerjaan itu akan di antar ke rumah."


Bu Santi hanya manggut-manggut. "Mami dan Papi kamu kapan datang sih, Nak? Ini sudah jam lima."


"Ardian nggak tau, Bu. Ibu coba telpon mereka lagi."


"Tadi katanya mau kesini habis shalat Ashar. Katanya mau nungguin cucu untuk masa pemulihan."


"Siapa yang bilang begitu, Papi atau Mami?"


"Papi kamu."


"Oh, kalau Papi yang ngomong, mereka pasti datang. Kalau Mami yang ngomong baru Ardian ragu. Tapi, mungkin masih ada yang harus diselesaikan dulu sebelum kemari."


"Ibu akan pulang kalau mereka sudah datang."


Tiba-tiba, Bi Idah datang tergopoh karena Adzra menangis kencang dalam gendongannya.


"Adzra kenapa, Bi?"


"Bibi tidak tau, Tuan. Tadi tiba-tiba dia bilang mimi.. mama.. beberapa kali. Terus dia tiba-tiba tangis kayak gini."


"Mm... kayaknya dia haus, Bi." Ardian meraih putranya dari gendongan Bi Idah. "Sini Sayang.. Adzra lapar, mau mimik di Mama ya.."


Anak itu mengangguk kembali mengucapkan mimi... mama..."


"Hahahaha... anak Papa udah pintar ngomong sekarang. Ayo kita ke Mama.. tapi Adzra jangan rewel ya.. soalnya mamanya lagi bobo. Nanti biar Papa yang bantu mimik." Ardian membawa putranya menaiki anak tangga sambil terus mengajak putranya ngobrol.

__ADS_1


Di dalam kamar, Ardian tidak mendapati istrinya di atas ranjang. Ia duduk di sofa dengan putranya karena mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Adzra kembali menangis karena tidak kunjung melihat Mamanya.


"Mas, Adzra kenapa nangis?!" Chayra berteriak dari dalam kamar mandi.


"Dia butuh kamu, Sayang."


"Oh, tunggu sebentar aku mau gosok gigi. Kasih minum saja dulu, Mas."


"Dia mau mimik katanya, Chay. Kamu cepetan saja. Aku akan mengalihkan perhatiannya sementara kamu selesai."


Tidak ada jawaban karena Chayra langsung menggosok giginya. Tak berselang lama, Chayra keluar dengan memakai daster rumahan. Aroma sabun masih tercium saat dia duduk di samping suaminya. Ardian tersenyum menatap istrinya.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" Ucap Chayra, tangannya meraih tubuh putranya dari pangkuan suaminya.


"Mmm... kamu terlihat semakin seksi kalau berpakaian seperti ini."


"Kamu menyanjung atau menghina, Mas?"


"Bukan menyanjung bukan juga menghina. Tapi aku benar-benar kagum melihat istriku. Untuk pertama kalinya dia memakai pakaian seperti ini."


"Lebay... perasaan biasa aja. Aku berpakaian seperti ini karena aku tidak akan keluar kamar, Mas."


"Kamu mau berkata aku lebay, aku tidak perduli karena aku tidak pernah seperti itu. Apa yang keluar dari mulutku, itu memang kata hatiku."


Chayra hanya menyebikkan bibirnya. Tiba-tiba dia teringat dengan janji suaminya beberapa hari yang lalu. "Kamu ada janji sama aku, Mas." Matanya langsung menatap suaminya dengan tatapan penuh harap.


"Kamu sudah berjanji akan menceritakan masalah....."


"Oh, iya.. iya.. aku ingat." Ardian langsung teringat dengan janjinya. Raut wajahnya berubah serius. "Tapi kamu harus berjanji tidak akan marah. Kamu tidak boleh protes dengan apapun yang akan aku ceritakan nanti."


"Bagaimana mau protes, Mas. Kamu cerita aja belum."


"Itulah makanya aku harus mengadakan perjanjian sebelum bercerita, agar nantinya aku aman saat selesai bercerita."


"Pasti ada yang nggak beres ya.."


"Mau diceritain nggak?!" Nada ancaman mulai keluar.


"Mau lah..." Chayra mulai cemberut karena suaminya terlalu banyak cincong. Ia beralih menatap putranya yang sudah mulai teler dalam buaiannya.


Ardian mencubit gemas pipi putranya. "Pantesan rewel ni anak, ternyata dia ngantuk."


Adzra merengek karena merasa terganggu.


"Mas, please deh anaknya jangan diganggu. Nanti kalau dia semakin rewel bagaimana.."

__ADS_1


"Ada Opa dan Omanya yang mau nginap nanti. Tinggal disetor aja sama mereka kalau Adzra rewel."


"Eh, dasar ni orang. Kalau orang tua mau nginap jangan diberikan beban. Buat mereka seperti raja biar betah tinggal disini."


"Sesekali aja biar mereka merasa muda lagi karena mengurus bayi."


"Nggak.. nggak.. nggak... tetep aja aku nggak suka, Mas. Ayo ceritakan dulu masalah yang kemarin. Kamu sengaja ya menunda-nunda waktu."


"Tunggu Adzra bobok dulu biar enak ceritanya. Bisa sambil meluk dan cium kamu nanti."


"Heh, alasan saja ni orang.."


"Aku kan cuma minta peluk dan cium, Sayang. Mau minta yang lain, tapi kan belum boleh karena kamu masih ada palang merah."


"Mm... mulai lagi nih..."


"Hahahaha..." Ardian tertawa senang melihat ekspresi istrinya. "Adzra udah bobok lelap kayaknya, Sayang. Aku bawa ke boxnya ya.."


"Masih mimik dia, Mas. Tarikannya masih kenceng gini. Ayo cerita aja sambil gini juga aku nggak apa-apa kok."


Ardian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik nafas panjang. Bagaimanapun juga ia harus menceritakan semuanya, sekalian minta maaf atas kebodohannya yang datang tanpa diundang itu. "Aku khilaf kemarin, Sayang." Tangannya menggenggam erat tangan kiri istrinya. Kata demi kata akhirnya tertumpah menjadi cerita yang membuat Chayra menggeleng-geleng pelan.


Chayra menarik nafas panjang setelah suaminya selesai bercerita. Ia melirik suaminya dengan kesal. "Tega kamu menuduh aku seperti itu, Mas. Kalau aku ada niat kenapa tidak dari dulu aja aku melakukannya saat aku belum punya anak? Sekarang aku sudah punya anak yang harus aku pertanggung jawabkan. Anak kita butuh kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya agar mentalnya tidak rusak. Lagian ngapain kayak gitu coba, kayak aku nggak tau hukum aja."


"Aku kan sudah minta maaf, Sayang. Aku kan sudah ngaku kalau aku khilaf. Dodit yang nyeramahin aku sampai sadar kemarin. Aku juga nggak tau kenapa bisa sampai seburuk itu jalan pikiranku. Mungkin karena efek lelah dan kurang istirahat."


"Sudah ah, jangan pegang-pegang kesel aku lihat kamu." Chayra menarik tangannya dari genggaman Ardian.


"Kan kita sudah adakan perjanjian, Sayang kalau kamu tidak boleh marah."


"Perjanjiannya dibatalkan secara sepihak karena hatiku ngilu mendengar pengakuan Mas Ardian." Chayra beranjak bangkit.


Ardian menggaruk-garuk kepalanya mendengar ucapan Chayra. "Loh, kamu mau kemana?" Menahan tangan istrinya yang sudah siap berlalu.


"Mas, lepas dulu, aku mau membawa Adzra ke boxnya. Mau ditidurin juga emannya, mau jadi bayi besar?" Chayra masih memberikan lirikan kesal.


Ardian tersenyum meringis sambil melepaskan tangan istrinya. "Mau, Sayang. Aku mau banget malahan."


"Nggak lucu! Aku akan menambah jadwal libur kamu sebagai hukuman karena menuduh istri yang tidak-tidak."


"Nggak apa-apa, Sayang. Dihukum sampai kamu mandi bersih juga nggak apa-apa. Abang terima dengan lapang dada."


"Enak aja.. sekarang aja aku sudah mandi bersih. Hukumannya, kamu puasa lagi satu minggu ke depan."


"What..?!" Ardian terlonjak kaget sampai bangkit dari duduknya. "Aku tidak sekuat itu, Chay.." Ardian menampakkan tatapan memelas.

__ADS_1


"Terserah... siapa suruh berpikir jahat sama istri sendiri." Chayra berlalu keluar kamar setelah menidurkan putranya. Tidka perduli dengan tatapan memelas suaminya.


***********


__ADS_2