Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Husein


__ADS_3

Husein melirik wanita yang sudah berbaring lelap di atas ranjangnya. Amira tertidur sangat lelap seperti tanpa dosa. Ia beberapa kali menarik nafas dalam setelah mengetahui kebenarannya. Ingin rasanya dia meninggalkan wanita itu di tempat hiburan malam tadi. Tapi, dia masih menggunakan akal sehatnya sehingga membawa Amira. Walaupun dia meninggalkan Amira di dalam mobil saat bertamu ke rumah Chayra.


Husein bangkit dari sisi ranjang sambil tersenyum getir. Menertawakan kebodohannya yang menerima begitu saja perjodohan dari orang tuanya dengan wanita pilihan orang tuanya sendiri. Ia mulai berpikir keras memikirkan kelanjutan hubungannya dengan wanita yang sedang tidur itu. Dirinya yang merupakan Pengusaha muda dan sukses saja tidak pernah menyentuh minuman seperti yang diminum istrinya tadi.


Husein POV...


Aku berulang kali menarik nafas panjang. Aku belum bisa memejamkan mataku walaupun waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku masih tidak menyangka akan mendapatkan kenyataan yang pahit ini. Wanita yang berusaha aku terima kehadirannya dalam hidupku benar-benar menyembunyikan berita besar ini. Ingin mengatakan menyesal, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku masih memikirkan perasaan kedua orang tuaku seandainya aku melepas wanita ini.


Aku menyingkap anak rambut yang menutupi dahinya. Dia memang cantik. Tapi, kenapa seburuk ini masa lalunya. Yang lebih parahnya lagi, dia masih menyimpan nama laki-laki dimasa lalunya itu dalam hatinya. Seandainya dia bisa bersikap seperti temannya yang bercadar tadi. Tentu aku akan sangat mencintainya. Aku tidak tau kenapa perasaanku berdesir saat melihat wanita bercadar tadi. Dia terlihat sangat anggun. Apalagi sikapnya yang tidak berani menatap lawan jenisnya membuat aku hampir saja mengatakan kalah aku jatuh hati pada wanita itu.


Sedikit pun dia tidak mau mengangkat wajahnya selama aku bertamu di rumahnya tadi. Mau bilang tidak pernah melihat aku, dia hanya sempat melirikku saat dia datang bersama suaminya. Ah, sungguh wanita yang luar biasa. Wanita yang sulit dijumpai di zaman sekarang. Kebaikan apa yang pernah dibuat laki-laki yang mengaku pernah menjadi masa lalu Amira itu, sehingga dia bisa mendapatkan istri secantik dan seanggun itu.


Untung saja aku sempat meminta nomor salah satu temannya Amira tadi. Seandainya aku tidak mengambilnya, aku tidak tau harus kemana mencari informasi lagi tentang istriku ini.


Wanita yang aku anggap baik karena berpakaian sangat sopan saat pertemuan pertama dengannya. Wanita yang aku anggap wanita luar biasa. Apalagi saat orang tuanya memujinya. Mereka bilang padaku, kalau putri mereka adalah wanita yang pandai menjaga diri dan kehormatannya. Tetapi, semua kekaguman itu sirna saat malam pertama kami. Aku langsung menunduk kecewa begitu mengetahui kalau aku bukanlah orang yang pertama untuknya. Dia hanya berulang kali minta maaf saat itu dan aku hanya mengangguk asal. Berusaha memberikan senyum terbaik disela-sela rasa kecewaku.


Aku berusaha menerima takdirku. Iya.. walaupun rasa kecewa tidak bisa aku sembunyikan lagi. Apalagi semakin kesini, sikap Amira semakin aneh. Tiba-tiba keluar dari rumah di tengah malam tanpa alasan. Aku hanya mengkhawatirkannya. Bagaimana kalau orang tuaku atau rekan kerja bertemu dengannya. Hal itu tentu saja membuatku semakin bimbang untuk mengambil keputusan.


Author POV...


Husein beranjak keluar. Membiarkan Amira istirahat dengan tenang. Entah mengapa sejak mengetahui kebenaran itu, dia merasa risih terlalu lama di samping wanita itu.


Pagi itu, Amira bangun dan seperti biasa olahraga pagi di sekeliling rumahnya. Puas berolahraga, dia langsung membersihkan badannya. Sedikit merasa aneh karena tidak melihat suaminya sejak pagi, ia beranjak mencari disekitar rumah. Tidak tampak ada Husein. Tapi, untuk bertanya pada Asisten, dia enggan untuk melakukan itu. Palingan Husein marah karena kejadian semalam dan nanti pasti akan baik dengan sendirinya pikirnya.


Namun, sampai siang menjelang, Husein belum juga menampakkan diri. Amira yang tidak tahan akhirnya bertanya pada Asisten rumah yang dari tadi hilir mudik mengerjakan ini itu.

__ADS_1


"Bi, pernah lihat Mas Husein suamiku?" Tanyanya


"Terakhir Bibi melihatnya masuk ke kamar tamu yang di sebelah Utara kamar Tuan besar, Non." Pembantu itu langsung berlalu setelah menjawab pertanyaan Amira.


"Loh, kok di kamar tamu." Amira langsung tertegun. Apakah suaminya sangat kesal sampai-sampai tidak mau tidur sekamar dengannya. Amira menghela nafas berat. Masa gara-gara Husein melihatnya mencengkram dagu Chayra membuat pria itu sangat kesal sampai-sampai tidak mau tidur bersamanya. Ternyata Amira tidak sadar kalau yang membawanya pulang sampai membopongnya adalah Husein suaminya. Semalam, dirinya benar-benar hilang kewarasannya. Dia berusaha mengingat kejadian sebelum dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Tapi, sekuat apapun dia mengingat, tidak ada yang terbersit sedikitpun dalam ingatannya. Dia hanya mengingat saat Kate menyeretnya untuk keluar.


***********


"Kok bisa sampai meninggalkan luka seperti ini, Ayra?" Tina memperhatikan dengan cermat dagu Chayra yang terluka karena kuku Amira. Bisa divisum sebenarnya ini. Kalau kamu keberatan, masalah ini bisa dipolisikan."


"Enggak! Aku nggak setega itu melaporkan temanku sendiri hanya karena bekas kukunya." Chayra menepis tangan Tina.


"Ew..." Tina memutar bola matanya. "Ngapain pakai acara kasihan segala. Dianya aja nggak pernah mau perduli. Nggak menganggap kita teman lagi. Aku aja yang dulu pernah bersimpati padanya jadi nggak sekarang. Pikun aku bekap aja wajahnya dengan bantal kalau mengingat kejahatan-kejahatan dia selama ini. Nyesel gue udah jadi pendukung dia."


"Eh, ngapain lagi lho masuk kesini. Pergi kerja sana. Kayak nggak ada kerjaan aja ikut campur urusan kami."


"Gue udah izin nggak masuk kerja hari ini. Mau menemani istri yang sakit karena diterkam kucing garong kemarin malam."


"Kan ada kami disini, Kak." Timpal Alesha. Sudah capek-capek minta izin sama pak suami untuk menemani Chayra yang lagi sakit malah Ardian berkata seperti itu. Bisa diintrogasi sama Pak suami nantinya.


"Iya nggak apa-apa walaupun ada kalian. Aku juga ingin libur. Capek melihat tumpukan kertas yang harus dirapikan dan dipelajari."


"Terus gue harus bilang apa dong sama Mas Zidane. Gue udah bilang kalau Kak Ardian pergi kerja. Si Ayra nggak ada yang jagain. Ibu Santi soalnya pergi ke Toko, sedangkan Bian pergi ke Sekolah."


"Iya... tinggal bilang kalau gue diizinin nggak masuk kerja. Ngapain pakai acara ribet segala. Toh, lho cuma diam di rumah ini, nggak akan keluyuran kemana-mana." Ardian beranjak keluar karena mendengar pintu depan di ketuk.

__ADS_1


Ardian menarik nafas dalam saat melihat tamu yang datang. Untuk apa lagi pria itu datang kemari batinnya. Namun, dia mempersilahkan tamunya masuk dan memintanya untuk menunggunya di ruang tamu.


"Sstt.. sstt... kalian keluar dulu. Ada suaminya Amira di depan." Ardian sedikit berbisik.


Alesha dan Tina saling pandang. "Kok dia bisa ada disini? Siapa yang memberi tahu dia alamat rumah ini?" Alesha berjalan mendekati Ardian.


"Kemarin malam juga dia datang bersama temanku. Sudah, jangan banyak protes, kalian keluar saja. Chay, kamu diam saja di kamar."


Chayra mengangguk lemah. Badannya memang kurang fit hari ini. Tadi sehabis shalat subuh pun, dia langsung istirahat kembali. Terasa tidak ada tenaga walaupun untuk sekedar berjalan ke ruang tamu.


Alesha dan Tina duduk di depan Husein. Pria itu terkejut mendapati dua teman istrinya keluar dari rumah Chayra. "Kalian berdua ada disini?"


"Iya, Mas Husein. Teman kami Chayra lagi sakit karena perbuatan Amira malam itu." Jawab Tina asal.


Tentu saja Husein langsung tersentak. "M.. maksud kalian?"


"Amira meninggalkan luka di dagu Chayra. Dia sepertinya sengaja menancapkan kukunya ketika mencengkram dagu Chayra malam itu."


"Tapi Mas Husein tidak perlu khawatir. Ayra sudah baik-baik saja kok sekarang. Dia cuma butuh istirahat yang lebih karena dia memang lagi hamil tua." Alesha menepis paha Tina yang sepertinya sengaja membuka semuanya di hadapan Husein. Melototkan matanya sebagai isyarat agar dia tidak bicara lagi. Alesha kembali menatap Husein. "Amira bagaimana keadaannya, Mas. Karena malam itu kami langsung pulang. Jadi, kami tidak sempat bertemu lagi dengan dia."


"Dia ada di rumah sekarang. Aku mogok bicara sama dia sejak malam itu. Aku semakin kesal saat aku mendapatinya di tempat hiburan malam dalam keadaan mabuk berat. Tapi, dia terlihat santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Seandainya dia memikirkan perasaanku, dia pasti minta maaf. Tapi dia tidak melakukan itu. Aku diam, dia pun semakin diam. Seperti sangat bahagia ketika aku tidak mengajaknya bicara."


"Amira memang begitu orangnya, Mas. Dari dulu, pasti kita yang selalu mengalah padanya. Dia selalu ingin mendominasi dalam berbagai hal." Tina kembali angkat bicara. Alesha hanya bisa menghela nafas berat. Percuma juga dia melarang Tina bicara karena Husein sudah pasti ingin tahu semua tentang Amira.


************

__ADS_1


__ADS_2