
Amira tertegun melihat semua orang yang mengelilinginya. Papi, Mami, suami, ketiga sahabatnya, mantan kekasihnya, Bu Santi dan juga Pak Akmal semua berkumpul di depannya. "Kenapa kalian berkumpul seperti ini seolah-olah menjadikan aku tersangka sebuah kejahatan. Aku tidak bersalah, aku tidak pernah mengirim pesan apapun. Keluarkan aku dari rumah terkutuk ini." Bibir Amira bergetar saat bicara. Perasaannya campur aduk saat ini.
"Kamu akan bebas jika kamu berjanji satu hal." Pak Akmal menimpali dengan santai. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di layar iPad di tangannya.
"Maksud Kakek apa? Salah aku apa sampai Kakek tega menyekap aku di sini sampai selama ini?"
"Kamu tidak di sekap, Amira. Aku cuma mengunci kamu di dalam kamar, menyita handphone kamu dan mencari tau apa saja yang sudah kamu lakukan pada cucuku." Pak Akmal menatap Amira tajam lalu melanjutkan aktivitasnya.
Amira menelan ludahnya yang terasa sulit di telan. Keadaannya benar-benar terpojok saat ini. Memperhatikan satu-persatu orang yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Aku mungkin terlihat seperti orang yang kurang kerjaan dengan mengurus kebodohan kamu. Tapi, aku sudah bilang berkali-kali padamu, kalau aku paling tidak suka ada orang yang mengusik kehidupan keluargaku." Pak Akmal mengalihkan layar proyektor ke arah tembok yang putih bersih. "Maaf, Pak Rano dan istri, inilah bukti kejahatan putri Bapak dan Ibu yang sempat kalian tidak percayai. Saya hanya berterimakasih karena sudah berkenan hadir dalam acara hari ini. Hari ini kalian akan melihat semuanya." Pak Akmal mulai memutar video pertama.
Amira kembali menelan ludahnya yang terasa semakin sulit di telan. Matanya menatap sendu ke arah Husein yang sama sekali tidak menatapnya dan hanya fokus pada layar proyektor. "M.. Mas... Husein..."
Husein mengangkat tangannya agar Amira tidak melanjutkan ucapannya. Matanya masih fokus pada layar proyektor.
Amira menunduk sedalam-dalamnya. Dia tidak pernah menyangka akan begini jadinya. Semua kelakuannya yang dia sembunyikan dengan sangat rapat kini diketahui orang-orang terdekatnya.
Satu persatu bukti sudah dikeluarkan oleh Pak Akmal. Entah kapan sang Kakek itu mencari tau. Intinya semua masalah yang timbul dalam pernikahan cucunya yang disebabkan oleh Amira muncul ke permukaan sore ini.
"Puas kalian memojokkan aku, PUAS...?!!!" Amira berteriak saat video terakhir di pertontonkan. Foto yang dia kirim pada Chayra terakhir kali, foto yang menyebabkan Chayra terkena serangan vertigo.
"BELUM..!!" Ardian membalas teriakan Amira tak kalah keras.
Semua yang menatap Amira kini beralih menatap Ardian. Rahang pria itu mengeras menandakan betapa dia menahan emosi yahh sepertinya siap meledak. "Aku ingin kau membayar semua yang telah engkau lakukan pada istriku, Amira."
Air mata Amira jatuh seiring dengan kerjapan matanya. Entah kenapa dia merasa kasihan pada dirinya sendiri saat ini. Laki-laki yang dia bela mati-matian ternyata ikut memojokkan dirinya. Bahkan menjadi satu-satunya orang yang paling keberatan atas kejadian ini. "A.. apa... kau juga.. bisa membayar.. kehormatan yang sudah kau renggut dariku?" Berjalan mendekati Ardian dengan tangan teracung ke arah pria itu. "Mas Husein, kamu tidak mendapati aku perawan di malam pertama kita karena ulah pria ini. Dia yang telah merenggut semuanya, dia adalah dalang dari semua kebodohan yang aku lakukan. Aku tidak akan segila ini jika saja dua mau bertanggung jawab."
__ADS_1
Deg...!
Semua terdiam mendengar ucapan Amira. Tetapi, beberapa detik kemudian, Alesha mendekati Amira. "Seharusnya kamu introspeksi diri, Mira. Itu adalah masa lalu kalian. Bukankah kamu yang terlalu gila dalam mencintai Kak Ardian sehingga kamu rela memberikan semua milikmu untuknya."
"Tidaaaakk..! Dia selalu memaksa aku untuk melakukan itu dengannya. Aku selalu menolak, tetapi dia selalu membujukku dengan janji-janji manis yang dia ucapkan."
"Katakan janji yang sekiranya pernah aku ucapkan untukmu." Ardian kembali menimpali.
"Kak Ardian pernah berjanji untuk menikah denganku ketika Kakak menyelesaikan program Magister Kakak di...." Amira menghentikan ucapannya.
"Aku lulus di sini, Amira di negara kita. Aku tidak jadi pergi ke luar negeri karena perbuatanku sendiri. Kita memang tidak berjodoh, mengertilah."
"Tapi kenapa Kakak harus berbahagia dengan Ayra. Kenapa tidak dengan orang lain saja?! Aku sudah bisa move on dengan Kak Ardian. Tapi aku belum bisa menerima, kenapa harus Ayra, kenapa harus dia?!"
Semua yang ada di sana hanya menggeleng-gelengkan kepala bingung dengan sikap Amira. Husein berjalan mendekati istrinya, menjatuhkan wanita itu ke dalam pelukannya. "Kenapa harus dengan Ayra?" Kembali pertanyaan itu terlontar dari mulut Amira.
"Aku.. aku tidak ingin melihat wajah mereka berdua.." Amira menunjuk Chayra dan Ardian secara bergantian.
"Seharusnya kamu diam di Turki agar tidak melihat wajah mereka."
"Walaupun aku di Turki wajah mereka selalu terpampang di media sosial. Berhenti post foto kalian di medsos agar aku tidak naik pitam lagi." Amira berkata sambil melengos.
"Aku tidak pernah memposting foto apapun." Untuk pertama kalinya Chayra bicara. Mulutnya terlihat bergetar saat bicara karena menahan tangis.
"Bukan kamu, tapi suami kamu itu selalu mempertontonkan kebahagiaan kalian. Bukankah itu sebuah kedzaliman, kalian bahagia di atas penderitaanku.."
"Sudah, sudah.. berhenti, Amira..! Papi sudah bosan mendengar kamu. Papi malu sama menantu dan besan Papi kalau kamu seperti ini. Sekarang ikut Papi pulang. Kamu harus dihukum atas semua yang sudah kamu lakukan. Benar-benar anak memalukan.." Pak Rano menarik paksa Amira dari pelukan suaminya.
__ADS_1
"Jangan, Papi..! Biar aku yang mengurus istriku. Papi jangan ikut campur.salam urusan ini."
"Dia telah merusak nama baik Papi, Husein. Papi juga malu padamu karena Papi sudah memuji-muji dia di hadapan kamu dan keluargamu dulu."
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Papi. Aku sudah menerima putri Papi dengan segala kekurangannya. Yang aku inginkan sekarang, Papi membantu aku memperbaiki istriku agar dia kembali ke jalan yang benar." Husein kembali menarik tubuh Amira ke dalam pelukannya.
Pak Rano menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya menarik tangan istrinya. "Kalian urus diri kalian sendiri. Saya sudah muak dengan kebodohan ini." Pak Rano meninggalkan rumah itu dengan kekesalan yang memuncak. Istrinya ditarik paksa untuk mengikuti langkahnya.
"Kita pulang sekarang. Urusan kita sudah selesai sampai di sini." Pak Akmal bangkit seraya menepuk tangannya. "Ayra, sini Sayang." Chayra berjalan mendekat mengikuti instruksi kakeknya. Tapi, dia menggenggam erat tangan ibunya yang akhirnya ikut bangkit.
Pak Akmal langsung merangkul bahu cucunya. Terlihat jelas kalau dia begitu menyayangi cucunya itu. "Dengarkan aku, Amira. Chayra Azzahra adalah cucuku. Dia ini orangnya sangat rendah hati dan tau diri. Dia tidak pernah dendam kepada siapapun itu termasuk pada kamu, orang yang telah banyak menorehkan luka dalam kehidupannya. Dan untuk Ardian." Pak Akmal mengisyaratkan pada Ardian untuk mendekat. Merangkul tubuh Ardian dengan sebelah tangannya. "Dia sudah menyerahkan seluruh kehidupannya untuk cucuku. Aku pernah menyuruhnya melepaskan cucuku untuk kembali kepadamu. Tapi, dia menolak dengan tegas. Katanya, dia takut kembali ke dunia yang kelam kalau harus berhubungan kembali dengan seorang Amira. Dan alasannya yang membuat aku kasihan, dia bilang sangat mencintai cucuku, sampai-sampai dia takut kehilangannya."
Ardian dan Chayra hanya menunduk di bawah rangkulan Pak Akmal.
"Nak Husein coba mulai sekarang di kontrol penuh kegiatan istrinya. Jangan terlalu diberikan kebebasan, karena bisa jadi kebebasan yang Nak Husein berikan di salah gunakan olehnya."
Husein hanya mengangguk sambil terus menepuk-nepuk punggung istrinya yang masih sesenggukan dalam pelukannya. "Jangan menangis, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Kedepannya, mari kita meniti kehidupan yang baru. Membuka lembaran baru dalam kehidupan kita. Jangan ada dendam lagi atau apapun itu sejenisnya."
"Maafkan aku yang dibutakan nafsu selama ini, Mas."
Husein hanya mengangguk. Tiba-tiba, Amira melepas pelukan suaminya. Berjalan perlahan mendekati Chayra dan Ardian yang masih dalam rangkulan Pak Akmal.
"A.. Ayra.. maukah kamu memaafkan aku. Aku.. aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku.. aku berjanji akan menjadi orang baik mulai sekarang. Aku.. aku berjanji akan merubah sikap dan penampilanku. Aku.. aku akan menjadi diriku sendiri sekarang." Meraih tangan Chayra yang terasa kaku. "M.. maafkan aku, Ayra.. Maafkan aku yang bodoh ini."
Chayra terharu mendengar ucapan temannya. memeluk tubuh temannya dengan perasaan yang haru biru.
*******
__ADS_1