
"Ardian mana?!" Seorang wanita dengan rambut acak-acakan masuk tanpa dipersilahkan. Nyosor ke ruang tamu, menghempaskan tubuhnya di atas sofa seraya menyilang kedua kakinya dengan angkuhnya.
"Anda siapa ya.. datang tanpa salam. Belum dipersilahkan masuk, main nyosor aja masuk." Ucap Santi dengan kesal.
"Gue nggak butuh dipersilahkan. Gue datang kesini hanya ingin mencari Ardian. Dia sudah keterlaluan. Benar-benar manusia setan."
"Astagfirullahal'adzim.." Bu Ainun langsung menutup mulutnya tidak percaya mendengar umpatan wanita itu.
"Ini rumah saya bukan rumah Ardian. Jika anda mencari yang bukan pemilik rumah, setidaknya bersikaplah sopan pada pemilik rumah. Lagian tidak ada dalam sejarah kehidupan saya, ada orang yang datang bertamu saat waktu subuh." Santi berusaha bersikap tegas karena dia benar-benar merasa terganggu.
"Gue nggak perduli ini rumah siapa. Intinya gue mencari dia karena gue tau kalau dia tinggal di rumah ini." Wanita itu berdiri. "Ardian, keluar lho. Gue tau kalau lho tinggal disini. Lho harus bertanggung jawab."
Anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga bergerombol ke ruang tamu. Ardian juga ikut keluar. Terkejut juga mendengar namanya disebut-sebut. Ardian berjalan ke depan dan menautkan alisnya melihat orang yang meneriaki namanya.
"A... Audy.. ng.. ngapain lho cari gue?"
Wanita yang ternyata Audy itu langsung berbalik begitu mendengar suara Ardian. "Huh, akhirnya keluar juga lho. Nih, mertua lho ngusir gue gara-gara gue datang kemari mencari lho. Gue mau ngomong sama lho."
"Ngomongin apa? Kita udah nggak ada urusan lagi kan?"
"Eh, enak aja lho bilang kita nggak ada urusan. Gue positif terkena penyakit A***. Ini semua gara-gara lho. Lho yang paling sering berhubungan dengan gue. Sebelum gue berhubungan dengan lho, gue baik-baik saja kok."
"J.. jaga omongan lho, Audy. Gue nggak pernah melakukan apapun sama lho. Gue memang pernah sering sama lho, tapi itu dulu sudah lama banget kejadiannya."
Audy mendengus. "Lho kira orang yang terinfeksi itu langsung ambruk begitu dia terinfeksi? Nggak, Ar. Semua butuh proses. Gue terkena penyakit ini saja baru-baru ini sadar. Tapi gue nggak pernah melakukan hubungan apapun dengan siapapun setelah tidak berhubungan lagi sama lho. Itu sebabnya, gue mencari lho karena pasti lho yang bawa penyakit ini pada gue. Secara, lho itu kan bejatnya kebangetan."
"Kalau ngomong itu jangan sembarangan ya, Mbak. Suami saya tidak pernah berhubungan dengan anda hampir dua tahun ini." Chayra maju ke depan melakukan pembelaan. "Lagian, suami saya sehat-sehat saja kok. Mana mungkin dia bisa hadir diantara kami kalau memang dia menderita penyakit seperti yang anda tuduhkan."
__ADS_1
Pak Akmal maju ke depan dengan muka merah padam. "Kalian semua DIAM!" Nafasnya naik turun menatap Ardian dan Audy secara bergantian. "Ini maksud kalian apa, membuat keributan di rumah menantu saya."
Ardian membuang nafas kasar seraya mengusap-usap wajahnya. Beberapa kali terdengar melafadzkan istighfar dengan suara lirih.
"Gue hanya butuh pertanggung jawabannya. Gue udah sakit sejauh ini. Dia harus menyelamatkan gue dari penyakit ini." Timpal Audy kesal.
"Apa bukti yang kamu bawa sehingga menuduh Ardian dengan tuduhan yang sangat hina itu?" Pak Akmal mengeratkan giginya kesal.
Audy melengos. Dalam hatinya sudah ada rasa was-was yang menghantui. Tapi, dia sudah bertindak sejauh ini. Dia tidak mungkin mundur karena bisa jadi Amira mencabut janjinya. "G.. gue punya hasil tesnya."
"Tes milik siapa? Punya kamu atau punya Ardian?"
"Iya.. p.. punya gue."
"Terus apa alasan kamu mengatakan Ardian yang menularkan penyakit itu padamu?" Pak Akmal menatap Audy dengan tajam.
"Apakah kamu berani mempertanggung jawabkan ucapan kamu itu?" Pak Akmal semakin mendekati Audy.
"I.. iya... g.. gue b..berani." Audy mengalihkan pandangannya. Pura-pura menatap Ardian yang terlihat sedang menggenggam tangan istrinya.
Pak Akmal tersenyum sinis. Membuang nafasnya saat mencium aroma tubuh Audy yang bau alkohol. "Tempatku berdiri ini berjarak kira-kira empat puluh centimeter dari tempat kamu berdiri. Aroma tubuh kamu sudah tercium. Kamu bau.." Pak Akmal berjalan menjauh, duduk di sofa dengan mengangkat sebelah kakinya. "Ucapan wanita j***** seperti kamu tidak bisa dipercaya begitu saja. Aku sendiri yang akan melakukan tes pada cucuku. Kalau perlu, aku akan membawanya ke luar negeri untuk membuktikan kalau dia tidak terinfeksi penyakit seperti yang kamu sebutkan tadi."
Audy hanya terdiam menatap Pak Akmal dengan tajam. Dadanya terlihat naik turun karena menahan kesal.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kira sedang berurusan dengan anak kemarin sore? Aku jauh lebih berpengalaman dalam segala bidang daripada kamu. Berurusan dengan manusia seperti kamu hanya membuang-buang waktu." Pak Akmal bangkit seraya bersedekap. "Pulang lah sebelum aku mengusir kamu dengan tidak hormat. Jika ada yang menyuruhmu seperti yang dulu kamu lakukan karena alasan kamu membutuhkan uang, kembalikan uang itu. Dari ujung rambut sampai ujung kakimu haram hukumnya menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Jangan kira kalau kami akan terpengaruh dengan ucapan kamu. Kami sudah mengenal siapa Ardian. Kami juga tau masa lalunya yang kelam. Tapi, selama dia masih mau berubah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak." Pak Akmal berjalan mendekati pintu dan membukanya lebar. "Silahkan keluar sebelum aku meneriaki kamu sebagai orang gila."
"Tapi..." Audy berdecak kesal.
__ADS_1
"Apa lagi? Keluargaku tidak terbiasa bersama dengan wanita macam kamu. Mataku dan hidungku juga sudah perih melihat dan mencium aroma tubuh kamu. Silahkan keluar.."
Audy menatap Pak Akmal dengan tajam. Menghentakkan kakinya sebelum akhirnya keluar dari rumah itu.
Pak Akmal langsung mengunci pintu dari dalam begitu Audy keluar. "Kita kembali ke ruang keluarga. Anggap kejadian tadi sebagai angin lewat." Perintah Pak Akmal. "Ayra, kamu masuk ke kamar. Santi, kamu temani putri kamu. Ardian, kamu ikut sama Kakek sekarang." Pak Akmal berjalan ke bagian belakang rumah menuju Musholla.
Tidak ada yang bisa menganggap kejadian tadi sebagai angin lalu. Semua anggota keluarga bahkan bungkam di ruang keluarga. Tidak tau topik apa yang akan mereka bicarakan. Ucapan Audy yang mengatakan kalau Ardian mengidap penyakit s*** itu membuat perasaan Santi tak karuan. Lebih tepatnya dia mengkhawatirkan Chayra dan anak dalam kandungannya. Jika Ardian sakit, itu berarti anak dan cucunya juga ikut terinfeksi.
"Ibu kenapa terlihat murung? Apa Ibu memikirkan ucapan wanita tadi?" Chayra menangkup pipi Ibunya yang hanya diam setelah memasuki kamar."
"Ibu hanya mengkhawatirkan kamu, Nak. Bagiamana kalau ucapan wanita itu benar? Ibu takut kalau kamu...."
"Ssstttt... tidak boleh berfikir buruk. Ibu sudah termakan omongan Mbak Audy. Jika memang ada keganjilan, Dokter pasti memberi tahu kita. Tapi, Dokter selalu bilang semuanya baik-baik saja, kan?"
"Ibu cuma khawatir, Nak. Cobaan pernikahan kalian banyak sekali. Ibu mulai risih dengan masa lalu Ardian yang silih ganti berdatangan. Kenapa baru sekarang mereka muncul saat Ardian sudah berubah menjadi orang baik. Kenapa mereka tidak bermunculan dulu saja."
"Istighfar, Bu. Ibu kenapa ngomong gitu sih?"
Santi tersenyum lemah seraya menghela nafas berat. "Astagfirullah, semoga Allah segera menunjukkan kebesarannya. Apa tidak apa-apa kalau Ibu tinggalkan kamu sendirian di kamar? Ibu harus membuat sarapan untuk keluarga besar kita, Nak."
"Tidak usah repot-repot, Bu. Kak Ardian sudah memesan makanan semalam di pedang nasi Padang di depan gang. Ibu akan capek kalau masak terlalu banyak."
"Tidak apa-apa, Sayang. Sudah menjadi kewajiban Ibu."
"Tapi Kak Ardian sudah memesan untuk makan siang juga. Dia nggak mau kalau Ibu kecapekan nanti.
Sementara itu...
__ADS_1
Audy mengacak-acak rambutnya setelah keluar dari halaman rumah Santi. Dia harus mencari cara lain lain. Mentalnya langsung ciut. Dia tidak mempersiapkan diri sebelumnya jika akan bertemu langsung dengan Pak Akmal. Hanya menyusun rencana jika hanya Chayra dan Ibunya di rumah. Berniat membuat mental Chayra down. Tapi, malahan dia yang down duluan. Melirik kembali ke arah pintu rumah yang sudah tertutup. Rencananya gagal total. Dia tidak menyangka kalau Pak Akmal akan mampu mengusirnya secepat itu.