
Ardian bergegas mengikuti langkah Pak Randi. Dia segera mandi tadi pagi saat Dodit mengetuk pintu kamar dan memintanya untuk segera bersiap karena acara penutupan akan segera dilakukan.
"Pelan-pelan saja, Ardian. Kamu tadi enak-enakan di kamar. Eh, pas aku minta Dodit mengingatkan kamu, katanya kamu sedang video call, apa benar begitu?"
Ardian tersenyum meringis. Sedikit malu karena katahuan sedang menghubungi istrinya. "I.. iya, Pak.."
"Memangnya yang semalam tidak cukup?"
Ardian terkejut. "Maksud Bapak?"
"Kamu kan pamit duluan tadi malam untuk kembali ke kamar hotel. Kamu bilang mau menghubungi istri kamu. Sampai jam berapa kamu telponan sampai tidak cukup dengan yang tadi malam?"
Ardian menampakkan barisan giginya. "Hihihi.... semalam sampai kamar hotel, saya langsung tidur, Pak. Boro-boro mau menghubungi istri, Pak.. mata aku udah kayak ditempelkan lem."
Pak Randi hanya menggeleng-geleng pelan. "Saya saja yang kembali pukul satu dini hari bisa menghubungi keluarga di rumah. Eh, kok kamu yang lebih awal malah langsung ambruk."
"Udah lama tidak begadang, Pak. Sekarang saya selalu tidur di awal, itulah mengapa saat jam sebelas malam saja, mata saya benar-benar sudah ngantuk."
"Iya.. sekarang kamu hanya perlu mendampingi saya saja. Kamu tidak akan ada kegiatan berarti. Tapi, kamu haru bisa menjaga image Perusahaan. Kita sudah mencapai kesepakan final tadi malam. Sekarang hanya tinggal penutupan saja."
"Bukannya semalam sudah ditutup, Pak?"
"Kalau semalam pertemuannya yang ditutup. Yang sekarang itu penutupan acara secara keseluruhan. Tidak akan lama kok, hanya acara pesta kecil-kecilan." Pak Randi kembali melanjutkan langkahnya.
"Setelah ini kamu bisa langsung pulang. Tapi, karena aku yang memesan tiket pesawat. Aku mengambil penerbangan sore hari." Dodit mengering licik pada Ardian.
"Kenapa nggak ambil yang siang aja biar cepat sampai rumah."
"Kalau mengambil penerbangan siang, takutnya waktu terlalu mepet. Jadinya tidak ada waktu untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah."
Ardian tersenyum lebar. "Ternyata otak kamu bisa mikir sampai sejauh itu. Aku yang sudah menikah aja tidak kepikiran untuk membeli oleh-oleh dulu. Rasanya ingin segera sampai rumah dan memeluk istri."
Dodit mendengus. "Pak Sucipto menghubungiku pagi tadi."
Ardian langsung menatap fokus pada Dodit. "Apa yang Papi tanyakan."
"Hasil kinerja kamu, apa masih perlu diasah lagi atau bagaimana."
"Terus kamu bilang apa?"
Dodit menatap Ardian. "Aku jelaskan semuanya. Aku juga bilang, sebenarnya kinerja kamu sudah patut diperhitungkan. Cuman, kesalahan yang tadi malam saja kedepannya harus bisa diminimalisir. Kamu kalau sudah rindu pada keluarga sampai tidak bisa fokus kerja. Seharusnya saat bekerja lupakan masalah yang lain."
__ADS_1
Ardian cengengesan. "Hehehe.. aku akan berusaha lebih baik ke depannya."
"Pak Randi sampai menarik nafas panjang berulang kali karena ulah kamu. Aku aja sampai sesak karena oksigennya dihirup habis oleh Pak Randi. Untung saja yang membuat kesalahan itu kamu. Kalau aku, nggak kebayang deh marahnya dia akan merambah kemana-mana."
"Maaf..." percakapan mereka terhenti saat semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan. Pak Randi mengisyaratkan pada kedua asistennya itu untuk mengambil posisi karena acara akan segera dimulai.
*********
Pesawat mendarat tepat setelah adzan Maghrib berkumandang. Ardian menarik nafas lega seraya melafadzkan hamdalah. Ia bergegas menuju Musholla untuk menunaikan shalat agar tidak ada beban saat sampai rumah nanti.
Ardian memesan mobil online setelah dia selesai shalat. Sambil menunggu mobil pesanannya datang, dia menghubungi istrinya.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam, Mas. Lagi dimana? Apa jadi pulang hari ini?"
"Aku udah mau menuju rumah ini, Sayang."
"Loh, yang benar saja. Kenapa nggak minta dijemput?"
"Tidak mau merepotkan. Ini mobil aku udah datang, sampai bertemu nanti di rumah. Assalamualaikum.." Ardian mematikan sambungan telepon. Segera menaikkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Uh, baru dia perhatikan ternyata kopernya memang sangat berat. Pantesan Dodit mengeluh saat dia minta tolong tadi.
Mas Ardian langsung menuju rumah Papi. Kami sedang berkumpul disini. Mami masih sakit..
Ardian memeluk istrinya begitu sampai di rumah orang tuanya. Ternyata semua kumpul di ruang keluarga. Tidak terlihat ada adik iparnya disana. Apa Bian tidak ikut kemari batinnya. "Chay, Bian mana kok tidak ada disini?"
"Dia di rumah. Besok hari terakhir ujiannya. Karena minggu depan dia mau ikut ke Pesantren, jadi dia harus mendapatkan nilai terbaik agar bisa sombong pada Abah nanti. Kamu hampiri Mami dulu, Mas. Jangan lupa berikan pelukan hangat. Dari kemarin Mami menanyakan kamu terus." Chayra berbisik di telinga suaminya yang langsung diberikan anggukan oleh Ardian.
"Mami apa kabar?" Ardian mencium tangan Maminya lalu memeluknya erat.
"Sudah tau Mami lagi sakit, kenapa menanyakan kabar segala? Mami meminta istri kamu untuk datang tadi karena Mami kesepian. Papi kamu masih di Singapura. Nggak tau kapan dia akan pulang."
"Kapan Papi berangkat?"
"Sehari setelah kamu ke luar kota." Bu Renata memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Mami pusing?" Ardian mencoba memberikan pijitan kecil di kepala Maminya.
"Darah tinggi Mami kumat dari kemarin. Gara-gara keasyikan makan rendang buatan mertua kamu. Sampai lupa kalau punya riwayat darah tinggi."
"Mami mah suka gitu dari dulu. Kalau udah suka pasti sulit dikendalikan."
__ADS_1
Bu Renata hanya tersenyum asal. "Kamu istirahat saja dulu, Nak. Kamu pasti capek kan. Malam ini kalian nginap disini. Bu Santi nanti biar supir yang mengantar pulang." Ucapan berbau perintah yang diucapkan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.
Ardian melengos mendengar ucapan Maminya. "Mami suka memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan dulu. Aku mau pulang, Mi. Lebih baik aku datang lagi besok. Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu dengan Chay dan juga Ibu."
"Kamu bisa menyelesaikannya sekarang."
"Tidak bisa, Mi."
Bu Renata mendengus. "Kamu selalu saja menolak permintaan Mami. Padahal Mami kan cuma meminta waktu kamu satu malam saja, Nak."
"Insya Allah besok malam Ardian nginap. Malam ini aku benar-benar tidak bisa. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedangkan laptop dan berkas semuanya ada di rumah."
"Terserah kamu kalau begitu." Jawab Bu Renata dengan nada kecewa. Ardian sengaja memancing dengan alasan sibuk dengan pekerjaan, karena Maminya paling tidak suka kalau ada pekerjaan kantor yang terbengkalai.
"Kami mau pamit sekarang, Mi. Ayo, Ardian antar Mami ke kamar dulu. Mami harus banyak istirahat biar cepat sembuh." Ardian membantu Maminya berdiri, memapahnya berjalan.
"Ah, kok Mami merasa terharu diperlakukan seperti ini sama kamu."
"Ardian sudah tobat sekarang, Mi. Kalau dulu mana pernah Ardian kayak gini. Yang ada Ardian tidak pernah perduli mau Mami sakit atau tidak."
Bu Renata mengacak-acak rambut putranya. "Eh, kebawa suasana sampai Mami lupa pamitan sama besan Mami. Kamu ini sengaja atau apa tidak mengingatkan Mami untuk berpamitan." Bu Renata berbalik kembali ke ruang keluarga. Padahal mereka sudah sampai di depan pintu kamar.
Ardian menarik nafas lega setelah berhasil membujuk Maminya dan memasukkannya ke dalam kamar. Bu Santi hanya menggeleng-geleng pelan. Entah apa yang direncakan menantunya sehingga menolak permintaan Maminya.
Ardian menarik kopernya setelah turun dari mobil. Dia langsung meminta supir untuk mengantar mereka pulang beberapa saat setelah Bu Renata masuk ke dalam kamar.
"Biar saya yang bawakan kopernya, Tuan." Supir sudah siaga untuk membantu Ardian.
"Tidak usah, Pak. Saya bukan anak manja lagi seperti yang dulu Bapak kenal. Terimakasih sudah mengantar kami pulang. Bapak boleh kembali sekarang. Sekali lagi terimakasih, Pak."
Supir itu terlihat kikuk mendengar ucapan Ardian yang berulang kali mengucapkan terimakasih. Sangat berbeda dengan anak majikannya yang dulu dia kenal. Ardian yang angkuh dan tidak tau sopan santun sama sekali.
"Apa yang kamu rencanakan, Mas?" Chayra langsung mengintrogasi suaminya begitu mereka masuk kamar.
"Maksud kamu apa, Sayang." Ardian menjatuhkan tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu menolak permintaan Mami untuk menginap. Padahal aku sudah setuju loh, pas Mami meminta aku tadi."
Ardian tersenyum jahil. "Aku tidak akan bisa melepas rindu sama kamu kalau kita nginap di sana. Mami itu banyak akalnya. Sekalian aja kita yang nikung biar dia tau rasanya. Dia juga sudah baik-baik saja kok tadi. Sengaja pura-pura masih sakit agar kita mau menginap."
Chayra menggeleng-geleng pelan. "Aku bingung dengan jalan pikiran kalian."
__ADS_1
Ardian mempererat pelukannya dengan tangan yang sudah merayap kemana-mana. Bakalan benar-benar melepas rindu sampai tuntas kayaknya malam ini..
*************