Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ardian Baskara 3


__ADS_3

"Aku tidak menuntut kalian untuk selalu ada disampingku, menemaniku setiap waktu. Tetapi, setidaknya kalian ada disaat aku benar-benar butuh kalian. Disaat aku terpuruk dan butuh teman, tidak ada yang menguatkan aku selain Amira. Wanita yang sangat aku cintai. Cuman dia satu-satunya orang yang perduli padaku. Itulah mengapa aku sangat berat untuk meninggalkan dirinya sekarang."


"Apa yang istimewa dari wanita itu, Nak?"


Ardian tersenyum sinis. "Papi menanyakan apa yang istimewa dari Amira? Sudah sangat jelas, kalau Amira istimewa bagi Ardian, Pi. Dia satu-satunya orang yang selalu memperdulikan aku. Menanyakan aku, apa aku sudah makan apa belum. Menanyakan, apakah aku sehat apa tidak. Menanyakan posisiku saat dia tidak melihat aku disekitar Kampus. Kalian yang orang tua aku, apakah Papi dan Mami pernah bertanya hal-hal sepele itu padaku?"


"Itu memang hal sepele, Pi, Mi. Tapi sesungguhnya pertanyaan itu menjadi hal yang istimewa untuk anak terlantar seperti aku ini."


"Kami tidak menelantarkan kamu, Ardian. Walaupun kami tidak pernah ada di samping kamu. Akan tetapi kami selalu memenuhi kebutuhan kamu. Jadi tidak ada alasan kamu mengatakan kami menelantarkan kamu." Bu Renata bangkit dengan emosi yang meluap-luap. "Jaga mulut kamu kalau kamu ngomong! Sopan sama orang tua, agar kami tidak kecewa memiliki anak seperti kamu."


Ardian tertawa kecil mendengar ucapan maminya. "Aku tidak bisa melakukan itu, Mami. Kalian sendiri tidak pernah mengajarkan kepadaku bagaimana cara beradab kepada orang tua. Bagaimana aku akan bisa sopan, sedangkan tata cara bertata krama tidak pernah tertulis dalam kamus hidupku."


"Ardian..!" Bu Renata mendekati Ardian, dan..


Plak..!


"Renata..! Keluar kamu dari sini! Aku tidak mau putraku semakin tidak berperi kemanusiaan melihat tingkah semena-mena kamu." Pak Sucipto langsung menyeret istrinya.


"Biarkan saja Mami disini, Pi. Kan Papi sendiri yang bilang tadi. Papi ingin menyelesaikan semua masalah yang ada padaku malam ini." Ardian kembali mengusap air matanya.


"Aku lebih baik pergi daripada harus mendengarkan ucapan kotor anak durhaka ini."


"Hah? Mami bilang, aku anak durhaka? Aku yang anak durhaka atau Mami yang pantas menyandang gelar orang tua durhaka?" Ardian tertawa kecil, tetapi air matanya kembali mengalir.


"Iya.. mungkin Mami benar. Putramu ini memang anak durhaka. Aku sampai lupa menceritakan pada kalian. Aku sampai menyalah gunakan uang yang diberikan kalian untuk membeli barang-barang haram."


"Hentikan, Nak! Sudah, jangan bercerita lagi. Iya, Papi yang salah selama ini. Papi mohon, maafkan Papi, Nak. Mulai sekarang, Papi akan memperbaiki semua kesalahan itu perlahan-lahan." Pak Sucipto menggenggam erat lengan istrinya agar tidak mengeluarkan komentar lagi.


"Terimakasih, Papi sudah mau menyadari kesalahan Papi. Sekarang aku mau istirahat. Kalian keluarlah kalau ingin melihat aku lebih baik besok pagi." Ardian langsung menggeser tubuhnya ke tengah ranjang. Menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Pagi itu suasana di meja makan benar-benar hening. Hanya suara dentingan sendok Pak Sucipto dan Ardian yang bersahutan, mengisi keheningan itu. Bu Renata hanya mengaduk-aduk isi piringnya tanpa ada niat untuk mencicipinya.


"Makanan itu tidak akan habis kalau tidak di makan."


Bu Renata mengangkat wajahnya. Menatap suaminya yang ternyata sedang menatapnya tajam. Semalaman ia menangis setelah Pak Sucipto memarahinya habis-habisan. Matanya sampai bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Habiskan sarapan kamu, Renata. Setelah itu kompres matamu agar tidak terlihat terlalu bengkak."


"Bagaimana bisa? ini terlihat sangat menonjol."


"Kamu setiap minggu pergi perawatan. Masa cara mengompres mata yang bengkak saja kamu tidak tahu? Lalu uang yang berjuta-juta untuk apa? Apakah kamu tidak memperhatikan yang dilakukan pihak salon saat melakukan tindakan padamu?"


Bu Renata diam mendengarkan omelan suaminya. Ngedumel sendiri tanpa suara. Hanya mulutnya yang terlihat komat kamit tidak jelas.


"Kalau ngomong yang jelas. Kenapa mulut kamu komat kamit nggak jelas kayak ***** ayam."


Ardian menahan senyum melihat maminya. Dia hafal betul sifat maminya yang tidak suka dikritik. Apalagi ucapan papinya terdengar sedikit jorok. Sudah pasti maminya itu sedang menahan rasa kesal yang sudah mendidih di ubun-ubun.


"Ardian, kasih tau Mami kamu cara mengompres mata yang bengkak karena kebanyakan menangis."


Ardian hanya melirik papinya. Kembali menyuapkan nasi, satu suapan besar ke mulutnya. Mengunyah nasi itu dengan pelan. Sengaja membuat dua orang tua di depannya menunggu.


"Ngapain tanya sama aku, Pi? Aku nggak hafal hal-hal berbau perempuan seperti itu. Daripada sibuk bertanya sana-sini, pakai om google aja yang serba bisa." Ucapnya setelah meneguk air.


Bu Renata terlihat berpikir. "Malas nulis, ah."


"Kalau malas nulis, pakai voice. Gitu aja kok, pakai acara ribet segala." Ardian bangkit dan meninggalkan meja makan. Sarapannya masih tersisa banyak. Namun, dua orang tua itu hanya diam melihat kepergian putra mereka. Mereka tidak tau, apakah itu kebiasaan Ardian yang suka menyisakan makanan atau tidak.


"Tuh dengar saran dari putra kamu." Ucap Pak Sucipto setelah lama hening.

__ADS_1


Bu Renata menarik nafas dalam. "Mm.. nanti Mami tanya sama teman-teman Mami saja."


"Jangan bilang nanti! Siang ini kita akan ke rumah calon menantu kita. Apa Mami mau, terlihat buruk di depan keluarga Chayra nanti. Biasanya Mami itu selalu terlihat maksimal dalam berpenampilan. Apa salahnya sih, menuruti anak agar masalah cepat selesai." Pak Sucipto bangkit seraya meninggalkan meja makan.


Bu Renata hanya mendengus. Agak heran melihat perubahan sikap suaminya yang sangat dingin akhir-akhir ini.


********


Ardian berdiri di balkon kamarnya. Tangannya menggenggam erat handphonenya. Pandangan matanya terlihat kosong. Ia berulang kali menghubungi Amira. Namun, nomor handphone gadis itu tidak aktif. Sepertinya, dia tidak main-main dengan ucapannya beberapa malam yang lalu. Kalau dia akan meninggalkan kota kelahirannya. Melanjutkan studinya di negri orang.


Ardian mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat frustasi. Dia tidak punya harapan lagi untuk Amira. Beberapa kali terdengar hembusan nafas berat. Sepertinya, kebebasan yang dimilikinya selama ini benar-benar akan berakhir.


Ardian masih tidak percaya dengan nasibnya. Apakah dia benar-benar akan menikah dengan Chayra Azzahra? Pertanyaan itu terus-menerus diulanginya pada dirinya sendiri. Wanita yang tidak pernah masuk dalam tipe wanita idamannya. Wanita yang benar-benar jauh dari keriteria wanitanya. Wanita yang benar-benar tidak ia inginkan. Wanita yang benar-benar dia benci. Satu-satunya wanita yang berani menentangnya dan menghina dirinya.


"Cih...!" Ardian berdecih kesal. Mengingat bagaimana Chayra menolak berjabat tangan dengannya waktu itu.


Capek mengacak-acak rambutnya, Ardian duduk memeluk lututnya. Beberapa kali menarik nafas panjang.


"Mimpi apa gue sampai nasib gue apes kayak gini.." Ucapnya sambil mendongak menatap langit-langit balkon kamarnya.


"Amira... lho kemana sih..? Apa lho benar-benar telah meninggalkan gue? Apa lho sudah tidak cinta lagi sama gue?" Mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


"Apa sih, yang istimewa dari teman lho itu? Semua orang bilang, gue benar-benar beruntung mendapatkan dia. Tapi, kok gue malah merasa rugi harus mempunyai pasangan yang berpenampilan seperti itu. Menariknya dimana coba. Iya.. kalau dilihat dalamnya sih, menarik banget orangnya. Tapi, sifatnya itu yang gue nggak suka. Gue benci dengan dia pokonya. Bisa-bisanya lho menyuruh gue untuk mencintainya, Mir. Gila lho.. padahal lho tau betul kan, wanita yang menjadi selera gue itu yang kayak gimana."


Ardian bangkit dan mendekati pagar pembatas balkon. Matanya menatap jauh ke jalan raya. Dimana lalu lalang kendaraan yang ramai. Matanya menyiratkan amarah yang terpendam.


"Lho jangan mimpi kalau gue akan membahagiakan teman lho itu, Amira. Jangan lho kira, dengan gue menikahinya rasa dendam itu akan pupus. Dengan pernikahan ini, justru gue akan melanjutkan balas dendam gue padanya. Gue akan membuat dia menderita. Sangat-sangat menderita." Ardian mengeratkan giginya. Tangannya terkepal erat, menggambarkan betapa dirinya benar-benar membenci gadis yang bernama Chayra Azzahra itu.


********

__ADS_1


__ADS_2