Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kedatangan tamu tak diundang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Ghibran hanya duduk bersandar di dalam mobilnya. Sejak satu jam lalu, pria bermata sipit dan berkulit putih itu sampai di rumah Chayra. Namun, dia tidak ada niat untuk keluar dan masuk ke dalam. Hanya matanya yang terlihat gusar menatap kerumunan orang di rumah gadis itu. Perasaannya tidak tenang dan mulai berandai-andai. Apakah Zahra akad nikah hari ini? Batinnya


Hari ini, keluarga Ardian datang untuk menyematkan cincin pertunangan sebelum Chayra resmi menikah dengan Ardian. Tidak banyak tamu undangan. Karena yang menghadiri acara itu hanya keluarga dekat dari kedua belah pihak. Sedangkan untuk tetangga di komplek perumahannya. Bu Santi hanya mengundang yang terdekat saja.


Sebelumnya Chayra menolak untuk mengadakan pertunangan sebelum ini. Karena bagaimanapun juga, dia akan menikah dengan pria ini bukan karena suka sama suka. Dia hanya berniat menutup aibnya karena kejadian itu.


Setelah rangkaian acara berlangsung satu persatu. Kini tiba waktunya penyematan cincin di jari manis Chayra. Gadis yang memakai cadar untuk menyempurnakan penampilannya saat ini mulai tidak tenang. Dia tidak mau kalau Ardian yang menyematkan cincin di jarinya.


"Ada apa, Nak? Kamu terlihat gusar dari tadi. Walaupun hanya matamu yang terlihat, kamu tidak bisa membohongi Ibu." Bu Santi berbisik di dekat telinga putrinya..


"Aku.. aku hanya..."


"Jangan sampai kamu bilang kalau kamu menyesal, Nak. Ini adalah kemauan kamu."


"B.. bukan begitu, Bu. Aku hanya khawatir. Apakah pria itu yang akan memasangkan cincin untukku?"


"Saat ini kalian belum halal. Oleh sebab itu, Bu Renata yang akan menyematkan cincin pertunangan itu di jari kamu."


Chayra menarik nafas lega setelah mendengar jawaban ibunya.


"Maju sedikit, Ayra."


Chayra melangkah maju mengikuti saran ibunya. Bu Renata dan Ardian juga maju. Setelah mendapat arahan dari pembawa acara. Ardian menyerahkan cincin pertunangan itu kepada maminya untuk disematkan di jari manis calon istrinya.


Sepersekian detik Chayra dan Ardian berkontak mata. Mereka berdua saling menatap tajam


Seolah-olah sedang mengadu kekuatan lewat mata.


Mudah-mudahan niat baikku ini di ridoi Allah. Dan mudah-mudahan Allah memudahkan jalanku untuk menjalankan niat ini. Batin Chayra.


Apa-apaan ini. Kenapa ni cewek malah berpenampilan semakin tertutup kayak gini. Kayak ninja aja...


Ardian tersenyum sinis seraya mengalihkan pandangannya.


Tangan Chayra bergetar saat Bu Renata menyematkan cincin itu. "Lho, tangan kamu kenapa dingin begini, Sayang. Kamu gugup ya.." Bu Renata tersenyum hangat. Memeluk Chayra perlahan lalu mencium pucuk kepala Chayra.


"Semoga Allah menghadirkan kamu di kehidupan putra Mami, sebagai penyempurna dirinya yang penuh kekurangan. Maafkan atas kesalahan putra Mami sebelumnya, Nak." Bu Renata menangis haru. Kembali memeluk Chayra dan terisak dalam pelukan gadis itu.


Chayra hanya menelan ludahnya. Terdiam kaku dalam pelukan wanita itu, tanpa ada niat untuk membalas pelukan itu.

__ADS_1


Untung saja bengkak matanya sudah berhasil dia singkirkan. Andaikan ia tidak mengikuti saran putranya untuk bertanya di Om Google. Mungkin dia tidak akan sepercaya diri ini maju ke depan untuk menyematkan cincin.


"Sudah, ah. Mami kok jadi lebay gini. Baru satu kali mendengar ceramah suami. Eh, hatinya luluh lantah kemana-mana."


Tarikan dari arah belakang membuat Bu Renata terpaksa melepaskan pelukannya. Ia mendelik kesal menatap Pak Sucipto yang masih memegang baju kebaya yang dikenakannya. "Lepas, Pi. Ngapain ikut maju sih?!" Ucapnya sinis.


"Kamu kelamaan di depan. Putra kamu sudah mundur dari tadi. Eh, kamu malah asyik-asyikan memeluk calon menantu kamu."


"Masalah?" Bu Renata menarik bajunya yang dipegang suaminya. "Ayo, Nak." Menggandeng tangan Chayra. Ngedumel sendiri tak karuan. Moodnya langsung berubah. Kapan majunya, tiba-tiba udah dibelakang dan main tarik semaunya batinnya.


Zidane yang sengaja duduk di bangku paling belakang, tiba-tiba menerobos kerumunan dan mendekati Bu Santi. Ia berbisik pada Bu Santi. Namun, ucapannya membuat Bu Santi tersentak kaget dan berjalan mengikuti Zidane.


Bu Santi semakin terkejut saat melihat mobil yang terparkir jauh di dekat gerbang rumahnya. "Dia kapan datang, Zidane?"


"Zidane juga tidak tau, Bu. Tapi, sepertinya dia sudah lama. Aku sempat bertanya pada salah satu tamu tadi. Katanya, mobil itu sudah terparkir di sana saat dia datang tadi."


Bu Santi menarik nafas dalam. "Kamu suruh saja dia masuk, Zi. Bawa dia ke kamar dulu. Mungkin dia kecapekan sampai tertidur di dalam mobil."


"Mm.. Zidane nggak enak sama keluarga Ardian, Bu. Apa tidak sebaiknya kita bangunkan dia saat acara sudah selesai dan tamu undangan sudah pada pulang?"


Bu Santi terlihat berpikir. "Mm.. bagaimana ya, Nak. Kok Ibu juga sampai bingung kayak gini."


"Mm.. masalahnya ini acaranya di halaman depan rumah, Bu. Bagaimana kalau ada yang bertanya siapa dia saat kami melintas nanti. Mau bilang apa aku, Bu?"


Zidane menggaruk-garuk kepalanya. "Bagaimana ya, Bu?"


"Sudah, ah. Kamu kebanyakan mikir. Ibu tinggal ya.. kamu selesaikan urusan kamu dengannya. Jangan ikut bergabung di acara."


"Bilangin sama Abah dan Ummi, Bu. Aku tidak mau kena semprotan mereka nanti."


"Mm.." Bu Santi berlalu meninggalkan Zidane. Perasaannya menjadi campur aduk melihat kedatangan Ghibran. Seharusnya, pria itu tidak datang lagi, agar tidak semakin kecewa pada putrinya.


Zidane berbalik setelah melihat Bu Santi kembali bergabung di acara. Menarik nafas dalam dan membaca basmalah sebelum mengetuk kaca mobil.


"Assalamualaikum, Ghi. Ghibran.. bangun woi.."Zidane mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan keras.


Kaca mobil turun perlahan. "Ada apa?" Wajah Ghibran terlihat kusut dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu kenapa nggak masuk dari tadi? Kenapa malah tidur di mobil?"


"Masuk dulu, kita ngobrol di dalam saja. Nggak enak dilihat berpuluh-puluh mata." Ghibran membukakan pintu samping pengemudi.

__ADS_1


Zidane akhirnya masuk ke dalam mobil. Benar kata Ghibran, berpuluh-puluh mata ternyata sedang memperhatikan mereka berdua. Ngapain sih, mereka malah fokus ke kita. Apa kita berdua terlalu tampan?"


"Muka kamu biasa aja kali, Zi. Muka aku yang terlalu tampan, itulah mengapa mereka salah fokus." Ghibran menaik turunkan alisnya menggoda Zidane.


Zidane menyebikkan bibirnya. "Ngakunya lebih tampan. Tapi kok, nggak punya mantan. Sekalinya punya kekasih, eh, malah ditinggal nikah. Wkwkwk..."


Plak!


Ghibran menabok kepala Zidane. "Nggak lucu kali..!" kembali fokus ke depan.


"Hei, Bro jangan marah, aku cuma bercanda."


Ghibran menarik sedikit sudut bibirnya. "Nggak apa-apa kok. Kamu kenapa kemari? Acaranya masih berlanjut, kan?"


Zidane mengangguk. "Ibu yang memintaku menemanimu. Kamu kenapa datang lagi, ada apa?"


Ghibran tersenyum tipis. "Aku kebetulan ada acara seminar di Kampus tempat teman-temannya Zahra kuliah. Niatnya mau mampir sebentar, mau bersilaturrahim sama Ibu. Kirain acara pernikahan Zahra udah kelar. Eh, tau-taunya aku sampai sini, acara akad nikahnya baru digelar." Ghibran tersenyum dipaksakan. Terlihat jelas kalau dia menyimpan kekecewaan yang besar pada gadis itu.


"Siapa yang cerita sama kamu kalau hari ini Ayra akad nikah?"


"Inikan, acaranya sedang berlangsung. Untuk apa bertanya lagi kalau bukti sudah ada di depan mata. Sebenarnya aku tidak ada niat mengganggu acara orang."


"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mencari tau terlebih dahulu."


"Maksud kamu apa berkata begitu?"


"Coba kamu pikirkan apa maksud aku."


Ghibran terdiam sejenak. "Ini sebenarnya acara apa, Zi?"


"Nah, yang seperti ini baru bijaksana. Bertanya dulu baru membuat kesimpulan."


"Jangan banyak omong, Zi. Kasih tau aku ini acara apa."


"Astagfirullahal'adzim.. lama-lama bisa ikut setres aku kalau terus-terusan sama kamu." Zidane menggeleng-geleng pelan. Zidane menarik nafas dalam, menatap Ghibran yang hanya menatap lurus ke depan, walaupun sedang menuntut jawaban darinya.


"Cepat katakan! aku hanya berharap semoga jawabanmu memberikan secercah harapan untukku."


"Hah, maksud kamu?"


Ghibran melongos seraya mengalihkan pandangannya. Dia yang sedang menuntut jawaban. Zidane malah bertanya balik dengan mempertanyakan ucapannya tadi.

__ADS_1


********


__ADS_2