Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Lebih baik tidak pakai Asisten


__ADS_3

Hari terus bergulir tanpa terasa. Ardian semakin sibuk dengan pekerjaannya. Hari Minggu ini dia sudah berjanji untuk mengajak istri dan putranya untuk jalan-jalan. Karena sudah beberapa hari Minggu terlewat karena Ardian selalu bekerja walaupun hari Minggu.


Malam itu adalah malam Sabtu. Ardian pulang sesaat sebelum adzan Maghrib berkumandang. Setelah selesai mendirikan shalat, Chayra segera membantu Bi Idah menyiapkan makan malam. Ada hal yang Chayra syukuri. Sesibuk apapun suaminya itu, tetapi akan selalu berusaha untuk pulang sebelum waktu Isya tiba.


"Mas, jadi nggak kita keluar Minggu ini? Kamu udah berapa Minggu janji-janji terus." Untuk yang kesekian kalinya Chayra menagih suaminya. Ardian yang sedang menikmati makan malamnya hanya bisa tersenyum. Meneguk air sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


"Insya Allah, Sayang. Nanti aku lihat jadwal lagi. Aku akan berusaha untuk menepati janjiku."


"Adzra juga kan ingin keluar, Mas."


"Adzra atau kamu yang ingin keluar..." Ardian mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada istrinya.


Chayra melengos. Hidungnya mulai kembang kempis karena kesal. "Iya... mamanya juga lah, Mas. Kirain nggak bosen apa, diam terus di rumah. Biasalah modus orang tua, pakai nama anak biar keinginannya cepat terkabul."


Ardian tertawa kecil mendengar jawaban jujur istrinya. "Kenapa tidak minta di antar ke rumah Ibu biar kamu nggak bosan, Sayang?"


"Huh, kamu kan selalu berangkat pagi, Mas. Malulah minta diantar dulu. Yang ada nanti kamu malah telat ke Kantor. Ibu juga kan sibuk, Mas. Kalau tidak dikabari dulu, pasti dia ke Toko."


"Sesekali telat nggak apa-apa kok."


"Tetap aja nggak baik, Mas."


Ardian mengusap-usap kepala istrinya. "Adzra sini, Sayang. Mamanya mau makan dulu." Ardian meraih Adzra yang dipangku Chayra. Membiarkan istrinya menghabiskan makan malamnya yang tidak kunjung habis karena Adzra tidak mau diam.


*********


Siang itu, setelah selesai makan siang, Ardian kembali menatap fokus ke layar komputernya. Konsentrasinya buyar ketika terdengar ketukan di pintu. "Pak Ardian di mohon menghadap ke ruangan Pak Randi. Ada hal yang ingin disampaikan beliau." Anita yang selalu standby menerima tamu di lantai lima langsung menyampaikan pesan dari Pak Randi untuk Ardian.


"Ada apa?" Spontan Ardian bertanya.


"Ada tamu, Pak."


"Saya segera kesana, Ita. Terimakasih." Jawab Ardian tanpa menatap lawan bicaranya. Anita sering berpakaian terbuka, itu yang membuatnya tidak nyaman kalau harus menatap wanita itu terlalu lama. Ardian bangkit, menutup komputernya sebelum beranjak keluar.

__ADS_1


Ardian terkejut saat melihat Papinya di ruangan Pak Randi. "Assalamualaikum, Pi." Ardian berjalan mendekat lalu menyodorkan tangannya untuk salim.


"Wa'alaikumsalam.. nah ini nih, Randi yang membuat saya semakin sayang sama putra saya satu-satunya ini. Sekarang dia semakin tau sopan santun saat bertemu dengan orang tua. Kalau dulu, saat melihat Papinya saja jangankan salim, menyapa saja tidak." Pak Sucipto dengan bangga menepuk-nepuk punggung Ardian.


Pak Randi terkekeh mendengarnya. "Baguslah Pak kalau begitu. Itu berarti pernikahan Ardian membawa dampak positif dalam kehidupannya. Mungkin juga karena faktor usia yang terus bertambah dan pengalaman hidup, itu yang membuatnya berubah."


Pak Sucipto tersenyum. "Oh iya, Nak. Papi datang kesini menanyakan hasil kinerja kamu pada Randi."


"Saya kan bukan Asisten Pak Randi lagi, Pi. Kan aku sudah pindah jabatan sekarang."


Pak Sucipto tertawa. "Papi tau itu, Nak. Tapi kalian pasti sering bekerja sama. Itulah mengapa Papi menanyakan hal itu padanya." Pak Sucipto memperbaiki posisi duduknya. "Oh iya, Ardian. Papi berencana untuk memberikan kamu seorang Asisten pribadi untuk mempermudah kamu dalam menjalankan tugas. Menjadi Sekretaris Direksi itu pasti menyita lebih banyak waktu kamu karena tidak ada yang membantu. Waktu untuk keluarga pasti berkurang."


"Alhamdulillah... terimakasih, Pi. Ini hal yang aku tunggu-tunggu dari kemarin. Chay sering mengeluh karena saat pulang pun aku masih bekerja." Ardian menghela nafas berat sambil membayangkan wajah kesal istrinya. "Papi memang selalu pengertian." Ardian tersenyum manja pada Papinya. "Terus yang akan menjadi Asisten aku siapa, Pi?" Sangat tidak sabar mendengar orang yang akan menjadi Asistennya. Ardian meraih air gelas kemasan yang selalu tersedia di atas meja.


"Itu si Anita. Dia kan mantan Asistennya Dewi dulu."


Ardian yang baru saja meneguk air mineral di depannya langsung tersedak. "Uhuk.. uhuk.. Papi.."


"Heh, kamu kenapa tidak berhati-hati, Ardian."


"Memangnya kenapa? Anita itu anaknya gesit kok. Randi saja akan menerimanya sekiranya tidak ada orang yang menjadi Asistennya. Tapi, karena Papi sudah meminta Dodit untuk kembali padanya, jadi dia sudah aman."


Pak Randi tersenyum ditahan melihat ekspresi Ardian. "Terima saja, Ar. Kalau dipikir-pikir, gantikan aku mencuci mata setiap hari."


Ardian menelan ludahnya dengan susah payah. "Tapi, masalahnya aku nggak akan nyaman, Pak. Papi, please... Dodit saja ya, Pi untuk aku."


"Eh nggak boleh. Dodit milik aku, Ardian. Tuh, untuk kamu si Anita body gitar Spanyol."


"Big no, Pak. Papi..." Ardian menatap Papinya dengan tatapan memelas. "Papi mau aku diintrogasi Chay setiap hari gara-gara punya Asisten seksi kayak gitu."


"Itu urusan pribadi kamu, Ardian. Setau Papi, menantu Papi tidak posesif kok. Kamu aja yang terlalu berlebihan menanggapinya."


"Dia memang tidak posesif, Pi. Tapi ceramahnya itu loh, tidak akan berhenti sebelum aku benar-benar insyaf." Ardian kembali membayangkan tausiyah Mamanya Adzra kalau dirinya ada salah.

__ADS_1


Pak Randi dan Pak Sucipto tertawa kompak melihat ekspresi Ardian. Yang ditertawakan? hanya melengos sambil mengalihkan pandangannya.


"Oh, ternyata menantu Papi berhasil membuat kamu tidak berkutik pada wanita lain. Hebat-hebat.." Pak Sucipto malah bertepuk tangan gembira melihat ketidak berdayaan putranya.


"Kalau tidak ada pilihan lain, sebaiknya aku bekerja sendiri saja seperti biasa, Pi. Lebih baik tidak pakai Asisten daripada harus mencuci mata setiap hari. Bukannya membantu malah menambah beban nantinya karena tidak bisa fokus.


"Hmmm..." Pak Sucipto terlihat berpikir. "Kalau begitu nanti Papi cari orang lain kalau begitu."


"Lagian kalau Anita menjadi Asisten aku, terus yang menyambut kalau ada tamu nanti siapa?"


"Kamu tidak perlu memikirkan itu karena itu bukan hal yang perlu kamu urus."


"Huh, Papi selalu bertindak semau Papi. Intinya kalau Asistennya dia, aku lebih baik tidak pakai Asisten. Aku pamit, Pi, Pak Randi, assalamualaikum..." Ardian bergegas tanpa menunggu jawaban dari dua orang yang saling pandang melihat reaksinya yang terlihat berlebihan.


Ardian mengunci pintu ruangannya dan mengurung diri di dalam. Entah apa yang dipikirkannya sehingga dia sampai mengunci pintu.


Ardian Pov...


Aku langsung menutup pintu ruanganku begitu aku masuk. Awalnya hatiku berbunga-bunga ketika Papi mengatakan akan memberikan aku Asisten. Tapi, kebahagiaan itu memudar seketika saat Papi menyebutkan orangnya. Ya Allah, bisa-bisanya Papi berniat mempercayakan orang itu untuk mendampingiku. Saat melihatnya sesekali saja mataku perih, apalagi kalau harus selalu berurusan dengannya. Huh, andaikan aku masih bejat seperti dulu, mungkin aku dengan senang hati menerima tawaran Papi ini. Tapi untuk sekarang ini, saat melihat wanita seksi, aku akan langsung teringat pada istriku. Aku akan ingat bagiamana perjuangan dia selama ini, sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Keberhasilanku ini tidak luput dari pengorbanan seorang Chayra Azzahra. Wanita yang selalu menjadi prioritas utamaku saat ini.


Aku merapikan berkas yang akan aku diskusikan dengan Pak Randi. Tiba-tiba saja kepalaku jadi pusing dan pikiranku terasa buntu. Sepertinya aku harus izin pulang cepat hari ini. Bertemu anak istri bisa menjadi obat untuk pikiran buntu seperti saat ini.


Saat melewati meja Anita, wanita tersenyum ramah padaku. Dia terlihat ingin bertanya saat melihatku menenteng tas kerja. Tetapi, aku yang bicara duluan sehingga dia mengurungkan niatnya.


"Nanti kalau Pak Randi mencari ku, bilang kalau aku pulang duluan karena ada keperluan. Pekerjaan yang harus didiskusikan sudah aku kirim via email."


"Baik, Pak nanti saya sampaikan." Anita sedikit membungkuk sehingga menampakkan belahan dadanya. Sshhhtttt... benar-benar deh wanita ini. Aku melengos meninggalkannya. Aku harus segera pulang agar bisa rebahan di atas pangkuan istriku. Obat yang paling ampuh saat ini hanya seorang Chayra Azzahra. Bukannya aku tergoda melihat Anita. Kalau aku lihat dari segi manapun, Chayra jauh lebih dari segala-galanya daripada dia. Tapi, entah kenapa aku selalu risih melihat wanita berpakaian seksi sekarang. Padahal itukan hak mereka. Siapa aku yang berani melarang orang karena manusia memiliki hak asasi masing-masing.


Handphoneku berbunyi saat aku sampai di parkiran. Saat aku lihat ternyata pesan dari Pak Randi.


Kenapa pulang cepat? Apa tawaran Asisten pribadi langsung membuat kepalamu puyeng. Masih ada pekerjaan yang harus kita diskusikan.


Aku sudah kirim via email, Pak. Bapak bisa kontak saya kalau sekiranya ada yang harus dibahas lagi. Kepala saya benar-benar pusing, Pak. Saya akan ganti waktu yang saya curi ini di lain waktu.

__ADS_1


Aku langsung mematikan handphone setelah membalas pesan dari Pak Randi. Aku hanya ingin pulang sekarang


***********


__ADS_2