
"Kita ke lantai atas." Ardian menarik tangan Chayra yang langsung ditepis oleh wanita itu.
"Aku sudah peringatkan sebelumnya. Jangan berlebihan dulu. Aku takut kambuh lagi. Kamu tau kan, aku masih dalam proses penyembuhan."
"Tapi semakin sering berinteraksi dengan aku itu semakin baik kan?"
"Iya.. tapi.. aku butuh waktu untuk itu."
"Izinkan aku menggenggam tanganmu."
Chayra terkejut mendengar permintaan Ardian. "Kak Ardian jangan ngaco deh. Ini tempat umum, Kak."
"Mm.. ngomong-ngomong, aku kok nyaman dipanggil Kak Ardian."
"Aku merasa kurang sopan kalau pakai aku kamu terus." Chayra menunduk. Perlahan, mendaratkan bokongnya di sebuah bangku panjang.
"Kenapa kamu tidak mau digandeng sama aku?" Ardian ikut duduk di samping gadis itu.
"Aku.. aku cuma takut tidak bisa mengontrol diri nanti."
"Itu tidak akan terjadi, percaya sama aku."
"Jangan berandai melebihi batas kemampuan, Kak. Kita ini cuma manusia, bukan Tuhan."
"Lah, itu kamu yang berandai. Kamu takut penyakit kamu kambuh, padahal kamu belum mencoba."
Chayra terdiam. Dia hanya menggeser tubuhnya agar duduk berjarak dengan Ardian.
"Kita coba perlahan-lahan. Gue yakin, lama-lama penyakit itu akan hilang." Meletakkan tangannya perlahan di atas tangan Chayra.
Chayra menatap tangannya. Akhirnya mengangguk tanda setuju. "Sebenarnya kenapa Kakak ingin mencoba melakukan pendekatan denganku? Bukankah Kakak sangat membenci seorang Chayra Azzahra?"
"Percuma aku membencimu. Karena itu tidak akan terjadi."
Chayra menautkan alisnya bingung. Pria itu pernah bilang kalau dirinya sangat membenci Chayra sampai titik darah penghabisan. Namun, kenapa ucapannya sekarang malah berbeda.
"Aku mau ke toilet sebentar. Kakak tunggu disini. Titip tas juga." Chayra meletakkan tasnya di atas pangkuan Ardian. "Jangan kemana-mana ya.. nanti aku bingung cari Kakak."
"Iya.. cepetan sana." Ardian mengusir halus Chayra. Bibirnya mengulas senyum menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. Matanya beralih menatap tas pinggang yang di letakkan Chayra tadi. Menatap tas itu, Ardian jadi penasaran dengan isinya.
Matanya menatap tempat Chayra menghilang tadi. Perlahan tangannya membuka tas. Tidak ada yang menarik di dalamnya karena tas hanya berisi dompet dan handphone.
__ADS_1
Tiba-tiba, Ardian teringat pada Amira. Mantan kekasihnya itu selalu memenuhi tasnya dengan alat-alat makeup. "Sangat berbeda.." ucapnya tiba-tiba, termenung seraya tersenyum samar.
Ardian meraih handphone Chayra. Foto Chayra yang menjadi wallpaper yang dia lihat tempo hari, kembali membuat dadanya berdebar. Senyum gadis itu berhasil mengusik ketenangan jiwanya. Hanya saja sekarang dia tidak bisa menikmati senyuman itu lagi. Chayra sudah menutupnya menggunakan cadar. Ardian menggeser layar handphone dan ternyata..
"Hah, handphone ini ternyata tidak pakai password. Huh, tau begini kenapa gue nggak coba buka dari kemarin." Tangan Ardian mulai lincah mengutak-atik handphone.
Kembali menatap ke depan. Jangan sampai Chayra memergokinya sedang membongkar isi handphonenya. Beberapa foto Chayra dia kirim ke handphone miliknya.
Saat selesai mengirim. Pria itu berniat untuk memasukkan kembali handphone itu. Namun, satu nama teman Chayra di handphone itu menarik perhatiannya.
"Ukhti Amira.." Tanda tanya mulai berterbangan di kepala Ardian. "Membuka pesan yang dikirim dan diterima oleh gadis itu. "Ternyata mereka masih berhubungan. Gue kira Amira sudah hilang kontak dan tidak mau lagi berhubungan dengan gadis ini." Ardian membaca pesan dari bawah. Pesan yang dikirim Amira dua bulan yang lalu.
'Bagaimana keadaan Kak Ardian. Semoga lho memenuhi janji lho untuk menjaganya demi gue. Merubah kebiasaan buruknya demi gue.'
Ardian melihat balasan Chayra.
'*Insya Allah, Sayang. Aku perlahan-lahan bisa membuatnya berubah. Do'akan saja semoga Allah selalu memberikan kemudahan untukku. Memberikan aku kesabaran dalam menghadapi pria ini.'
'Bagaimana dia bersikap pada lho?'
'Alhamdulillah, iya.. walaupun tidak bisa dikatakan baik. Tapi dia bersikap wajar sama aku*.'
Ardian beralih membaca pesan satu minggu yang lalu. Kalau untuk membaca semua pesan, dia takut Chayra keburu datang.
'Kenapa kamu ngomong gitu, Mira. Aku ikhlas menolong kamu. Aku hanya berdo'a, semoga saat kamu kembali nanti. Pria yang kamu cintai ini benar-benar bisa jadi pemimpin untuk kamu*.'
"Apa-apaan ini?" Ardian memasukkan handphone dengan kasar. Rasa kesal tiba-tiba saja merasuk ke dalam pikirannya. Berulang kali membuang nafas dengan kasar.
"Ayo kita naik.. Kak Ardian kan mau ke atas tadi."
Ardian mendongak menatap Chayra yang sudah berdiri di depannya. Menarik nafas panjang beberapa kali untuk menetralkan pikirannya yang sudah kacau.
"Cadar kamu mana? Kenapa sekarang malah pakai masker? Lo, pakaiannya juga kenapa diganti?" Ardian memperhatikan Chayra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wanita itu hanya memakai baju gamis dan jilbab pashmina. Baju Syar'i yang dia pakai tadi hilang entah kemana. Kakinya tertutup sepatu kets.
"Aku ganti semuanya." Jawab Chayra santai.
"Lalu pakaian kamu yang tadi kemana?"
"Sudah aku simpan di mobil."
"Huh, pantesan lama. Eh, tunggu tunggu.." Ardian menatap Chayra dengan penuh tanda tanya. "Tas lho ada sama gue. Lalu bagaimana lho bisa bayar ini semua?"
__ADS_1
"Ini.." Chayra menunjukkan kartu debit di tangannya. "Apa Kakak lupa, kalau aku punya kakek yang tajir melintir."
"Iya, iya, iya." Ardian langsung menggenggam tangan Chayra. Menariknya pelan menuju eskalator.
Awalnya Chayra tegang. Namun, perlahan-lahan ia bisa mengendalikan diri.
"Aku kesini mau ngajak kamu cari baju Koko untuk aku pakai saat shalat." Ardian melirik Chayra. Yang di lirik tidak merespon dan hanya menatap lurus ke depan.
Ardian mengikuti arah tatapan Chayra. Ternyata, beberapa meter di depan mereka, ada sesosok pria yang tidak asing sedang sibuk memilih dan tidak menyadari keberadaan mereka.
"Apa kamu akan menghindar terus darinya?"
"Aku bukannya menghindar terus. Tapi.. aku hanya belum siap untuk bertemu dengannya."
"Kenapa..? Apa seorang Ghibran itu masih berharga di hatimu?"
Chayra tersenyum hambar. "Hanya Allah yang tau dalamnya perasaan ini untuknya. Tapi, kita tidak boleh menyalahkan takdir. Allah yang Maha tahu. Kita sebagai makhluk hanya bertugas menjalankan takdir yang di berikan-Nya untuk kita."
"Hebat kamu. Kenapa nggak jadi Ustadzah aja sekalian. Kalau kamu jadi Ustadzah, aku akan menjadi penggemar beratmu."
Chayra hanya mendengus.
"Ayo, kita lanjutkan langkah kita. Jangan menghindar terus kalau kamu mau move on. Semakin kamu sering menghindar, maka kamu akan semakin sulit melupakannya." Ardian kembali menggenggam tangan Chayra. Sengaja berjalan semakin mendekat pada Ghibran. Mengajak Chayra memilih baju Koko dimana Ghibran sedang memilih juga.
"Aku cocoknya pakai yang mana?" Ardian sengaja mengeraskan suaranya untuk memancing reaksi Ghibran. Benar saja, pria itu langsung menoleh. Dia terkejut mendapati Chayra dan Ardian berada di sampingnya.
"Yang mana saja terserah Kakak."
"Kamu dong yang pilih. Kan kamu yang menyuruh aku untuk rajin shalat."
"Ok.. ok.. mm.. Kak Ardian ambil yang ini aja." Menunjuk baju Koko lengan pendek berwarna merah maroon. "Ukuran bajunya L, kan?"
"Istriku memang cerdas." Ardian sengaja mencubit gemas pipi Chayra. Sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi Ghibran.
Ghibran hanya bisa beristighfar. Mau marah, tapi dia tidak ada hak melakukan itu. Chayra memang sudah menjadi milik pria itu. Sengaja memilih baju lagi untuk menutupi rasa kesalnya.
Ardian mengajak Chayra menjauh. Kembali menggenggam tangan Chayra. Hal itu tidak luput dari pandangan Ghibran. Namun, pria itu kembali menunduk dan beristighfar.
'Ya Allah kuatkan hati hamba...' batinnya.
Ghibran segera mengalihkan pandangannya saat pemandangan yang lebih menyakitkan diperlihatkan oleh wanita yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
******