
Ardian POV...
Sebulan berlalu sejak aku meninggalkan Chayra ke luar kota. Pagi ini, Pak Randi kembali mengingatkan aku akan adanya kunjungan lagi ke daerah yang lain. Aku hanya diam saat Pak Randi mengatakan hal itu. Walaupun perkiraan kelahiran anakku masih sekitar tiga minggu lagi. Entah mengapa aku mulai waspada sejak saat ini. Chay sering mengeluh sakit pinggangnya. Ah, melihat istriku berjalan tertatih membuatku semakin berat kalau harus meninggalkannya berangkat kerja. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mampu membahagiakan istriku tanpa campur tangan dari pihak lain.
"Ardian..." tiba-tiba Dodit menarik pipiku dengan keras. Dia terlihat kesal menatapku.
"Ada apa?" tanyaku tanpa rasa bersalah.
"Kamu dari tadi melamun terus. Dipanggil berulang kali nggak ada respon. Aku diminta Pak Randi untuk memanggil kamu. Katanya ada yang ingin disampaikan, tapi tidak boleh diwakilkan." Dodit langsung berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia malahan melengos sambil berlalu.
Aduh, kok pipiku terasa sakit begini bekas tarikan tangan Dodit tadi. Orang itu sekarang sudah menganggapku seperti adiknya sendiri jika tidak ada orang. Tapi, begitu ada orang lain sikapnya akan langsung berbalik seratus delapan puluh derajat. Padahal pas awal-awal, dia itu kakunya minta ampun. Huh... aku kembali mengusap-usap pipiku. Mudah-mudahan merahnya hilang karena aku harus menghadap Pak Randi sekarang.
Dengan membaca basmalah, aku mengetuk pintu ruangan Pak Randi.
"Masuk.."
Aku mendorong pintu pelan saat mendengar suara Pak Randi dari dalam. Ups, ternyata Pak Randi sedang berdiskusi dengan Sekretaris Direksi yang terkenal berpenampilan glamor dan seksi.
"Kamu duduk saja dulu di sofa. Aku mau menyelesaikan ini dulu dengan Dewi."
"Baik, Pak." Aku langsung mengambil posisi duduk tegap. Eh, mataku malah salah fokus menatap ke arah Bu Dewi. Aku langsung menunduk seraya beristighfar. Wanita ini benar-benar menggoda iman kaum Adam. Aku cuma merasa heran, apa mata Pak Randi tidak sakit melihat pemandangan seperti itu setiap hari. Aku mencari objek lain untuk dipandang. Tidak mungkin mataku terus-terusan menatap ke arah Bu Dewi. Bisa geer lagi tu orang ditatap terus sama aku. Aduh, pakai acara lupa bawa hp lagi. Kalau begini ceritanya aku bawaannya pingin tidur. Bagaimanapun juga tidak ada orang yang suka menunggu karena menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan.
Sekitar lima belas menit menunggu sampai akhirnya Bu Dewi keluar dari ruangan Pak Randi. Uh, gayanya berjalan kayak model papan atas lagi. Tapi sayangnya postur tubuhnya tidak terlalu tinggi sehingga tidak cocok menjadi model.
"Kamu kenapa menatap Dewi kayak gitu? Kaget kamu melihat wanita berpakaian kayak gitu?"
Aku langsung tergagap mendengar ucapan Pak Randi. "Eh, ng... nggak lah Pak."
"Mata kamu kayak orang yang tumben lihat wanita berpakaian seksi aja. Kalau aku sih sudah kebal melihatnya kayak gitu. Aku nggak terpengaruh sama sekali kok."
"Ya.. Alhamdulillah kalau begitu, Pak. Kalau saya bakalan beristighfar terus kayaknya kalau harus seperti tadi terus sama dia."
"Bagiku, hanya istriku yang paling cantik. Mau dia berpakaian kayak apapun, di mataku tetap istriku yang paling cantik. Jadi, saat aku melihat wanita lain, aku langsung membayangkan istriku, sehingga penampilan mereka hanya angin lewat bagiku."
"Wah, Bapak hebat kalau begitu." Aku terdiam sejenak memikirkan sesuatu. "Tapi.. bukannya istri Bapak...."
Pak Randi malah tersenyum melihat ke arahku. "Istriku yang dulu memang sudah meninggal. Tapi, sekarang aku sudah menemukan ibu sambung untuk kedua anakku. Aku tidak mungkin bisa bekerja dengan baik seperti sekarang jika tidak ada yang mendukung luar dan dalam."
__ADS_1
"Eheheh.. iya ya.. Pak."
"Itulah mengapa aku memanggilmu kemari untuk mempertanyakan kesiapan kamu untuk ke luar kota besok."
Aku langsung terkesiap. Aku tidak menyangka kalau masalah ini lagi yang akan dibahas Pak Randi.
"Aku sudah menghubungi Pak Sucipto tadi. Beliau bilang, kamu harus ikut membantu aku. Tapi, saya secara pribadi merasa berat untuk mengajak kamu." Pak Randi menarik nafas dalam lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tau kamu pasti berat meninggalkan istri kamu, kan? Aku takut... kamu mengalami hal serupa seperti yang aku alami. Memang ini kewajiban kamu untuk memenuhi tuntutan kerja. Tapi, sekali lagi saya secara pribadi mengizinkan kamu untuk tidak ikut."
Aku langsung menarik nafas lega mendengar ucapan Pak Randi. "T.. terimakasih atas pengertiannya, Pak."
Pak Randi mengangguk. Tiba-tiba menepuk pundak ku beberapa kali dengan penuh penekanan. "Limpahkan semua pekerjaan kamu kepada Dodit. Serahkan mulai sekarang agar dia bisa mengontrol semuanya. Kamu boleh pergi sekarang."
Aku tersenyum seraya bangkit. "Sekali lagi terimakasih, Pak. Saya pamit, assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam... eh, tunggu, Ardian."
Aku berbalik seraya menatap Pak Randi.
"Kamu harus tetap masuk bekerja. Jangan karena kamu tidak ikut keluar, kamu malah libur dan tiduran di rumah."
"Bagus kalau kamu paham." Pak Randi mengangguk. Aku tersenyum seraya melanjutkan kembali langkahku.
*********
Chayra meringis pelan karena merasakan tidak nyaman di perut bagian bawahnya. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Berniat bangun untuk mendirikan shalat Zuhur setelah mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Tetapi, tubuhnya malah terasa sakit semua. "Apakah sudah waktunya?" Ucapnya lirih sambil memegang pinggangnya yang terasa seperti akan patah. Untuk sekedar berdiri saja dia merasa tidak kuat. Ia kembali menarik nafas dalam, tidak ada orang di rumah yang bisa ia minta untuk membantunya. Dengan menarik nafas dalam, Chayra akhirnya mampu berdiri. Menyeret kakinya untuk bisa sampai di depan meja belajarnya.
Chayra meraih buku KIA miliknya. Mencari catatan perkiraan lahir yang tertera di buku itu. Seharusnya hal sekecil itu dia ingat agar tidak capek bolak-balik membuka buku.
"Masih tiga minggu lagi.." Chayra kembali meringis menahan rasa sakitnya. Ia harus menghubungi Dokter Kandungan yang menanganinya agar perasaannya lebih tenang. Kembali menarik nafas panjang untuk merilekskan pikirannya. Berhasil, rasa sakit itu perlahan-lahan menghilang.
Sekitar sepuluh menit Chayra berbincang dengan Dokter. Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah mendapat penjelasan dari Dokter kalau hal yang dia alami saat ini adalah kontraksi palsu. Hal itu biasa terjadi saat trimester tiga kehamilan. Apalagi menjelang kelahiran seperti yang dialaminya sekarang.
Ting..
Ting...
Ting...
__ADS_1
Baru saja menarik nafas lega, Chayra dikagetkan dengan rentetan pesan masuk.
"Eh, apa ini.." Chayra menscroll tiga buah foto yang masuk di handphonenya. Foto, foto dan foto.. "Astagfirullahal'adzim..." Dada Chayra terasa sesak melihat foto itu. Kembali melafadzkan istighfar untuk menenangkan perasaannya yang mulai goyah karena melihat foto itu. "Suami kamu tidak akan seperti itu, Ayra.. ingat kalau itu pasti masa lalunya.. Ya Allah.. kok rasanya sakit seperti ini sih..." Chayra memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing dan pandangannya berputar-putar. "Apa-apaan ini.. siapa yang mengirim foto tak bermoral seperti ini.." Nafas Chayra tersengal-sengal. Nafasnya semakin tak beraturan. Tiba-tiba saja perutnya mual. Chayra menelan ludahnya beberapa kali.
"Ya Allah kuatkan hamba, ya Allah..." Chayra menekan pelipisnya yang semakin berdenyut kuat.
Ting..!
Satu pesan kembali masuk. Tetapi hanya untuk sekedar melihat pesan itu rasanya Chayra sudah tidak kuat. Ia memejamkan matanya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangannya yang berputar-putar membuatnya tidak berani membuka mata.
Suara salam di depan membuat Chayra berteriak histeris. "Bian... tolong Kakak..!"
Bian yang baru pulang sekolah terkejut mendengar teriakan kakaknya. Dia bergegas menuju kamar Chayra dan mendapati kakaknya sedang meringis memegang kepalanya di atas ranjang.
"Astagfirullahal'adzim, Kak Ayra kenapa..?" Bian meraih tubuh kakaknya, menyandarkan kepala Chayra di pangkuannya. "Kakak kenapa..."
"Handphone.. handphone.."
Bian yang bingung antara melihat kondisi kakaknya dan ucapannya akhirnya meraih handphone Chayra. Melihat Chayra yang tidak berani membuka matanya membuat Bian akhirnya memberanikan diri membuka handphone itu. Pandangan matanya langsung terkesiap melihat pesan yang terpampang begitu dia membuka kunci handphone.
Suaminya butuh ngemil, Mbak. Nggak bisa puasin suami makanya suami cari jajan di pinggir jalan..
"Astagfirullahal'adzim..." Bian langsung mengusap wajahnya, sebelah tangannya mencari nomor handphone Ardian dan langsung menghubungi kakak iparnya itu. Tetapi, sampai beberapa kali panggilan tidak ada respon dari Ardian.
Bian mengirim pesan pada ibunya. Kakaknya harus segera dibawa ke Rumah Sakit agar segera ditangani. "Kak Ayra tunggu sebentar ya.. aku sudah menghubungi Ibu. Mudah-mudahan ibu cepat pulang." Bian mulai panik karena kakaknya terus-terusan memijit pelipisnya.
"Hubungi Mas Ardian juga, Dek." Ucap Chayra tanpa membuka mata.
"Dia... dia nggak ada respon, Kak. Aku sudah berulang kali mencobanya. Sepertinya dia sedang sibuk."
"Kepalaku sakit sekali.."
"Apa Kak Ayra melihat pesan di handphone Kakak tadi?"
Chayra terdiam. Dia seharusnya langsung menghapus pesan itu tadi agar tidak ada orang yang tau.
********
__ADS_1