
Chayra sedikit tergesa saat memasuki lift, sampai tidak menyadari kalau lift yang dia masuki berisi laki-laki semua. Dadanya berdegup lebih kencang setelah dia mengedarkan pandangannya. "Astagfirullahal'adzim..." ucapnya lirih. Karena berada paling depan, ia langsung menekan angka lima tanpa memperdulikan tujuan empat orang pria yang berdiri di belakangnya.
"Eh, Cewek.. kenapa ke lantai lima? Kami bekerja di lantai tiga." Salah seorang pria bertubuh paling tegap menyentuh pundak Chayra.
Chayra memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam. Dia harus bisa tenang menghadapi orang-orang ini. "M.. maaf, Pak. Saya sedang buru-buru."
"Punya urusan dengan siapa di lantai lima? Di lantai lima itu isinya para pembesar Perusahaan." Pria bertubuh kurus ikut menimpali.
"Saya mau mengan...."
"Palingan dia hanya simpanan Bos." Pria bertubuh kurus menyela ucapan Chayra.
"B.. bukan seperti..."
"Sering sekali orang menyalah gunakan kostum untuk membohongi orang."
"Cantik cantik malah menjadi simpanan."
"Jangan suka menyimpulkan sesuatu."
Ting...!
Pintu lift terbuka, menampakkan orang yang berdiri di luar untuk bersiap masuk ke dalam lift. Mata Chayra membulat melihat suaminya dan Dodit yang berdiri di depan lift. Diikuti oleh seorang wanita berwajah tegas yang berdiri di belakang suaminya.
Chayra menarik nafas dalam seraya menelan ludahnya. Meloncat keluar dari lift agar ketegangan ini segera berakhir. Dia harus bisa menyembunyikan kejadian tadi agar tidak menimbulkan masalah baru.
Ardian menatap tajam ke arah empat pria di dalam lift. Matanya seolah-olah pisau tajam yang akan mencongkel mata empat karyawannya.
"Kalian turun saja, kami tidak jadi masuk." Ucap Dodit memberikan instruksi. Empat pria itu mengangguk. Tidak bisa dibohongi kalau mereka sedang tegang karena melihat tatapan tajam Ardian. Apalagi melihat Ardian menarik tangan Chayra. Yang paling membuat mereka tegang adalah, Bos mereka langsung memeluk wanita yang mereka ragukan keasliannya tadi.
Jantung Chayra masih berdetak lebih cepat. Ardian mengernyit karena merasakan ketegangan istrinya.
"Kita masuk, Mas." Chayra melepaskan diri karena mulai merasa tidak nyaman dipeluk di tempat terbuka seperti ini. Apalagi ada Dodit dan seorang wanita yang belum dia kenal.
"Ayo, Dit, kita makan siang di dalam."
"Loh, kita tidak jadi ke Kafe, Pak?"
"Istri saya datang untuk mengantarkan makan siang. Untuk apa saya mencari makanan lain. Kalau Ibu Rani mau ikut, silahkan. Tapi, kalau Ibu tidak biasa makan dengan makanan rumahan, Ibu bisa mencari menu makanan lain di Kafe."
"Ikut aja, Bu. Mumpung makanannya gratis, enak lagi. Istrinya Pak Ardian ini wanita multi fungsi, Bu."
"Jaga omongan kamu, Dit! Kamu sedang membicarakan istriku di depanku. Mau kena tonjok lu.." Ardian merangkul pundak istrinya berlalu dari hadapan Dodit dan Bu Sekretaris Direksi.
"Ayo, Bu. Masakan Bu Ayra beneran enak loh, Bu. Nyesel nanti Ibu kalau tidak percaya sama aku."
__ADS_1
Rani berpikir sejenak seraya melirik-lirik ke arah Dodit. "Boleh deh," ucapnya kemudian.
Ardian membawa istrinya ke meja kerjanya. Memindahkan berkas di atas meja, mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukkannya di atas meja. Sedangkan dia duduk di kursi kebesarannya.
"Mas, apa-apaan sih?! Nggak sopan banget deh, aku duduk seperti ini."
"Sssttt... jangan berisik dan jangan banyak protes."
"Tapi ini bukan tempat duduk, Mas. Seumur hidupku baru kali ini aku duduk di atas meja. Ini meja kerja kamu, Mas. Ini tempat kamu meletakkan hasil dari pikiran kamu. Lepaskan aku, aku mau turun. Aku akan duduk di tempat duduk yang seharusnya."
"Jangan mencari alasan, Chay. Aku mau bicara serius sama kamu." Suara Ardian terdengar tegas. Ia menahan istrinya agar tidak bisa bergerak turun.
"Aku juga serius, Mas. Aku tidak suka kamu kelewatan batas hanya karena masalah yang belum kamu ketahui kebenarannya."
Dodit dan Rani yang duduk di sofa terkesiap mendengar percakapan suami istri itu.
"Aku tau ada yang salah tadi, Chay. Aku merasakan keganjalan saat aku memelukmu tadi."
"Tapi kamu lihat sendiri kalau aku baik-baik saja, Mas."
"Kamu tidak baik-baik saja, Sayang." Ardian menangkup pipi istrinya. Chayra langsung mengalihkan pandangannya, tidak siap kalau harus bertatap mata dengan suaminya. "Aku mau turun, Mas." Chayra menurunkan tangan Ardian perlahan, tetapi pria itu malah semakin mempererat pegangannya di paha Chayra.
"Ceritakan apa yang terjadi dulu."
"Aku sudah bilang tidak terjadi apa-apa, Mas. Aku hanya beberapa menit di dalam lift."
"Aku bisa turun sendiri, Mas."
"Aku takut kamu jatuh."
Chayra hanya mendengus, tetapi ia mengikuti langkah suaminya menuju sofa tempat Dodit dan Rani duduk.
Ardian melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Dia harus segera makan siang agar tidak telat ke ruang rapat nanti.
Ada dua kotak bekal yang dibawa Chayra. Itu hal yang biasa dilakukannya karena selalu ingat dengan teman sekaligus Asisten baik hati milik suaminya. Ardian mengambil salah satu kotak bekal. "Dit, kamu kongsi dengan Bu Rani. Aku akan kongsi dengan istriku."
"Kongsi maksudnya apa, Pak?" Rani langsung bertanya.
"Satu porsi berdua." Jawab Ardian singkat. "Kita harus cepat untuk menghemat waktu." Ia melipat lengan kemejanya lalu mengambil sendok dan garpu. Sedangkan Dodit membagi nasi menjadi dua bagian. Memindahkan sebagian ke piring dan sebagian ia serahkan kepada Rani.
Rani hanya mengernyit. Ada perasaan aneh melihat gaya makan Ardian dan Dodit yang tidak menjaga image sama sekali.
*********
Dodit berjalan setengah berlari mengejar Ardian yang keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai.
__ADS_1
"Pak Ardian, aku kewalahan mengimbangi langkah Bapak."
"Kita sudah selesai rapat, Dit. Jangan bicara formal lagi." Jawab Ardian tanpa sedikitpun memelankan langkahnya. "Kamu langsung ke ruanganku. Aku mau bicara sama kamu."
"Baik, Pak."
Ardian menghentikan langkahnya lalu menatap Dodit dengan tajam.
"Aku akan bicara santai kalau sudah masuk ke ruangan kamu." Jawab Dodit spontan.
Ardian kembali melanjutkan langkahnya. Satu belokan lagi maka dia akan sampai di ruangannya.
Dodit berlari mendahului Ardian, membukakan pintu untuk atasannya itu setelah mereka sampai.
"Ada apa, Ar? Dari tadi kamu benar-benar terlihat tidak konsentrasi. Sepertinya rapat hari ini harus dievaluasi lagi."
Ardian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Merenggangkan dasinya, membuka kancing kemejanya yang paling atas. "Kamu kenal dengan empat kecoa di lift tadi?"
"Hah, maksudnya?" Dodit memperbaiki posisi duduknya.
"Empat karyawan yang tadi di lift bersama istriku. Sepertinya mereka mengatakan sesuatu pada Chay sehingga istriku terlihat tidak nyaman saat keluar tadi. Aku merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat memeluknya tadi."
Sepersekian detik Dodit melongo menarap Ardian. "Aku.. aku hanya mengenal dua dari empat kecoa itu. Eh," Dodit menutup mulutnya karena ikutan menyebut kecoa.
"Cepat cari tau, mereka dari devisi apa. Mereka harus diberi pelajaran agar tidak mengganggu istri atasan mereka."
"Tapi, Bu Ayra kan sudah bilang kalau tidak terjadi apa-apa, Ar."
"Istriku tidak suka membuat atau memperbesar masalah. Aku mau sekarang kamu panggil mereka ke ruanganku sebelum mereka pulang."
"Baik, Pak."
Dodit langsung bangkit, keluar dari ruangan Ardian dengan raut wajah lesu.
Dodit POV...
Segitu posesifnya Bos ini sama istri. Bingung aku jadinya. Padahal Bu Ayra tidak pernah menceritakan apapun. Aku dengar sendiri padahal, kalau Bu Ayra bilang tidak terjadi apa-apa. Hmm... tapi, kalau Bos sudah mengeluarkan perintah, aku harus segera bertindak. Mudah-mudahan dua kecoa baru itu berada satu devisi dengan dua kecoa senior.
Heh, pakai acara berpapasan dengan Bu Rani segala.
"Mau kemana, Pak Dodit?" Bu Rani menahan lenganku agar aku tidak melanjutkan langkah. Hmm... ni orang ngapain juga pakai menahan aku segala. Nggak tau apa, Bos besar lagi marah gara-gara jantung istrinya berdetak lebih kencang ketika ia memeluknya tadi.
"Mm... aku diminta Pak Ardian untuk membeli somay di depan gedung kantor." Alasan yang tiba-tiba saja terlontar dari mulutku. Bu Rani sepertinya kurang mengerti atau tidak percaya dengan ucapanku.bMelihat Bu Rani melongo, aku langsung pamit undur diri. "Saya duluan, Bu. Kasihan Pak Ardian lelah menunggu."
"Eh, iya, Pak."
__ADS_1
"Mari, Bu..." aku berjalan cepat agar tidak ada lagi yang berani menyapaku. Hmm... ini gara-gara empat kecoa itu, aku harus menambah pekerjaan.
**********