Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menginap


__ADS_3

Sudah beberapa malam ini Chayra nginap di rumah ibunya. Hal itu tentu saja menjadi tanda tanya besar untuk Santi ibunya. Gadis itu terlalu tertutup dalam masalah pribadinya. Itulah yang membuat Santi kebingungan.


Malam itu adalah malam ketujuh Chayra menginap. Bian yang sangat rindu dengan kakaknya hampir tidak mau lepas dan selalu lengket dengan kakaknya.


Kedatangan Ardian malam itu membuat Bian harus rela melepas lemnya. Anak yang sudah beranjak remaja itu memanyunkan bibirnya saat ibunya memaksanya keluar dari kamar Chayra.


"Suami kamu datang, Nak."


"Ayra akan menemuinya, Bu. Suruh saja dia menunggu di ruang tamu." Ucap Chayra seraya beranjak dari duduknya.


"Kamu nggak lagi salah ngomong kan, Nak?"


Chayra berbalik menatap ibunya. "Salah ngomong bagaimana maksud Ibu?"


"Kamu menyuruh suami kamu menunggu di ruang tamu. Itu terdengar sangat tidak sopan. Seharusnya saat suami datang, kamu menyuruhnya masuk ke dalam kamar."


Chayra diam beberapa saat. "Ibu sudah pasti tau alasan aku berkata begitu."


Santi hanya bisa menghela nafas berat. "Mau sampai kapan kalian akan seperti ini. Kamu sendiri yang memilihnya, Nak. Seharusnya kamu sudah bisa menebak keadaan yang akan kamu jalani jika menikah dengannya."


"Ayra hanya sedang mencoba, Bu. Ternyata, semua sangat berat untuk Ayra. Ayra memang menyukai tantangan baru. Ternyata tantangan ini berbeda dan hampir membuat Ayra putus asa." Chayra mengerjap-ngerjapkan matanya karena matanya mulai memanas.


"Ibu akan menyuruh suamimu masuk. Ibu tidak enak karena mertuamu juga ikut serta."


Chayra tersentak. Tadinya dia mengira cuma Ardian yang datang. Namun, ternyata kedua mertuanya juga ikut datang.


"Diam disini. Biar Ardian yang akan mendatangimu."


Chayra hanya mengangguk pasrah. Mau membantah juga tidak mungkin. Karena bagaimanapun juga, dia tidak suka menentang ibunya.


Tidak lama menunggu, Ardian datang dengan wajah ditekuk. Sedangkan kedua orang tuanya masih duduk di ruang tamu.


"Hai, selamat malam. Bagaimana keadaan lho." Ucapnya dengan sedikit kaku. Ia benar-benar bingung mau berbuat apa. Setiap malam dia dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya gara-gara tidak bisa membawa Chayra pulang. Bagiamana dia akan membawa istrinya pulang. Sedangkan dia sendiri tidak pernah mengunjunginya Chayra selama gadis itu menginap di rumah ibunya.


"Apakah anda tidak bisa mengucap salam pada saudara muslim anda?"


Ardian menyebikkan bibirnya. "Gue lupa tadi, sorry." Jawab Ardian santai.


"Lalu kenapa anda tidak mencoba memperbaikinya kalau anda merasa bersalah?"


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Gue masih kaku.."

__ADS_1


"Dibiasakan agar tidak kaku." Jawab Chayra, masih membelakangi Ardian. Gadis itu tidak mau kalah.


"Gue masih belajar dan perlu dibimbing sama lho."


"Saya tidak mau membimbing anda kalau anda masih terus-terusan mempermainkan saya. Apa anda mengira saya sebuah boneka yang bisa anda mainkan sesuka hati anda."


Tiga orang tua yang berada di depan pintu hanya bisa memejamkan mata mendengar perdebatan itu.


"Gue sudah bilang beberapa kali sama lho, gue ini laki-laki normal yang mempunyai kebutuhan biologis. Lho sadar nggak, selama ini lho nggak pernah memberikan hak gue. Lho hanya status menjadi istri gue."


"Anda menyalahkan saya atas semua ini. Anda sadar tidak, kalau anda juga tidak pernah menjalankan kewajiban anda sebagai suami. Jangan pikirkan nafkah batin terlebih dahulu kalau nafkah lahir saja anda tidak pernah memberikannya untuk istri anda. Saya akan mempersiapkan diri kalau anda mampu menafkahi hidup saya. Seorang istri boleh menentang suaminya jika sang suami bertindak zalim kepadanya."


"Gue bingung lama-lama ngomong sama lho." Ardian mengusap wajahnya kasar. "Gue harus bagaimana coba? Di rumah dimarahi terus sama Mami dan Papi. Disini gue dimarahi sama lho. Nggak ada yang mau menjelaskan kesalahan gue. Semua menyalahkan gue tanpa mau menasehati gue."


Ardian menarik nafas dalam seraya menghempaskan tubuhnya di pinggir ranjang Chayra. "Lho tau nggak, sejak gue menikah dengan lho, gue merasa lebih diperhatikan oleh Papi dan Mami. Entah, seistimewa apa lho di mata mereka sehingga lho seperti Tuan Putri di hati mereka. Gue hanya butuh waktu untuk berubah. Lho sendiri yang bilang kalau semua butuh proses. Yang instan itu sudah pasti tidak baik. Lho masih ingat kan ucapan lho itu?"


Chayra terdiam menyimak semua ucapan pria itu.


"Gue sedang berusaha untuk berubah. Gue tau ini berat dan sulit buat gue. Tapi perlahan-lahan, gue yakin gue pasti bisa. Gue hanya butuh dukungan untuk hal itu. Jika semua orang menjauh dan tidak mendukung gue untuk hal itu, bagaimana gue akan bisa berubah. Sedangkan teman-teman yang gue miliki saat ini sama bejatnya seperti gue."


"Saya akan mendukung anda jika anda benar-benar mau berubah. Tapi, anda hanya mempermainkan saya. Lama-lama saya capek, tau nggak. Untuk apa saya berjuang untuk orang yang tidak mau diperjuangkan."


"Katakan, apa tujuan lho menikah dengan gue?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Ardian. Walaupun sebenarnya dia sudah tau tujuan Chayra memilih menikah dengannya.


Chayra masih terdiam menunggu kelanjutan kata-kata Ardian.


"Sekali lagi gue minta sama lho. Beri gue kesempatan sekali lagi. Gue benar-benar ingin belajar sekarang." Ardian melirik Chayra yang sepertinya sangat enggan untuk membalik tubuhnya. "Lho tinggal bilang iya atau tidak."


Chayra menghela nafas berat. "Bismillahirrahmanirrahim.. semoga Allah menguatkan saya untuk menghadapi anda kembali."


Ardian menarik sedikit sudut bibirnya. Akhirnya dia bisa bernafas lega. Menghadapi Chayra ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan. Namun, dia tidak tau kedepannya kalau dirinya membuat kesalahan lagi.


Ardian juga merasa lega karena terbebas dari ancaman Papinya.


____________


Flashback on...


Saat kembali dari Kampus sore itu. Ardian dalam keadaan lelah karena ada praktek di lapangan. Sampai rumah, dia mendapati Papi dan Maminya seperti sengaja menunggu kepulangannya. Dia sudah bisa tebak kalau kejadian ini pasti karena ulah Alesha dan Tina yang melaporkan perbuatannya pada Sucipto.


"Mana istri kamu. Kenapa kamu tidak pulang bersamanya?" Sucipto langsung pada inti pembicaraan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Dia pulang ke rumah Ibu, Pi. Kangen sama Ibu katanya. Selama menikah, dia kan tidak pernah nginap." Ardian mencoba membuat alasan.


"Jangan mencoba membuat alasan, Ardian. Dua temannya datang ke rumah tadi. Mereka bilang, kalau kamu menyakitinya di Kampus sampai dia ketakutan."


Ardian membuang nafas kasar. "Ardian tidak melakukan itu, Pi. Ardian cuma menahan tangannya, agar tidak meninggalkan Ardian tadi. Tapi, dia malah menggigil kayak orang kesurupan." Membuang muka saat mengatakan hal itu.


Sucipto bangkit dan langsung menampar putranya. "Kamu tau siapa yang membuat dia seperti itu?! Kamu, Ardian, kamu..." Sucipto menunjuk-nunjuk wajah Ardian.


"Sadar, Nak. Papi lelah melihat kamu seperti ini. Sampai kapan kamu akan seperti ini terus. Papi tau kalau ini juga salah kami yang terlalu memberikan kamu kebebasan. Kami juga minta maaf atas hal itu."


Ardian tidak bisa berkata-kata. Tangannya hanya mengusap-usap pipinya yang ditampar Sucipto tadi.


Renata bangkit dan mendekati putranya. Menghambur memeluk Ardian. "Maafkan kami yang tidak pernah memperhatikan kamu selam ini, Nak."


"Mami apaan sih?! Ardian baik-baik saja kok." Ardian berpura-pura cuek. Padahal dalam hatinya dia sudah menangis karena pelukan hangat maminya.


"Kami satu-satunya penerus keluarga kita, Nak. Perusahaan Papi memang tidak besar. Tapi, setidaknya keberadaan perusahaan itu bisa menjamin masa depan kamu kedepannya."


"Belajarlah untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, Nak. Karena tidak selamanya Papi akan hidup. Papi dan Mami kamu punya batas usia yang hanya Allah yang tau. Setidaknya, persiapkan diri kamu mulai sekarang."


Ardian menarik nafas panjang. "Ardian akan mencobanya, Pi." Berlalu dari hadapan orang tuanya tanpa pamit."


Setiap malam, Ardian selalu mendapatkan nasehat dari Papi dan Maminya. Sucipto dan Renata juga tidak segan-segan memarahi putranya saat Ardian melakukan kesalahan.


Tepat malam ini, malam ketujuh Chayra menginap di rumah ibunya. Sucipto memberikan perintah pada Ardian untuk menjemput istrinya.


"Malam ini kamu jemput istri kamu, Ardian."


Ardian menatap Sucipto dengan bingung. "Mau bilang apa aku, Pi. Malu ah..."


"Jangan harap kamu akan bisa tidur malam ini kalau kamu menolak. Papi akan menyita semua aset yang sudah Papi berikan untuk kamu, kalau kamu tidak bisa membawa pulang menantu Papi malam ini."


"Papi..."


"Keputusan Papi sudah bulat. Kamu tinggal memilih. Pergi jemput istri kamu atau kamu akan menjadi gembel mulai malam ini."


Ardian mengacak-acak rambutnya. Ancaman seperti itu yang paling dia takutkan. "Papi dan Mami ikut serta kalau begitu. Ardian malu kalau harus pergi sendiri."


Renata dan Sucipto saling pandang sambil tersenyum.


Flashback off...

__ADS_1


*********


__ADS_2