
Flashback on..
Ardian menarik nafas dalam setelah berhasil melumpuhkan Chayra malam itu. Memeluk tubuh polos Chayra tanpa selapis kain pun yang menghalangi mereka.
"Terimakasih sudah mengizinkan aku melakukannya padamu." Mencium lama dahi wanitanya itu.
Chayra ragu untuk membalas pelukan suaminya. Tubuhnya juga sangat kaku seperti robot. Ketegangan karena pikirannya yang kacau tadi membuatnya harus menetralkan semuanya.
Anggukan kepalanya membuat Ardian tersenyum sumringah. "Maaf membuatmu sampai setegang ini."
Chayra kembali mengangguk. Untuk sekedar mengatakan iya, mulutnya masih berat. Tubuh bagian bawahnya terasa ngilu. Hal itu membuatnya semakin kaku.
"Rileks saja, Chay.. Tubuh kamu kenapa kaku begini?" Ardian mengusap-usap tubuh istrinya.
Spontan Chayra langsung menepis tangan pria itu. "Jangan menyentuhku dulu, Kak. Pikiranku belum stabil. Aku.. aku.. mau minum. Tapi, ini rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa bangun."
Ardian tersenyum seraya bangkit. Memasang celana pendeknya dan membuka pintu kamar.
"Eh, malah keluar cuma pakai celana lagi. Dasar laki-laki.. Huh," Chayra menyebikkan bibirnya menahan kesal.
Selang beberapa menit, Ardian kembali dengan botol air mineral ditangannya. "Aku cuma menemukan ini di ruang tamu. Aku takut tersesat kalau harus ke dapur." Duduk di sisi ranjang samping istrinya. "Bisa bangun sendiri?"
Chayra menggeleng. Meringis menahan sakit saat mencoba menggerakkan tubuhnya. "Kenapa sakit begini sih?"
Ardian tersenyum melihat ekspresi istrinya. "Mau aku bantu?" mengulurkan tangannya untuk membantu Chayra.
"Aku akan mencoba dulu. Kalau nggak bisa juga. Terpaksa aku minta bantuan Kakak lagi."
"Sama suami kok sungkan minta tolong. Sini aku bantu. Nggak usah di paksakan. Yang pertama itu memang agak sakit, Chay. Padahal aku melakukannya dengan sangat pelan." Ardian memeluk tubuh Chayra untuk membantunya bangun.
"Ini namanya bukan agak sakit lagi, Kak. Tapi ini sakit banget, tau nggak. Mau gerakin tubuh aja, anu aku ngilu-ngiku kayak gini." Chayra memukul tubuh Ardian setelah berhasil bangun. "Besok nggak mau lagi ah. Tau gini aku nolak aja tadi."
Ardian tertawa. Tangannya menangkup pipi istrinya gemas. "Memangnya mau dapat dosa, nolak suami?"
"Iya.. nggak. Tapi kalau kayak gini setiap malam. Lama-lama aku nggak akan bisa jalan, Kak. Ini aja aku nggak tau bisa jalan atau tidak."
Ardian kembali tertawa. "Kamu bisa kok. Cuman, iya... cara kamu melangkah nanti terlihat berbeda." Ardian mendekatkan wajahnya pada Chayra. "Kamu jalannya mirip pinguin." Berbisik di dekat telinga Chayra.
"Astagfirullah, nggak mungkin, nggak mungkin. Kakak jahat, tidak mungkin seperti itu, kan?"
"Gkgkgk... kita lihat saja besok. Sudah, kamu tidur sekarang. Sudah jam satu, nanti malah telat shalat subuhnya."
"Insya Allah, tidak akan sampai seperti itu," jawab Chayra. Sebenarnya dia tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Namun, untuk pergi membersihkan tubuhnya masih sulit baginya. Dia tidak bisa berjalan ke kamar mandi. Untuk minta tolong rasanya juga berat.
Akhirnya dia berusaha untuk memejamkan matanya. Tak berapa lama, akhirnya dia bisa terlelap juga.
Ardian tersenyum melihat istrinya. Tidak menyangka kalau wanita itu bisa dia taklukkan dengan mudah.
"Terimakasih untuk semuanya, Sayang. Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Maafkan kesalahanku sebelumnya yang tidak menyadari keistimewaan seorang Chayra Azzahra." Ardian menyatukan dahinya dengan dahi Chayra. Memejamkan matanya merasakan hembusan nafas teratur wanitanya itu. "Maaf karena tidak menjadikan kamu yang pertama merasakan tubuh ini."
Flashback off...
__________
"Ayo bangun, kenapa melamun. Kamu harus mandi wajib juga, kan?"
__ADS_1
Chayra melirik suaminya. "Tubuh aku kok terasa seperti mau remuk, Kak."
"Ayo, aku bantu. Nggak usah bilang malu segala. Kamu milikku dan aku milikmu."
Chayra hanya tersenyum hambar. Mencari letak bajunya yang entah di lempar kemana oleh Ardian.
"Kamu cari apa?"
"Baju aku mana, Kak?"
"Itu kan, di dekat sofa. Aku melemparnya kesana semalam."
Chayra kembali terdiam. Dia benar-benar bingung sekarang. Badannya sudah sakit semua. Untuk bergerak saja rasanya malas sekali.
"Ini baju kamu. Aku bantu pakaikan. Kamu jangan menolak. Aku tau kamu malu untuk minta tolong."
"Terimakasih.." Chayra memakai bajunya dengan dibantu Ardian.
"Yang pertama itu memang sakit. Tapi kalau sudah terbiasa rasanya enak kok. Malahan kamu yang ketagihan nanti."
Plak..!
Chayra memukul punggung Ardian dengan keras. "Nggak usah ngomong ngawur, Kak. Aku beneran sedang sakit."
Ardian tertawa kecil. "Pukulan kamu sakit, Chay. Tapi, aku menikmatinya karena kamu menggemaskan."
"Apaan sih?! Ayo, makanya bantu." Chayra mengulurkan tangannya agar Ardian membantunya berdiri. "Nanti malah keburu datang waktu Subuh."
Usai mandi dan mendirikan tahajjud. Chayra mendekati Ardian yang sedang duduk santai di sofa. Tangannya sibuk memainkan handphonenya di tangannya.
"Sudah, tapi alhamdulilah sekarang terasa lebih baik daripada saat belum mandi tadi. Mm... Kak"
Ardian hanya melirik. "Mmm.. ada apa?"
"Bagaimana aku bisa ke Kampus hari ini?"
"Kenapa memangnya?"
"Ck..! Kak Ardian sibuk sendiri. Aku serius ini." Mode ngambek sudah keluar.
"Eh, iya Sayang. Ini gamenya mau kelar. Sorry, sorry.. iya.. iya.. aku berhenti nih." Ardian meletakkan handphonenya asal. "Kenapa nggak bisa ke Kampus. Memangnya ada apa?" Akhirnya mengalah dan fokus pada istrinya.
Chayra hanya melirik tanpa ada niat menjawab pertanyaan Ardian. Bibirnya terlihat maju dua senti.
"Jangan ngambek, Chay. Kamu mau aku mangsa lagi."
Chayra hanya memutar bola matanya.
Ardian membuang nafas kasar. "Ok, ok, aku minta maaf. Tulus minta maaf."
Chayra malah bersedekap. Moodnya benar-benar hancur karena merasa di abaikan.
"Kita pulang ke rumah nanti ya. Papi bilang, mau pisah rumah sama kita sekarang. Kita harus hidup mandiri mulai sekarang. Sebentar lagi S2 ku akan kelar. Jadi, aku sudah bisa kerja nanti. Kita tidak perlu minta duit pada Papi dan Mami lagi."
"Terserah..." jawab Chayra singkat.
__ADS_1
"Ya Allah, kamu beneran terlihat galak, Chay. Aku kan sudah minta maaf tadi."
Adzan subuh berkumandang, menghentikan perdebatan dua manusia di dalam kamar itu.
Ardian sudah bersiap akan mendirikan shalat subuh sendirian usai mendirikan shalat Sunnah fajar.
"Shalat jama'ah." Ucapan Chayra membuatnya menoleh dan urung melakukan takbiratul ihram.
"Memangnya mau jama'ah sama aku. Tadi kan ngambek dan tidak mau menatap aku. Bagaimana aku bisa tenang jadi imam kalau perasaan yang menjadi makmum sedang kacau."
Chayra mengerutkan alisnya tanpa menimpali.
"Iya, sudah. Aku tidak mau istriku yang cantik dan galak ini semakin marah kalau tidak dituruti keinginannya." Ardian langsung berbalik.
Chayra melototkan matanya. Dia benar-benar ingin menjabak rambut pria itu andai saja mereka tidak akan mendirikan shalat.
Ardian mengulurkan tangannya usai berdo'a. Berfikir kalau Chayra akan menepis tangannya. Namun, wanita itu malah mencium tangannya lama.
"M.. maafkan aku mengabaikan kamu tadi. Aku tidak tau kalau kamu tidak suka diabaikan."
"Mana ada sih, wanita yang suka diabaikan. Kakak ini ngawur terus ngomongnya dari tadi."
Ardian tersenyum, menarik tubuh Chayra dan mendekapnya. "Maafkan aku, Sayang."
"Jangan panggil sayang."
"Maafkan aku, Chay.."
Chayra terdiam. Tangannya memukul-mukul tubuh Ardian untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Mendekap tubuhmu seperti ini membuatku terasa lebih tenang."
"Huh,"
"Kenapa ngeluh?"
"Mulut Kak Ardian itu mulut buaya. Ucapannya manis-manis tapi menghanyutkan."
"Aku harus bisa membuatmu hanyut, agar kamu bisa mencintaiku. Tapi, aku jadi buaya cuma di kamu. Untuk yang lain, aku selalu bicara normal."
"Selalu saja ada kalimat untuk menimpali ucapanku."
Ardian tersenyum seraya menarik nafas dalam. "Aku mencintaimu.." mencium pucuk kepala Chayra lama sampai aroma sampo yang dipakai wanita itu tadi masuk ke rongga hidungnya.
"Sampo kamu wangi, Chay. Padahal aku lihat tadi, mereknya pasaran banget."
Chayra mendelik. "Memangnya kenapa kalau pasaran? Aku pakai produk dalam negeri. Untuk apa pakai produk mahal-mahal kalau itu hanya membuat kantong tipis. Cintai produk-produk negeri sendiri itu lebih baik."
"Iya... Sayang. Kamu selalu benar." Ardian mencubit pipi istrinya gemas.
"Sakit, Kak. Perasaan dari kemarin senang banget deh, cubit pipi aku."
"Karena kamu menggemaskan." Ardian kembali menarik tubuh Chayra dan mendekapnya.
********
__ADS_1