Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pekerjaan itu perlu dinikmati


__ADS_3

Mobil Dodit mendarat sempurna di halaman rumah Ardian. Beberapa hari ini, pria itu memang rutin menjemput Ardian. Entah apa yang direncanakan dua pria itu. Intinya ada rencana terselubung, sehingga Dodit selalu setia menjadi sopir Bosnya.


"Gue langsung cabut, Bro." Dodit langsung pamit setelah Ardian turun.


"Nggak mau mampir dulu?"


"Lu sedang galau kayak gitu. Aku nggak ada temen ngobrol kalau lu kebanyakan diam. Kamu istirahat saja. Aku tidak akan mengirim pekerjaan nanti malam. Besok pagi kita kerja maraton."


"Terserah kamu, Dit. Terimakasih sudah mengantar aku pulang."


"It's ok.."


Dua orang wanita yang sedang duduk di ruang tamu rumah itu memperhatikan interaksi dua pria di halaman depan.


"Laki lho males bawa mobil sendiri ya, Ayra?" Wanita yang ternyata Tina itu melontarkan pertanyaan ketika melihat Ardian keluar dari mobil Dodit.


"Aku nggak tau, Tin. Pak Dodit sekarang sering datang pagi-pagi. Jadi Mas Ardian sekalian nebeng kalau dia datang."


"Tapi laki lho punya mobil pribadi kan?"


Chayra mengernyit mendengar pertanyaan Tina, tetapi buru-buru ia menganggukkan kepalanya. "Punya, tapi dia sering malas nyetir sendiri. Pinginnya sih punya sopir, tetapi masih ada keperluan yang lebih penting daripada menyewa sopir."


"Maaf ya, aku bertanya begitu soalnya aku dapat cerita dari Papa. Katanya, harta warisan peninggalan mertua lho habis dijual untuk melunasi hutang maminya Kak Ardian."


Chayra tersenyum kecut. "Jangan diperpanjang. Kalau kamu sudah tau, cukup sampai disini saja ceritanya."


"Ok... gue tau kalau lho nggak pernah suka ngegosip dari dulu."


"Assalamu'alaikum.."


Chayra bangkit dengan senyum mengembang saat melihat suaminya masuk ke dalam rumah. "Wa'alaikumsalam, Mas. Kenapa Pak Dodit nggak mampir dulu, Mas?"


"Dianya lagi buru-buru tadi." Ardian mencium dahi istrinya setelah Chayra mencium tangannya. "Pantesan nggak nyambut aku, ternyata ada Tina ya, disini. Kapan datang, Tin?"


"Barusan, Kak. Kangen sama si gembul. Tapi, Adzra malah nggak ada disini."


Ardian tidak terlalu menghiraukan ucapan Tina. "Mau nginap?"


"Mm.. aku nggak bisa nginap hari ini karena ada tugas dari Kantor yang mau aku selesaikan."


"Tau lho ada disini, aku suruh saja si Dodit mampir tadi."


"Aku belum siap, Kak. Mm.. lain kali aja. Wajah kusut kayak gini, nggak dandan dulu tadi pas kesini. Soalnya dari Kantor aku langsung meluncur kemari."

__ADS_1


"Kenapa harus dandan segala? Dodit itu orangnya sudah dewasa, Tin. Sudah bisa membedakan wajah oplosan dan wajah asli."


"Ew, mulai deh ngomong ngelantur nggak jelas. Tapi setidaknya kalau udah touch up, muka gue terlihat lebih segar."


Ardian menghempaskan tubuhnya di samping istrinya. "Adzra bobo ya, Sayang?"


"Nggak, Mas. Adzra dibawa Ibu. Ada nenek Fatimah datang, mau bertemu cicitnya."


Ardian sedikit terkejut. Baru ia menyadari kalau Tina bilang Adzra tidak ada di sini tadi. "Kapan dibawa? Apa kamu sudah menyiapkan stok ASI untuknya? Kenapa tidak nenek saja yang kemari?"


"Astagfirullahal'adzim, Mas. Nanyanya satu-satu, aku harus jawab yang mana coba?"


"Eheheh... jawab yang mana saja, Sayang. Mm... kenapa tidak Nenek saja yang datang kemari?" Ardian akhirnya mengulang pertanyaan terakhir.


"Masih capek, Mas. Nenek kemari menggunakan jalur darat. Ada Ummi dan Abah juga disana."


"Oh gitu..." Ardian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Sayang, nanti habis shalat Isya, pijitin dikit ya. Tadi pekerjaanku numpuk."


Tina hanya melengos melihat interaksi suami istri itu. Sepertinya dia harus buru-buru undur diri. Berada di antara pasangan ini membuatnya merasa seperti nyamuk pengganggu. "Gue pamit dulu deh, Ayra. Lain kali gue datang lagi."


"Kenapa buru-buru banget, Tin?" Chayra menarik tangannya yang digenggam Ardian.


"Aku kan sudah bilang, aku ada kerjaan. Aku juga merasa kayak jadi nyamuk yang mengganggu kemesraan kalian."


"Hah?! Hahahaha..." Ardian malah tertawa mendengar pengakuan Tina.


"Wa'alaikumsalam... Ardian masih melanjutkan tawanya walaupun Tina sudah berlalu keluar.


"Kayak seneng banget deh, Mas gangguin Tina."


"Aku hanya senang membuatnya kesal. Biar mikir dia untuk cepat-cepat mencari jodoh. Udah tua juga masih aja seneng sendiri."


"Astagfirullah, Mas. Emang dia jodohnya belum turun."


"Dicomblangin sama Dodit, tapi mereka nggak pernah sempat ketemu. Mm... kenapa kamu nggak ajak dia main ke Kantor sesekali. Siapa tau mereka bisa bertemu disana." Ardian menarik tubuh Chayra ke dalam pelukannya. Terdengar helaan nafas berat dari suaminya membuat Chayra mendongak. "Ada apa, Mas?"


"Nggak ada apa-apa. Cuma capek aja, Sayang. Dulu aku hanya bisa menghabiskan uang orang tua tanpa memikirkan beratnya pekerjaan orang tua. Sekarang, baru aku sadari, walaupun pekerjaanku terlihat enteng, tapi benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Terutama karena tanggung jawab yang besar."


"Pekerjaan itu dinikmati, jangan dijadikan beban, Mas. Kalau dinikmati, insya Allah semua akan terasa ringan dan indah."


Ardian hanya tersenyum kecil tetapi tak ada suara yang keluar untuk menanggapi ucapan istrinya.


Chayra POV...

__ADS_1


Aku memainkan kancing baju Mas Ardian. Iya... aku akui berada dalam pelukannya, lebih tepatnya menjadikannya tempat bersandar membuatku selalu nyaman. Dadanya selalu terasa hangat menyambut kepalaku.


Tapi...


Aku terkadang kasihan mendengar keluh kesahnya akhir-akhir ini. Dia memang terlihat lelah. Selain karena memikirkan tanggung jawab di Kantor, dia juga harus memikirkan kami. Terkadang dia juga terlihat kewalahan ketika Adzra menangis dan membutuhkannya, tetapi ada pekerjaan juga yang harus segera diselesaikan. Aku juga tidak berani terlalu menuntut apapun sekarang. Apalagi kalau menutut waktu luang untuk keluarga, aku tidak akan tega melakukan itu. Suamiku sedang berjuang untuk membawa kami kepada masa depan yang lebih baik. Bisa pulang sore hari seperti sekarang saja sudah Alhamdulillah banget.


Aku akui, Mas Ardian selalu berusaha ada untuk kami walaupun dia sangat lelah. Aku juga tersenyum saat tiga bulan yang lalu, tiba-tiba ia memberikan jatah bulanan dua kali lipat. Aku tidak pernah menuntut itu. Seharusnya Mas Ardian menyimpannya saja agar segera bisa mengambil miliknya di Kakek. Tapi, Mas Ardian menolak mentah-mentah permintaanku itu. Dia malah cerita, kalau istrinya Pak Randi mendapat uang jajan sebanyak itu setiap bulan. Sedangkan aku, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mengingat kejadian itu, aku tersenyum. Spontan tanganku memukul-mukul dada suamiku.


"Ada apa, Sayang?"


"Eh, m.. maaf, Mas.." aku tersenyum salah tingkah.


"Aku perhatikan dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Ujung-ujungnya malah aku yang jadi korban." Mas Ardian membuka kancing kemejanya. "Nih, lihat hasil perbuatan kamu." Aku melototkan mataku melihat dadanya yang memerah dan terlihat bekas cubitan.


"Aku nggak pernah cubit kamu, Mas."


"Kalau nggak pernah, terus ini namanya apa, Sayang?" Mas Ardian malah mencubit gemas pipiku. Aduh, malunya sampai ke ubun-ubun.


*********


Ardian mengetuk-ngetuk meja kerjanya sambil memperhatikan notifikasi yang masuk ke handphonenya. Enam bulan sudah berjalan sejak kepergian Pak Sucipto. Terlihat banyak peningkatan dari hasil kinerjanya. Penghasilannya juga sudah jelas bertambah karena tidak ada lagi yang akan mengusiknya seperti dulu. Sudah saatnya dia memikirkan dana agar bisa menebus saham yang dipegang Pak Akmal.


"Lagi mikirin apa sih lu?" Dodit tiba-tiba memukul meja Ardian. Hal itu membuat Ardian cukup terkejut walaupun Dodit memukul meja dengan pelan.


"Kamu ngagetin aja, Dit. Ada apa?" Ardian menutup handphonenya lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.


"Ada yang ingin bertemu kamu, tapi tamunya menunggu di Loby."


"Apa Chay yang datang?"


Dodit mengangkat bahu. Chayra memang tidak pernah mau langsung naik ke ruangan suaminya sejak kejadian diganggu empat orang kecoak yang sok berani itu. "Apa perlu aku menanyakan ke resepsionis?"


"Coba dah tanya. Kalau memang Chay yang datang, tapi kenapa dia tidak menghubungiku terlebih dahulu."


"Aku akan tanyakan sekarang." Dodit berlalu meninggalkan Ardian.


Sekitar lima menit menghilang, Dodit kembali lagi ke hadapan Ardian. "Istri kamu, Ar. Tapi dia datang bersama seseorang."


"Ok, thanks.." Ardian menepuk pundak Dodit seraya berlalu untuk menjemput istri tercinta.


"Kenapa nggak pakai sopir dan pengawal sekalian, Ar?"


"Belum cukup modal, Bro. Besok kalau sudah cukup modal aku akan sewakan tiga orang pengawal sekaligus."

__ADS_1


Dodit hanya menggeleng-geleng pelan. Ardian memang terlihat sangat berlebihan jika itu berhubungan dengan istrinya. Sampai-sampai melarang istrinya naik sendiri ke ruangannya setelah kejadian itu. Ardian akan turun ke bawah untuk menjemput jika Chayra datang.


********


__ADS_2